
Chapter 19. Nona yang kesusahan dan Jual Tanaman obat.
Pada saat ini aku sedang menyaksikan sebuah event langka dari balik pohon yang dimana event itu terlihat beberapa prajurit sedang bertarung dengan sosok pria lusuh bergaya preman. Yang mungkin dikenal sebagai bandit.
Lalu, para prajurit itu pun kalah bertarung dan mati. Disini terlihat para bandit memiliki kemampuan lebih tinggi dibandingkan prajurit.
Aku hanya bisa berkomentar, "Mereka terlalu lemah."
Seusai peraturan terlihat sosok gadis remaja berusia 12 tahun dengan pelayan nya yang terlihat lebih tua.
Penilaian dari penampilan mereka, nona dan pelayan nya merupakan bangsawan baik-baik.
Meski begitu, Nona dan pelayanan nya sedang dikepung oleh para bandit dan terlihat juga didepan mereka sosok pria besar yang berpakaian bulu dengan sebilah pedang yang cukup bagus yang mana dia menatap nona itu dengan tatapan mesum seperti ingin dimakan nya. Aku menduga pria besar itu adalah pemimpin nya.
Dan, dari sini aku sudah tahu bagaimana kelanjutannya dan cukup jelas pihak mana yang harus ku tolong. Tapi .. mereka manusia dan ini tidak seperti melawan monster.
Sesaat kemudian, aku teringat akan kejadian para preman yang bekerja di Perusahaan Tate.
"Ah, benar juga. Secara tidak langsung, aku pernah membunuh manusia."
Selain itu juga aku teringat akan pemberitahuan dari aplikasi Taming bahwa Orc bayi kini sudah remaja dan siap untuk bertarung. Lalu, kuberikan nama Orsa dan aku memutuskan untuk mengutusnya.
Disisi lain, pelayan dan nona bangsawan sudah di pisahkan yang mana Nona bangsawan itu dikelilingi oleh tiga bandit. Satu bandit memegang tangan nya, satu bandit berada di samping sedangkan pemimpin bandit ada dibawah nona bangsawan.
"Lepaskan!" seru tangisan nona bangsawan.
Tanpa mempedulikan tangisan Nona itu, para bandit merobek baju nona bangsawan hingga Buah dada nya terlihat.
"Tidak! Risa! Risa!" seru berontak nona bangsawan.
Lalu, Pelayan yang ditahan oleh salah satu bandit juga menyerukan panggilan. "Nona! Nona Laura!"
Ketakutan dari Nona Laura itu membuat dirinya mengompol namun, hal itu membuat senang pemimpin bandit. "Wah, dia mengompol! Imut nya! Dan, saya akan bersihkan!" seusai mengatakan itu, pemimpin bandit menarik ****** ***** nona Laura hingga bagian bawah nya tlanjang.
"Tidak! Hentikan!" teriak nona Laura.
Lalu, pelayan yang tidak jauh dari nya mengutarakan kekesalan nya. "Apa kalian tidak tahu apa akibatnya jika berbuat-" sebelum menyelesaikan kalimatnya pelayan itu dijambak dan memaksa melihat Nona nya.
"Kau khawatir kan diri mu sendiri saja! Karena kau akan segera dibuat merasakan nikmat seperti nona mu."
Lalu, nona bangsawan yang sudah tidak mengenakan celana. Pemimpin bandit sontak memaksa membuka dan memperlebar kaki nya.
"Hentikan! Tidak! Tolong Hentikan!"
Dan, saat itulah sosok Orc yang mereka selalu remehkan muncul tepat dibelakang pemimpin bandit.
Menyadari ada itu, pemimpin bandit terheran. "Eh? Kenapa menjadi gelap?" Lalu, dia pun menoleh kebelakang yang mana dia melihat sosok Orc berkulit merah dengan sebilah pedang besar di tangan nya.
"Grrrrr!"
Nona bangsawan itu pun juga melihat Orc itu hingga membuat nya terdiam dan hanya menitihkan air mata nya karena takut akan Orc ini.
Dan, Orc itu tidak lain adalah Orsa yang mana dia sontak meraung kencang seraya mengayunkan pedang besarnya.
"Gwuaaa!"
Para bandit yang masih terkejut dengan kehadiran Orc membuat nya terkena serangan telak dan membelah tubuh bandit yang mengerumuni nona bangsawan. Kejadian itu membuat Nona Bangsawan semakin ketakutan.
"Hiyaaa! Jangan makan aku!"
Disisi lain, bandit dan pelayan dari nona itu juga terkejut.
"A-Apa yang terjadi?!"
Tidak hanya bandit yang memegang pelayan, para bandit yang sedang menjarah juga dibuat kaget oleh serangan Orsa.
Melihat kejadian itu, para bandit sontak panik dan ketakutan yang mana dihadapan nya bukanlah Orc yang biasa ditemui oleh mereka.
"G-Gawat!"
"Apa-apaan ini?!"
Sesaat kemudian, Orsa pun berbalik kearah Para bandit dan mengeram.
"Gwuaaa!"
Merasakan intimidasi dari Orsa, para bandit pun pergi termasuk bandit yang menangkap pelayan. Namun, aku sudah mengantisipasinya.
Maka, aku mengutus G-Two untuk menghadang mereka dan dia melesatkan sihir bola api yang besar hingga membuat bandit yang tersisa mati terbakar.
Jika karakter utama selalu memamerkan diri kepada orang yang diselamatkan tapi, tidak dengan ku.
Aku lebih memilih pergi meninggalkan mereka dan kembali ke Guild Petualang dengan mengunakan aplikasi Go.
...****...
Setibanya di Guild Petualang, aku menunjukkan hasil misi ku dengan memberikan 10 tanaman obat.
"Baik, ini hadiah nya 1 perak dan anda mendapatkan 1 poin. Terimakasih sudah menjalankan misi!" ucap resepsionis seraya mengembalikan kartu Guild Petualang ku.
"Iya, sama-sama." Lalu, aku pun terpikir sesuatu dan bertanya kepada gadis resepsionis. "Nona, apakah aku bisa menjual sisa obat yang ku petik?"
"Tentu saja dan jika anda memiliki 10 tanaman obat lagi maka itu bisa dihitung poin dan harga yang sama seperti misi yang Tuan jalankan sebelumnya."
Mendengar itu, aku pun merasa bersemangat. "Oh, benarkah."
"Iya, memang seperti itu," jawab Gadis resepsionis dengan senyuman lebar.
Tanpa ada keraguan, aku pun mengambil 340 dan memberikan nya kepada resepsionis.
"Ini aku jual semua."
Alasan aku menjual nya sangat lah sederhana karena aku sama sekali tidak mengerti tanaman obat di dunia lain dan jika sejak aku mendapatkan aplikasi White Doctors, aku juga tidak pernah sakit. Aku pun bersyukur akan hal tersebut.
Disisi lain, gadis resepsionis terkejut dengan jumlah tanaman obat yang kubawa.
"Apa semua anda kumpulkan dalam satu hari?!" ucap heran resepsionis.
"Iya, kenapa memang?"
"Bukan, kenapa tapi baru kali ini ada petualang yang mampu mengumpulkan tanaman obat ini dalam satu hari?!"
Mendengar itu, aku pun tersadar bahwa aku melakukan sesuatu yang tidak biasa dan menonjol lalu, aku mencoba lihat sekitar yang mana pandangan mereka tertuju kepada ku.
"Eh?! Seperti nya aku telah melakukan kesalahan dan menarik banyak perhatian."
Dan berkat pengumpulan sebanyak itu, aku naik peringkat petualang menjadi peringkat E dan uang 34 perak.
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk pergi ke Wall Portal yang ada di Guild Petualang.
"Tunjukkan identitas mu!" seru penjaga wall portal.
Lalu, aku pun mengambil kartu Guild Petualang E.
"Ini!" seru ku seraya menunjukkan kartu.
"Baik. Harga ongkos 3 perak!"
Mendengar itu, aku mengambil 3 koin perak dan memberikan nya kepada penjaga wall portal.
"Tuan, Silahkan masuk! Dan, terimakasih sudah mengunakan wall portal."
Menjawab itu, aku pun tersenyum dan menganggukkan kepala. Lalu, aku masuk kedalam sebuah pintu hitam dengan genangan hitam dan sekeluarnya dari situ. Aku pun tiba di Guild Petualang juga yang mana memiliki desain interior yang berbeda.
Sesaat tiba disana, gadis Penjaga menyapa ku.
"Selamat datang Tuan! Di Guild Petualang kota Alberto."
Mendengar itu, aku tersenyum kecil. Lalu, melanjutkan langkah keluar yang mana aku sontak disambut oleh angin laut dan suara burung Cemara.
"Jadi, disini kah kota Alberto! Kota pelabuhan dan Pusat Perdagangan dunia!"