
...Chapter 33. Goa dan Naga...
Aku pernah menonton dan membaca sebuah kisah dunia lain yang mana tiba-tiba sang tokoh utama di bawa ke sebuah tempat yang dia tidak ketahui
Dan, siapa sangka? Hal itu terjadi juga kepada ku juga yang mana saat ini, aku sedang berada di Goa yang berdinding batu rapih dan lepas dari itu semua, saat aku berbalik badan dan ingin kembali. Portal kabut menghilang.
Hal itu membuat ku menghela nafas panjang namun, tidak berputus asa. Aku mencoba membuka smartphone dan aplikasi Go akan tetapi, aplikasi tidak bisa digunakan.
"Eh ... yang benar saja. Seperti nya, aku memang terjebak di Goa ini."
Selanjutnya, aku mencoba mantra Teleportasi apparate namun, tetap tidak bisa.
Lalu, aku coba aplikasi Navigasi yang mana disana aku menemukan informasi bahwa aku sedang berada di sebuah Dungeon bernama Great Raiden yang terletak di benua Utara.
Memahami itu, aku pun sedikit terkejut lantaran aku telah Teleportasi ke tempat yang sangat jauh dan lagi-lagi membuat ku menghela nafas panjang dan ku putuskan untuk melangkah maju.
Beruntung, aku memiliki aplikasi Navigasi yang mana memiliki kemampuan menunjukkan peta secara rinci dan terkecil bahkan jika ada monster akan tampak titik merah pada peta.
Sesudah tenang, aku pun memutuskan untuk melangkah. Namun, ditengah perjalanan aku berhadapan dengan beberapa monster skeleton dan para Goblin pun dengan mudah mengalahkan mereka.
Setelah mengalahkan mereka, G-Five yang memiliki Job Skill Shaman. Dia memberikan isyarat untuk mengambil Skeleton yang telah dikalahkan mereka. Memahami itu, aku pun mengizinkan nya.
Lalu, di ruangan yang berbeda. Aku berhadapan dengan ular hitam raksasa dan seperti nya ular itu tidak akan membiarkanku kabur. Namun, aku juga tidak ingin kabur.
Untuk melawannya, aku memanggil Orsa.
"Orsa! Tahan dia!"
"Gwuahh!"
Sesaat kemudian, Orsa sontak berlari menerjang ular dan ular pun juga merayap ke Orsa. Lalu, Orsa yang memiliki kecepatan lebih tinggi berhasil menangkap kepala ular.
Memahami situasi itu, aku sontak mengeluarkan tongkat sihir dan melesatkan sihir.
"Glacius."
Sihir Glacius merupakan sihir beku dan ku gunakan dalam bentuk sabetan hingga membuat kepala ular terputus dan pertarungan berakhir.
Dan, sihir itu lebih kuat dari dugaan ku maka dari itu, aku harus berhati-hati.
Setelah itu, aku pun memanggil beberapa Goblin untuk menyantap ular dan ada Goblin yang berevolusi menjadi Hobgoblin Poison. Lalu, kuberikan nama G-Six.
Selanjutnya, aku berhadapan dengan kadal yang memiliki kulit seperti baja dan aku menghadapi dengan mantra yang selalu ingin ku coba.
"Avra Kadavra."
Sesaat merapalkan sihir itu, kadal berkulit baja langsung mati seketika dan mengetahui itu, aku tersenyum senang.
"Mantra tidak termaafkan memang luar biasa."
Setelah itu, aku memerintahkan Goblin untuk menyantap nya dan salah satu Goblin berevolusi menjadi Armor Goblin. Lalu, kuberikan nama G- Seven.
Begitu pun beberapa monster lainnya seperti G-Eight yang memiliki kemampuan pelumpuh yang didapat dari lipan raksasa;
Dan, G-Nine
yang memiliki kemampuan jaring yang didapatkan dari Laba-laba hitam.
Lalu, aku terus melangkah sampai pada ditengah dalam Goa yang dimana aku mendengar suara wanita.
"Aku bisa mendengar mu. Wahai manusia!"
Mendengar itu, aku pun terkejut dibuat nya. "Siapa itu?"
Lalu, suara wanita terdengar kembali, "Kau mendengar nya? Wahai manusia!"
"Iya. Ya. Aku mendengar nya. Tapi, Dimana kamu?"
"Teruslah lurus melangkah kedepan dan ambil jalan ke kiri. Lalu, disana ada pintu besar. Masuklah!"
Karena aku tidak tahu siapa yang berbicara kepada ku. Maka aku memutuskan untuk menuruti nya ke tempa yang di tuju nya.
Dalam perjalanannya, aku terus mengobrol dengan nya. "Hei, siapa pun kamu? Kenapa kamu memanggil ku?"
"Karena sudah lama tak ada tamu yang datang. Jadi, aku penasaran dengan mu. Tapi, aku berikan perintah kepada mu. Jangan takut! Dan, bersikaplah biasa!"
"Bolehkah aku tahu alasan nya?"
"Ya, sebenarnya. Aku sudah disegel disini selama 500 tahun dan sejak saat itu, tak ada yang bisa kulakukan dan itu sangat membosankan."
"Oh, aku jadi penasaran kenapa kamu sampai di segel. Tapi, baiklah dengan senang hati aku akan menuruti nya."
Lalu, aku pun tiba di sebuah pintu besar dan masuk kedalam nya yang mana aku sontak disambut oleh cahaya terang dari batu kristal dan saat mata ku mulai terbiasa. Terlihat sosok makhluk raksasa yang memiliki sisik putih, tangan dengan cakar kuat serta dua sayap besar dan saat melihat nya, aku pun tersadar bahwa dia ...
Saat melihat nya, aku hanya bisa terdiam dan terbujur kaku. Bahkan, jika aku melawan nya mungkin saja aku yang bisa mati disini.
Lalu, Naga itu pun mendekat kepala nya kearah ku.
"Kalau begitu, aku akan memperkenalkan diri."
"Ba-Baik."
"Aku adalah Naga Agung, Raidenia dan Aku juga salah satu dari Enam Naga Agung yang ada di dunia ini. Hahahaha ..."
Tawa keras dari Raiden pun membuat tanah terguncang dan aku hanya bisa terdiam.
"Jadi, apakah kamu masih menuruti perintah ku?"
"Te-Tentu saja. Aku tidak takut sama sekali." Lalu, aku pun memutuskan untuk pergi dan tidak berurusan dengan naga tua. "Baiklah, kalau begitu, kita ngobrol lain kali!"
"Tunggu! Kenapa kamu bisa kesini?"
Aku pun menghentikan langkah dan memutuskan untuk menjawab nya. "Aku terkenal di dalam kabut. Lalu, Teleportasi ke tempat ini.
"Kabut? Mungkin, kamu di utus oleh Dewi Jahat?"
"Mungkin saja. Kalau begitu, aku pamit."
"Tu-tunggu! Bisa kah tinggal lebih lama lagi? Karena sudah 500 tahun ini, tidak ada tamu yang datang. Jadi, aku sedikit tenang dengan kehadiran mu."
Mendengar situasi dari Raidenia, aku pun hanya bisa menghela nafas panjang dan sedikit iba kepada nya.
"Iya, ya. Aku akan menemanimu."
"Jadi, siapa namamu?"
"Aku Rudi Saputra seorang Pedagang."
Mendengar itu, Raidenia mengerutkan keningnya. "Benarkah, kamu Pedagang?"
"Iya, seperti itulah," jawab santai ku. "Jadi, kenapa Nyonya bisa disegel?"
"Nona! Bukan, Nyonya!"
"Iya, Nona. Jadi, kenapa Nona bisa disegel?"
"Aku senang, kamu mempertanyakan nya. Cerita ini berawal di 500 tahun yang lalu yang mana aku tidak sengaja mengubah kota menjadi abu. Karena itulah ada seseorang yang datang untuk membunuh ku. Aku memang sedikit meremehkan nya. Meskipun demikian, ditengah pertempuran aku mulai serius Namun ... Akhirnya aku tetap kalah."
"Oh, begitu. Seperti nya lawan Nona memang sangat kuat."
"Iya, sangat kuat. Dia manusia yang dikenal sebagai pahlawan yang dikaruniai perlindungan langit."
"Pahlawan manusia kah?" untuk sesaat, aku teringat kepada Ratu Rafaela yang memanggil kami semua untuk dijadikan pahlawan.
"Dia memiliki kemampuan yang luas biasa yakni tebasan mutlaknya yang membuat ku terluka parah dan menyegel ku dengan penjara tak terbatas."
"Oh, Begitu. Jadi, sinar yang berkilauan di sekitar Nona itu Penjara Tak Terbatas?"
"Iya, Dan. Pahlawan itu merupakan Transmigrator yang mana dalam pemanggilan nya membutuhkan setidaknya 30 penyihir dan beberapa hari untuk melakukan ritual nya."
"Begitu, jadi. Dia bernasib sama dengan ku. Jadi, sejak disegel Nona selalu berada disini?"
"Benar sekali. Sebenarnya, aku sudah bosan."
Mendengar itu, aku pun merasa kasihan kepada nya dan ku harap bisa melakukan sesuatu. Lalu, terpikir lah sesuatu.
"Bagaimana kalau aku mencoba melepaskan segel mu?"
Mendengar itu, Nona Raidenia terkejut. "Apa katamu?"
"Aku belum tahu berhasil atau tidak. Tapi, aku ingin mencoba nya."
"Baiklah, sesuka hatimu. Jika, kamu berhasil. Aku akan membuat kontrak dengan mu."
Mendengar itu, aku hanya memberikan senyuman kecil.
Lalu, aku pun menyentuh pelapis dinding yang bersinar dan mengaktifkan aplikasi ku.
"Neo, aktifkan Aplikasi Cancel."
Sesaat kemudian, lapisan berkilau menjadi retak dan terus membesar retakan nya hingga akhirnya terpecah menjadi butiran cahaya.
Melihat situasi itu, Raidenia sontak senang dan berteriak. "Aku bebas!"
Dan, suara kesenangan nya membuat tanah berguncang kembali.