Become Rich In Another World

Become Rich In Another World
Chapter 36 | Masa Lalu dan Desa Daratan Tinggi



...Chapter 36. Masa Lalu dan Desa Daratan Tinggi....


Lima ratus tahun yang lalu di dunia Phantasia ini terjadi perang besar antar pasukan manusia dan pasukan Iblis.


Dalam perang itu, kedua kubu tidak mau kalah dan unggul satu sama lain serta peperangan itu terlihat seimbang namun, keadaan berbalik yang mana pasukan iblis mengeluarkan Rune Legendaris berbentuk matahari atau disebut Rune Of Sun yang mampu mengeluarkan ribuan yang menghujani seluruh pasukan baik manusia ataupun Iblis.


Meski begitu, para pahlawan manusia pada zaman itu berhasil menghalau nya.


Bencana tidak sampai di situ, Rune Of Sun menetas dan memunculkan naga yang sangat besar yang memusnahkan seluruh pasukan manusia hingga hanya tersisa para pahlawan yang mampu bertahan dalam serangan naga.


Pasukan Manusia pada saat itu jatuh dalam keputusasaan terutama saat melihat para pahlawan di hampiri oleh sang Naga.


Para pahlawan pun tidak berputus asa, mereka dengan sekuat tenaga mencoba melawan balik namun, usaha mereka sia-sia. Sang Naga sama sekali tidak terluka.


Disisi lain, sang Naga melakukan serangan balik dan membuat para pahlawan terpojok. Lalu, disaat itu juga datang seorang Petapa Agung, Mystogan. Yang mana Mystogan mengunakan Rune tertinggi nya untuk menyegel sang Naga dan dia pun berhasil.


Lalu, pasukan Iblis pun memutuskan untuk mundur dan peperangan dimenangkan oleh pihak pahlawan bersama dengan pasukan manusia.


Setelah perang berakhir, Mystogan memutuskan untuk mengasingkan diri dan menolak segala penghargaan.


Di tempat pengasingan, Mystogan menghabiskan seluruh masa hidup nya di rumah tempat tinggal bersama keluarga nya dahulu sampai suatu ketika dia memutuskan untuk mengembangkan ilmu sihir nya dan mengembara.


Itulah kisah dari buku harian Mystogan yang mana dia merupakan pemilik dan pencipta dari dunia Kabut ini dan pahlawan yang menyegel Raidenia.


Lalu, aku pun menutup buku itu dan mengambil kesimpulan bahwa pertemuan ku dengan Raidenia dan dunia kabut ini diatur oleh para Dewa dan Dewi.


Dan, aku tidak tahu apa rencana mereka sehingga aku tidak diizinkan untuk kembali dan harus berkelana di benua Utara yang mana benua ini dikenal sebagai wilayah para Iblis dan disini juga tempat istana Raja Iblis berada.


Mengabaikan hal itu, aku pun memutuskan untuk pergi ke benua timur dengan arah yang pasti nya ke timur yang dimana ada sebuah desa bernama desa Dataran tinggi.


Dan, aku pergi kesana dengan mengunakan mobil listrik yang ku beli seharga 700 juta.


Melihat mobil listrik didepannya, Raidenia pun terheran-heran.


"Apa ini? Senjata? Atau Armor?" tanya Raidenia seraya memeriksa mobil listrik.


"Itu Mobil. Ya, mungkin sejenis kereta kuda namun, mengunakan mesin."


"Mesin? Oh, aku mengerti. Seperti benda yang diciptakan oleh dewa Mesin."


Meski aku tidak mengerti dengan perkataan Raidenia, aku pun menjawab seadanya. "Iya, sejenis itu."


Setelah itu, kami menaiki mobil dan melajukan mobil ke desa Daratan tinggi.


Mobil Listrik ini sama seperti benda elektronik lainnya yang mana baterai tidak berkurang. Selain itu, aku juga baru pahami kalau karet bumi itu lebih keras dibanding dengan karet dunia Phantasia. Ini terbukti saat kami melewati jalanan berbatu seperti ini ban mobil tidak pecah.


Ditengah perjalanan, kami melihat ada sosok anjing besar berkepala dua ingin memangsa sosok Orc kecil yang berpakaian gadis.


Melihat itu, aku merasa iba ingin menolong dan ku putuskan untuk menghentikan laju mobil.


"Tuan, ada apa?"


"Aku ingin menyelamatkan Orc kecil itu."


"Kamu yakin? Dia kan monster. Sedangkan kamu manusia."


"Menolong itu tidak mengenal ras," jawab ku dengan senyuman lebar.


Lalu, aku pun turun dari mobil.


Sikap ku itu membuat Raidenia menghela nafas panjang. "Dasar Tuan yang naif! Ya, mungkin disitulah sisi menarik nya."


Seusai bergumam itu, Raidenia ikut turun dari mobil.


Disaat berjalan sudah dekat dengan anjing berkepala dua. Aku pun menyapa nya.


"Hei, anjing jelek! Pergi dari ini atau kamu akan mati!"


Mendengar provokasi ku, anjing itu sontak menoleh kearah dengan ekpresi marah dan geram.


Lalu, membuang waktu lagi. Anjing itu sontak menghampiri ku. Akan tetapi, Raidenia yang tidak jauh dari ku tidak membiarkan nya.


"Tidak ada yang boleh menyakiti Tuan Ku!" seru Raidenia seraya melepaskan sihir petir yang kuat hingga membuat anjing itu hangus terbakar.


Melihat itu, aku pun menoleh kearah Raidenia dan memberikan senyuman. Lalu, Raidenia juga memberikan senyuman.


Setelah itu, aku menghampiri Orc kecil.


"Kamu baik-baik saja?"


"Jsjdkeknd.."


Ditengah aku memikirkan itu, sebuah pemberitahuan datang dari ponselku. Lalu, aku melihat kearah Smartwatch yang mana pesan itu berisikan;


Aplikasi Translate telah diperbaharui.


Melihat itu, aku pun sontak senang dan bergegas mengambil Smartphone dan mengaktifkan aplikasi tersebut. Lalu, ucapan Orc pun sontak aku pahami.


"Kenapa ada manusia di benua Utara ini? Mungkinkah dia pahlawan?"


"Aku bukan Pahlawan. Aku hanya pedagang keliling biasa."


Saat aku menjawab Orc itu, dia sontak terkejut. "Eh? Kenapa manusia bisa berbicara bahasa Orc.


Aku pun tersenyum mendengar itu. Lalu, aku mengalihkan pembicaraan. "Jadi, kenapa kamu bisa anda disini? Ini adalah ujung dunia yang biasa disebut gurun tandus."


"Sebenarnya, kami tersesat dan ingin mencari desa terdekat. Apakah ada desa manusia?"


"Tidak ada. Desa yang dekat disini hanya desa Orc dan saya Enma, Orc daratan tinggi."


"Aku Rudi. Jadi, kenapa Nona Enma ada disini?"


Enma pun menundukkan kepalanya, "Saya ... sedang dalam perjalanan menuju Goa Great Raiden untuk menyerahkan diriku sebagai tumbal kepada Yang Mulia Raidenia."


"Kenapa?"


"Beberapa tahun terakhir, desaku diselimuti kabut tebal hingga membuat tanaman henti berproduksi. Dengan menawari tumbal agar bisa mengurangi kabut dan sekarang giliran ku."


"Jadi, begitu. Aku mengerti."


"Terimakasih, Rudi. Kalau begitu, saya permisi!"


Lalu, Enma pergi meninggalkan ku dan tidak lama Raidenia berdiri disamping ku.


"Tuan, siapa dia?"


Saat melihat Raidenia, aku teringat akan ucapan Enma yang mana dia ingin menumbalkan dirinya untuk nya.


"Tunggu! Raidenia, apakah kamu yang menyebarkan kabut dan meminta tumbal?"


"Tidak. Hanya saja ras iblis suka meminta kekuatan dari ku dengan persembahan daging Orc. Tapi, aku tidak meminta nya."


"Yang berarti, ini bukan dari mu."


Raidenia pun mengangguk kepalanya.


Memahami situasi itu, aku pun memanggil Enma. "Enma, apakah kamu ingin bertemu dengan Raidenia? Dia ada disini!"


Mendengar ucapan ku, langkah Enma terhenti dan dia menoleh kearah ku. "Rudi, sangat sembarang menyebut nama nya. Nanti, dia akan murka kepada mu."


Raidenia yang mendengar itu, dia sontak menyambung perkataan nya.


"Tidak masalah. Karena dia adalah Tuan ku dan..." Raidenia melipatkan tangan nya. "Orc kecil, aku lah Raidenia, sosok Naga Agung," ucap bangga Raidenia.


Enma yang mendengar itu, dia pun sedikit tidak percaya dengan ucapan nya. "Eh?"


"Benar, Tuan Rudi memiliki kemampuan yang luar biasa hingga dia mampu menghancurkan segel yang mengikat ku," sambung Raidenia.


Enma pun masih tidak percaya, "Tapi, Yang mulia Raidenia itu dikenal sebagai naga yang besar dan tidak terkalahkan."


"Ya, aku terpikat oleh Tuan ku Rudi dan membuat kontrak dengan nya. Dimana Tuan Rudi lebih kuat dalam kontrak nya."


Enma yang menyimak itu hanya terdiam dan masih tidak mengerti.


Lalu, untuk meyakinkan nya. Raidenia memberikan sisik kulitnya kepada Enma.


"Ini sisik ku yang terlepas sebagai bukti nya." Lalu, Raidenia mengeluarkan aura intimidasi nya. "Apa kamu masih tidak percaya?"


Merasakan aura intimidasi dari Raidenia, Enma pun memohon ampun dan dia mengantar kami ke desa Daratan tinggi.


Setibanya di desa, kami disambut hangat bahkan membuat perayaan lantaran para Orc itu merupakan pemuja dari Raidenia sendiri.


Ditengah perayaan, aku mencari informasi tentang tumbal untuk kabut dan Aku menduga itu hanya kebohongan dari para ras Iblis maka dari itu, aku mengendap-endap meninggalkan desa dengan mengunakan mantra menghilang yakni;


"Disillusiomento."


Disillusiomento adalah mantra yang membuat target menjadi kasat mata.


Dan, saat sudah menghilang. Aku pun meninggalkan desa menuju tempat yang disebut Altar Naga guna untuk mencari kebenaran.


Sebenarnya, aku sedikit malas namun, karena rasa penasaran aku pun memutuskan untuk menyelesaikan salah paham ini.