
...Chapter 15. Gadis bernama Fina....
Saat ini aku sedang memeriksa perbaikan panti asuhan yang mana pada hari itu, perbaikan sudah selesai dan rumah yang sebelumnya hampir rubuh kini berdiri kokoh kembali.
Mengetahui itu, aku pun memberikan tugas membersihkan halaman dan rumah untuk para remaja di panti asuhan dengan mengunakan alat tukang yang ku beli dari Aplikasi Online Store sejumlah 500 ribu rupiah.
Para remaja pun bersuka cita dengan tugas yang kuberikan apalagi alat yang mereka gunakan tidak memberikan rasa lelah sama sekali dan ini itulah salah satu keanehan dari kemampuan barang di Aplikasi Online Store.
Ditengah memeriksa sekitar panti asuhan, aku melihat ada ruko yang sangat kumuh dan sepi.
Melihat itu, aku pun bertanya kepada Lizu yang tidak jauh dari ku. "Toko apa itu?"
Lizu pun menghentikan aktifitas nya dan menjawab ku.
"Itu kedai makan. Tapi, sangat lah sepi terlebih lagi disana hanya ada satu karyawan yang berpenampilan kumuh. Namun, dia sangat tertutup dan tidak mau bersosialisasi."
"Oh, begitu."
Mendengar penjelasan Lizu, aku pun jadi penasaran dan pergi kedai tersebut.
Kling! Kling!
Suara lonceng berbunyi saat pintu terbuka.
Lalu, aku pun disambut oleh sosok gadis cantik berambut pirang yang memiliki telinga @njing dan memiliki ekor coklat.
Melihat nya, aku pun membuka mata dengan lebar-lebar lantaran ini pertama kali aku bertemu dengan gadis cantik dengan Ras Beastman atau manusia hewan. Meski dia terlihat cantik namun, penampilan jauh menunjang nya yang mana dia berbadan kurus dengan baju pelayan yang sudah kotor.
Lepas dari itu, kedai juga terlihat kotor dan banyak lubang tikus dimana-mana. Hal itu membuat ku menghela nafas panjang karena alasan inilah yang membuat kedai sepi.
Meski begitu, gadis pelayan dengan senyuman datang menyambut ku.
"Selamat datang, Tuan pelanggan!"
Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Tuan, silahkan duduk!"
Lalu, aku pun duduk di kursi yang tidak jauh dari pintu dan disana, pengunjung hanyalah aku.
Dengan ramahnya, gadis itu mendekati ku. "Tuan, anda ingin memesan apa?"
"Berikan makanan yang terbaik di kedai ini!"
"Baik, saya akan buatkan!"
Lalu, gadis beastman itu pun pergi ke dapur dan memasak pesanan ku. Sambil menunggu, aku pun melihat sekeliling kedai yang membuat ku mengelus dada dan menghela nafas panjang.
"Kasian sekali, dia bekerja di tempat seperti ini."
Beberapa saat kemudian, gadis beastman itu pun datang dengan membawa roti gandum hitam, sup daging sayuran dan susu domba.
"Tuan, silahkan dinikmati!" seru gadis beastman seraya menyajikan makanan diatas meja.
"Terimakasih."
Setelah itu pun menyantap nya meski memiliki rasa yang tidak begitu enak namun, aku tetap menghargai usaha nya dalam melayani ku.
Ditengah membersihkan kedai, aku pun memanggil nya.
"Nona, bisakah anda menemani ku makan?"
Mendengar itu, gadis beastman sontak menghentikan aktifitas dan melihat ku dengan senyuman kecil. "Baik, Tuan."
Lalu, dia pun duduk didekat ku.
"Apakah Nona sudah lama bekerja disini?"
Gadis beastman menundukkan kepalanya dan menjawab dengan malu-malu. "Saya besar disini. Jadi, saya bekerja sejak umur 5 tahun dan Tuan, jangan panggil saya nona. Panggil Fina saja."
"Baik, Fina dan panggil aku juga Rudi!"
"Iya, Tuan Rudi."
"Lalu, apakah kamu tinggal sendiri disini?"
"Iya, ibu sudah meninggal dunia sejak umur ku 8 tahun sedangkan, ayah setahun yang lalu."
"Begitu kah. Kalau begitu, mau kah kamu bekerja di perusahaan ku?"
"Aku Rudi Saputra, pemilik dari perusahaan Saputra."
Mendengar itu, Fina sontak menutup mulut nya dengan kedua tangan nya. "Mungkin kah, anda Pedagang monster yang lagi di gosip-gosip kan itu."
Mendengar itu, aku sedikit terkejut. "Eh? Pedagang Monster?" Meski begitu, aku pun menerima julukan itu. "Iya, seperti itulah."
Meski Fina terkejut. Namun, dia menolaknya.
"Maaf, aku tidak bisa. Karena Kedai ini peninggalan ayah dan ibuku. Jika tinggalkan maka tidak ada yang mengurus nya." Lalu, Fina menundukkan kepalanya. "Maaf keegoisan saya, Tuan Rudi."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Tapi, jika kamu berubah pikiran. Aku selalu terbuka untuk mu."
"Baik, Tuan Rudi."
Lalu, aku dan Fina pun saling bertukar senyum.
"Jadi, semua nya berapa?"
"1.000 Mozza."
Mendengar itu, aku pun mengambil 1 koin emas dan kuberikan kepada Fina. "Ambil kembalian nya."
Tanpa disadari, Fina mengambil itu, "Terimakasih, Tuan Rudi." Lalu, saat melihat yang kuberi 1 koin emas. Dia pun terkejut. "Maaf, Tuan Rudi. Apakah anda salah mengambil koin?"
Aku pun beranjak diri dan memegang kepala Fina yang mana dia takut mungkin, aku akan memukul nya hingga dia menutup mata.
"Aku tidak salah memberikan koin. Gunakanlah kembalian itu untuk merawat diri mu dan membeli pakaian sebisa nya."
Setelah aku mengatakan itu, Fina pun melihat ku dengan menitihkan air mata nya. "Terimakasih, Tuan Rudi."
"Iya, sama-sama."
Setelah itu, aku meninggalkan kedai dan melanjutkan aktifitas di panti asuhan.
...•••...
...Extra Chapter:...
Di Akademi Alexandria, sedang diselenggarakan pertandingan yang cukup menarik perhatian yang mana sosok pahlawan terpanggil sedang berlatih tanding dan di sudut lapangan terlihat Rendy dan Dina sedang melaksanakan latih tanding.
"Pertandingan tim 2 vs 2 dimulai! Dari Tim Rendy melawan tim Josh!" seru salah satu guru disana.
Sesaat kemudian, sebuah penghalang sihir aktif mengelilingi arena agar para penonton di luar arena tak terkena serangan dari dalam arena.
Disisi lain, Josh memberikan penghormatan terlebih dahulu kepada Rendy dan Dina.
"Ini kehormatan bisa bertarung dengan pahlawan yang terpanggil. Aku sangat mengagumi sosok pahlawan dalam dongeng, mereka kuat dan membawa keadilan kuat. Jadi, jangan membuatku kecewa!" seru Josh yang sontak melompat horizontal kearah Rendy.
Disisi lain gadis dibelakang Josh merapalkan mantra sihir element api yang mana sebuah tombak api terbentuk dan di lepaskan menuju arah Dina dan Rendy.
Dina yang melihat itu, dia tidak tinggal diam yang mana dia membuat penghalang sihir dengan mengunakan sihir elemen air hingga saat tombak api mengenai penghalang sihir Dina hingga membuat tombak yang mengarah kepada nya menghilang.
Gadis yang bersama Josh itu pun terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa.
Lalu, Dina melesatkan serangan balik dengan mengunakan dua sihir secara bersamaan.
"Ice Spear. Lighting Chain."
Melihat Dina yang mengeluarkan dua mantra membuat gadis penyihir dan Josh terkejut akan tetapi, Josh tidak bisa berhenti lama lantaran serangan yang bertubi-tubi dari Rendy.
"Menarik! Seperti yang dirumorkan bahwa kekuatan para pahlawan sangat mengerikan," gumam Josh.
"Saya melihat nya!" Rendy melesatkan serangan pedang nya. "Double Slash!"
Dan, serangan Rendy itu pun mementalkan Josh hingga membuatnya kalah.
Disisi lain, Dina melepaskan sihir nya kearah Gadis penyihir. Namun, gadis penyihir tidak mau kalah dan mengeluarkan pelindung sihir nya akan tetapi, sihir itu tidak mampu menahan kekuatan dari serangan sihir Dina hingga gadis penyihir itu terkena sihir dan kalah.
Melihat itu, wasit pun mengumumkan hasil nya.
"Pertandingan selesai. Pemenang nya Tim Rendy dan Dina."
Pengumuman itu pun membuat gemuruh arena bergema pujian untuk sang pahlawan mereka Rendy dan Dina.
Ditengah sambutan itu, Rendy dan Dina pun saling bertukar senyum bangga.