
...Chapter 46. Menikmati Momen yang sama....
Dimalam yang penuh nikmat, aku dan Clara dikejutkan oleh suara pria yang berteriak dari luar.
"Aaaa! Bahaya! Ada Goblin!"
Mendengar itu, aku dan Clara sontak menghentikan kegiatan kami dan Clara sontak menutupi tubuhnya dengan selimut dengan aku dalam langsung melihat ke jendela meski belum berpakaian.
Dan, benar seperti waktu dulu. Segerombolan Goblin datang memasuki desa.
Clara yang penasaran, dia pun menghampiri ku. "Juan, ada apa?"
"Segerombolan Goblin datang."
Clara yang mendengar itu, dia sontak panik dan meraih tangan ku. "Juan, kita harus bersembunyi!"
Aku pun memberikan senyuman kecil. "Tidak perlu khawatir. Mereka hanya Goblin. Aku bisa mengatasi nya."
Disisi lain, aku melihat para pria dewasa sontak keluar dari rumah nya dengan membawa senjata seadanya adapun dari beberapa yang memegang senjata seperti pedang, tombak dan pisau.
"Mereka hanya Goblin! Serang!" seru salah satu warga dan semua warga pria ikut serta dan pertarungan dimulai.
Melihat pertarungan itu, aku pun tersenyum senang lantaran ada suatu benda yang ingin ku coba.
Setelah itu, aku pun mengambil sebuah senjata yang sudah ku beli sebelum nya yakni Yaka Arrow.
Yaka Arrow sendiri dalam dunia Marvel memiliki kemampuan untuk menusuk target seusai dengan apa yang diperintahkan oleh pemilik senjata dan senjata ini dihargai 10 juta Rupiah.
Seusai mengambil Yaka Arrow, aku pun memberikan perintah kepada nya. "Yaka Arrow, bunuh semua Goblin."
Sesaat memerintahkan itu, Yaka Arrow melesat dengan kecepatan tinggi menusuk kepala sebuah Goblin hingga membuat mereka mati seketika dan sesudah nya, Yaka Arrow itu kembali ke tangan ku.
Clara yang melihat itu, dia pun terkagum. "Juan, kamu memang hebat!"
"Terimakasih."
Tidak hanya Clara, semua pria dewasa sontak melihat ku dengan tatapan bangga. Aku pun hanya memberikan senyuman kecil kepada mereka.
Setelah semua masalah selesai, aku kembali melihat Clara.
"Clara, apakah kamu ingin melanjutkan?"
Clara dengan wajah yang memerah, dia mengangguk kepalanya. Lalu, Aku pun sontak mencium bibir nya dan ronde selanjutnya dimulai.
Keesokan harinya, semua warga desa terkagum-kagum dengan kemampuan ku dalam mengendalikan anak panah. Meski sebenarnya itu kemampuan dari senjata, aku pun membiarkan nya.
Dan, lepas dari itu semua. Semua warga bersukacita lantaran Novia mendapatkan garam berkualitas tinggi.
Novia pun mengatakan garam itu dari ku. Momen ini sama seperti waktu sebelum nya dan aku cukup menikmati nya.
Tidak lama kemudian, Dariel datang dan duduk dihadapan ku.
"Selamat datang, Tuan! Saya Dariel, kepala desa di desa Raflesia ini."
"Aku Juan, salam kenal juga, Pak Dariel!"
"Jadi, apakah Tuan Juan memiliki garam lagi selain ini?" tanya Dariel.
"Ada sekitar satu karung yang kusimpan di sihir item box."
Mendengar itu, Dariel pun terkejut. "Apa satu karung? Dan, Tuan memiliki sihir item box?"
"Iya, seperti itulah," jawab ku dengan senyuman lebar.
"Luar biasa! Kenapa Tuan Rudi tidak menjual nya? Saya dengar di kota Aeri, harga garam melambung tinggi dan banyak orang berbondong-bondong pergi ke kota itu."
"Aku ingin tapi, tidak tahu jalan kesana. Jika boleh tahu, sebenarnya ada apa di Kota Aeri. kenapa bisa harga garam melambung tinggi?"
"Sebenarnya kota Aeri merupakan kota tambang garam dan distributor garam terbesar untuk kerajaan Alexandria namun, sejak serangan Goblin yang menguasai tambang garam. Pemimpin kota dan Guild Pedagang sedikit kerepotan dengan permintaan garam untuk kerajaan."
"Oh, begitu. Aku mengerti."
"Jika tidak keberatan, saya bisa antar Tuan Rudi ke kota Aeri."
"Benarkah, terimakasih.
Keesokan harinya, aku dan Dariel berangkat ke kota Aeri dengan mengunakan kereta kuda dan kami pun menempuh perjalanan hingga satu hari untuk sampai di kota Aeri.
Setibanya disana, mereka pun harus membayar pajak kota sebesar 5 koin perak perorangnya dan aku pun mengeluarkan 1 koin emas untuk membayar pajak dirinya dan Pak Dariel.
Awalnya, pak Dariel sempat menolak namun,
aku memberikan pengertian.
Tidak waktu lama, kami pun masuk kedalam kota dan setibanya didalam kota, terlihat banyak toko yang berjajar di sisi jalan meski begitu, Kota Aeri masih lebih kecil dibandingkan dengan ibukota Alexandria.
Tanpa membuang waktu, kami pun pergi ke Guild Pedagang yang mana Guild itu merupakan pusat dari seluruh pedagang yang ada di setiap kota.
Setibanya disana, kami melihat banyak orang-orang yang mengantri ingin menjual barang-barangnya termasuk garam namun, garam yang Rudi lihat sangat jauh kualitas dibandingkan dengan miliknya. Garam itu berwarna coklat dan hampir mirip seperti pasir pantai.
Lalu, aku diarahkan oleh Pak Dariel untuk mengantri di meja resepsionis sampai beberapa menit kemudian, giliran ku.
"Selamat siang, Tuan! Ada yang bisa saya bantu?"
"Aku ingin menjual garam. Apakah bisa?"
"Sebelum itu, bisakah Tuan menunjukkan kartu pedagang anda."
"Maaf, aku tidak memiliki nya."
"Jika begitu, sungguh minta maaf. Tuan tidak bisa menjual barang di Guild Pedagang ini."
"Oh, begitu. Kalau begitu, apakah aku bisa mendaftar diri?"
"Bisa, Tuan hanya perlu mengisi data dan membayar uang pendaftaran seusai peringkat yang ada dibutuhkan!"
Karena aku sudah mengerti tentang peringkat. Maka aku pun sontak menjawab nya.
"Aku pilih peringkat Perunggu."
"Baik, tunggu sebentar!"
Lalu, wanita resepsionis mengambil kertas kulit dan tinta bulu sebagai alat tulisnya.
Aku pun tidak mempedulikan nya dan menulis data diri nya dan setelah itu, memberikan nya kepada wanita resepsionis.
"Ini kak, aku sudah mengisi nya."
"Total biaya semuanya 8 koin emas!"
Aku pun mengangguk kepala dan memberikan 8 koin emas dari item box.
"Ini uang nya!" seru ku seraya memberikan koin emas kepada resepsionis.
"Terimakasih, saya terima." Ucap resepsionis seraya menerima koin emas. Sesudah itu, resepsionis memberikan kartu Guild pedagang Perunggu kepada ku. "Tuan, ini kartu anda!"
"Terimakasih," jawab ku seraya menerima kartu Guild Pedagang.
"Tuan, apakah ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Bisa Tuan tunjukkan!"
Lalu, aku pun menunjukkan garam yang satu kilo dan resepsionis itu pun memeriksa nya serta menyicipinya hingga membuat resepsionis itu terkejut.
Sesudah memeriksanya, dia melihat ku. "Tuan, tunggu sebentar! Dan, izinkan saya membawa garam ini!"
"Oh, iya. Silahkan!"
Seusai itu, resepsionis pergi ke ruang kerja Andreas dengan membawa garam dari pemberian Rudi dan membuat ku menunggu lama.
Aku pun melihat kearah sisi gedung yang mana pak Dariel sedang tertidur dengan posisi terduduk.
Melihat itu, aku jadi sedikit bersalah karena merepotkan pak Dariel.
Beberapa saat kemudian, resepsionis datang kembali dan menyuruh ku masuk ke ruang ketua Guild.
Setibanya disana, Rudi disambut oleh Andreas.
"Salam kenal, aku Andreas. Ketua Guild Pedagang di kota Aeri ini!" Ucap Andreas seraya memberikan tangan nya kepada Rudi.
"Aku Juan, salam kenal juga!"
"Senang bisa bertemu dengan anda, Tuan Juan!"
"Aku juga senang bertemu anda."
Pada waktu ini sama seperti waktu sebelumnya, saat ini aku sedang melakukan transaksi garam dengan Andreas.
"Aku sudah bertahun-tahun terjun di dunia perdagangan tapi ini baru pertama kalinya ku melihat ada garam yang memiliki kualitas tinggi dan benar-benar murni. Luar biasa!" Ucap puji Andreas terhadap garam yang ku bawa. Aku pasti akan membeli garam ini akan tetapi bisakah Tuan dengan baik hati memberitahu ku bagaimana kamu mendapatkan nya?"
"Maaf, ini rahasia keluarga. Aku tidak bisa memberitahu," ucap ku seraya menundukkan kepala.
"Tidak. Tidak. Aku yang meminta maaf karena telah bersikap kasar." Andreas menghela nafas panjang. "Ahufuu ... Beberapa bulan ini, kami sangat sulit untuk pemasokan garam jadi, aku begitu bersemangat sampai lupa diri. Kalau begitu, mengenai jumlah uang nya. Bagaimana dengan 14 koin emas?"
"Iya, sepakat."
Setelah itu, tidak membutuhkan waktu yang lama. Andreas memberikan 14 koin emas atau setara dengan 14 juta rupiah.
"Ini uang nya!" Seru Andreas seraya memberikan 14 koin emas yang di taruh pada napan perak.
"Terimakasih," ucap ku seraya mengambil pembayaran yang telah di sepakati.
"Anu ..."
Setelah menerima uang itu, Andreas seperti nya akan mengatakan sesuatu namun, ada sedikit keraguan.
"Iya, ada apa?" tegur ku.
"Apakah Tuan Juan memiliki garam lagi? Sebenarnya, jumlah permintaan ke kerajaan masihlah sangat kurang di tahun ini."
"Jika boleh tahu, kurang berapa?"
"100 Miles."
"Baiklah, aku akan mengusahakan nya namun, besok mungkin baru bisa."
Andreas lagi-lagi dikejutkan dengan ucapan ku dan sedikit ragu, "Benarkah?"
"Iya, tapi tidak bisa sekarang."
Andreas sontak meraih tangan ku, "Tidak apa-apa, aku malah sangat sangat sangat berterimakasih."
Melihat kebahagiaan Andreas, aku hanya tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, aku pun keluar dari ruangan dan membangun Dariel yang tertidur di kursi. Lalu, kami penyewa penginapan dengan dua kamar seharga 2 koin perak dan aku mentraktir Dariel makan serta minum sepuasnya hal hasil, Dariel menjadi mabuk berat dan membuat ku harus membopong nya ke kamar penginapan karena traktiran itu, aku menghabiskan 1 koin emas.
Setibanya dikamar, aku mempersiapkan garam yang harus ku jual. Sebelum itu, aku melakukan top up terlebih dahulu dari koin yang kudapatkan yakni 14 koin emas.
Lalu, tanpa ragu aku mencari garam premium 50 Kg yang mana di toko online tertera 300 ribu rupiah atau 3 koin perak. Lalu, aku pun membeli tiga karung dan total biaya menjadi 900 ribu rupiah atau 9 koin perak.
Seusai melakukan pembayaran, tidak membutuhkan waktu lama tiga karung biru muncul dihadapan ku.
Setelah nya, aku memasukkan ketiga karung itu kedalam Item Box.
Dan, pagi menjelang. Aku pun bergegas pergi ke Guild Pedagang untuk bertemu dengan Andreas dan saat ku tunjukkan ketiga karung garam yang memiliki berat 50 Miles per karung membuat nya terkejut lagi lebih dari itu, dia juga terkejut dengan kemampuan sihir Item Box ku.
Namun, setiap pertanyaan dia. Aku hanya menjawab nya.
"Maaf, ini rahasia keluarga ku."
Hingga pada akhirnya, Andreas lelah terkejut dan kami kembali membicarakan bisnis garam ini.
"Jadi, apakah Tuan Juan ingin menjual semua garam ini?"
"Iya, hitung-hitungan aku juga ingin membantu kerajaan dan rakyat nya."
"Tuan Juan, anda sungguh mulia."
Mendengar pujian itu, aku hanya tersenyum kecil.
Lalu, Andreas melihat kearah garam dan tidak lama kembali melihat ku, "Ini sudah aku periksa dan bagaimana jika aku membelinya dengan harga 5 koin platina perkarung nya."
"Yang berarti perkarung nya 5 juta Mozza?"
"Iya, benar sekali."
Lalu, aku pun berpikir jika memang harganya 5 koin platina yang berarti setara dengan 500 juta rupiah.
Lalu, lamunan ku disalah sangka oleh Andreas hingga membuatnya menaikkan harga. "Masih terlalu murah kah ... Baiklah, aku akan beli 7 koin platina dan itu harga tertinggi yang bisa ku tawarkan."
Memahami itu, aku sontak menjawab nya. "Iya, baiklah. Aku sepakat."
"Namun, sebelum itu. Aku ingin membuat persyaratan untuk Tuan Juan."
"Persyaratan apa?"
"Pertama, aku ingin Tuan Juan mendaftarkan diri sebagai Pedagang Mystril. Kedua, aku ingin Tuan Juan menjalin kerja sama dengan Guild Pedagang dan terakhir, Tuan Juan harap membuka cabang toko apapun di kota Aeri ini. Bagaimana Tuan Juan menyetujui nya?"
Mendengar itu, aku pun memahami situasi yang ku alami ini maka dari itu, aku memutuskan untuk menyetujui syarat dari Andreas.
"Baik, aku menyetujui nya."
Lalu, Andreas pun bangkit diri dan memberikan tangan nya. "Kedepannya, mohon kerjasama, Tuan Juan!"
Melihat itu, aku pun ikut berdiri dan menerima tangan dari Andreas. "Aku juga mohon bimbingannya!"
Lalu, aku dan Andreas saling bertukar senyum.
Setelah nya, kami kembali membahas penjualan garam yang mana seusai dengan harga yang disepakati, aku pun mendapatkan 21 koin platina atau setara dengan 2,1 milliar rupiah.
Seusai itu, Andreas membuat ku kartu Guild Pedagang Mystril secara gratis serta melepaskan tanggungan uang tahunan sebagai tanda kerjasama.
Setelah itu, aku pun keluar dari kantor ketua guild. Lalu, menemui pak Dariel.
Jika diwaktu yang lalu, aku langsung pulang ke desa Raflesia. Namun, kali ini aku urung dan memutuskan untuk langsung pergi membantu panti asuhan bersama pak Dariel.