
...Chapter 12. Orderan, Informasi dan Nabila....
Dipagi hari yang cerah, aku bangun disambut oleh suara burung yang beterbangan dan angin yang segar.
Hal itu bagus untuk mengawali hari ini.
Setelah itu, aku melanjutkan pekerjaan dengan membeli pesanan yang di tulis Andreas diantara nya;
10 kg Lada hitam, 800ribu;
10 kg Cengkeh, 400ribu;
10 kg Jahe, 150ribu;
10 kg kayu manis, 1juta;
100 kg garam, 600ribu;
Dan, 50 kg Gula, 650ribu;
Total pengeluaran 3,6 juta rupiah.
Seusai belanja itu, aku memasukkan semua barang ke Item Box dan pergi ke Kota Aeri dengan mengunakan aplikasi Go.
Lalu, aku pun pergi ke Guild Pedagang dan setibanya didalam, Mia yang tengah merapihkan barang-barang sontak menghampiri ku.
"Tuan Rudi, selamat pagi!"
"Oh, Mia. Selamat pagi juga. Apakah Tuan Andreas sudah datang?"
Saat bertanya seperti itu, suara Andreas menjawab nya.
"Aku sudah disini, Tuan Rudi."
Mendengar itu, aku dan Mia sontak mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk yang mana Andreas baru saja tiba. Lalu, Mia pun menundukkan kepalanya.
"Andreas, selamat pagi!"
"Iya, selamat pagi juga. Tuan Rudi, aku tidak menyangka kamu akan menemui ku lagi. Apakah sudah mendapatkan yang ku order kan?"
"Iya, sudah."
"Kalau begitu, kita bahas didalam!"
"Baik."
Setelah itu, aku dan Andreas pergi ke ruangan ketua Guild. Lalu, disana aku mengeluarkan semua orderan yang diminta akan tetapi saat melihat jumlah nya, Andreas terkejut.
"Ini jumlah semua nya yang ada di list?"
"Iya, benar. Aku sama sekali tidak mengurangi."
Andreas yang melihat itu, dia pun menghela nafas panjang dan memijat dahinya.
"Ne ... Tuan Rudi, apakah kamu tidak menyimak kemarin yang ku katakan kalau order itu berdurasi kan 3 bulan dan kamu bisa berangsur-angsur menjual nya."
Mendengar itu, aku teringat dengan perkataan dari Tuan Andreas itu dan aku telah melupakan nya.
"Ah, iya. Aku lupa. Maaf."
Andreas pun menghela nafas panjang lagi karena ulah ku itu. Lalu, dia pun menenangkan dirinya.
"Baiklah, aku akan membeli semua nya."
Mendengar itu, aku pun sontak senang. "Benarkah? Terimakasih."
Setelah itu, kami pun bernegosiasi dan mendapatkan harga sebagai berikut;
10kg lada hitam dihargai 4 juta Mozza;
10kg cengkeh dihargai 4 juta Mozza;
10kg Jahe dihargai 500 ribu Mozza;
10kg Kayu manis dihargai 800 ribu Mozza;
100kg garam dihargai 10 juta Mozza;
Dan, 50kg gula dihargai 5 juta Mozza.
Dengan penjualan ini, aku mendapatkan 24,3 juta Mozza atau 24 koin platina dan 3 koin emas putih.
"Terimakasih, Tuan Andreas."
Andreas pun menjawab nya dengan lelah "Ahufuu ... Iya, sama-sama."
Melihat itu, aku pun terpikir sesuatu yang ingin ku pertanyaan kepada Andreas.
"Tuan Andreas, apakah anda tahu tempat untuk memeriksa telur monster?"
"Lalu, dimana lokasi nya?"
"Kota Suci, Prontera. Kalau, dari sini membutuhkan waktu 9 hari untuk tiba disana. Tapi, beda cerita kalau kamu pergi mengunakan Wall Portal ke Kota pelabuhan, Alberto. Maka hanya perlu memakan waktu 2 hari saja."
"Wall portal? Apa itu?"
"Ah, itu jasa Teleportasi yang biasa ada di Guild Petualang."
Mendengar itu, aku pun tersenyum kecil yang mana selama aku tiba di kota Alberto atau kota Prontera maka, aku bisa kesana sesuka hati dengan mengunakan aplikasi Go.
Tapi, sebelum itu. Aku akan memperbaiki panti asuhan dahulu dan memberikan mereka modal untuk usaha.
"Oh, begitu. Aku mengerti dan satu lagi, apakah Tuan Andreas tahu toko untuk memperbaiki rumah?"
"Iya, tahu dan ada di kota ini. Apakah Tuan Rudi ingin kesana?"
"Iya, aku ingin memperbaiki rumah panti asuhan dan ingin menjadikan salah satu toko ku."
"Jadi begitu, aku merasa prihatin juga mendengar cerita nya dari Pak Rui."
"Iya, sekarang sudah tidak apa-apa."
"Yasudah, kalau begitu. Aku akan membuat surat rekomendasi nya."
Setelah itu, Andreas membuat surat rekomendasi nya. Lalu, aku pun pergi ke toko perbaikan rumah.
Setibanya disana, aku pun menceritakan kondisi dari panti asuhan itu dan dia pun meminta perbaikan 1 juta Mozza. Tanpa berat hati, aku pun membayar nya dengan 1 koin Platina.
Dan, perbaikan pun dijalankan yang mana memakan waktu 5 hari sampai kembali seperti sedia kala.
Mereka benar-benar profesional.
Sepulang nya dari Kota Aeri, aku sontak dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang mengetuk pintu.
Mendengar itu, aku menghampiri pintu dan membuka nya. Lalu, terlihat lah Nabila yang berada di balik pintu.
"Hei, malam. Rudi. Maaf, saya mengangguk."
"Oh, Nabila. Tumben kesini. Kamu tidak sibuk?"
"Aish ... Ini sudah malam jadi, saya bisa santai. By The way, boleh masuk gak nih?"
"Iya, tentu saja. Silahkan!"
Setelah itu, Nabila pun masuk kedalam rumah Ku yang mana dia pun terkagum melihat isi rumah.
"Wuahh ... Ini rumah abad pertengahan. Gak yakin, bagaimana bisa kamu mendapatkan beberapa barang modern seperti ini?"
"Rahasia. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin."
Lalu, Nabila pun berbicara seraya mengelilingi rumah ku. "Benar juga sih. Tidak menutup kemungkinan kamu bisa mengakses Bumi dan membeli barang-barang disana." Lalu, Nabila terpikir sesuatu dan sontak mendekatkan jarak nya kepada ku. "Mungkin kah, kamu bisa Teleportasi ke bumi?"
"Aku tidak memiliki kemampuan sehebat itu. Aku hanya memiliki sihir untuk belanja barang-barang di bumi."
"Jika begitu, bisakah kamu membeli Ipod yang sudah berisikan banyak lagu? Agar aku tidak bosan.
"Baiklah, aku akan membelikan nya."
"Hmm ... Karena aku tidak punya uang. Aku akan membayarnya dengan tubuh ini. Bagaimana sepakat?"
Mendengar itu, aku pun terkejut dengan yang dikatakan oleh Nabila.
"Apa maksudmu?"
Nabila pun tersenyum kecil. Lalu, dia pun melepaskan seluruh pakaiannya didepan ku hingga membuat ku malu sendiri dan berbalik badan.
"Ehh?! Apa yang sedang kamu lakukan Nabila?"
Lalu, Nabila pun tanpa ada jawaban. Dia sontak menghampiri dan memeluk ku yang mana kulit putih nya serta buah dadanya yang tanpa dalaman mengenai tubuh ku hingga aku merasakan kancing di buah dadanya.
"Rudi, apakah kita bisa pulang ke bumi?"
Aku yang awalnya panik menjadi tenang kembali saat dia bertanya seperti itu dan aku pun menjawab seadanya.
"Aku tidak tahu. Tapi, aku hanya hidup melihat kedepan. Baik di bumi ataupun di dunia Narnia ini."
Seusai itu, Nabila melihat kearah ku dalam kondisi masih memeluk. "Rudi, kamu memang orang hebat yang tersembunyi. Kenapa kamu tidak pernah mengungkapkan isi hati pikiran mu dan memilih untuk diam?"
"Entahlah. Aku hanya tidak ingin berteman."
"Kalau begitu, izinkan aku menjadi teman mu!" Seusai mengatakan itu, Nabila sontak memegang kedua pipi ku dan mencium bibir ku.
Sebuah kehangatan pun aku rasakan hingga membuat ku luluh dan menerima ciuman itu dan terus kami lakukan sampai berakhir pada diatas ranjang.
Dan, pada akhirnya keperjakaan ku hilang oleh sosok gadis yang duduk di sebelah ku saat masih sekolah.