Become Rich In Another World

Become Rich In Another World
Chapter 11 | Perubahan Panti Asuhan



...Chapter 11. Perubahan Panti Asuhan...


Sebuah jalan kehidupan atau sering disebut takdir itu tergantung pada sikap dan kerja kita itu sendiri.


Dan, siapa sangka? Aku yang hanya ingin membeli gedung untuk gudang malah menjadi beli panti asuhan yang terbengkalai.


Meski begitu, aku tidak menyesal. Apalagi terlihat Lizu bukan sosok yang malas dan dia juga bisa dipercaya dalam mengelola panti asuhan ini dan gudang disini. 


Seusai proses pembelian selesai dan Pak Rui meninggalkan panti asuhan. Aku pun mengumpulkan semua orang disana diantaranya;


10 anak perempuan;


12 anak Laki-laki;


5 Pria remaja.


Dan, 6 gadis remaja termasuk Lizu.


Melihat kondisi para penghuni panti asuhan, aku terheran dan terkagum lantaran mereka bisa bertahan hidup dengan kemiskinan nya.


Setelah Lizu menjelaskan keadaan nya kepada remaja dan anak-anak yang lain. Mereka pun serempak mengucapkan sesuatu seraya membungkukkan badan kepada ku.


"Terimakasih, Tuan Rudi. Karena anda telah menyelamatkan panti asuhan ini."


"Sama-sama. Tapi, ini masih terlalu dini untuk itu. Seperti yang disepakati bahwa kalian yang sudah remaja harus menjadi pekerja ku yang tentu saja aku akan membayar upah kalian."


Saat aku mengatakan itu, Lizu memotong nya.


"Tuan Rudi, anda tidak perlu membayar kami. Anda sudah menyelamatkan tanah ini saja sudah lebih dari cukup dan kami akan bekerja untuk anda seumur hidup kami."


Lizu yang mengatakan itu, aku pun terkejut dan mencoba lihat reaksi remaja yang lain yang mana mereka juga tersenyum serta mengangguk kepalanya.


"Dan ... Tuan Rudi, anda tidak perlu khawatir tentang anak-anak yang tidak bisa bekerja. Mereka sudah mandiri dan bisa meminta sumbangan di pusat kota."


Mendengar itu, aku pun terkejut lagi dan menentang nya. "Hal itu tidak perlu!"


"Eh? .. "


...


Mendengar ucapan ku, semua remaja dan anak-anak saling bertukar pandang. Lalu, Lizu memotong pembicaraan lagi.


"Jika begitu, anak-anak akan menjadi beban untuk Tuan?"


Mendengar itu, aku pun tersenyum kecil. "Tidak, aku ingin anak-anak untuk belajar yang ingin belajar dan berlatih jika ada yang ingin menjadi petualang hebat atau pahlawan."


Anak-anak yang mendengar itu, mereka sontak tersenyum lebar dan gembira dengan keputusan ku.


Melihat itu, aku pun bersyukur.


Setelah pertemuan itu, aku berbicara empat mata dengan Lizu untuk membicarakan anggaran.


Bicara anggaran, aku menduga bahwa pedagang yang menjebak panti asuhan ini dalam hutang telah bekerja sama dengan orang dalam gereja.


Mungkin, jika ada waktu luang aku akan menyelidiki nya.


"Baiklah, Lizu. Aku akan memberikan anggaran dan pakaian untuk kalian dengan jumlah sepuluh kali lipat dari sumbangan gereja."


Perkataan itu pun bukanlah bercanda lantaran anggaran bantuan gereja perbulannya hanya 5 koin emas atau 50.000 Mozza maka dari itu, aku memberikan 500.000 Mozza atau 50 koin emas perbulan nya.


Mendengar perkataan ku itu, Lizu tersenyum lebar seraya menitihkan air mata.


"Terimakasih, Tuan Rudi."


"Selain itu, aku percayakan posisi kepala panti asuhan dan gudang ini kepada mu. Mohon kerjasama!"


"Baik, Tuan."


Dan, sejak itu panti asuhan dan gudang berada di bawah bimbingan Lizu.


"Lizu, pengarahan sudah selesai. Sekarang kumpulkan kembali semua orang di ruang makan. Aku akan memberikan sesuatu kepada mereka."


"Baik, Tuan."


Setelah itu, Lizu pun pergi meninggalkan ruangan dan ini merupakan kesempatan ku untuk membeli beberapa barang di aplikasi.


Tanpa membuang waktu lagi, aku membeli beberapa barang diantaranya;


10 stel pakaian anak perempuan, 500k;


12 stel pakaian anak laki-laki, 600k;


5 stel pakaian remaja pria, 750k;


6 stel pakaian remaja wanita, 1,2m;


50 eskrim, 200k;


Dan, 50 paket ayam fried chicken, 1,5m.


Dengan ini total biaya 4,75m. 


Setelah itu, muncul beberapa kardus didepan ku. Seusai proses itu, aku pun membawa salah satu ke ruang makan dan memerintahkan salah satu remaja pria disana untuk membantu ku membawa kardus. 


Lalu, aku pun memberikan mereka pakaian dan makanan yang membuat mereka tersenyum dan bersuka cita.


Ada pun momen yang dimana anak-anak sempat ragu untuk makan ayam tepung namun, saat aku memberikan contoh dan menyantap nya. Mereka pun mengikuti dan sangat menyukai makanan tersebut.


Sedangkan, untuk pakaian aku bersyukur karena ukiran pakaian pas dengan postur tubuh mereka masing-masing. Aku merasa pakaian dari dunia lain memiliki sihir ruang yang dimana pakaian yang menyesuaikan penggunanya. Meski begitu, aku tidak begitu mempedulikan nya.


Hari pun berganti malam, aku pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.


Setibanya di rumah, sebuah panggilan telepon datang.


Kring! Kring!


Mendengar itu, aku sontak mengambil smartphone dari item box dan melihat kelayar bahwa ada panggilan dari 


Dewi Kebajikan.


Melihat itu, aku pun mengangkatnya.


"Halo."


"Akhirnya terhubung juga. Rudi, aku sangat suka dengan sikap dan kebaikanmu terhadap panti asuhan itu. Aku sudah sering mengarah banyak orang untuk membantu mereka namun, mereka terkendala hanya satu yaitu tidak mau banyak mengeluarkan uang. Tapi, kamu berbeda. Terimakasih."


"Dewi terlalu memuji. Tapi, aku juga senang membantu mereka.


"Atas kebaikan mu maka aku akan memberikan mu karunia berupa tubuh yang sehat dan penetrasi sihir. Jadi, tubuhmu tidak akan pernah lelah atau terluka baik fisik ataupun sihir."


Mendengar itu, aku tersenyum senang. "Terimakasih, Dewi Kebajikan. Aku sangat senang menerima nya."


"Semoga aku bisa melihat karya kebaikan mu yang lain. Sampai jumpa lagi!" 


"Iya, Dewi. Sampai berjumpa kembali."


Lalu, panggilan terputus dan aku pun memutuskan untuk beristirahat karena seharian ini aku sangat sibuk dan sebuah pesan pun masuk.


Ding!


[Aplikasi White Doctors telah terinstal.]


Ding!


[Aplikasi Cancel telah terinstal.]


Melihat kedua pesan itu, aku pun hanya memberikan senyuman kecil. Lalu, melanjutkan tidur.