
...Chapter 10. Membeli Panti Asuhan ...
Saat ini aku sedang menghadapi situasi yang merepotkan yang mana adanya sosok wanita yang sedang bersujud agar anak-anak panti asuhan tidak di alokasikan.
Memahami itu, aku menenangkan pikiran dan bantu membangun wanita itu terlebih dahulu dengan memegang kedua bahu nya.
"Permisi, Nona! Aku benar-benar tidak mengerti. Bisakah kita bicara dahulu?"
Wanita itu pun melihat ku dan menganggukkan kepalanya.
Sesudah itu, aku dan Pak Rui diarahkan ke ruangan yang dahulu merupakan kantor dari kepala panti namun, saat ini kondisi nya sangatlah berantakan.
Meski begitu, kami tidak begitu mempedulikan dan duduk di kursi yang ada dalam nya.
Setelah itu, wanita itu memulai pembicaraan dengan memperkenalkan dirinya.
"Salam kenal, saya Lizu. Saya besar di Panti Asuhan ini dan sekarang, saya yang mengurusi panti asuhan ini dan anak-anak nya."
Lizu bukan gadis yang rapih dan terawat. Ini terlihat sangat kurus dari badan nya yang kurus, rambut nya yang acak-acakan dan penampilan sudah sangat kumuh meski begitu dia masih terlihat cantik.
"Sebenarnya, apa yang terjadi kepada kalian? Kenapa kalian bisa tinggal di tempat kumuh seperti ini?"
"Awalnya kami menerima bantuan dari gereja yang mencukupi untuk kebutuhanan kami dan perawatan nya akan tetapi, beberapa tahun terakhir bantuan itu dihentikan sehingga membuat kamu mengahadapi kesulitan besar dan pembiayaan panti asuhan ini."
Mendengar itu, aku hanya tersenyum kecil yang mana berpikir bahwa di dunia manapun sebuah kasus seperti ini pasti lah ada.
"Lalu, bagaimana cara kalian mencari dana saat bantuan dari gereja terhenti?"
"Dulu ada seorang pedagang yang membantu kami. Namun, pedagang itu memiliki tujuan untuk merampas dan menjual rumah serta tanah ini dalam bentuk utang."
Mendengar itu, aku sontak menatap tajam Pak Rui, "Pak Rui, apa maksudnya ini?"
Lalu, Pak Rui yang mengerti dengan maksud tatapan dan ucapan ku, dia sontak mengelak nya.
"Maaf. Tapi, saya mendapatkan informasi bahwa panti asuhan ini sudah ditutup," ucap Rui dengan ekspresi kesal.
Mendengar dan memahami ekpresi itu, aku pun paham bahwa dia tidak berbohong.
"Kalau begitu, apakah pak Rui bisa mengembalikan hak milik tanah ini?"
Pak Rui pun terdiam sejenak, "... Itu sangat sulit karena perusahaan kami tidak bisa mengakusisi secara langsung tapi beda cerita jika ada perusahaan lain yang mengambil alih permasalahan ini."
Pak Rui pun menatap ku dengan senyuman kecil yang mana aku mengerti maksud dari pak Rui, aku harus membeli tanah ini dan menyelesaikan masalah nya dengan itu perusahaan properti pak Rui tidak tercoreng nama nya.
"Perusahaan Tate."
"Perusahaan seperti apa dia?"
"Jika tidak salah, mereka perusahaan simpan pinjam."
Yup, seperti yang kuduga. Mereka perusahaan rentenir tanah.
"Jika ada yang membeli tanah ini, apa yang terjadi kepada panti asuhan ini?" Sambung tanya ku.
"Tentu hak asasi ada pada pembeli. Apakah gedung ini dirubuhkan ataupun diperbaiki? Yang jelas, Nona ini dan penghuni disini sudah melanggar kontra dan akan di taruh di depan perbudakan."
Lizu yang mendengar itu hanya terdiam dan menundukkan kepalanya seraya menahan tangisannya disertai dengan kepalan tangan yang kuat.
Disisi lain, aku merasa seperti penjahat setelah mendengar penjelasan dari Rui akan tetapi, jika aku tidak membelinya mungkin pembeli setelah ku bisa saja pedagang jahat dan akan menjual mereka maka, aku memutuskan untuk membeli nya.
"Baiklah, pak Rui. Aku akan membeli nya namun, dengan satu syarat. Biarkan Nona Lizu dan anak-anak lainnya tinggal disini serta ..." Aku melihat kearah Lizu. "Aku ingin memperkerjakan kalian di perusahaan ku. Bagaimana Lizu? Apakah kamu keberatan?"
Lizu menjawab nya dengan menggelengkan kepalanya dan dia juga sontak berdiri. Setelah itu, dia membungkukkan badannya. "Terimakasih, Tuan. Saya akan bekerja dengan bersungguh-sungguh."
Melihat itu, aku dan Rui juga ikut berdiri. Lalu, aku memberikan tangan. "Aku Rudi, mohon kerjasama nya, Lizu!"
Lizu pun mengembalikan posisi badannya dan menerima tangan ku. "Baik, Tuan Rudi."
Lalu, aku pun saling bertukar senyum dengan Lizu serta Rui.
Setelah memutuskan hal itu, Lizu pun keluar ruangan agar aku bisa bicara empat mata dengan Rui.
"Jadi, berapa harga rumah ini? Dengan kondisi yang pak Rui lihat."
Rui pun menghela nafas panjang, "Baiklah, saya akan menurunkan harga menjadi 2 juta Mozza."
"Oke, sepakat. Terimakasih, pak Rui," ucap ku seraya memberikan tangan.
"Sama-sama, Tuan Rudi. Senang bisa berbisnis dengan anda," jawab Rui seraya menerima tangan ku.
Dan, kami pun saling bertukar senyum.
Setelah itu, Rui membuat surat kepemilikan tanah dan aku pun mengeluarkan 2 koin platina yang kuberikan kepada Rui.
Dengan ini panti asuhan dengan resmi menjadi milik ku.