Become Rich In Another World

Become Rich In Another World
Chapter 24 | Bertemu Marsha dan Aria



...Chapter 24. Bertemu Marsha dan Aria....


Sekeluarnya dari Guild Monster, aku dan Y'shtola mendengar suara keributan dari belakang gedung.


Kami yang penasaran sontak pergi ke sumber suara keributan tersebut.


Setibanya di tempat keributan, kami melihat dua sosok pria preman dan dua gadis remaja.


Saat lebih diperhatikan, aku mengenal salah satu gadis itu yakni Marsha.


"Marsha?" gumam ku.


Y'shtola yang mendengar itu sontak melihat ku. "Master, anda mengenal nya?"


"Iya, salah satu gadis itu adalah kenalan ku. Seperti nya dia sedang kesulitan."


Selain Marsha, aku juga melihat sosok gadis yang seumuran dengan nya. Dia memiliki rambut panjang bergelombang.


"Ini bukan seperti yang kau janjikan! Harga nya seharusnya satu keping koin emas!" seru kesal Marsha.


Meski Marsha terlihat kesal namun, pria preman itu hanya tertawa remeh dan mereka seperti sedang membahas batu sihir air yang dipegang oleh salah satu preman.


"Nona bicara apa? Saya memang mengatakan akan membeli batu air ini seharga 1 koin emas. Namun, jika itu tidak rusak. Coba lihat! Ada bagian rusak di sini!" seru preman seraya menunjukkan goresan kecil. "Jadi, ini hanya bernilai satu koin perak!" pria preman pun melemparkan satu koin perak ke arah Marsha. "Ambil itu!"


Melihat itu, Marsha semakin kesal. "Untuk goresan kecil seperti itu. Kamu tidak membayar nya!" Marsha pun menduga sesuatu. "Dari awal, kalian..."


Melihat pertengkaran itu, gadis berambut gelombang hanya bisa terdiam dan berdiri dibelakang Marsha.


Lalu, Marsha memutuskan sesuatu. "... Cukup. Kami tidak akan menjual nya. Jadi, kembalikan batu Air itu!"


"Maaf, tidak bisa. Ini sudah menjadi milik kami. Kami tidak ingin mengembalikannya."


Melihat itu, aku pun menghela nafas panjang. "Seperti nya masalah tidak akan usai."


Lalu, aku maju menghampiri mereka.


"Maaf aku memotong pembicaraan."


Sapaan aku itu membuat semua arah panjang tertuju kepada ku dan membuat Marsha terkejut.


"Rudi?!" ucap senang Marsha dengan senyuman lebar.


Gadis berambut hitam sedikit heran sedangkan, aku hanya menjawab nya dengan senyuman melihat kearah Marsha.


Tapi tidak dengan para preman, salah satu dari mereka bertanya.


"Hah?! Siapa kamu? Apakah kamu ada urusan dengan kami?!"


"Ah, tidak dengan kalian. Tapi, dengan gadis yang disana."


Marsha pun tersipu malu dengan menundukkan kepalanya.


Lalu, aku mengabaikan pria yang menatap dengan ancaman dan melihat kearah Marsha.


"Marsha, maukah kamu menjual batu air itu seharga satu koin emas kepada ku?"


Marsha pun mengangguk kepalanya dan tersenyum. "Iya, saya menyetujuinya."


Aku kembali melihat kearah preman, "Jadi, serahkan batu air itu!"


Preman itu pun sontak kesal. "Bedebah! Apa yang kamu katakan! Ini sud-"


Sebelum menyelesaikan kalimat nya batu itu sudah tidak ada ditangan nya lagi lantaran Y'shtola sudah mengambil nya dengan mantra Accio.


"Master, saya sudah dapatkan batu nya!"


Preman yang melihat itu, dia pun semakin kesal.


"Ap-apa yang kamu lakukan bedebah?!"


"Karena itu sudah menjadi milikku bukan kah wajar aku untuk mengambil nya," jawab santai ku dengan senyuman kecil.


"Bedebah!" seru kesal pria seraya mengeluarkan pisau dan menerjang ku.


Begitu juga pria yang lain yang mana dia menerjang Y'shtola untuk mengambil batu akan tetapi Y'shtola dengan cepat melontarkan mantra.


"Petrificus Totalus."


Sebuah mantra yang membuat tubuh dari preman itu terbujur kaku seperti patung dan Y'shtola dengan cepat mengarah nya ke dua preman.


Dengan ini pertarungan berakhir tanpa aku harus turun tangan.


Lalu, aku menghampiri Marsha. "Marsha, kamu baik-baik saja?"


Saat aku bertanya itu, tiba-tiba dia memeluk ku. "Rudi!"


Meski sedikit terkejut namun, aku menerima nya.


"Iya, Marsha."


"Saya merindukan mu."


"Aku juga."


Y'shtola yang melihat itu, dia pun tersenyum kecil. Lalu, gadis rambut bergelombang batuk sengaja untuk menyadarkan Marsha.


"Hugh! Marsha, jangan bersikap tidak sopan seperti itu!"


Marsha yang mendengar itu, dia sontak melepaskan pelukannya dan menatap ku dengan senyuman.


Lalu, gadis berambut gelombang menyambung ucapan nya. "Tuan, terimakasih telah menolong kami."


"Sama-sama."


Gadis berambut gelombang bernama Aria itu pun memberikan respon menundukkan kepalanya.


"Aku Rudi. Salam kenal! Oiya ..." Aku pun mengambil satu koin emas dan memberikan nya kepada Marsha. "Marsha, ini satu koin emas yang ku janjikan!"


"Sebenarnya tidak perlu. Karena kamu telah menolong kami," jawab Marsha.


"Aku yang sudah membuat kesepakatan jadi terimalah!"


"Baiklah, saya terima jika Rudi memaksa."


Lalu, Aku dan Marsha saling bertukar senyum. Setelah itu, Marsha melirik kearah Y'shtola.


"Rudi, siapa dia?"


"Dia Y'shtola. Pengawal dan budak ku."


Y'shtola pun menundukkan kepalanya. "Saya Y'shtola."


Y'shtola dan Marsha pun juga saling bertukar senyum.


Setelah itu, kami semua pergi ke sebuah kedai penginapan yang bernama Silver Moon yang mana kedai itu merupakan milik dari bibi nya Marsha dan disana juga lah aku bertemu dengan Novia dan Novia juga memperkenalkan kakak nya yang juga ibu dari Aria, Nia.


"Jangan sungkan-sungkan dan anggap saja rumah sendiri!" ucap Nia seusai memperkenalkan diri.


"Iya, Bu. Terimakasih."


Novia pun tersenyum lalu, dia meninggalkan kami.


"Marsha, kenapa kamu terlibat dengan para preman itu?" sambung tanya ku.


"Kami mendapatkan permintaan bahwa ada sekelompok pedagang yang akan membeli batu Air dengan harga yang tinggi dan secara kebetulan, Aria memiliki nya. Maka dari itu, kami memutuskan untuk menjualnya," ucap penjelasan Marsha.


"Sungguh! Saya minta maaf telah merepotkan Tuan Rudi dan Marsha."


"Tidak apa-apa. Yang penting tidak ada yang terluka."


Aku, Marsha dan Aria pun saling bertukar senyum.


Setelah menyantap hidangan dari Bu Novia, aku dan Y'shtola kembali ke rumah yang ada di desa Raflesia dengan mengunakan Aplikasi Go.


Dan, saat ini aku sedang bersantai diatas kasur seraya menulis buku harian di Aplikasi Memo dan aku juga melihat-lihat berita viral di bumi dengan mengunakan aplikasi Browser.


Yang mana terdapat informasi bahwa band Hope Nusantara telah mengalami musibah bencana yang membuat seluruh personil nya meninggal dunia.


"Eh? Padahal aku sangat menyukai band ini."


Tidak lama kemudian, Y'shtola masuk tanpa pakaian sehelai pun ke kamar ku.


"Master, apakah kamu membutuhkan pelayanan malam?"


Mendengar itu, aku menurunkan ponsel dan melihat kearah Y'shtola.


"Mohon bimbingannya!"


Dengan wajah yang memerah disertai senyuman kecil. Y'shtola mendekati ku dan aku pun menerima nya dengan senang akhir.


Lalu, berakhir dengan pelayanan malam yang memuaskan untuk melepaskan rasa lelah hari ini.


...***...


...Extra Chapter:...


Di depan kedai Fina terlihat seorang pemuda berambut rapih berwajah Melayu, dia bernama Juan. Salah satu dari teman sekelas Rudi.


"Akhir nya, saya menemukan kedai makan. Saya harap kedai ini tidak begitu mahal. Karena ..." Juan melihat koin nya yang hanya tersisa 1 koin perak. "Ahufuu ... kehidupan di dunia lain tidak seperti di novel atau anime."


Setelah itu, Juan pun masuk kedalam kedai itu yang mana dia sontak disambut oleh Fina.


"Selamat datang, Tuan!"


Melihat kecantikan Fina membuat Juan terbujur kaku dan terdiam.


Fina pun menghampiri Juan.


"Tuan, ada baik-baik saja?"


Juan sontak melepaskan lamunan nya. "Iya, maaf. Saya melamun."


Fina tersenyum lebar dan Juan pun ikut.


"Mari Tuan, silahkan duduk!" seru Fina.


Lalu, Juan pun duduk di kursi kosong dan Fina memberikan menu kepada nya.


"Tuan, anda ingin pesan apa?"


Melihat itu, Juan pun mengambil menu yang dimana sempat terheran dengan menu itu.


"Ini bukan kah kertas foto. Bagaimana bisa ada di dunia ini? Tidak hanya itu ..." Juan melihat semua menu disana. "Semua makanan ini seperti di bumi!"


Lalu, Juan yang penasaran dengan makanan di menu itu, dia pun memesan ramen yang dimana memiliki harga 5 koin Perunggu dan Fina pun membuatkan dan menyajikan nya.


Sesudah itu semua, Juan menyantap ramen itu dan lagi-lagi membuat nya terkejut. "Benaran. Ini seperti mie instan di bumi."


Menyadari itu, Juan sontak berdiri dan meraih tangan Fina saat dia melewati Juan.


"Nona, bisakah aku bertemu dengan pemilik dari kedai ini?"


"Ehh?!"