
...Chapter 32. Goblin Tamer....
Saat ini aku, Juan dan Y'shtola sedang berada Goa gunung garam yang mana kami kedatangan seorang gadis berpakaian suster yang sudah compang-camping dengan luka di sekujur tubuhnya.
Dan, saat semakin dekat gadis itu melihat ku dan Juan. Di meneriaki ku dan Juan.
"Juan! Rudi!"
Melihat sosok gadis itu, aku dan Juan saling bertukar pandang. Lalu, Juan kembali melihat gadis itu. "Nadia!"
"Tolong Kami!" seru Nadia dari kejauhan.
Ditengah berteriak nya, Nadia sedang dikejar oleh segerombolan Goblin.
"Reuni nya nanti saja!" seru Y'shtola.
"Iya, aku mengerti," jawab Juan seraya bersiaga.
Dan, Y'shtola pun melesatkan serangan nya.
"Diffindo."
Sebuah sabetan udara terbentuk dan memotong para Goblin.
Sedangkan, Juan bergegas menghampiri Nadia dan disaat itu juga datang Goblin yang sedang lompat kearah mereka.
Aku yang melihat itu sontak mengunakan tongkat sihir Hogwarts dan melesatkan mantra.
"Protego."
Sebuah canggah sihir terbentuk dan melindungi Juan serta Nadia.
Mengetahui itu, Nadia dan Juan sontak melihat ku. Begitu juga Y'shtola yang tersenyum senang.
Sesaat kemudian, Nadia sontak menghadap Juan dan memegang kedua lengan nya. "Juan, Tolong mere-!"
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Nadia pun jatuh pingsan di tubuh Juan.
Memahami situasi itu, aku pun terpikir sesuatu.
"Y'shtola, bawa mereka ke kedai dan perintah kan Lulu untuk menyembuhkan nya!"
"Baik, Master."
Lalu, Y'shtola pun menghampiri Juan dan Nadia yang mana dalam langkah aku melindungi nya dari beberapa Goblin yang masih ada.
"Incendio ... Diffindo."
Sesaat Y'shtola sudah berjarak dekat dengan Juan dan Nadia. Dia sontak memegang kedua bahu mereka.
Sebelum itu, aku memberikan pesan untuk Juan.
"Juan, tolong jaga dia!"
Juan pun menjawab dengan anggukan kepala.
"Siap!" seru Y'shtola.
"Iya," jawab Juan.
Lalu, Y'shtola merapalkan mantra nya. "Apparate."
Dan, mantra itu pun menghilangkan Y'shtola, Juan dan Nadia.
Lalu, Goa kembali gelap dan aku tidak bisa melihat apapun yang mana Goblin juga masih ada.
"Seperti nya, aku salah memberikan pengarahan."
Sesaat kemudian, aku mendengar suara Goblin yang mendekat. "Hiaaa!"
Dengan mengandalkan pendengaran, aku mengarahkan tongkat sihir ke sumber suara dan merapalkan mantra.
"Bombarda."
Sebuah mantra untuk meledakkan target hingga Goblin yang didekat ku meledak.
Setelah itu, aku merapalkan sihir yang lain.
"Lumos."
Goa pun menjadi terang kembali dan terlihat lah Goblin yang terdiam karena rekan nya tiba-tiba meledak.
Melihat kondisi itu, aku pun terpikir sesuatu yakni memanfaatkan kondisi mereka dengan memanggilnya.
"G-one. Datang lah!"
Dari Smartwatch keluar cahaya yang mewujudkan Hobgoblin yang mengenakan jas hitam.
"G-one, mereka terlihat sudah menyerah. Jadikan mereka budak!"
"Gi!"
Lalu, G-one mengembalikan posisi badannya dan berbalik badan menghadap kearah para Goblin yang ketakutan.
Melihat kondisi itu, G-one sontak mengunakan sihir unik Slavemancer dan 10 Goblin yang ada didepan ku berubah menjadi budak ku serta menundukkan kepalanya.
Memahami itu, aku sontak memberikan perintah nya.
"Sampai kan kepada semua rekan kalian! Jadilah budak ku atau mati!"
Setelah itu, G-one memimpin 10 Goblin lainnya masuk kedalam Goa.
Selain itu, aku juga memanggil G-Two, G-Three dan Orsa untuk membantu Invasi kedalam Goa.
Lalu, aku pun ditinggal sendirian dengan suara teriakan Goblin dan bau darah yang menyengat.
Lepas dari itu, kenapa Y'shtola belum kembali ke sini?
Mengabaikan hal itu, aku pun melanjutkan langkah dan pergi lebih dalam. Sesaat kemudian, aku melihat seorang pemuda yang sudah bersimbah darah dan terkapar disana.
Melihat pemuda itu, aku sontak menghampiri nya akan tetapi pemuda itu sudah tewas maka dari itu, aku pun memanjatkan doa agar arwah nya tenang.
Setelah itu, Aku menutup nya dengan kain. Lalu, melanjutkan langkah ke dalam Goa dan setibanya di ruang Goa yang berbeda terlihat beberapa jasad Goblin sertai dengan gadis yang sudah tidak mengenakan pakaian sehelai pun sedang terkapar di tanah.
Lalu, saat aku menghampiri nya. Pandangan nya benar-benar kosong dan tidak bisa bisa melihat ku akan tetapi dia masih hidup.
"Syukurlah, kamu masih hidup. Baiklah, aku akan sembuhkan luka luar mu."
Seusai itu, aku merapalkan sihir penyembuhan kepada gadis itu.
"Heal."
Seusai merapalkan itu, sebuah sinar hijau menyinari tubuh gadis itu yang terluka dan berlahan pulih.
Memiliki sihir penyembuhan, aku merasa beruntung dan mungkin, aku harus berterimakasih kepada Lulu.
"Kamu tunggu disini!" seru kepada gadis yang baru ku sembuhkan.
Gadis itu tidak menjawab hanya terdiam dan terus memandangi ku. Lalu, aku pun mengabaikan nya dan melanjutkan langkah.
Di ruangan yang lain, aku masih di perlihatkan pertarungan antara Orsa dan Hobgoblin berbadan besar.
Akan tetapi, pertarungan itu berat sebelah lantaran Orsa sudah ku persiapkan dengan mengenakan baju Zirah lengkap yang sudah ku belikan khusus untuk nya.
Lalu, Goblin raksasa dengan gada besar nya diayunkan kearah Orsa namun, Orsa dengan mudah memotong gada memakai pedang Orcist nya.
Serangan pun tidak berhenti disitu, Orsa mendorong keras dengan bahunya hingga membuat Hobgoblin besar terjatuh. Meski begitu, tatapan Hobgoblin tidak berubah dan dia tidak ingin menyerah.
Memahami situasi itu, Orsa pun mendekati Hobgoblin besar dan menebas leher nya hingga Goblin besar itu mati.
Melihat itu, aku pun tidak ingin menyia-nyiakan jasad nya maka dari itu, aku memanggil salah satu goblin untuk menyantap Goblin besar dan salah satu goblin pun berevolusi menjadi Hobgoblin yang besar juga dan ku berikan nama G- Four.
Setelah pertarungan usai, Orsa dan beberapa Goblin menghadap ku dan memberikan penghormatan nya.
"Kerja Bagus kalian semua."
Saat aku memujinya, mereka sontak senang.
"Gwaa!"
"Gigigi!"
Melihat mereka senang, aku pun juga turut senang. Lalu, melanjutkan langkah ke ruangan berikut nya diikuti oleh Orsa, G-Four dan beberapa Goblin lain nya.
Setibanya di ruang berbeda terlihat G-one, G-Two dan G-Three sudah menyelesaikan pertarungan nya yang mana terlihat disana ada sosok jasad Goblin yang mengenakan jubah aneh dengan mahkota bulu.
Aku yang penasaran sontak mengambil smartphone dan membuka aplikasi Appraisal yang mana jasad itu adalah Goblin shaman.
Aku yang tertarik dengan kemampuan shaman memutuskan mengutus satu goblin untuk menyantap Goblin Shaman itu dan berhasil, Goblin biasa kini menjadi Goblin Shaman. Lalu, kuberikan nama G-Five.
Penakluk pemukiman Goblin pun berhasil dengan mudah dan di ruang itu juga aku melihat beberapa gadis petualang yang masih hidup dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
Lepas dari itu, ada 20 anak-anak Goblin yang bersembunyi di ruangan itu juga. Sama seperti sebelumnya, aku pun mengajaknya untuk bergabung menjadi peliharaan ku dan mereka pun setuju.
Lalu, ada sekitar 40 Goblin juga yang ingin bergabung dan mereka sudah berada di dalam sihir perbudakan. Tanpa berat hati, aku menyetujui nya.
Dengan ini misi penaklukan telah selesai namun, tidak lama muncul kabut tebal tepat disamping ku.
Aku yang penasaran sontak menghampiri kabut dan coba memasukkan tangan ku yang mana kabut itu aman untuk dimasuki maka dari itu, aku masuk kedalam kabut dan sekeluarnya dari kabur, aku langsung di sambut oleh sebuah koridornya gelap berbatu rapih dengan penerangan obor seadanya.
"Eh? Dimana aku?"