Become Rich In Another World

Become Rich In Another World
Chapter 41.5 | Dina Side: Tersesat di Sarang Orc



...Chapter 41.5 Dina Side: Tersesat di Sarang Orc....


Di hutan terlihat sosok gadis berambut pendek sedang berjalan seorang diri, dia Dina. Salah satu dari siswi sekelas Rudi dan juga merupakan teman masa kecil Rudi dan Juan. Selain itu, Dina sosok gadis periang dan pandai.


Di dunia Phantasia ini, Dina memiliki Skill Job Rune Master atau ahli simbol sihir yang mana tanpa mengeluarkan mantra dia mampu melesatkan sihir dan saat ini, dia memiliki Rune Api, Petir, Angin dan masih banyak lagi.


Oleh sebab itulah meski Dina berkelana seorang diri. Tidak ada yang mampu melukainya.


Ditengah perjalanan, Dina pun tersesat di sarang Orc.


"Eh? seperti nya aku salah jalan."


Sesaat tiba disana, Dina pun didatangi oleh Orc dan disaat yang bersamaan, Dina mendengar suara wanita dari sisi samping sarang mereka.


"Tolong!"


Mendengar suara itu, Dina sontak melihat sumber suara yang mana terlihat disana seorang gadis imut berkuping panjang, kulit putih dengan rambut panjang biru yang terurai.


Dina yang melihat itu, dia pun menyadari sesuatu.


"Elf kah?" gumam Dina sesaat melihat gadis Elf.


Lalu, Orc yang menghampiri Dina sontak melesatkan gada nya dan menyerang Dina.


Dina yang melihat itu, dia sontak melompat mundur dan mengeluarkan Rune nya.


"Rune Wind. Slash!"


Sebuah sabetan angin terbang dan melesat kearah leher Orc hingga membuat Orc itu mati seketika.


Melihat rekan Orc mati, Orc yang lain sontak kesal dan mengangkat senjata nya. Lalu, menyerang Dina.


Dina pun tidak tinggal diam, dia pun menodongkan kedua jari telunjuk nya dengan simpul pistol dan mengaktifkan Rune nya.


"Fire Rune. Fire Bullet ... Ice Rune. Ice Bullet."


Sesaat merapalkan itu muncul peluru api di telunjuk kanan dan peluru es di telunjuk kiri hingga menimbulkan tembakan beruntun kearah Orc hingga membuatnya mati namun ada juga yang masih bertahan.


Lalu, Orc yang masih bertahan sudah dekat didepan Dina dan mereka mengayunkan gada nya.


Melihat itu, Dina pun tersenyum. "Terjebak kau." Seusai mengatakan itu, Dina melesatkan Rune nya lagi. "Ice Bomb."


Dan, karena Rune itu membuat area di sekitar Dina menjadi membeku termasuk Orc yang berada di sekitar Dina turut membeku seutuhnya.


Dina yang merasa belum tuntas, dia mengeluar Fire Rune nya sehingga Orc yang membeku hancur berkeping-keping.


Orc yang memakai kulit hewan itu pun terkejut dengan kemampuan Dina.


Sedangkan, Elf tersenyum senang. "Sang penyelamat ku datang!"


Lalu, Orc pemimpin yang melihat rekan-rekan mati membuat nya murka dan dia sontak mengambil pedang besar nya lalu, melesatkan serangan nya berupa tebasan udara.


Dina yang melihat itu, dia pun sontak melompat tinggi ke udara. Lalu, melesat kan peluru api berturut-turut hingga menimbulkan ledakan berkali-kali kearah pemimpin Orc dan menimbulkan asal tebal yang menutup dirinya.


Lalu, ditengah asap tebal. Orc melesatkan tebasan udara yang lebih besar dan cepat hingga membuat Dina sedikit terkejut meski begitu, dia tidak tinggal diam yang mana Dina mengeluarkan Rune pertahanan nya.


"Rune Shield. Magi Armor."


Saat merapalkan itu, cahaya jingga menyelimuti tubuh Dina dan membuat serangan itu menghilang.


Pemimpin Orc yang awalnya tersenyum yakin kini berubah menjadi kecewa.


Disisi lain, Dina tersenyum bangga. "Serangan yang kuat. Tapi, itu tidak akan melukai ku."


Melihat serangan nya tidak efektif, Pemimpin Orc semakin geram.


"Gwuahh!"


Lalu, pemimpin Orc berlari keluar dari asap seraya mengayunkan pedang nya.


Dina yang melihat itu, dia sontak mengeluarkan Rune lain nya.


"Rune Wind. Blade Wind."


Sebuah pedang angin terbentuk dan melayang kearah pemimpin Orc sehingga Dina mampu menusuk Pemimpin Orc meski Orc itu sudah menangkis nya.


"Gwuahh!" geram sakit Orc hingga dia menjatuhkan pedang dan memegang luka nya yang sudah keluar darah dengan deras.


Dina yang melihat itu, dia sontak mengunakan Rune lainnya.


"Rune Wind. Humma Shuriken Wind."


Sebuah Shuriken besar terbentuk dan Dina pun melesatkan ke leher pemimpin Orc itu hingga kepala nya terlepas dan Orc itu mati seketika.


Melihat hasil itu, Dina tersenyum kecil. "Akhirnya selesai juga."


Seusai itu, Dina menghampiri gadis yang Elf yang dikurung di jeruji besi dan membuka nya.


"Nona, kamu baik-baik saja?"


Lalu, Gadis Elf itu pun melihat Dina sontak menetes air mata nya dan tiba-tiba melompat keluar lalu, memeluk Dina.


"Pahlawan, Terimakasih."


"Iya, sama-sama," jawab Dina dengan senyuman kecil dan menerima pelukan nya itu.


Dina pun berbicara didalam hatinya. “Jika aku pria. Mungkin, aku langsung jatuh hati kepadanya." Lalu, Dina pun menyambung ucapan nya. “Anuu … maaf bisa kamu lepaskan pelukannya!"


“Terima kasih, pahlawan. Nama ku Rena, seorang Elf yang tinggal di desa sekitar sini."


“Aku Dina dan jangan panggil aku pahlawan! Panggil aku Dina saja, kamu mengerti!” ucap Dina.


Rena pun menganggukan kepalanya tersenyum kepadanya.


Beberapa saat kemudian, Rena pun mengingat sesuatu dan berlari meninggalkan Dina menuju sebuah bekas kastil kecil dibelakangnya dan masuk kedalam reruntuhan kastil tersebut.


“Apa yang dia lakukan?” batin Dina yang menasaran dengan sikap Rena. Maka, Dina pun mengikutinya masuk kedalam reruntuhan kastil.


Setibanya didalam, Dina terkejut saat melihat banyak gadis manusia yang terikat disana dan Rena pun sedang melepaskan mereka satu persatu.


“Rena, apa yang terjadi disini?” tanya Dina.


“Mereka adalah gadis-gadis desa yang menghilang beberapa waktu yang lalu dan aku pun berusaha untuk menyelamatkan mereka tapi …” ucap Rena yang terputus.


Rena pun tersenyum kepada gadis-gadis tersebut.


“Aku tidak begitu kuat untuk bisa menyelamatkan mereka,” sambung Rena.


Beberapa gadis desa yang sudah terlepas ikatannya menatap Dina dengan penuh ketakutan dan keraguan. Dina yang menyadari itu, dia pun tersenyum.


“Aku suka kewaspadaan kalian. Tapi, tenanglah aku bukan orang jahat,” ucap Dina.


Rena pun telah melepaskan ikatan wanita terakhir disana lalu berdiri memperkuat ucapan Dina.


“Semua, tenanglah dia bukan orang yang jahat dan dialah yang telah membunuh semua orc didepan,” ucap Rena.


Saat Rena mengatakan itu, semua gadis-gadis itu saling melihat dan berbincang kecil setelah itu, mereka semua menghadap Dina.


“Pahlawan Dina, terima kasih banyak!” ucap serentak gadis desa yang membungkukan badannya.


“Sudahlah! Tidak usah dihiraukan dan bangunlah!” jawab Dina.


Para gadis-gadis itu pun menegakan badannya dan saling tersenyum satu sama lain.


Dina yang melihat mereka menyadari akan bibirnya yang kering karena kehausan yang dideritanya maka dari itu, Dina mengeluarkan Kantong air sihir.


“Kalian pasti haus? minumlah ini!” ucap Dina yang memberikan kantong air sihir kepada salah satu gadis.


“Tapi, air ini adalah air perjalanan anda. Pahlawan Dina?!” ucap salah satu gadis.


“Tenang saja, air itu terdapat simbol Water Rune. Jadi, air didalamnya tidak akan pernah habis dan jangan panggil aku pahlawan! Cukup Dina saja,” ucap Dina.


Gadis-gadis desa itu pun menganggukan kepalanya lalu, mereka pun meminum air dengan kuatnya. Dina tidak tahu berapa lama semua gadis-gadis ini menahan rasa hausnya.


Krukkkkk!


Salah satu gadis ada yang perut nya berbunyi. Gadis itu pun tersipu malu dan menundukan kepalanya.


“Maaf,” ucap gadis desa.


Dina pun menghela nafasnya dan terpikir sesuatu.


“Sekarang mari kita beristirahat dulu disini dan bantu aku nyalakan api. Setelah itu kita makan!” seru Dina.


“Tapi …” tanya Rena.


“Tenang saja, aku punya beberapa bahan makanan,” ucap Dina.


“Benarkah?”


“Terima kasih, Dina.”


“Terima kasih.”


Beberapa gadis desa itu pun berterima kasih kembali kepada Dina.


Setelah itu, beberapa gadis desa mengumpulkan kayu bekas dan dedaunan kering lalu di tempatkan ditengah reruntuhan. Disaat semua kayu dan daun kering siap, Rena mengambil dua batu lalu, diadukannya hingga api pun mulai menyala.


Dina yang melihat api sudah menyala, dia mengambil daging yang disimpan dan memberikannya kepada mereka.


“Ini daging Wild Boar.”


“Tapi, ini kan sangat mahal.”


Gadis –gadis desa itu pun tetap ragu untuk memakan daging yang mahal tersebut.


“Jangan hiraukan hal yang kecil! Makanlah semua!” ucap Dina.


“Baik,” jawab serempak para gadis desa.


Setelah itu, gadis-gadis memotong daging dan membakarnya lalu, mereka pun menyantap dengan lahapnya.


Dina yang melihat mereka menikmati makanannya.


Seusai itu, Dina pergi ke atap reruntuhan dan melihat bintang disana.


“Indahnya!” gumam Dina.


Saat melihat pemandangan itu, Dina berpikir didalam hatinya.


“Memang pemandangan ini tidak akan ditemukan di Indonesia."