
...Chapter 37. Kabut tebal dan Penghuni kedua...
Setelah menyelinap keluar, aku pun tiba di lokasi yang dikatakan oleh Enma yang mana lokasi itu merupakan tempat pengorbanan untuk Raidenia.
Sebuah perbukitan yang tidak jauh dari desa Daratan tinggi dan tidak hanya itu, perbukitan ini di tutup oleh kabut yang sangat tebal.
Dan, sudah ku pastikan disinilah tempat nya.
Memahami itu, aku sontak membatalkan sihir Disillusiomento atau kasat mata dan disaat yang sama, suara Raidenia menegurku.
"Tuan, apa yang sedang anda lakukan?"
Mendengar itu, aku pun sontak terkejut dan terlihat nya Raidenia disana. Lalu, aku pun bersikap santai.
"Oh, Raidenia. Kamu menyusul ku."
"Tentu saja karena aku pelayan Tuan," ucap bangga Raidenia.
Aku yang mendengar itu hanya memberikan senyuman kecil.
Setelah itu, kami masuk kedalam kabut. Namun, kami tidak bisa melihat apapun disekitar.
"Raidenia, bagaimana menurut mu? Apakah kabut ini alami ataukah sihir?"
"Tidak mungkin alami. Pasti ada seseorang yang memanfaatkan namaku untuk keuntungan dia sendiri dan dia hanya mengunakan batu kabut untuk menciptakan kabut setebal ini."
"Oh, begitu. Kalau begitu, aku akan mencoba sesuatu."
Mendengar itu, Raidenia menatap bingung kearah ku meski begitu, aku tidak begitu menanggapi nya dan sontak mengambil smartphone dari item box. Lalu, membuka aplikasi navigasi dengan pencarian.
Batu kabut.
Sesaat kemudian, muncul titik hijau yang menandakan lokasi batu kabut yang berada cukup jauh dari kami. Meski begitu, aku tidak begitu mempermasalahkan nya.
Setelah itu, aku menekan;
Pin Magic.
Pin Magic merupakan fitur terbaru dari aplikasi navigasi yang dimana kita mampu mengirimkan sihir ke lokasi navigasi dan fitur itu berada dibawah layar Navigasi.
Lalu, aku mengambil tongkat sihir Hogwarts dan merapalkan salah satu mantra.
"Accio."
Sesaat kemudian, batu itu tiba dan jatuh didepan ku dan terlihat dia datang dengan kecepatan tinggi.
Melihat itu, Raidenia terkejut kagum. "Wow, luar biasa! Sihir yang praktis."
Aku pun tersenyum. Lalu, sebuah batu yang memiliki sinar biru itu pun aku ambil.
"Tuan, sekarang anda hanya perlu menonaktifkan sihir didalam batu itu!" seru Raidenia yang ada disamping ku.
"Iya, aku akan mencobanya."
Lalu, aku memfokuskan pandangan ku kearah batu dan menaruh tangan kanan diatas batu yang ku taruh di telapak tangan kiri.
"Neo, aktifkan Aplikasi Cancel."
Sesaat kemudian, batu yang ku pegang ini pecah dan cahaya juga padam. Lalu, sesaat itu juga kabut disekitar kami berlahan memudar dan terlihat lah segerombolan makhluk berbadan besar seperti manusia berkulit biru dengan tanduk kecil di kepalanya.
"Oni kah," gumam Raidenia.
Melihat kabut yang mendadak menghilang, mereka sontak melihat ku dan Raidenia.
"Apa yang terjadi? Kenapa kabut nya menghilang?" bingung Oni.
"Manusia? Apa yang kamu lakukan?" sambung Oni yang lain.
Tidak lama kemudian, ada Oni yang berlari dengan tergesa-gesa menghampiri Oni yang lain yang mana dia melaporkan sesuatu.
"Semua nya. Bahaya! Batu kabut telah dicuri!" Lalu, Oni itu melihat ku dan dia sontak terkejut saat melihat ku yang tengah memegang batu kabut yang sudah rusak. "Dialah yang mengambil nya!" seru Oni seraya menunjukkan jari kearah ku.
Oni yang ada disekitar nya sontak menghadap kami dengan ekpresi murka.
Lalu, Raidenia menebak sesuatu.
"Tuan, seperti nya mereka tahu bahwa anda yang mengambil batu itu."
"Seperti nya begitu."
Melihat itu, Raidenia pun melangkah kedepan ku, "Tidak masalah, Tuan. Aku yang akan menghadapi nya!"
Dengan senyuman lebar, Raidenia mengeluarkan bola api biru. Lalu, dia bentuk menjadi busur dan anak panah. Sesudah nya, Raidenia menarik anak panah api itu dan melesatkan nya kearah segerombolan Oni dengan senyuman lebar.
Dan sesaat mengenai para Oni, anak panah itu pun meledak hingga berbentuk bola api yang sangat besar.
Meski aku mengenai percikan api dari serangan itu namun, Raidenia memberikan sihir pelindung untuk ku dan dirinya.
Sesaat sihir itu menghilang, seluruh Oni pun juga hangus terbakar menjadi abu.
Melihat itu, aku hanya bisa menghela nafas panjang.
"Raidenia, kamu memang Naga yang cukup kejam."
Raidenia pun menoleh kebelakang, "Benarkah, ini salah mereka sendiri," jawab Raidenia dengan senyuman lebar.
Melihat itu, aku pun juga hanya bisa memberikan jawaban dengan senyuman.
Sesudah itu, kami pun kembali akan tetapi aku dikejutkan dengan para Orc yang sedang berlutut dua kaki dan tangan di dadanya kearah kami. Tidak hanya itu, mereka sudah mengemasi barang-barangnya dengan mengunakan kotak kayu.
"Raidenia, apa maksudnya ini?"
"Entahlah."
"Aku ku heran, kenapa para Orc sudah mengemasi barang-barang nya? Apakah untuk mengantarkan kita pergi?"
Dengan percaya diri nya, Raidenia menjawab nya. "Bukan, mereka akan pindah!"
Mendengar itu, aku sedikit bingung. "Pindah? Dari Gurun ini?"
Lalu, tetua Orc menyampaikan sesuatu.
"Setelah kami berpikir matang-matang, kami akan senang hati menerima tawaran Yang mulia Raidenia untuk tinggal di tempat suci nya."
Mendengar itu, aku sontak melihat kearah Raidenia. "Apa yang kamu katakan, Raidenia? Lagi pula dimana tempat suci itu?"
"Oh, itu maksudnya Dunia Kabut. Tempat yang berubah jadi subur setelah mengikat kontrak dengan Tuan. Dan, bukan kah Tuan sendiri yang bilang ingin membangun kota disana, bukan?"
"Apakah sungguh mereka bisa tinggal disana?"
"Iya, tentu saja. Air, udara dan lingkungan nya. Semua nya sangat berkualitas. Selain itu juga aku sudah memasukkan macam-macam hewan disana."
Mendengar itu, aku pun sedikit khawatir. "Ah, apa? Bermacam-macam hewan? Bagaimana kalau ada monster buas nya?"
Lalu, seseorang ada yang menarik ku. "Kalau memang ada, saya yang aman mengurus nya, Tuan."
Mendengar itu, aku sontak melihat kebelakang yang mana disana ada Girl-One.
"Girl-one?"
"Iya, Tuan. Semua keamanan. Kami akan mengurusnya. Jadi, tenang saja! Meski monster menyerang, saya akan mengusirnya."
Memahami itu, aku hanya bisa menghela nafas panjang dan kembali melihat para Goblin.
"Kalian yakin memutuskan hal sepenting ini hanya dalam semalam saja?"
Lalu, mereka pun menjawab nya dengan serempak dan tegas. "Tentu saja!"
Mendengar itu, aku pun yakin mereka sudah memiliki tekad yang kuat.
Enma yang berada di barisan depan angkat bicara.
"Kami akan pindah ke tanah milik Tuan muda Rudi dan Raidenia agar kami bisa mendukung Tuan muda Rudi sang penyelamat kami dan ... aku yang menjelaskan seperti itu kepada semuanya.
"Enma."
Meski begitu, aku terbeban sesuatu. "Tapi, bagaimana dengan tempat tinggal nya?"
"Tenang saja." Raidenia meluruskan tangan nya. "Aku akan memasukkan seluruh desa nya termasuk para Orc nya."
Lalu, Raidenia mengeluarkan kabur tebal yang dimana sesaat kabut itu menghilang, desa daratan tinggi juga menghilang.
"Seperti inilah dan tenang saja Tuan, aku hanya memindahkan mereka dengan kabut ke dunia kabut dan ... ras Orc daratan tinggi akan menjadi penghuni kedua di dunia kabut."
Memahami itu, aku pun tersenyum senang. "Begitu kah. Tidak apa lah. Tapi, aku harap mereka akan menikmati hidup berdampingan dengan ras lain yang damai dan makmur."
"Iya, Tuan. Mari kita bangun kota yang belum pernah ada!"