Become Rich In Another World

Become Rich In Another World
Chapter 09 | Pendaftaran Perusahaan dan Mencari gedung



...Chapter 09. Pendaftaran Perusahaan dan Mencari gedung....


Di siang hari yang cerah, aku pun memutuskan untuk pergi ke Guild Pedagang Kota Aeri dengan mengunakan Aplikasi Go dan setibanya disana, aku sontak di deras nya hujan yang membasahi seluruh pakaian ku.


"Ahufuu ... Yang benar saja ..."


Sambil mengeluh, aku pun mengambil payung dari item box yang kubeli seharga 50k. Lalu, aku pun masuk kedalam.


Setibanya didalam, semua arah pandang tertuju kepada ku lantaran payung yang kugunakan. Meski begitu, aku pun tidak begitu mempedulikan nya.


Lalu, aku melanjutkan langkah menghampiri Mia yang sedang berdiri dibalik meja resepsionis.


"Selamat siang, Tuan Rudi!"


"Selamat siang juga Mia! Apakah Tuan Andreas ada?"


"Ada. Beliau sedang menunggu anda. Mari saya antarkan!"


Setelah itu, Mia meninggalkan meja nya dan aku pun mengikuti nya dari belakang ke ruang ketua Guild.


Saat perjalanan, aku mendengar beberapa pedagang yang memberikan komentar nya.


"Lihatlah! Bukankah dia pedagang garam itu?"


"Masih muda sudah begitu sukses."


"Cih ... Pasti dia anak bangsawan."


... Dan, berbagai bisikan terus terdengar oleh ku.


Meski begitu, aku hanya memberikan senyuman kecil kepada mereka.


Lalu, setibanya didalam ruangan. Aku langsung disambut oleh Andreas.


"Terimakasih sudah datang, Tuan Rudi! Anda sudah datang. Aku sudah lama menunggu. Mari duduk!"


Lalu, aku menuruti dan duduk berhadapan dengan Andreas. Setelah itu, aku mengawali pembicaraan.


"Maaf, kemarin. Aku tidak bisa datang."


"Tidak apa-apa. Malah aku rencana hari ini akan berangkat ke desa Raflesia."


"Memang ada apa? Seperti nya ada pembicaraan sangat penting untuk ku."


"Iya. Pihak kerajaan dan beberapa bangsawan sangat menyukai garam yang anda jual."


"Oh, benarkah! Lega rasanya mendengar itu."


"Iya, akan tetapi... " Ucap ragu Andreas.


"Ada apa? Apakah ada keluhan?"


"Bukan-bukan, sebenarnya, pihak kerajaan ingin membeli beberapa karung garam lagi dan kalau bisa, mereka juga ingin membeli beberapa rempah-rempah."


"Eh? ... mendengar nya saja sudah sangat merepotkan."


"Ya, seperti itulah. Namun ..." Andreas menyatukan tangan nya dan memohon kepada ku. "Aku mohon! Ini merupakan transaksi besar dan aku bersedia memberikan fasilitas apapun selama Tuan Rudi disini."


"Baiklah. Lalu, pesanan nya apa saja?"


Mendengar itu, Andreas dengan cepat mengembalikan posisi badannya dan tersenyum lebar.


"Sebelum itu, aku ingin anda membuat perusahaan dahulu."


Sesaat kemudian, Mia memberikan sebuah dokumen kosong yang harus ku isi.


"Tuan Rudi, silahkan isi data perusahaan anda!"


Memahami situasi itu, aku pun merasa seakan-akan di monopoli oleh Guild Pedagang walaupun begitu, aku tidak mempermasalahkan nya selama mendapatkan koneksi dan keuntungan.


"Baiklah, aku akan membuat nya."


Lalu, aku pun mengisi data perusahaan dan awal dari pengisian itu adalah nama perusahaan.


Aku berhenti sejenak dan melipatkan kedua tangan seraya berpikir mencari nama yang bagus untuk perusahaan ku.


Setelah menimbang-nimbang, aku pun memutuskan untuk mengunakan nama perusahaan dengan nama akhir ku yakni Saputra.


Hal ini aku putuskan karena ingin menunjukkan kepada Ratu Rafaela dan semua teman sekelas ku bahwa aku akan bisa lebih berguna dibandingkan dengan sosok Cheater seperti job pahlawan.


Setelah mengisi itu, perusahaan Saputra pun terlahir.


Lalu, aku pun diberikan beberapa tulisan pesanan yang harus ku penuhi meski terlihat merepotkan namun, ini akan menjadi keuntungan besar untuk ku.


Setelah membuat perusahaan. Kini, aku memutuskan untuk membeli gedung perusahaan.


Lalu, Andreas memiliki pemikiran yang sama.


"Tuan Rudi, apakah anda tidak tertarik untuk membeli atau menyewa toko untuk menyimpan barang-barang anda?"


"Kenapa Tuan Rudi tidak pergi ke Toko Properti? Disana pasti akan membantu mu untuk mencari rumah."


"Baiklah, aku akan kesana."


"Jika begitu, aku akan buat surat rekomendasi nya."


Lalu, Andreas membuat surat yang di stempel langsung. Setelah itu, dia memberikan nya kepada ku.


"Gunakan itu kepada pedagang Properti bernama Rui, Dia pasti akan membantu mu!"


"Baik, terimakasih. Tuan Andreas."


Setelah itu, aku pun pergi meninggalkan Guild Pedagang menuju toko properti yang tentu saja aku mengunakan navigasi untuk sampai disana.


Setibanya disana, aku disambut oleh pria paruh baya.


"Selamat datang, Tuan! Ada yang bisa saya bantu!"


"Apakah ada Tuan Rui?"


"Iya, itu saya sendiri," jawab pria paruh baya.


"Oh, begitu. Maaf aku tidak tahu. Aku Rudi dan atas rekomendasi Tuan Andreas, aku datang kesini!" Ucap ku seraya memberikan surat rekomendasi.


"Iya, senang bisa bertemu dengan anda. Tuan Rudi," jawab Rui seraya menerima surat. Lalu, dia pun membaca nya dan menerima nya. "Jadi, Tuan Rudi ingin mencari jenis properti yang seperti apa?"


"Aku ingin mencari rumah yang seluas mungkin bahkan jika rumah nya sedikit rusak. Aku tidak keberatan dan estimasi nya, 3 juta Mozza. Apakah bisa?"


Aku berpikiran seperti itu lantaran aku hanya ingin memiliki tanah yang luas sedangkan bangunan bisa ku renovasi.


"Begitu, saya memiliki rumah yang mungkin sesuai dengan deskripsi Tuan."


Lalu, pak Rui mengambil sebuah berkas dan menunjukkan kepada ku.


"Bangunan ini baru saya dapatkan. Dahulu tempat ini panti asuhan tetapi kerusakannya cukup parah meski begitu rumah ini memiliki halaman dan gedung yang sangat luas.


"Seperti nya bagus, bisa Pak Rui tunjukkan!"


"Baik."


Setelah itu, aku dan Rui pergi ke lokasi yang dituju dengan mengunakan kereta kuda. Lokasi itu berada di sisi kota Aeri.


Setibanya di lokasi, kami sontak disambut oleh sebuah rumah yang besar namun, kondisi nya sudah hancur ditambah dengan ilalang yang sudah setinggi dua meter.


Rumah yang kulihat ini benar-benar seperti rumah hantu.


"Tempat nya lumayan dan jauh dari kebisingan kota. Jadi, berapa harga nya?"


"Karena Tuan Rekomendasi dari ketua Guild, Andreas. Maka saya akan memberikan harga 2,5 juta Mozza."


"Begitu ya, baiklah. aku akan memeriksa kondisi bagian dalam nya."


"Baik, mari!" Seru Pak Rui yang memandu jalan ku.


Lalu, kami pun melangkah mendekati gedung dan masuk kedalam nya. Setibanya didalam, kami disambut perabotan, lantai dan dinding yang sudah rusak.


"Tempat ini sungguh-sungguh berantakan."


Aku berkomentar seperti itu lantaran jauh berbeda dari rumah keluarga Stardia. Meski, rumah terbengkalai namun, kondisi nya masih bagus.


"Iya, mungkin tempat ini hancur oleh waktu karena tidak ada yang merawat nya," jawab Pak Rui.


"Tidak hanya itu, aku merasa ada yang aneh disini."


Perasaan aneh itu aku utarakan lantaran ku mendengar ada nya suara langkah kaki dan beberapa orang berbicara.


"Suara apa itu?"


Aku yang penasaran sontak menghampiri sumber suara di ikuti oleh Pak Rui.


Lalu, ditengah kami melangkah tiba-tiba muncul sosok wanita yang lewat didepan kami dan membuat langkah kami terhenti.


"Pak Rui, apakah anda yakin rumah ini kosong?"


"Seharusnya memang kosong."


"Tapi, kenapa?"


Pak Rui pun terdiam dan menundukkan kepalanya lantaran dia tahu kesalahan nya karena teledor dalam menjual rumah.


Tidak lama kemudian, datang sosok gadis yang terlihat lebih tua dari ku dengan tatapan sendu. Lalu, dia sontak bersujud didepan kami.


"Tuan, saya mohon untuk jangan bawa panti asuhan ini dari anak-anak disini!"


Melihat itu, aku hanya terdiam dan bertukar pandang dengan Pak Rui.