
...Chapter 34. Raidenia dan dunia di luar peta....
Siapa sangka saat ini aku sedang berhadapan dengan sosok Naga Putih yang tersegel selama 500 tahun dan menurut ku dia cukup kasihan. Dia bernama Raidenia.
Maka dari itu, aku membantu membebaskan nya dengan mengunakan Aplikasi Cancel.
"Aku Bebas! Hahaha..."
Suara kesenangan Raidenia itu pun membuat tanah berguncang lagi.
"Aku juga turut senang."
Raidenia menghentikan tawa nya dan mendekatkan kepala nya kearah ku.
"Rudi, seperti janji ku sebelum. Ayo kita mengikat kontrak!"
"Kenapa?"
"Aku ingin mengenal mu lebih dekat dan Kontrak adalah sihir khusus yang memberikan banyak manfaat bagi satu sama lain yang terikat kontrak dan kedua belah pihak saling diuntungkan tergantung pada tingkat kekuatan masing-masing."
Penjelasan dari Raidenia itu, aku sedikit tidak mengerti. "Dengan kata lain?"
"Aku akan menjadi rekanmu. Aku janji kamu takkan kecewa. Aku yakin kontrak ini akan menguntungkan mu."
Akhirnya, aku paham. Dia hanya ingin memiliki teman.
"Baiklah, ayo kita menjalin kontrak!"
"Kalau begitu, kita langsung saja mulai ritual kontrak nya."
Seusai Raidenia mengatakan itu, muncul lingkaran sihir dibawah kaki dan simbol sihir terbentuk dari tangan ku dan tangan Raidenia.
"Pertama, kita mulai dengan kesepakatan 50:50!" Namun, ritual itu gagal dan membuat nya terkejut. "Dia mengalahkan ku?!" Lalu, Raidenia mencoba ritual lebih rendah. "Kalau begitu, 70:30. Orang tua dan Anak!" Namun, gagal lagi. "Tidak mungkin, tingkatannya terlalu luar biasa!" Lalu, dia mencoba tingkatan yang lain. "Baiklah, 80:20. Kontrol!" dan akhirnya, berhasil yang mana Raidenia mengeluarkan cahaya merah yang terang. "Akhirnya bisa seimbang! Posisiku lebih seperti budaknya, Tapi ... Tidak masalah karena aku penasaran dengan apa yang akan Tuan ku lakukan kedepannya dan waktu yang akan ku habiskan dengan Tuan ku pasti akan menjadi waktu terbaik dalam hidupku!"
Dalam ritual itu, aku sama sekali tidak mengerti dengan gumaman nya namun, dia terlihat bisa mengikat kontrak dengan ku sebagai bawahan.
Sungguh tidak ku sangka dan mungkin hari damai ku akan hilang.
Lepas dari itu semua, cahaya terang yang mengelilingi Raidenia merubah sosok nya yang besar menjadi wanita tinggi yang memiliki rambut panjang ungu yang terkepang dengan pakaian kimono ungu.
Lalu, dia pun tersenyum seraya berkata. "Baiklah, sekali lagi. Mohon bantuannya. Wahai Tuan ku, Rudi."
Melihat itu, aku pun tersenyum kecil dan menatap nya lantaran sosok gadis cantik keren dengan pakaian Kimono yang menandakan dia bukan Heroine melainkan Hero.
Saat melamun menatap nya, Raidenia mempertanyakan ku.
"Ada apa, Tuan?"
Lalu, aku pun mengalihkan pembicaraan. "Yah, kukira aku bisa menunggangi naga untuk mempermudah saat aku berkelana. Itu sedikit diluar dugaan."
Raidenia yang mendengar itu, dia pun terkejut. "Apa?!"
"Kenapa Nona Raidenia berubah menjadi sosok manusia?"
"Hal itu disebabkan karena didalam kontrak dengan Tuan itu 80:20 atau Kontrol. Maka Makhluk yang lebih lemah akan mengambil penampilan yang lebih kuat."
Mendengar itu, aku pun sedikit tidak menduga bahwasanya aku lebih kuat.
"Yang benar saja, aku yang tidak memiliki kemampuan sihir atau Skill Job memiliki kekuatan yang lebih kuat dari anda?!"
"Anda terlalu merendah. Tuan, anda memiliki kemampuan mana yang tinggi dan jangan panggil aku Nona. Panggil Raidenia!"
Mendengar itu, aku hanya bisa menghela nafas.
"Baiklah, aku mengerti."
"Tuan, ayo kita keluar dari Goa ini!"
Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepala. Lalu, pergi keluar.
Setibanya diluar, Raidenia langsung membentangkan kedua tangan nya ke atas. "Wuahhh ... segarnya! Sudah ratusan tahun aku tidak menghirup udara luar."
Melihat Raidenia yang senang, aku pun turut senang. Lalu, aku mengambil smartphone dan mencoba aplikasi Go namun, aplikasi belum bisa digunakan juga.
"Kenapa aplikasi Go tidak bisa digunakan?" gumam ngeluh ku sendiri.
"Ngomong-ngomong, Tuan. Ada sesuatu yang ingin aku pastikan dengan anda."
"Apa?"
Lalu, Raidenia meluruskan tangan nya dan memunculkan gerbang kabut yang besar dan itu sama dengan kabut saat muncul di pemukiman Goblin.
"Mungkin kah itu gerbang kabut?"
"Sejenis itu. Akan tetapi, dibalik kabut ini terdapat ruang yang aku kendalikan."
"Oh, begitu."
"Dan, ini ruang yang hanya bisa keluar masuk melalui gerbang kabut. Jadi, Tuan. Mari ikut saya!"
Setelah itu, Raidenia melangkah masuk kedalam kabut diikuti oleh ku dibelakang nya sampai dibalik kabut, aku disungguhi oleh hutan yang luas disertai dengan angin yang berhembus kencang yang mana hutan itu terlihat damai.
"Raidenia, ini dimana?"
"Ya, Ini ... Dimana ya, Tuan?"
"Mana mungkin aku tahu?!"
Karena kami berdua tidak tahu tempat kabut ini maka kami memutuskan untuk berkeliling hutan.
Lalu, dalam perjalanan nya. Kami berbincang-bincang.
"Bukan, seharusnya ruangan ini merupakan ruangan gelap dan kosong dengan isi nya akan sesuai dengan keinginan saya. Tapi, siapa sangka akan begitu banyak perubahan."
Lalu, ditengah perjalanan. Aku melihat pohon pir yang membuat langkah kami terhenti.
"Oh, ada pir."
"Ah, pir?"
"Ini mungkin sama dengan makanan yang ada di dunia ku dan kamu bisa langsung memakannya."
Lalu, aku mengambil dua pir. Satu untuk ku dan satu untuk Raidenia.
Saat menerima pir itu, Raidenia sontak menyantap nya dan dia pun dengan senang menerima nya. "Ini enak sekali!"
Lalu, aku juga menyantap nya dan pir itu memanglah manis seraya melihat sekeliling yang mana saat ku perhatikan baik-baik, disekitar ku banyak tanaman yang ku kenali.
Memahami itu, aku pun memutuskan untuk memeriksa nya dengan mengambil smartphone dan membuka aplikasi Navigasi yang mana disana hanya satu peta yang memiliki luas jauh melebihi ibukota Alexandria dengan keterangan gerbang kabut di sekeliling peta.
Selain tanaman, di layar ponsel juga memperlihat ada nya hewan-hewan hutan seperti kelinci, B@bi hutan, rusa dan sebagainya.
"Aku tidak menyangka tempat ini akan seluas ibukota dengan gerbang kabut mengelilingi tempat ini."
"Eh? Aku tidak menyangka Tuan memiliki Artefak sihir yang sangat rinci seperti ini."
Komentar Raidenia sambil melihat layar di ponselku dengan mulut dan tangan nya masih memegang pir.
"Lebih baik, kamu rahasiakan kekuatan ku ini."
"Baiklah, Tuan."
Memahami itu, aku pun terpikir sesuatu. "Kalau bisa membuat lahan, toko dan kota disini itu akan menarik karena ini akan menjadi kota ilusi."
"Toko? Kota? Pemikiran yang menarik."
Lepas dari itu semua, aku melihat ada sesuatu yang aneh di tengah peta.
"Ada yang aneh ditengah peta ini,"
"Tuan, lebih baik kita periksa!"
Aku pun menganggukkan kepala dan kami melanjutkan langkah dan setibanya ditengah peta dunia kabut, kami disungguhi oleh desa yang tidak berpenghuni.
"Raidenia, sebenarnya kita dimana?"
"Entahlah ... aku benar-benar tidak tahu."
Dan, kami pun tiba di sebuah tempat yang tidak diketahui dan di luar peta dunia.