Become Rich In Another World

Become Rich In Another World
Chapter 45 | Recovery Pil dan Menyelinap ke Desa Raflesia



...Chapter 45. Recovery Pil dan Menyelinap ke Desa Raflesia....


Setelah menikah dan malam pertama dengan Ratu Von Alexandria. Aku pun mendapatkan gelar pangeran, Duke dan Royal Highness.


Aku mendapatkan gelar itu karena memutuskan untuk menjadi suami dari seorang ratu.


Selain itu juga ada sebuah aturan yang mana seorang wanita yang menikah dengan raja bisa disebut ratu, tetapi bagi pria yang menikah dengan ratu, terdapat aturan yang berbeda. Mereka tidak dapat menggunakan gelar raja karena itu hanya diberikan kepada laki-laki yang mewarisi takhta.


Meski begitu, aku cukup nyaman mendapatkan gelar dan Ratu Rachel hanya dengan 1 Ton emas.


Rachel merupakan sosok istri yang sangat sibuk pengatur kerajaan oleh sebab itulah Rachel yang sudah berusia 25 tahun belum bisa memiliki seorang suami dan dia pun juga menolak untuk di jodohkan seperti gadis bangsawan lainnya.


Dan, perbedaan 10 tahun pernikahan kami pun aku tidak melihat nya karena kecantikan Rachel seperti gadis seumuran ku.


Lepas dari itu, aku pun bisa dengan mudah berjalan keliling istana yang mana para pelayan dan prajurit memberikan hormat kepada ku. Lalu, aku pun menjawab mereka dengan senyuman dan lambaian tangan.


Ditengah perjalanan, aku bertemu dengan sosok wanita cantik berambut panjang perak namun, dia hanya memiliki satu tangan sedang menatap sendu memperhatikan bunga yang mekar di taman.


Melihat keadaan nya itu, aku pun terpikir untuk menyembuhkan nya. Mungkin saja barang dari Universal Shop ada yang mampu menyembuhkan tangan nya.


Aku mengenal sosok nya, dia ahli pedang terbaik dengan julukan ksatria Pedang Suci, Kureha.


"Hei, apakah kamu Kureha?"


Mendengar sapaan ku, Kureha sontak melepaskan lamunan nya dan menoleh kearah ku yang mana dia sontak terkejut dan memberikan hormat.


"Yang mulia, maaf. Saya tidak melihat anda."


"Kureha, nama mu sering aku dengar jadi, aku juga senang bisa bertemu langsung dengan mu disini."


Kureha pun tersenyum dan menundukkan kepala. "Aku juga senang, Yang Mulia. Tapi ..." Kureha memegang tangan nya yang putus. "Aku tidak sehebat yang diceritakan."


"Apa yang terjadi dengan tangan mu?"


"Di Pertarungan terakhir, aku lengah hingga membuat tangan ku ini dimakan oleh monster hingga ... menjadi seperti ini."


Mendengar itu, aku pun memberikan sebuah pil kepada nya. "Kureha, cobalah makan ini!"


Kureha pun menerima pil itu namun, masih sedikit ragu untuk menyantap nya. "Yang mulia, ini pil apa?"


"Recovery Pil. Pil yang mungkin bisa menyembuhkan tangan mu."


Sebuah pil yang mampu menyembuhkan segala luka baik dalam ataupun luar yang ku beli seharga 1 juta rupiah per pil nya. Namun, aku masih bisa mendapatkan cashback 500 ribu.


Mendengar jawaban dari ku, Kureha pun memberanikan diri untuk memakan pil itu yang mana tidak lama tangan Kureha terbentuk kembali dari muncul nya tulang, daging sampai pada akhirnya kulit dengan bentuk seperti sedia kala dan membuat Kureha terkagum.


"Sungguh keajaiban! Sekarang, aku bisa bertarung lagi!" seru senang Kureha seraya melihat tangan nya. Lalu, Kureha melihat kearah ku. "Terimakasih, Yang mulia."


Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepala. "Iya, sama-sama."


Lalu, Kureha pun berlutut di hadapan ku. "Yang mulia, katakan kepada ku! Apa yang harus kulakukan untuk membalas kebaikan anda yang luar biasa ini?!"


Ditengah itu, tiba-tiba suara Rachel memotong nya. "Kalau begitu, jadilah pengawal pribadi nya!"


Mendengar itu, aku sontak melihat Rachel dan terkejut. "Eh, Pengawal pribadi? Tapi, Kureha kan ksatria Pedang Suci yang tidak terikat dengan siapapun."


"Kata siapa, itu tergantung pada Kureha sendiri mau menerima atau tidak."


"Saya menerima nya, Yang mulia. Saya bersedia menjadi pengawal dari pangeran Rudi."


"Benarkan," sambung Rachel.


Aku pun menghela nafas panjang. "Baiklah, mohon bantuannya, Kureha!"


"Baik, yang mulia."


Lalu, aku pun disana bertemu dengan Duke Allison yang mana diwaktu yang lalu, aku telah menyembuhkan penyakit buta istrinya dan mungkin di waktu ini mata istri nya belum ada yang menyembuhkan.


"Paman Allison."


"Yang mulia Rudi," jawab Allison dengan menundukkan kepalanya.


Meski kami sama-sama bergelar Adipati namun, status ku lebih tinggi karena aku suami dari sang Ratu sendiri.


Lalu, aku pun memberikan pil yang sama kepada Allison.


"Paman, berikan pil ini juga untuk istri anda. Semoga saja bisa menyembuhkan mata beliau!"


Allison yang mendengar itu, dia sontak terkejut haru hingga menitihkan air mata nya saat menerima Pil itu. "Benarkah? Ini pil yang sangat berharga."


"Justru karena berharga lah. Aku berikan ini untuk mu, paman. Aku harap, Bibi Ellen bisa beraktifitas seperti biasa lagi."


Lalu, Rachel pun menatap curiga kepada ku. "Kenapa kamu bisa tahu tentang kondisi bibi?"


"Aku hanya tahu dari rumor yang beredar di istana ini," jawab ku dengan santai.


Lalu, Allison mengusap air mata. "Terimakasih, Rudi."


Melalui momen itu, kami pun saling bertukar senyum.


Keesokan harinya, aku mendengar mata bibi Ellen sudah pulih dan beliau pun datang ke istana untuk berterimakasih kepada ku.


Lalu, aku pun juga memberikan persembahan untuk para Dewa dan Dewi atas karunia yang berlimpah kepada ku.


Baru saja beberapa hari di istana aku sudah merasa bosan maka dari itu, aku pun memutuskan untuk menyelinap keluar dan menjalan takdir ku sebelum nya dengan pergi ke Desa Raflesia.


Untuk pergi kesana, Dewa Kehidupan memberikan kemudahan untuk ku dengan mengunakan salah satu fitur dari Universal Shop yakni Taxi.


Fitur Taxi sama seperti Aplikasi Go, hanya saja setiap Teleportasi akan memakan biaya sesuai dengan jauhnya. Tarif dalam radius 10 km hanya memakan biaya 10 ribu rupiah, radius 100 km memakan biaya 50 ribu dan lebih dari itu akan semakin tinggi biaya nya.


Sebelum pergi, aku juga melakukan penyamaran dengan merubah nama dan penampilan ku yang awalnya berambut hitam pendek kini menjadi putih panjang bergelombang dan berwajah beda.


Ini semua berkat potion makeover yang ku beli seharga 500 ribu di Universal Shop.


Lalu, aku pun pergi ke Desa Raflesia dengan mengunakan fitur universal Shop.


Setibanya di Desa Raflesia, aku langsung berada di depan rumah besar yang bertuliskan restoran dan penginapan yang mana rumah ini merupakan rumah dari Clara dan keluarga nya.


Tanpa ada keraguan lagi, aku pun masuk kedalam rumah besar tersebut.


"Selamat datang!" Sapa wanita dewasa yang berbadan gemuk yang tidak lain, dia Novi. Ibu dari Clara.


Melihat nya, Rudi pun tersenyum dan menghampiri nya.


"Aku ingin menginap di desa ini. Berapa per malam nya?"


"5 koin Tembaga permalamnya. Belum termasuk makan," jawab Novia.


Mendengar itu, aku pun mengeluarkan satu koin emas. "Kalau begitu, berapa malam jika satu koin emas?"


"Hmm ... Tuan, bisa menginap 20 hari? apakah Tuan ingin menginap selama 20 hari?"


"Iya, seperti nya begitu. Lagipula, tempat tinggal ku sangat jauh dari sini."


"Baiklah, Tuan dan selamat datang di desa Raflesia ini!"


"Iya."


Setelah itu, Novia memanggil Clara. "Clara, Tolong antarkan tamu!"


Dan, dari kejauhan aku mendengar suara Clara yang menjawab.


Tidak lama kemudian, datang sosok gadis yang seumuran dengan ku yang memiliki rambut coklat dan panjang dengan pakaian desa, dia Clara.


"Tuan, mari saya antarkan!" seru Clara yang mana dia sontak menghampiri dan memeluk tangan sehingga tangan ku terhempit oleh besar nya buah dada Clara.


Aku hanya bisa tersenyum dan mengikuti langkah Clara ke lantai dua yang mana kamar nya berada di ujung lantai dua dengan ruangan yang cukup besar.


"Tuan, disinilah kamar anda! Selamat beristirahat!" ucap Clara seraya melepaskan pelukannya.


"Terimakasih, Clara dan ..." Aku pun mengambil satu koin perak dan kuberikan untuk Clara. "Ini Clara. Tips untuk mu."


"Wuah ... Banyak nya, terimakasih. Tuan," ucap Clara seraya menerima tips ku dengan senang.


"Jangan panggil aku Tuan! Namaku Juan."


Dalam penyamaran ini, aku memakai nama Juan. Aku harap di bumi, Juan tidak marah dengan ku.


"Baik, Juan."


Aku dan Clara pun saling bertukar senyum.


Tidak lama kemudian, perutnya berbunyi dengan keras.


Krukkkk!


Mendengar itu, Clara tersenyum kecil.


"Juan, kamu lapar?"


Aku pun mengangguk kepala, "Iya, dari pagi aku belum makan."


"Kalau begitu, aku akan buatkan makanan dan ku antar kesini!"


"Iya, Maaf. Merepotkan!"


Setelah itu, Clara meninggal ku dan pergi ke bawah untuk mempersiapkan makanan.


Beberapa saat kemudian, aku turun dan menyantap makanan yang di masak oleh Clara seperti sup, telur dan beberapa sayuran akan tetapi, semua lauk itu hambar.


"Maaf, Juan. Kami kehabisan garam jadi mungkin akan terasa hambar."


"Kenapa?"


"Sejak tambang garam di jajah oleh Goblin, desa dan kota sekitar sini mengalami krisis garam."


"Tenang saja, makanan ini masih tetap lezat."


Mendengar pujian ku, Clara sontak senang. "Benarkah, terimakasih."


Sekembalinya dikamar, aku pun memutuskan untuk membantu desa ini dengan memberikan garam kepada mereka.


"Jika, aku berikan ini mungkin akan membantu krisis garam."


Setelah memutuskan hal itu, membeli garam 1 kg di universal Shop.


Dan, seusai memesan itu. Aku pun memberikan nya kepada pemilik penginapan.


"Ibu, silahkan gunakan garam ini untuk restoran ini!"


Melihat Aku memberikan garam, pemilik penginapan dan Clara sontak terkejut.


"Tuan Juan, apa kamu yakin memberikan garam sebanyak ini?" ucap Novia.


"Benar sekali, Apakah kamu tidak tahu? Garam sebanyak ini jika dijual bisa mencapai 15 koin emas!" sambung Clara.


"Tidak apa. Aku memang memberikan garam ini untuk desa Raflesia ini."


"Kalau begitu, aku akan terima. Terimakasih, Juan."


"Terimakasih, Juan," sambung Clara.


Aku pun mengangguk kepala dan tersenyum.


Malam harinya, ditengah aku menunggu kemunculan Goblin tiba-tiba Clara mengetuk pintu.


"Juan, apakah kamu sudah tidur?"


Mendengar itu, aku sontak menghampiri pintu dan membuka nya.


"Clara, ada apa?"


Clara pun menundukkan kepalanya dengan wajah memerah.


"Juan, boleh kah aku masuk?"


"Iya, silahkan!"


Lalu, aku mempersilahkan masuk dan Clara pun masuk ke dalam kamar ku. Setelah itu, dia berhenti di tengah kamar dan menghadap ku.


Lalu, aku pun menutup pintu dan menghadap nya. "Ada apa, Clara?"


Tanpa menjawab nya, Clara sontak melepaskan seluruh pakaiannya sehingga buah dada nya besar terlihat jelas hingga membuat ku trangsang.


"Clara, apa maksudnya?"


"Saya tidak bisa membayar dengan uang kebaikan anda. Maka dari itu, saya ingin membayar nya dengan tubuh ku ini yang mungkin tidak bagus untuk anda."


Mendengar itu, aku pun menghampiri Clara dan memegang kedua bahunya.


"Tidak Clara, kamu cantik dan aku merasa beruntung ada kamu disini."


Dengan wajah yang merah, Clara melihat ku. "Juan ..."


Melihat itu, aku pun tidak kuasa menahan godaan tubuh nya. Lalu, aku sontak mencium bibir dan menjamah tubuh nya hingga berakhir pergulatan panjang diatas ranjang.


Clara yang masih prawan dan tidak mengerti cara permainan ranjang, aku pun mengajarinya berlahan pada malam itu.


Dan, masa lalu pun berubah dengan drastis.


***


Extra Chapter:


Ditengah Rudi berada di Desa Raflesia, Kureha yang bertugas menjaga Rudi menjadi panik karena dia tidak menemukan Rudi dan hanya ada sebuah surat diatas kasur.


Yang mana bertuliskan bahwa Rudi ingin berkelana ke seluruh dunia dan meminta Kureha untuk menjaga Rachel bukan dirinya. Lalu, jika ada suatu kejadian genting. Rudi akan datang membantu.


Kureha yang panik, dia sontak pergi ke ruang kerja Rachel yang mana dia melaporkan situasi yang dialami nya dan memberikan surat pesan dari Rudi.


Melihat itu, Rachel hanya tersenyum kecil. "Dasar Rudi! Dia meninggal tugas nya di istana dan meninggalkan istrinya begitu saja."


"Yang Mulia, apa yang harus saya lakukan?" tanya Kureha yang sedang berlutut satu kaki dihadapan Rachel.


"Sudah biarkan saja, dia berkelana dan Kureha, mohon kerjasama untuk menjaga ku!" ucap Rachel dengan senyuman lebar.


"Baik, Yang Mulia."


Lalu, Rachel bergumam sendiri. "Aku harap dia tidak bermain dengan wanita lain."


Kureha yang mendengar itu, dia pun menjawabnya. "Seperti nya sulit, Yang Mulia."


"Ah, benar juga."


Rachel dan Kureha pun saling bertukar senyum kecil.