Become Rich In Another World

Become Rich In Another World
Chapter 31.5 Nadia Side | The First Mission



...Chapter 31.5 Nadia Side: The First Mission...


Nadia merupakan salah siswi dari kelas yang sama dengan Rudi. Dia sosok gadis bertumbuh kecil dengan rambut yang terurai panjang.


Nadia juga sosok gadis yang pendiam, pintar dan tidak pandai bergaul meski begitu, sosok Nadia banyak disenangi oleh banyak siswa.


Disaat peristiwa jatuhnya Haikal, Nadia juga memutuskan untuk berkelana sendiri dan saat ini, dia sedang berada di depan Guild Petualang, kota Aeri.


“Akhirnya!” gumam lega Nadia.


Tidak lama, Nadia pun masuk kedalam dan melihat banyak orang disana dengan memakai jirah dan memegang senjata masing-masing sesuai keahlian mereka yang sedang mengerumuni papan besar di sisi samping ruangan.


“Ramainya ...” ucap Nadia seraya melihat sekeliling nya.


Lalu, Nadia pun mengabaikan orang-orang disana dan berjalan menuju ke meja besar di tengah ruangan dan disana terlihat seorang wanita berseragam dengan rambut pirang.


“Selamat datang, Nona! Ada yang bisa saya bantu?” sapa resepsionis.


“Saya kesini untuk mendaftarkan diri sebagai petualang,” jawab Nadia.


“Baik, Nona. Dalam hal itu, Nona akan dikenakan biaya pendaftaran 3.000 Mozza."


Lalu, Nadia mengambil koin perak dari sakunya dan memberikan kepada resepsionis.


“Ini.." ucap Nadia seraya memberikan tiga koin.


“Baik, saya terima dan ini formulir anda. Silahkan diisi!”


“Iya."


Saat Nadia sudah menerimanya, dia pun mengisi kertas itu dengan pulpen yang sudah menempel di atas meja.


Lalu, Nadia pun menuliskan namanya dan dia memiliki skill Job pendeta. Setelah formulir terisi semua, Nadia memberikan kembali kertas itu kepada resepsionis.


“Ini, Kak,” ucap Nadia yang memberikan kertas tersebut.


“Baik, saya terima."


Setelah itu, Resepsionis memeriksa data Nadia dan setelah nya, dia memberikan Kartu Petualang kelas G.


.“Nona Nadia, ini tanda pengenal anda!” ucap resepsionis seraya memberikan tanda pengenalnya


“Terima kasih, kak,” jawab Nadia yang menerima kartu Guild Petualang nya.


“Nona Nadia untuk pekerjaan anda harap memeriksa papan besar di samping sana dan anda harus mengambil pekerjaan sesuai dengan tanda pengenal anda atau jika anda menjalankan pekerjaan secara berkelompok maka anda bisa menjalankan pekerjaan satu tingkat diatas anda,” ucap resepsionis.


“Baik, saya mengerti,” jawab Nadia.


“Ada yang bisa saya bantu lagi?”


“Sudah, terima kasih,” jawab Nadia.


“Sama-sama, terima kasih dan selamat bergabung di Guild petualang, Nona Nadia,” ucap resepsionis yang berdiri dan membungkukkan badannya.


“Iya,” balas Nadia yang membungkukkan badannya juga.


Setelah itu, Nadia pergi ke papan pekerjaan dan misi. Disana Nadia harus melewati kerumunan para petualang yang lain tapi, Nadia yang berbadan kecil dengan mudah menyusup dan tiba di depan papan.


“Pekerjaan tingkat G …” gumam Nadia yang mencari pekerjaan di papan.


“Hei, kamu?” sapa seorang pria dari samping Nadia.


Nadia pun menoleh kearah sapaan itu dan dia melihat seorang pria seumurannya menyapanya.


“Aku?!” tanya Nadia yang menunjuk kearah dirinya sendiri.


“Apa kamu seorang penyembuh?” tanya pria tersebut.


“Hmm …” jawab Nadia yang menganggukkan kepalanya.


“Bisa ikut denganku sebentar?” ajak pria tersebut.


Nadia pun melihat penampilan yang terlihat baik kepada pria itu maka, Nadia pun menerima ajakannya.


“Baik, Ayo!” jawab Nadia.


Nadia dan pria itu pun meninggalkan papan pekerjaan dan menemui beberapa rekannya disana yang sedang duduk disalah satu kursi disana.


“Semua! kita telah mendapatkan penyembuhnya,” ucap pria itu terhadap rekannya.


“Benarkah!” ucap salah satu rekan wanita.


Nadia pun menundukkan kepala dan memperkenalkan dirinya.


“Namaku Nadia, seperti yang kalian lihat. Aku petualang baru,” ucap Nadia dan dia menegakan badannya serta tersenyum kepada mereka.


“Tenang saja! Kami juga baru dan hanya satu tingkat diatas mu dan Aku Sina seorang thief,” ucap Sina.


“Aku Hyna seorang penyihir,” ujar rekan wanita yang lainnya.


“Dan aku Kohl seorang ahli pedang,” ucap pria yang membawa Nadia.


“Kami adalah satu kelompok tapi kami kesulitan dalam menjalani pekerjaan jika tidak ada seorang penyembuh,” ucap Sina.


“Memang kalian ingin menjalani misi apa?” tanya Nadia.


“Kamu tahu bahwa Guild Petualang telah mendapatkan kabar bahwa gunung garam di dekat sini sudah di kuasai oleh para Goblin dan jika kita berhasil menaklukkan nya maka akan mendapatkan hadiah yang sangat besar," ucap semangat Kohl.


“Bagaimana kamu ikut?” tanya Hyna.


“Hmm … aku ikut karena aku juga bingung karena belum mendapatkan pekerjaan,” jawab Nadia.


Hyna dan lainnya merasa lega dan senang.


Setelah itu, mereka pun meninggalkan gedung guild menuju parkiran gerbang kota dan Nadia disana saat melihat kereta kuda.


“Kalian kereta Kuda?!” tanya Nadia.


“Hehe … tidak kami menyewanya selama 2 hari,” jawab Kohl dengan tawa kecil.


Lalu, Nadia bersama dengan rekan baru nya pergi ke Desa Raflesia terlebih dahulu untuk menjelaskan rincian misi.


Beberapa jam kemudian, Nadia dan rekannya tiba di desa Raflesia. Lalu, mereka memarkirkan kereta kuda di dekat pintu gerbang dan pergi ke rumah kepala desa yang tidak lain dia Dariel.


Tok! Tok!


Suara kendoran pintu dari Kohl.


“Permisi! Kami dari petualang,” teriak Kohl yang pintunya dibukakan.


Krekk!


Suara pintu yang terbuka dan Kohl mundur beberapa langkah.


Dari balik pintu terlihat Dariel yang menatap heran kepada Nadia dan kelompok nya.


“Apa kalian benar-benar seorang petualang?” tanya Dariel.


Kohl dan lainnya pun menunjukan tanda pengenal mereka yang memiliki peringkat dan Nadia pun mengikuti gerakan rekan nya itu.


“Kenapa Guild mengirimkan pemula seperti kalian?!” keluh heran Dariel.


“Tenang, pak! Meski kami pemula tapi kami sangatlah kuat,” ucap Kohl yang menepuk dadanya.


“Baiklah, jika kalian begitu percaya diri. Saya adalah kepala desa disini, silahkan masuk! Saya akan menjelaskan detail misinya,” ucap Dariel.


Nadia dan lainnya saling tersenyum dan masuk kedalam rumah kepala desa.


Pada saat didalam mereka duduk di kursi bulat dengan sajian teh hangat dan beberapa kue.


“Pak Kepala Desa, bisa ceritakan bagaimana detail goa tersebut?” tanya Sina.


“Begini …”


Dariel pun memulai cerita yang terjadi sebulan yang lalu, goa didekat desa itu sebenarnya adalah goa tambang garam yang merupakan sumber penghasilan dari desa tersebut hingga suatu malam ada suara ledakan didalam goa, saat warga memeriksa ledakan itu. Dia melihat ada pintu kayu yang mewah namun warga setempat tidak bisa membuka nya walau dengan paksaan.


Suara ledakan itu juga memancing para goblin dari reruntuhan yang berada jauh di barat desa untuk menghampiri dan menghuni goa tersebut.


Para goblin itu tidak hanya menghuni goa akan tetapi mereka mencari makan dari peternakan desa, membawa para anak kecil, dan menculik wanita di desa.


Nadia yang mendengar itu membuat dirinya terkejut dan simpati.


“Tenang saja! Kami akan membasmi mereka,” ucap percaya diri Kohl.


Sina dan Hyna menganggukan kepalanya dan tersenyum kepada kepala desa. Tapi, berbeda dengan Nadia. Dia memiliki perasaan tidak enak.


Gunung garam itu terletak di perbukitan dengan hutan disekitarnya.


Setiba di gerbang masuk goa, langkah Nadia terhenti. Kohl dan lainnya juga berhenti dan melihat Nadia yang terhenti.


“Aku merasakan tidak enak untuk masuk kedalam goa,” ucap Nadia.


Saat Kohl yang mendengar ucapan Nadia, dia pun menghampiri Nadia.


“Nadia, tidak apa-apa. Kami akan melindungi mu,” ucap Kohl yang memegang bahu Nadia.


Nadia pun melihat Sina dan Hyna yang menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan.


“Mohon kerja samanya!” jawab Nadia dengan senyuman.


Setelah itu, mereka pun masuk kedalam goa. Nadia dan lainnya dengan penerangan sebatas obor saja melewati jalan yang sempit dan gelap.


“Sama sekali tidak ada suara dan apapun disini!” ucap pelan Kohl yang berjalan diantara lainnya.


“Tetaplah waspada!” balas ucap pelan Hyna.


Suasana goa pun menjadi sangat gelap dan ditengah perjalanan mereka terlihat bendera yang melambangkan kekuasaan goblin.


“Hei! Lihat ini tanda goblin!” ucap senang Kohl yang memeriksa bendera.


Gigigi! Gigigi!!


Hyna yang berada dibelakang barisan mendengar suara tersebut.


“Suara apa itu?” tanya Hyna.


“Suara apa? Aku tidak mendengar,” ucap Kohl.


“Kohl, berikan obor mu!” seru Hyna.


Kohl pun memberikan obornya dan saat Hyna menerima juga melihat kedepan, mereka semua terkejut saat melihat goblin yang banyak sudah berada di belakang mereka.


“Goblin!” teriak Hyna yang terkejut hingga dia menjatuhkan obor yang dipegangnya.


Gigigi!


Tawa lebar dari para goblin.


“Minggir, aku yang akan menjadi lawan kalian!” teriak Kohl yang mengambil pedang.


Para goblin yang melihat gerakan dari Kohl membuat salah satu mereka lompat kearah Hyna dengan pisau di tangannya.


“Hiaa!!” teriak goblin yang melompat.


Hyna pun bergegas ingin merapalkan tapi sebelum selesai dengan rapalan nya. Goblin sudah menusuk leher Hyna.


“Aaaahhhhhhh!!” teriak kesakitan Hyna yang menahan darah di leher dengan tangannya.


“Hyna!” teriak Sina yang melihat serangan tersebut.


“Kurang ajar!” teriak kesal Kohl dan dia mengayunkan pedangnya.


Serangan Kohl itu pun membunuh goblin tersebut.


“Nadia, cepat sembuhkan Hyna!” teriak Kohl.


Nadia yang ketakutan membuat dirinya terdiam dan pada saat Kohl meneriakinya, dia pun tersadar.


“Baik,” jawab tegas Nadia.


Nadia pun bergegas menghampiri Hyna yang terluka dan dia mendekatkan tongkat kearah lukanya.


“Wahai dewi kehidupan yang memberikan keselamatan serta penyembuhan berikan aku kekuatan, Heal,” rapal Nadia.


Cahaya putih pun mengelilingi luka Hyna namun luka itu tidak tertutup dan darah terus mengalir.


“Kenapa tidak bekerja?” ucap kaget Nadia.


“Apa?!” ucap kaget Kohl yang melihat kebelakang.


“Hiattt!” teriak goblin.


Kohl yang mendengar suara itu bergegas dia melihat kedepan dan goblin sudah melompat kearahnya. Kohl pun dengan sigap menangkis serangan tersebut.


Tang!


Suara benturan pedang Kohl dan pisau goblin.


“Kalian lariclah! Aku akan menangkis mereka dari sini,” teriak Kohl.


“Hmm …” gumam Sina yang menganggukkan kepalanya.


Sina pun menarik Nadia yang sedang berusaha menyembuhkan Hyna.


“Heal! Heal! Heal!” rapalan Nadia yang terus menerus tapi tidak membuahkan hasil.


“Nadia, ayo kita lari!” teriak Sina yang menarik Nadia.


“Tapi! Tapi! Tapi!” gumam Nadia yang menangis karena melihat Hyna dan Kohl.


Kohl pun menghela nafas panjang.


“Kalian hadapilah aku!” teriak Kohl.


Beberapa goblin dihadapannya pun mengambil pisaunya dengan tawa yang keras.


“Hihihi!” tawa dari para goblin.


“Hentikan tawa kalian!” teriak Kohl yang mengayunkan pedangnya.


Duk!


Tanpa sengaja ayunan pedang Kohl menyangkut di dinding gka.


“Hiattt!” teriak beberapa goblin yang menyerang Kohl.


“Ahhhhhh!!!” teriakan Kohl yang terkena tusuk terus menerus dari para goblin.


Teriakan itu pun sampai kepada Nadia dan Sina yang sedang berlari kencang didalam gua membuat mereka berhenti sejenak.


“Kohl!” gumam Sina yang menoleh kebelakang.


Nadia pun hanya terdiam dan melihat kearah belakang.


“Gigigigi!” tawa para goblin yang semakin dekat dengan Nadia dan Sina.


Nadia yang melihat sekumpulan goblin itu, dia melihat sebuah cahaya kecil didalam kegelapan.


“Sina, disana pintu keluar nya!” seru Nadia yang menunjuk kearah depan jalannya. Sina yang mendengar itu, dia tidak melihat apapun.


“Aku tidak melihatnya tapi jika kamu yakin lari lah kesana Nadia!” seru Sina.


“Tapi!” ucap ragu Nadia.


“Pergilah! Dan, keluar dari sini!” seru Sina.


Nadia yang mendengar seruan Sina terpaksa, dia meninggalkan Sina dan berlari kearah pintu kayu tersebut.


“Datanglah!” teriak Sina yang menghadap para goblin.


Nadia pun terus berlari dengan tangisan saat menoleh kebelakang melihat Sina yang tertusuk pen goblin dan seluruh pakaiannya dilepaskan.


“Hentikan! Hentikan!” teriak Sina.


Nadia pun berusaha untuk mengabaikannya dan berlari lebih cepat saat beberapa goblin ada yang mengejarnya lagi.


“Aku mohon Dewa Kehidupan selamatkan kami!"


"Gigigi!" seru tawa Goblin.


Lalu, Nadia pun memberanikan diri untuk melihat ke belakang nya namun, Goblin dengan jumlah yang besar terlihat sedang mengincar dan mengejar Nadia.


Hal itu pun membuat Nadia kembali melihat depan dan terus berlari sampai di dekat pintu masuk Nadia bertemu dengan Rudi dan Juan.


"Juan! Rudi!" teriak Nadia.


Dan, itulah momen pertemuan pertama Rudi dan Nadia di dunia lain setelah beberapa bulan tidak bertemu saling bertemu.