
...Chapter 05. Aplikasi Go Dan Rencana Baru....
Aku saat ini sudah kembali ke desa Raflesia dan sebagai rasa syukur kepada Dewa Dewi, aku memberikan persembahan makanan yakni babi panggang kepada Dewi Jahat dan Salad buah disertai Yogurt kuberikan untuk Dewa Kehidupan dan persembahan ini, aku menghabiskan sekitar 500 ribu rupiah.
Bicara saldo, aku juga telah top up mengunakan 10 koin platina yang mana saldo terisi 1 milliar rupiah.
Dengan uang sebanyak itu, aku pun bisa hidup santai di dunia lain ini sambil menunggu teman-teman sekelas ku mengalahkan Raja Iblis.
Jika aku seseorang yang heroik mungkin dengan penuh semangat aku akan mencari kekuatan setinggi mungkin namun, hal itu tidak berlaku dengan ku. Aku hanya ingin hidup sebagai orang kaya dan berkeliling dunia sebelum akhirnya aku meninggalkan dunia ini.
Memikirkan itu, aku pun ingin mendapatkan salah satu kekuatan untuk hal itu yang mana sebuah kekuatan yang mampu perpindahan ruang dalam sekejap seperti sihir Teleportasi yang sering ku lihat dan ku baca.
Ditengah memikirkan itu, tiba-tiba sebuah pesan masuk.
Kling!
Mendengar itu, aku sontak membuka smartphone ku dan terlihat dilayar pesan itu berasal dari Dewa Kehidupan.
[Nak Rudi, persembahan mu sangat lezat padahal aku tidak meminta namun, terimakasih. Maka dari itu, aku memberikan aplikasi yang mungkin akan berguna untuk mu.]
Seusai membaca itu, sebuah pemberitahuan pesan masuk datang kembali.
Kling!
[Aplikasi Go telah diperbaharui.]
Melihat itu, aku pun sontak tersenyum senang karena telah menduga sesuatu.
Lalu, aku pun bergegas membuka aplikasi itu yang mana aplikasi itu berisikan seperti layaknya aplikasi ojek online.
"Ini benaran?!" Gumam ku yang tidak percaya dengan apa yang ku terima.
Aku yang penuh keraguan mencoba aplikasi itu dan sebelum mempraktekkan nya, aku membaca cara mengunakan nya.
Cara mengunakan aplikasi Go sangatlah sederhana. Pertama-tama, aku harus membuat pin disuatu tempat yang mana pin itu bisa di taruh pada aplikasi Navigasi dan saat ini, aku memiliki pin di beberapa tempat salah satunya Guild Pedagang di Kota Aeri.
Setelah memahami itu, aku pun mencoba nya dengan bangkit berdiri ke tengah kamar. Lalu, membuka aplikasi Go, Menempatkan titik tujuan dan titik keberadaan ku. Sesudah itu, aku menekan tombol Go.
Sesaat menekan tombol itu, tubuh ku diselimuti oleh cahaya putih hingga menutupi tubuh dan pandangan ku.
Dan, seusai proses itu. Cahaya pun memudar. menyadari itu, aku pun membuka mata dan terlihatlah gedung Guild Pedagang yang ada di kota Aeri.
Memahami itu, aku pun tersenyum kecil. "Hehehe ... Terimakasih, Dewa! Aku benar-benar mendapatkan kemampuan Teleportasi."
Selain pesan dari Dewa Kehidupan, Dewi Jahat pun juga memperbaharui aplikasi hipnotis yang mana sebelumnya aku hanya bisa menghipnotis satu target. Kini, aku bisa ke dua target dalam waktu yang bersamaan.
Perbaharuan ini sangatlah berguna meski sejak mendapatkan aplikasi Hipnotic, aku hanya mengunakan nya untuk satu target.
Mungkin, aku akan mencoba nya nanti.
Ditengah lamunan, tiba-tiba ada yang suara wanita menyapa ku.
"Selamat pagi, Tuan Rudi!"
Mendengar itu, aku sontak menoleh kearah sumber suara yang mana sapaan itu berasal dari Mia, resepsionis yang membantu ku saat pendaftaran.
"Oh, Nona Mia. Selamat pagi juga!"
Lalu, Mia yang melihat ku. Dia pun menduga sesuatu.
"Tuan Rudi, mohon maaf. Tuan Andreas belum datang."
"Iya, aku mengerti. Nanti siang aku akan datang lagi."
"Baiklah, saya mengerti. Nanti, saya akan memberitahukan kepada Tuan Andreas."
Setelah itu, aku pun pergi meninggalkan gedung Guild Pedagang dan ke sisi gang kecil. Seusai itu, aku mengunakan Aplikasi Go menuju kamar penginapan.
Menyadari kemampuan ini, aku tersenyum sendiri. Lalu, aku mengepal tangan dan melihat nya.
"Dengan ini, aku akan menjadi orang terkaya di dunia Eorza ini dan langkah awal adalah mencari tempat tinggal."
Setelah itu, aku keluar dari kamar dan turun yang mana Clara sontak menyapa ku.
"Selamat pagi, Rudi! Saya sudah mempersiapkan sarapan untuk anda!" Sapa Clara dengan senyuman lebar.
"Terimakasih, Clara!"
Lalu, aku pun diantar oleh Clara yang juga sudah mempersiapkan meja kosong meski ada beberapa orang disana namun, meja dikhususkan untuk ku. Aku sendiri jadi tidak enak dengan pengunjung lainnya.
Tidak lama, Dariel datang dan meledek Clara.
"Ambil saja sendiri!" Clara pun menjulur lidah nya. "Wuee!"
Dariel pun tidak marah dengan sikap Clara malah dia tertawa kecil diikuti oleh Novia dan pengunjung yang lain.
Melihat itu, Clara dengan kesal masuk ke ruangan yang berbeda dan meninggalkan restoran penginapan.
Lalu, Dariel menghampiri ku. "Rudi, boleh kah saya duduk?"
"Iya, Silahkan!"
Lalu, Dariel pun duduk dihadapan ku. "Rudi, sekarang. Apa rencana mu?"
Mendengar pertanyaan itu, ini merupakan kesempatan untuk menjalankan rencana berikut nya.
"Pak Dariel, aku ingin tinggal disini. Boleh kah? Dan, apakah ada rumah yang kosong?"
Mendengar itu, Pak Dariel sontak membuka lebar matanya dan tersenyum lebar.
"Benarkah? Kamu akan tinggal disini?!"
"Iya," jawab ku dengan senyuman lebar.
Lalu, Pak Dariel pun menitihkan air mata nya. "Terimakasih, Rudi. Aku sangat senang."
Sesaat kemudian, Clara pun keluar dari ruangan dan sontak memelukku. "Terimakasih, Rudi. Saya sangat senang mendengar nya."
Aku yang didalam pelukan Clara hanya bisa tersenyum senang karena buah dada nya menempel tepat di sisi kepalaku.
Melihat itu, Dariel sontak menegur nya dengan diawali batuk sengaja.
"Hugh! Clara, kamu harus bersikap sopan!"
Teguran itu pun membuat Clara sontak tersadar dan melepaskan pelukannya.
"Rudi, saya minta maaf," ucap Clara yang panik dengan wajah yang memerah.
Novia yang melihat itu, dia tertawa kecil. "Are-are..."
Sesudah itu, kami pun kembali ke topik pembicaraan.
"Jadi, rumah seperti apa yang Rudi inginkan?"
"Hmm ... Memiliki pemandangan yang indah, memiliki ladang untuk bertani. Apakah ada?"
Clara yang melihat itu, dia pun sontak melihat ayah nya yang mana Dariel memberikan kode anggukan kepala. Begitu juga saat melihat Novia yang mana memberikan jawaban yang sama.
Setelah itu, Clara kembali melihat ku.
"Ada. Jika tidak keberatan, bolehkah saya antarkan Rudi ke lokasi?"
"Benarkah? Dengan senang hati Clara."
"Iya."
Aku dan Clara pun saling bertukar senyum.
Dan, seusai sarapan. Aku bersama Clara pergi ke lokasi rumah yang dituju.
Rumah itu terletak diatas perbukitan desa yang mana sebelumnya mencapai rumah, kami harus melewati beberapa perkebunan.
Lalu, momen itulah aku bisa berkenalan dan bertegur sama dengan beberapa warga desa.
Desa Raflesia ini hanya di huni sekitar 150 jiwa dan terhitung desa sepi jika dibandingkan dengan desa apalagi kota.
Maka dari itulah, para warga saling kenal satu sama lain.
Setelah beberapa lama, kami pun tiba di sebuah rumah yang lebar dengan halaman perkebunan yang luas akan tetapi, halaman terbengkalai namun, rumah nya masih utuh dan rapi.
Lepas dari itu, pemandangan di rumah ini sangat lah indah dengan pemandangan desa Raflesia yang terlihat dari rumah tersebut.
Lalu, kami pun berhenti sejenak didepan rumah tersebut.
"Disini lah rumah nya!"
"Bagus sekali!"
Memahami itu, aku pun bertukar senyum dengan Clara.