Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Hari Wisuda (End)



"Hm mas, aku lupa bilang sama kamu, kalau semua hutang-hutang kamu sudah dilunasi oleh Cakra beberapa hari sebelum dia meninggal dunia" kata Kiara.


Mendengar perkataan Kiara membuat Justin terbelalak. Ia seketika teringat dengan masa lalunya.


"Mas, mau kemana?" tanya Kiara memegang tangan Justin yang hendak pergi sembari meneteskan air mata.


"Lepaskan tangan aku!, aku ingin pergi bersama Aislinn, aku sudah bosan hidup miskin terus bersama dengan kamu dan anak kamu itu" ucap Justin mendorong Kiara hingga terjatuh.


"Tapi mas, Cakra itu kan juga anak kamu" ucap Kiara mendongak menatap Justin.


Justin mengabaikan perkataan Kiara dan langsung pergi meninggalkannya dengan Cakra yang masih menangis kencang.


Cakra kecil berlari mengejar kepergian ayahnya sembari terus menangis, namun Justin dengan teganya mendorong Cakra hingga terjatuh. Kiara segera bangkit dan menolong putra kecilnya itu.


Melihat kaki Cakra yang terluka, Kiara akhirnya membawa Cakra ke dalam dan langsung mengobati luka di kaki Cakra.


Cakra ingin berlari mengejar kepergian Justin namun Kiara memeluknya erat, akhirnya Cakra kecil hanya bisa menangis histeris menyaksikan kepergian ayahnya.


Justin yang saat ini mengingat semua perilakunya terhadap Kiara dan Cakra ketika masih kecil pun menangis sesenggukan.


Ia tidak percaya jika selama ini Cakra masih mau menganggapnya ayah, dan bahkan mau melunasi semua hutangnya.


"Cakra maafin papah nak, maafin papah" ucap Justin meneteskan air mata dengan tatapan mata kosong.


Aislinn berusaha menenangkan suaminya itu, sedangkan Kiara hanya bisa melihatnya saja, karena secara agama, saat ini mereka bukan lagi menjadi sepasang suami istri. Status mereka sebagai suami dan istri hanya sebatas surat semata, karena selama bertahun-tahun Justin sudah memutuskan hubungannya dengan Kiara maupun Cakra Rayyanza.


Mereka mengadakan tahlilan pertama untuk almarhum Cakra Rayyanza.


Kiara nampak sangat terpukul, karena selama ini ia yang membesarkan Cakra Rayyanza seorang diri tanpa ditemani oleh Justin yang saat ini sudah berstatus sebagai suami orang.


"Hm tante, tante mau gak tinggal di rumah aku aja sama Davira juga, daripada tante sendirian di rumah kan, biar ada teman untuk ngobrol gitu tante, mau ya tante ikut sama Ruri aja" pinta Ruri.


"Gak usah nak Ruri, tante tinggal di rumah aja gak apa-apa" ucap Kiara.


"Tapi tante, tante kan wanita, aku takutnya nanti malah ada orang jahat yang ngapa-ngapain tante lagi kalau tante di rumah sendirian, mau ya tante plis, Ruri mohon" pinta Ruri.


"Tapi nak, rumah tante bagaimana?" tanya Kiara.


"Nanti rumah tante disewakan saja, tante punya rekening kan?, kalau gak punya nanti Ruri buatkan rekening untuk memudahkan pembayaran biaya sewa rumah tante gimana?" tanya Ruri.


"Tapi nak, apa tante gak ngerepotin kalau harus ditinggal dirumah kamu?" tanya Kiara.


"Bu, tenang saja, ibu tidak merepotkan kok, benar kata Ruri, ibu itu wanita, tidak baik jika wanita tinggal sendirian di rumah, takut nantinya ada orang jahat, kami sekeluarga tidak keberatan kok bu, jika ibu tinggal di rumah kami, ibu lebih dari diterima di dalam kediaman kami, karena almarhum anak ibu Cakra Rayyanza telah banyak merubah sikap anak saya Ruri,. Ruri menjadi seseorang yang jauh lebih baik semenjak bersahabat dengan anak ibu, apa ibu bersedia tinggal di rumah kami?" tanya ayah Ruri.


Kiara mengunci pintu rumahnya dan pergi ke rumah Ruri.


Semenjak kematian Cakra Rayyanza, fisik Clarissa Edlyn semakin lama semakin bertambah drop, hingga ia harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalankan berbagai macam pengobatan setelah ia dinyatakan mengidap penyakit kanker hati.


Clarissa Edlyn dinyatakan meninggal dunia tepat di hari tahlilan ke seratus hari Cakra Rayyanza.


Kiara tetap mengadakan pengajian hingga ke seratus hari Cakra di rumahnya sendiri, bukan di rumah Ruri.


Tepat di tahlilan seratus hari Cakra Rayyanza, kini Ruri, Evan, Kay, Davira beserta keluarga mengadakan tahlilan ke seratus hari untuk Cakra Rayyanza dan tahlilan pertama untuk Clarissa Edlyn di kediaman Cakra Rayyanza.


Keesokan harinya adalah hari bersejarah untuk Ruri, Evan, Kay, dan Davira karena merupakan hari wisuda mereka setelah tiga setengah tahun menyelesaikan studinya di perguruan tinggi.


"Kenapa lu Rur?" tanya Evan menepuk pundak Ruri yang tampak termenung.


"Kata orang wisuda itu hari yang paling membahagiakan dan hari yang paling ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa, tapi bagi gw, hari ini sangat tidak membahagiakan" kata Ruri sembari menghembuskan nafas panjang.


"Cakra?" tanya Evan.


"Iya Van, gak nyangka aja gitu kalau Cakra Rayyanza udah lama pergi ninggalin kita, padahal tiga bulan lagi kita wisuda, baju wisuda Cakra juga udah di pesan, hanya tinggal menunggu hari wisudanya aja tiba, tapi ternyata Cakra malah mengenakan kain di hari kelulusannya yaitu kain kafan" ucap Ruri dengan tatapan mata kosong.


"Namanya juga umur Rur, umur kan gak ada yang tahu, itu berarti Allah Subhanahu Wata'ala lebih menyayangi Cakra daripada kita, makanya Allah Subhanahu Wata'ala memanggil Cakra ke sisi-Nya, semua manusia bisa berangan, tetapi hanya Allah Subhanahu Wata'ala yang jauh lebih mengetahui segala sesuatu yang terbaik untuk hamba-Nya, setelah wisuda kita selesai, nanti kita ke makam Cakra dan Clarissa yuk, bawa baju wisudanya Cakra sekalian, ya walaupun Cakra gak bisa pakai secara langsung tapi kita bisa letakkan aja di pemakamannya dan topi wisudanya bisa kita taruh di batu nissan Cakra, ya walaupun secara tidak langsung, setidaknya almarhum Cakra Rayyanza dapat merasakan hari kelulusannya juga bersama kita" ucap Evan tersenyum dengan berlinang air mata.


"Benar kata Evan, nanti kita ke makamnya Cakra sama Clarissa aja, bilang sama Davira, bawa baju wisudanya Clarissa juga" ucap Kay.


"Iya" ucap Ruri yang langsung mengirimkan WhatsApp untuk Davira.


Ternyata Davira memang berniat menaruh baju wisuda di atas makam Clarissa dan meletakkan topi wisudanya di atas batu nissan Clarissa, makanya ia membawa juga baju wisuda Clarissa Edlyn di dalam tasnya.


Setelah hari kelulusan selesai, mereka pergi ke makam Ruri dan Davira yang bersebelahan.


Ruri dan teman-temannya memanjangkan baju wisuda di makam Cakra Rayyanza dan meletakkan topi wisudanya tepat di batu nissan Cakra Rayyanza, begitupun dengan Davira yang meletakkannya di atas makam Clarissa Edlyn, tak lupa mereka juga meletakkan ijazah Cakra dan Clarissa tepat diatas makam mereka masing-masing. Setelah meletakkan baju, topi wisuda dan ijazah di makam Clarissa dan Cakra mereka meminta tukang gali kubur untuk memotret mereka di tengah-tengah makam Clarissa dan Cakra.


Setelah berfoto dengan berbagai macam gaya, mereka berpamitan dengan Cakra dan Clarissa untuk pulang.


"Cakra, Clarissa, kita pamit ya, semoga kalian berdua tenang di alam sana, assalamualaikum" ucap Ruri tersenyum dan menghembuskan nafas panjang.


"Wa'alaikumsalam" ucap Evan, Kay, dan Davira menjawab salam Ruri untuk mewakili Cakra dan Clarissa.


Mereka pun kembali ke rumahnya masing-masing membawa kembali baju, topi dan ijazah Cakra serta Clarissa dan kompak memposting foto yang tadi mereka ambil di makam Clarissa dan Cakra ke media sosial milik masing-masing.


...Terimakasih buat yang sudah mendukung karya ini🥰 semoga suka sama karya aku yang satu ini, jangan lupa follow Instagram aku; @rshnibrght 🥰 see you guys... sampai bertemu di karya aku yang lain👋🏻🥰...