
Ketika beberapa langkah keluar dari pemakaman Clarissa jatuh pingsan, Justin dan Aislinn pun membawa Clarissa untuk pulang ke rumah.
"Mas ayok kita bawa Clarissa pulang ke rumah" ucap Aislinn yang mencoba menahan tubuh Clarissa.
Justin menggendong Clarissa dengan matanya yang masih tetap menatap Kiara. Di satu sisi Clarissa saat ini statusnya adalah anaknya juga setelah menikah dengan Aislinn dan saat ini Clarissa tengah jatuh pingsan, tapi di sisi lain Justin memikirkan pengajian anak kandungnya bersama Kiara.
"Mas pulang aja bawa Clarissa pulang dulu aja ke rumah, kalau emang mas mau ke pengajian Cakra, nanti malam mas datang saja" ucap Kiara yang peka jika Justin tetap ingin membantunya untuk menyiapkan pengajian almarhum putra kandungnya.
Aislinn yang mendengar pun sontak menatap Justin, Kiara dan menoleh ke arah belakang secara bergantian.
"Gini aja mas, kita tetap ke rumah Kiara aja, nanti biar Clarissa istirahat di salah satu kamar, nanti kita bantu Kiara untuk mempersiapkan pengajian almarhum anak kandung kamu Cakra Rayyanza" ucap Aislinn.
Justin dan Kiara yang mendengar perkataan Aislinn dengan kompaknya menatap Aislinn.
"Gimana mas?, mbak?" tanya Aislinn.
"Ya sudah jika memang itu yang terbaik" ucap Kiara.
"Ayok mas, kita ke rumah Cakra" ucap Aislinn menepuk pundak Justin.
"Iya" ucap Justin.
Mereka pun pergi ke rumah Kiara. Sesampainya di rumah Kiara mereka menidurkan Clarissa di kamar Kiara, dan menutup pintunya. Justin dan Aislinn membantu Kiara mempersiapkan semuanya.
Ketika sedang menata kue di piring, sahabat-sahabat Cakra datang membantu dan membawakan beberapa kardus kue dan buah-buahan.
"Tante ini buat acara pengajiannya Cakra, hm sorry, maksudnya almarhum Cakra" ucap Ruri memberikan kantung berisi 2 kue dan buah jeruk sekantung penuh.
Kay memberikan 2 kue beserta buah salak sekantung penuh, sedangkan Evan memberikan 2 kue dan buang kelengkeng sekantung penuh.
"Makasih ya nak Ruri, nak Kay dan Evan udah repot-repot bawain ini untuk almarhum Cakra" ucap Kiara.
"Enggak repot kok tante, selama ini juga kan Cakra membawa banyak perubahan untuk kita, Cakra selalu baik sama kita, dia juga orang yang sangat royal" ucap Ruri meneteskan air matanya.
Air mata Kiara kembali menetes mendengar perkataan Ruri. Kiara kembali mengingat saat-saat yang mereka berdua harus lewati selama bertahun-tahun ditinggalkan begitu saja oleh Justin tanpa nafkah sepeserpun.
Kiara mengingat ketika Cakra masih sekolah dasar, ia harus berjualan demi mencukupi kebutuhannya dan untuk melunasi hutang Justin yang ia pakai untuk melamar Aislinn dan menikah dengannya.
"Mah, nanti Cakra bantuin jualan ya" ucap Cakra tersenyum.
"Jangan sayang" ucap ibunya.
"Gak apa-apa kok mah" ucap Cakra tersenyum sembari mengambil alih pekerjaan ibunya.
"Mah, Cakra berangkat ke sekolah dulu ya mah, assalamualaikum" ucap Cakra tersenyum mencium punggung tangan ibunya.
"Wa'alaikumsalam nak, kamu hati-hati di jalan ya nak" ucap ibunya tersenyum.
"Iya mah" ucap Cakra tersenyum.
"Kue-kue, bu mau beli kuenya gak?" tanya Cakra menghampiri ibu-ibu yang sedang asik berbincang.
"Kue apaan dek?" tanya salah satunya.
"Donat bu, mau beli gak bu?, beli dong bu kue Cakra" ucap Cakra dengan nada menggemaskan seorang anak kecil.
"Ayah, ibu kamu kemana emang dek?, masa masih kecil begini disuruh jualan sih, kebangetan deh orangtuanya" ucap salah satunya.
"Ikh iya ya bu, orangtuanya kemana aja?, jangan-jangan orangtuanya asik ongkang-ongkang kaki lagi di rumah, anaknya yang di suruh buat kerja" timpal salah satunya.
Kiara yang tengah melintas tidak sengaja mendengar perkataan itu dan sontak meneteskan air mata.
"Ibu ku kerja kok bu, cuci gosok di rumah tetangga, kalau ayah aku... aku gak tahu ayah aku kemana" ucap Cakra.
"Lah gak tahu gimana dek?" tanya salah satunya.
"Ayah ku dulu pergi, tapi sampai sekarang belum pernah pulang ke rumah" ucap Cakra dengan wajah polosnya.
"Astagfirullahaladzim, jahat banget ya ternyata bapak kamu" ucap salah satunya.
Mendengar hal itu membuat Kiara semakin menangis histeris. Kiara yang ingin teriak pun akhirnya membungkam mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara.
"Ayah aku gak jahat kok bu, kata ibu aku itu, ayah aku lagi sibuk kerja makanya gak pernah pulang ke rumah" ucap Cakra dengan wajah polosnya.
"Baik banget ya ibu kamu, ikh kalau ibu jadi ibu kamu, udah tak bilangin ke anak ibu kalau bapanya udah lama mati, ngapain di bilang masih hidup kalau bentuknya aja udah gak jelas ada dimana" ucap salah satunya.
"Ini kamu mau ke sekolah dek?" tanya salah satunya.
"Kamu jualan dulu emangnya gak telat ke sekolahnya dek?" tanya salah satunya.
"Aku sekalian arah ke sekolah aja bu, nanti kalau masih sisa, aku titip ke ibu kantin di sekolah aku" ucap Cakra tersenyum polos.
"Masya Allah" ucap ibu-ibu itu kompak.
"Ya udah ini dagangan kamu ibu beli semua ya, satunya berapa?" tanya salah satunya.
"Satunya dua ribu bu" ucap Cakra.
Ibu-ibu itu mengambil kantung plastik dan mulai menghitung jumlah donat yang Cakra bawa.
"Ini jumlah donatnya ada lima puluh ya dek, ini seratus ribu, uangnya pas ya dek" ucap ibu itu tersenyum memberikan uang pada Cakra.
"Iya bu, makasih ya bu, udah mau beli semua kue Cakra" ucap Cakra dengan nada menggemaskan sembari tersenyum.
"Iya dek, sama-sama" ucap ibu itu tersenyum mengusap kepala Cakra.
"Sekolah yang pintar ya dek" ucap ibu itu.
"Iya bu, Cakra pamit ya bu, assalamualaikum" ucap Cakra tersenyum.
"Iya dek wa'alaikumsalam, hati-hati dek" ucap ibu itu.
"Iya bu" ucap Cakra tersenyum.
"Masih kecil udah baik banget, rajin begitu ya bu, gimana gedenya nanti?" tanya salah satunya.
"Iya bu, saya salut deh sama dia, tapi saya lebih salut lagi sama ibunya, yang berhasil mendidik putranya seorang diri tanpa suami" ucap temannya.
"Iya bu, punya suami cuma di surat nikah aja ya bu, sama aja bohong!" ucap salah satunya.
"Iya bu, semoga cepat sadar deh ayah dia, kasian dia masih kecil, udah harus merasakan pahitnya kehidupan" ucap salah satunya.
"Aamiin, semoga pelakornya dapat karmanya ya bu, kalau bukan karena wanita lain, tidak mungkin sampai tidak pernah pulang, sesibuk-sibuknya seseorang pasti keluarga nomor satu, terkecuali sudah ada wanita idaman lain" ucap temannya.
"Iya bu, saya rasa sih juga begitu, kalau gak kepincut sama pelakor apalagi coba!" ucap salah satunya.
"Iya bu, udah akh bu, kasian anak itu, kita doakan saja yang terbaik untuk kehidupannya bersama dengan ibunya" ucap temannya.
"Iya bu, aamiin" ucap salah satunya.
"Tante" panggil Ruri memecah lamunan Kiara.
"Tante" panggil Clarissa menepuk pelan pundak Kiara.
"Kiara... Kiara" panggil Justin menepuk-nepuk pundak Kiara.
"Iii-iyya" ucap Kiara.
"Tante kenapa?" tanya Ruri.
"Gak apa-apa kok" ucap Kiara.
"Mah, pah" ucap Clarissa keluar dari dalam kamar.
"Clarissa sayang, sini duduk nak" ucap Aislinn yang segera menuntunnya.
"Iya mah" ucap Clarissa.
"Tante, pengajian Cakra jam berapa ya?" tanya Clarissa.
"Ba'da isya" jawab Kiara.
"Ini jam berapa tante?" tanya Clarissa.
"Jam 6 sayang" jawab Kiara.
"Sebentar lagi dong tante, maaf ya tante, Clarissa gak bantuin tante tadi" ucap Clarissa.
"Iya nak, gak apa-apa kok, lagipula disini juga tadi banyak yang bantuin" ucap Kiara tersenyum.
"Iya tante" ucap Clarissa.
Beberapa menit kemudian, satu persatu bapak-bapak berdatangan. Ketika pak ustadz tiba, tahlilan segera dilakukan.