
"Jam berapa ya sekarang?" tanya Ruri pada teman-temannya.
"Jam setengah enam, emang kenapa?" tanya Kay.
"Gw janjian sama Davira jam 7" ucap Ruri.
"Davira?, Davira siapa?" tanya Kay.
"Lu inget kagak cewek yang waktu itu ribut sama si Cakra?, yang gara-gara Cakra gak sengaja nyerempet dia" timpal Evan.
"Iya ingat, lu mau nembak dia Rur?" tanya Kay menepuk pundak Ruri.
"Bukan dia, tapi temannya, kan waktu itu dia berdua kan sama cewek, ingat kagak lu?" tanya Ruri.
"Iya ingat, yang waktu itu dia memisahkan Evan sama si cewek itu kan, gara-gara si Evan kepancing emosi juga" ucap Kay.
"Nah iya itu dia orangnya, gimana?" tanya Ruri mengangkat alisnya.
"Hm, oke juga sih" ucap Kay.
"Udah akh gw mau mandi bye" ucap Ruri melambaikan tangan kepada teman-temannya.
"Masih sore" ucap Kay.
"Udah malam ini" ucap Ruri menoleh sejenak ke teman-temannya.
"Lah setengah enam dibilang malam, gimana sih lu?, malam tuh jam 11" ucap Kay.
"Itu namanya tengah malam bukan malam lagi, udah lah, gak selesai-selesai kalau ngomong sama lu" ucap Ruri yang langsung mengunci pintu kamar mandi.
"Udah si Kay biarkan saja" ucap Evan.
"Hm, iya" ucap Kay.
Pintu kamar mandi dan Ruri pun keluar dari dalam sana.
"Lah cepat banget lu mandi, kagak ada satu menit udah kelar aja" ucap Kay.
"Baju gw ketinggalan, ada handuk kagak?" tanya Ruri menepuk pundak Kay.
"Ada, ambil aja tuh di lemari" ucap Kay melirik ke lemari yang ada di depan mereka.
"Oke" ucap Ruri.
Ruri pun kembali ke dalam kamar mandi dengan membawa handuk dan baju yang akan ia pakai untuk menemui Davira.
"Wih mantep nih WC si Kay ada kacanya, jadi gw bisa ngaca" ucap Ruri.
"Rambut bagusnya di model kayak gimana ya?" tanya Ruri pada dirinya sendiri di depan cermin memegangi rambutnya.
"Tadi kata papah kalau di kuncir kayak tadi bagus, apa kayak tadi aja ya?, akh coba aja deh" ucap Ruri mengikat rambutnya dengan ikat rambut berwarna hitam.
"Hm, ganteng juga ya gw ternyata" ucap Ruri menyeringai mengangkat alisnya menatap cermin.
Ruri pun keluar dari dalam kamar mandi dengan gagahnya bak sugar daddy. Teman-temannya pun menatap Ruri dari atas hingga ke bawah.
"Gimana?, keren kan gw?" tanya Ruri menyeringai mengangkat alisnya.
"Lumayan sih" ucap Kay yang masih terus memandangi Ruri.
"Kok lumayan sih, ganteng lah, kayak sugar daddy begini juga, masa cuma di bilang lumayan sih, hm" ucap Ruri.
"Mana ada sugar daddy keluar dari dalam kamar mandi, sugar daddy tuh biasanya keluar dari dalam mobil kalau gak dari tempat berkelas, lah lu dari WC" ucap Kay.
"HEHE!, kan gw habis mandi, tenang aja kalau soal itu, tadi gw udah balik ke rumah ngambil mobil gw" ucap Ruri menyeringai mengangkat alisnya.
"Mantep tuh, mobil lu apaan?, mobil-mobilan?" tanya Kay tertawa kecil.
"Hm, meragukan gw lu!, Van kasih lihat dia yang tadi gw titip ke lu" ucap Ruri mengangkat alisnya.
Evan pun membuka kotak cincin berlian yang sudah Ruri persiapkan untuk melamar Davira.
"Wih, berlian nih?" tanya Kay memandangi cincin Ruri.
"Iya lah jelas, yakali gw kasih cewek yang gw suka barang murah sih, harus barang mewah, berkelas dong" ucap Ruri menyeringai.
"Mantap!, udah cepetan lu, gw pengen lihat mobil lu" ucap Kay.
"Gak kepo, bukan Kay namanya!" ucap Evan menyeringai menepuk pundak Kay.
"Nah itu lu tahu!" ucap Kay.
"Hm" ucap Ruri.
"Udah cepetan, udah jam enam tuh, belum lu jemput si Davira, belum macetnya, hayo lho, nanti telat jemput Davira bisa-bisa ditolak nanti cinta lu sama si Davira" ucap Kay.
"Astagfirullah, jangan dong" ucap Ruri panik.
"Ya udah makanya cepetan" ucap Kay.
"Iya ini juga udah selesai kok, udah ayok turun" ucap Ruri.
"Kuy" ucap Kay.
Cakra, Evan dan Kay pun mengantarkan ke bawah karena Kay kepo dengan mobil yang Ruri bawa.
"Ini mobil gw" ucap Ruri menyeringai mengangkat alisnya menunjuk mobil yang ada di depan mereka.
"Seriusan lu ini mobil lu?" tanya Evan terkejut.
"Iya emang kenapa?" tanya Ruri.
"Ini mobil porsche bukan sih?" tanya Kay berkeliling di sekitar mobil Ruri memegangi mobilnya.
"Iya, ini mobil porsche" ucap Ruri.
"Porche terbaru kan ini?" tanya Kay.
"Iya" ucap Ruri.
"Gila!, porche terbaru kan harganya mahal banget milyaran, punya duit lu?" tanya Evan.
"Kalau gw gak punya duit kenapa gw bisa beli tuh mobil hah?" tanya Ruri mengangkat alisnya.
"HEHE!, iya juga sih" ucap Evan menunduk tersenyum malu sembari menggaruk kepalanya.
"Udah gw jalan ya, cincin gw mana Van?" tanya Ruri.
"Nih" ucap Evan memberikan kotak cincin Ruri.
"Assalamualaikum guys" ucap Ruri tersenyum dan langsung menaiki mobilnya.
"Wa'alaikumsalam'' jawab teman-temannya kompak.
Ketika berada di depan pagar, security Kay langsung membukakan pintu pagar untuk Ruri.
"Makasih pak" ucap Ruri tersenyum mengangkat tangannya sembari menganggukkan kepalanya.
"Sama-sama" ucap pak security tersenyum.
Setelah Ruri keluar, security langsung menutup pintu pagarnya. Cakra, Evan dan Kay masih saling menatap kebingungan.
"Ternyata dia anak orang kaya?, gayanya kayak bukan anak orang kaya please!" ucap Kay menatap kebingungan.
"Gw juga baru tahu malah kalau dia anak orang kaya" ucap Evan.
"Sama, terus yang waktu itu dia ngajak kita ke rumah sederhana itu rumah siapa deh?" tanya Cakra.
"Lah iya gw baru sadar, waktu itu kan kita pernah dibawa sama si Ruri kerumah kecil kan ya?, gak mungkin banget kalau itu rumahnya, mana muat porche masuk kesana, jalan masuknya kan kecil banget, sampai motor kita aja taruh diluar gang, karena saking kecilnya jalan, sampai motor CBR aja gak masuk" ucap Evan.
"Nah kan, membingungkan emang tuh anak" ucap Cakra.
"Berarti selama ini kita tertipu oleh cover yang dia tunjukkan ke kita dong?" tanya Kay menatap teman-temannya.
"Ya sepertinya begitu" ucap Cakra.
"Jahat banget sih, temannya sendiri masa ditipu sih?" tanya Kay kesal.
"Mungkin anda yang bodoh Kay, yang sabar ya" ucap Evan menepuk pundak Kay dan langsung masuk ke dalam rumah dengan Cakra dan meninggalkan Kay sendirian.
"Akh tapi kan, gak boleh begitu dong!,. hm, merendah untuk meroket!" ucap Kay kesal menatap teman-temannya.
"Lah kok kagak ada orang?, terus daritadi gw ngomong sama siapa dong?" tanya Kay saat melihat tidak ada lagi Cakra dan Evan disampingnya.