
"Assalamualaikum" ucap Evan memasuki kamarnya.
"Wa'alaikumsalam" ucap Cakra dan Ruri kompak.
"Ngapa lu Van?, senyum-senyum sendiri, obat lu habis Van?" tanya Ruri.
"Lu kira gw gila apa?" tanya Evan kesal.
"Ngapa sih?" tanya Cakra.
"Gw lagi seneng Cak" ucap Evan tersenyum.
"Kenapa deh?" tanya Cakra.
"Tadi kan gw ketemuan sama gebetan gw, masa dia nembak gw, oh my God, rasanya itu pak cepak cepak jeder" ucap Evan tersenyum memegang hatinya.
Ruri dan Cakra yang mendengar pun seketika tertawa.
"Kenapa lu pada hah?" tanya Evan.
"Biasanya kan cowok yang nembak cewek, bisa-bisanya lu ditembak cewek, laki-laki macam apa anda?" tanya Ruri menyeringai mengangkat alisnya.
"HEHE!, ya kan gw malu ngomongnya, lagian dia tuh idaman banget, ya gw mikir dia suka sama cowok lain gitu, bukan suka sama gw, eh gak tahunya dia malah suka sama gw, gak enak sih sebenarnya, seharusnya gw duluan ya?, kenapa jadi dia duluan, tapi akh!, seneng banget gw sumpah!" ucap Evan tersenyum.
"Cowok kok malu nembak cewek" ucap Ruri.
"Tahu nih si Evan, bisa-bisanya takut sama cewek" timpal Cakra.
Evan tersenyum menunduk malu sembari menggaruk kepalanya.
"Mandi sana lu, virus!" ucap Ruri.
"Makan tuh virus!" ucap Evan menempelkan tangannya di bibir Ruri.
"SHIA!" ucap Ruri.
"Heh!, mulutnya ya kamu!, jangan gitu lain kali ya boy!" ucap Cakra.
"HAHA!, rasakan kau Ruri!" ucap Evan.
"Hm, ingin ku sleding tekel ginjal mu" ucap Ruri.
"Coba aja sleding tekel kalau bisa!" ucap Evan meledeknya.
Ruri berancang-ancang untuk menendang perut Evan namun Ruri ditahan oleh Cakra.
"Cak lepas!" ucap Ruri.
"Oke" ucap Cakra melempar kaki Ruri ke bawah.
"AKH!, saraleo!" ucap Ruri kesal menunjuk Cakra.
"RURI!" ucap Cakra sinis.
"Van, mending mandi deh lu sana, daripada bikin Ruri tambah esmosi" ucap Cakra.
"Emosi kali bu, bukan esmosi!, haus lu!, beli es sana" ucap Evan.
"Udah sana!, dengar gak kalau dibilangin!" ucap Cakra sinis menunjuknya.
"Enggak WLEE!" ucap Evan menjulurkan lidahnya dan langsung pergi.
"Ruri udah!, jangan diperpanjang lagi!" ucap Cakra berusaha menenangkannya.
Ruri hanya menatap Cakra tajam.
"AKH!, segar banget habis mandi" ucap Evan mengibaskan rambutnya yang basah.
Ruri yang mendengar suara Evan pun menatapnya tajam, Cakra langsung menenangkannya.
"Ngapa lu Rur?" tanya Evan.
"Pengen pup gw, kelamaan lu, awas akh!, minggir!" ucap Ruri mendorong Evan.
"Santai bro!" ucap Evan.
Ruri melirik Evan dengan tatapan mata tajam dan lari terbirit-birit memegangi perutnya. Cakra yang melihat kelakuan Ruri dan Evan menggelengkan kepalanya.
"Kay kemana Cak?" tanya Evan.
"Sama bininya lah, kayak gak tahu dia aja lu" ucap Cakra.
"Nikah mulu lu pikirannya, ngampus gimana deh?, kita kan masih kuliah, lulus juga belum" ucap Cakra.
"Lah si Kay juga belum wisuda udah nikah duluan dia, gw pengen juga lah, masa gw kalah sih sama si Kay" ucap Evan.
"Nikah bukan ajang perlombaan yang ada siapa pemenang dan siapa kalah, nikah adalah tentang kesiapan dan takdir dari yang maha Kuasa" ucap Cakra.
"Iya sih, tapi kan gw pengen Cak, kalau lagi pusing ngampus kan ada yang manja-manja gitu HAHA!, bisa slebew juga" ucap Evan.
"Tuh kan, tidak lain dan tidak bukan, pasti di otak kau hanya slebew hm" ucap Cakra.
"HAHA!, daripada pacaran dosa mending langsung nikah kan?" tanya Evan mengangkat alisnya.
"Hm, iya sih bener, daripada pacaran dosa mending langsung nikah, tapi lu udah siap belum?, kalau belum siap, kasihan lah anak orang lu nikahin, kalau lu kagak kasih nafkah lahir batin, entar gak bisa kontrol emosi anak orang lu siksa lagi" ucap Cakra.
"Kagak lah, emang gw cowok apaan menyiksa cewek apalagi dia istri gw sendiri, ya paling main kasar aja pas slebew gak apa-apa lah ya?, kan jatuhnya bukan menyiksa tapi membahagiakan" ucap Evan menyeringai mengangkat alisnya.
"Istighfar lu Bambang, astagfirullahaladzim" ucap Cakra mengelus dadanya sendiri dan menempeleng kepala Evan.
"SHIA!" ucap Evan memegangi kepalanya dan mendorong Cakra.
"AKH!, lega, ngapa lu pada?" tanya Ruri keluar dari kamar mandi memegangi perutnya.
"Ngapa lu megangin perut begitu? hamil anak konda lu?" tanya Evan menahan tawanya.
"Gimana cara tuh konda ngehamilin si Ruri deh?" tanya Cakra.
"Hm, iya juga sih, ngapa lu?" tanya Evan.
"Lega habis membuang kembaran kau" ucap Ruri mengelus perutnya sendiri.
"SHIA!, masa gw disamakan dengan puppy sih!" ucap Evan kesal.
"HAHA!, mirip dikit Van" ucap Ruri menahan tawanya.
"Eh SARALEO!" ucap Evan kesal menunjuk Ruri.
"HAHA!, gimana kencan lu tadi?, masih malu kagak?, lagi ada-ada aja, masa lanang ditembak wedok" tanya Ruri mengangkat alisnya.
"Udah lah gak usah dibahas, lagian juga besok malam gw mau ngelamar dia langsung ke rumahnya" ucap Evan.
"Asik mau nikah, bareng lah" ucap Ruri tersenyum mengangkat alisnya.
"Emang kemarin lu diterima Davira?" tanya Evan.
"Diterima dong, tinggal kerumahnya aja yang belum" ucap Ruri.
"Ya udah barengan aja harinya, lu kerumah Davira, gw kerumah Fidelya gimana?" tanya Evan tersenyum mengangkat alisnya.
"Ya udah nanti gw wa Davira" ucap Ruri.
"Cak, lu kapan ngelamar si cewek sengklek itu?" tanya Ruri mengangkat alisnya menyenggol lengan Cakra.
"Siapa?" tanya Cakra mengangkat alisnya.
"Siapa sih namanya gw lupa?" tanya Ruri menggaruk kepalanya menatap Evan.
"Bisa-bisanya lu lupa, dia kan temennya cewek lu si Davira" ucap Evan.
"Yeh elu, terus mentang-mentang dia temennya Davira, gw harus selalu ingat gitu sama dia?, ya enggak lah!, kurang kerjaan banget deh!, siapa sih namanya?" tanya Ruri.
"Clarissa" ucap Evan.
"Nah iya itu!, siapa tadi?" tanya Ruri.
"Clarissa budek, masih muda kuping udah manula" ucap Evan.
"Iya itu si Clarissa, lu kapan mau ngelamar si Clarissa?" tanya Ruri menatap Cakra.
"Ngelamar?, suka juga kagak gw sama dia" ucap Cakra yang langsung memalingkan wajahnya dari Ruri.
"Akh masa sih?!, sepertinya sudah mulai tumbuh benih-benih cinta deh diantara kalian berdua, iya gak Van?" tanya Ruri mengangkat alisnya menatap Evan.
"Yoi!, udah sih Cak, nikahin aja, cantik lho dia" ucap Ruri.
"Untuk kali ini gw setuju sama si Ruri, cantik lho dia Cak" ucap Evan.
"Percuma cantik, kalau gw gak ada rasa sama sekali sama dia, ya jawabannya tetap tidak, tidak akan berubah walau secantik apapun dia!" ucap Cakra.
"Hm, okay" ucap Ruri menganggukkan kepala.