
"Mas, kenapa ya akhir-akhir ini itu kayak aku tuh ngerasa kalau kita gak akan sedekat ini lagi" ucap Clarissa dengan ekspresi wajah sedihnya.
"Hah?, maksud kamu itu aku pergi ninggalin kamu gitu?" tanya Cakra.
"Entah kenapa tapi aku ngerasanya kayak gitu mas" ucap Davira.
"Mas, jangan tinggalin aku ya" ucap Clarissa memegang tangan Cakra.
"Iya, tapi apa yang membuat kamu cemas seperti ini?" tanya Cakra.
"Semalam aku bermimpi kamu ninggalin aku, tapi bukan dengan wanita lain, melainkan dunia kita berbeda" ucap Davira.
"Hah?, meninggal dunia maksud kamu?, kamu mimpi aku meninggal dunia gitu?" tanya Cakra.
"Hm, iya mas, semalam aku mimpi kamu kecelakaan terus meninggal dunia di rumah sakit" ucap Clarissa.
"Takdir cinta atau maut itu sudah diatur oleh penulis skenario kehidupan terbaik yaitu Allah Subhanahu Wata'ala, jika nanti aku tiada, yang mati hanya ragaku, bukan hatiku. Jika kamu tidak percaya dengan ku, kamu tanyakan saja pada hatimu itu, apakah aku pernah pergi dari dalam sana?, jika nantinya kamu merindukan ku, tataplah langit malam, jika ad bintang atau bulan yang sangat terang, percayalah jika disana aku juga sangat merindukanmu, walaupun kamu tidak bisa melihat ku, tapi bukan berarti aku tidak pernah merasakan kerinduan mu itu. Tersenyumlah saat kamu menatap langit malam, agar aku bisa bahagia karena merasakan senyuman mu, dari tempat aku berada, percayalah jika kamu tersenyum menatap langit malam hari kamu menjadi tenang, itu sebenarnya kamu sudah merasakan kebahagiaan ku disana, saat melihat kamu tersenyum, tapi aku tidak mau berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan mu, karena jika nantinya raga ku tiada, rasa sakit itu akan semakin dalam dan membekas lama, tapi aku percaya, jika kita ditakdirkan untuk bersama, selalu ada cara yang akan menyatukan kita lagi, jika nantinya perpisahan itu datang, Allah Subhanahu Wata'ala lebih tahu segala sesuatu yang terbaik untuk kita, jangan takut, karena pantulan bayangan di cermin, tidak akan jauh berbeda dengan aslinya, yang membedakan hanya noda atau kotoran yang menempel di cermin, sama seperti jodoh. Pria dan wanita yang telah ditakdirkan untuk bersama tidak akan ada perbedaan yang terlalu signifikan. Baik seperti pantulan bayangan di cermin dan kotor atau sifat buruk seperti noda atau kotoran yang menempel pada cermin itu, kamu mengerti maksud ku bukan?" tanya Cakra Rayyanza.
"Iya mas aku mengerti kok" ucap Clarissa tersenyum kecil namun tatapan matanya tidak bisa berbohong, ia masih merasa ketakutan.
"Udah ya, kamu jangan ovt terus dong, senyum" ucap Cakra tersenyum dan memegang tangan Clarissa.
"Iya mas" ucap Clarissa tersenyum.
Beralih ke Ruri Sambara, di kediamannya Ruri merasakan sesuatu yang aneh, ia seperti sangat takut akan kehilangan Cakra Rayyanza.
"Entah kenapa tiba-tiba perasaan gw gak enak, kayak kepikiran si Cakra terus, ada apa ya?, gw telepon aja deh" ucap Ruri.
"Sebentar ya Clar, ada telepon nih dari Ruri" ucap Cakra.
"Iya mas, angkat dulu aja" ucap Clarissa tersenyum.
Cakra pun berjalan menjauhi Clarissa untuk mengangkat telepon Ruri.
"Assalamualaikum Cak" ucap Ruri.
"Wa'alaikumsalam Rur, ada apa?" tanya Cakra.
"Lu gimana kabarnya nih?, sehat kan?" tanya Ruri.
"Sehat kok, tumben banget lu nanyain kabar gw" ucap Cakra.
"Akh iya kan kita udah lama gak kumpul-kumpul nih, eh besok ngumpul yuk, gimana?, nanti gw ajakin si Kay sama si Evan juga deh" ucap Ruri.
"Boleh, tapi jam berapa?" tanya Ruri.
"Sore aja gimana?, habis shalat ashar, kita ketemuan di tempat biasa, atau nanti kita ke rumah lu nih?" tanya Ruri.
"Ngapain ke rumah gw?" tanya Cakra.
"Ya kali gitu lu gak berani bilang ke nyokap lu lagi, nanti biar kita yang bilangin" ucap Ruri.
"Terserah sih gw mh bebas" ucap Cakra.
"Ya udah besok sore habis ashar, gw, Kay, sama si Evan ke rumah lu deh" ucap Ruri.
"Oke" ucap Cakra.
"Assalamualaikum" ucap Ruri.
"Wa'alaikumsalam" ucap Cakra.
Ruri pun mematikan panggilan teleponnya.
"Guys, besok habis ashar kita ke rumah Cakra, ngumpul-ngumpul gitu, udah lama kan kita gak ngumpul lagi" notifikasi WhatsApp dari Ruri di grup WhatsApp mereka.
"Oke siap" balas Evan.
"Oke" balas Kay.
"Temuin gw di cafe, ada yang mau gw omongin sama kalian" notifikasi WhatsApp dari Ruri untuk Evan dan Kay.
"Oke" balas Evan.
"Oke" balas Kay.
"Eh kalian ngerasa gak sih?, kayak gak tenang gitu, kayak nyesek gitu, tapi gw gak tahu karena apa, kalian gitu juga gak sih?, atau karena gw udah jompo ya?, akh kayaknya enggak deh" ucap Ruri.
"Sama eh, gak tahu kenapa daritadi bangun tidur kok kayak gak tenang gitu hati gw, gw coba ikutin nasihat Cakra buat baca Al-Qur'an kalau hati kita lagi gak tenang, tadi gw baca kan tapi entah kenapa dada gw masih nyesek aja" balas Evan.
"Nah iya tuh sama, gw juga nyesek gitu dada tapi gak tahu karena apa, punya sakit asma juga kagak gw, paru-paru kagak kenapa bisa nyesek ya?, masa kita serangan jantung barengan sih?" tanya Kay.
"Heh astagfirullahaladzim, nyebut lu Kay" ucap Ruri.
"Iya astagfirullahaladzim, tapi gak tahu kenapa kayak gw ngerasa sesuatu akan terjadi gitu, tapi gw gak tahu apaan" ucap Kay.
"Hm, iya juga sih, katanya kalau tiba-tiba nyesek itu pertanda ada satu berita buruk yang akan kita dapatkan, tapi apaan?, masa kompakan banget sih" ucap Evan.
"Husstt!, ingat kata Cakra, gak boleh suudzon, jangan mendahului takdir Allah Subhana Wata'ala" ucap Ruri.
"Hm iya sih, terus ini kita kenapa bisa kompak-kompakan kayak gini jomponya?, masa gara-gara seumuran sih, jadi satu jompo semua ikutan jompo, kan gak lucu" ucap Kay.
"Akh berisik nih aki-aki, diem napa, nanya mulu daritadi, kita aja bingung apalagi lu" ucap Evan.
Hm!.
Kini jelas sudah jika yang merasakan hal itu bukan hanya Ruri, bahkan bukan Kay dan Evan pun juga merasakan akan hal itu.
Mereka semua hanya bisa menerka-nerka apa yang sebenarnya akan terjadi, hingga mereka bertiga kompak merasakan hal yang sama.
"Eh gini deh, gw ada ide" ucap Evan memecah keheningan.
"Apa idenya?" tanya Ruri.
"Coba lu tanyain Cakra dia ngerasain juga atau enggak, kalau dia ngerasain juga, berarti kemungkinan besar ada sesuatu yang terjadi diantara kita berempat, makanya kita berempat sama-sama merasakan hal yang sama, gimana?" tanya Evan.
"Hm, oke juga sih ide lu" ucap Ruri.
"Nah kan gw bilang juga apa, udah cepetan wa si Cakra" ucap Evan.
"Assalamualaikum Cak, gw mau nanya sesuatu nih sama lu" notifikasi WhatsApp dari Ruri.
"Wa'alaikumsalam Rur, mau nanya apaan?" tanya Cakra.
"Gini nih, gw, Evan, dan Kay sama-sama merasakan sesuatu yang bikin kita gak nyaman, kayak gak tenang gitu lah, nyesek gitu dada, lu ngerasain juga kagak?" tanya Ruri.
"Gak tahu kenapa juga dari bangun tidur juga gw ngerasa sesuatu yang berbeda, kayak gw ngerasa sedih banget gitu, tapi gw gak tahu karena apa, tapi rasanya kayak gw takut gitu kehilangan kalian, kayak ngerasa sendirian juga gitu" balas Cakra.
Ruri yang membaca chat Cakra pun langsung menunjukkannya kepada Evan dan Kay dengan tatapan mata bingung. Evan dan Kay pun sontak terkejut dan menjadi semakin ovt.
"Bentar deh, Cakra ngerasa takut banget kehilangan kita, terus dia ngerasa kayak sendirian gitu, apa jangan-jangan sesuatu itu akan terjadi pada Cakra?" tanya Evan menatap teman-temannya.
Ruri dan Kay yang mendengar sontak terkejut dan terdiam sejenak.
"Jangan ngomong yang enggak-enggak, positif thinking aja, berdoa aja" ucap Ruri.
"Hm, iya" ucap Evan.
"Udah yuk balik, gw cuma mau ngomongin itu doang sih" ucap Ruri.
"Oke" ucap Kay.
Ruri, Evan, dan Kay pun pergi meninggalkan cafe.