Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Rencana Jahat Davin



"Sebentar deh, aku share lokasi rumah Davin ke mas Ruri dulu" ucap Davira mengirimkan lokasi rumah Davin.


"Mas, aku ke rumah Davin dulu ya, ngasih undangan kita, kamu kesini nanti ya mas" ucap Davira.


"Ada wa dari Davira nih" ucap Ruri membaca notifikasi WhatsApp dari Davira.


"Oke sayang, aku otw" jawab Ruri.


"Tokkk... tokkk... assalamualaikum" ucap Davira sembari mengetuk pintu rumah Davin.


"Wa'alaikumsalam eh Davira, ayok masuk" ucap Davin tersenyum saat membuka pintu rumahnya.


"Iya, makasih" ucap Davira dengan senyum terpaksa.


"Duduk dulu, aku ambilkan minuman dulu" ucap Davin.


"Gak usah, aku cuma sebentar doang kok kesini" ucap Davira.


"Gak apa-apa kok, sebentar ya" ucap Davin menyentuh tangan Davira dan langsung pergi.


"Ini orang dibilangin gak usah juga ya, maksa banget jadi orang" gerutu Davira.


"Davira tumben banget ya ke rumah gw, sendirian pula, akh gw punya ide untuk menahan dia lebih lama lagi dirumah gw, kan dia gak pernah ke rumah gw sendirian, sekarang dia ke rumah gw sendirian, kesempatan emas, gak boleh di sia-siakan begitu saja" ucap Davin menyeringai.


Davin mengambil satu obat dan mencampurkannya di minum Davira.


"Firasat gw kok gak enak ya" ucap Davira yang langsung pergi ke dapur.


"Dengan obat tidur ini, Davira akan menjadi milik gw, gak apa-apa cuma semalam, yang penting gw bisa ngerasain berduaan sama dia" ucap Davin menyeringai sembari mencampur obat tidur itu dalam minuman Davira.


Davira bersembunyi dibalik dinding menyaksikan rencana licik Davin.


Davira segera berlari pergi dari sana dan meletakkan undangan pernikahannya diatas meja Davin.


Sesampainya diluar, Davira bertubrukan dengan Ruri.


"Kamu kenapa?, kok kayak orang ketakutan kayak gitu?" tanya Ruri.


"Gak apa-apa kok mas, balik yuk mas, aku ceritain sama kamu nanti di jalan aja ya mas, ayok mas cepat" ucap Davira menarik tangan Ruri.


"Iya" ucap Ruri mengikuti langkah kaki Davira.


"Pak, saya pulang sama Ruri ya" ucap Davira pada supir pribadinya.


"Baik non" ucap supir pribadinya.


"Ayok mas" ucap Davira menarik tangan Ruri.


"Iya" ucap Ruri.


Ruri membukakan pintu mobilnya untuk Davira.


"Pak, ayok jalan cepat" ucap Davira pada supir pribadi Ruri.


"Baik non" ucap supir pribadi Ruri.


"Kamu kenapa sih?, kok kayak orang ketakutan gitu?" tanya Ruri.


Davira langsung memeluk Ruri dan meneteskan air matanya di bahu Ruri. Ruri pun memeluknya.


"Hei, kamu kenapa?" tanya Ruri.


"Mas, tadi kan aku ke rumah Davin ya teman kampus aku, dia nawarin minum kan, aku bilang gak usah kn, tapi dia tetap ngambilin ke dapur, firasat aku gak enak, ya udah aku ikutin lah dia ke dapur, eh ternyata dia mencampurkan obat tidur ke dalam minuman yang akan dia kasih buat aku, ya udah aku taruh aja undangan kita di meja terus aku lari, eh nabrak kamu" ucap Davira.


Ruri yang mendengarnya pun tertawa sejenak.


"Mas kok malah ketawa sih?" tanya Davira kesal.


"Muka kamu lucu kalau kayak gitu, nabrak aku pula, emang aku tembok apa ditabrak-tabrak segala" ucap Ruri tertawa kecil.


"Akh mas akh, aku serius tahu" ucap Davira.


"Iya iya sayang, udah ya, cup cup" ucap Ruri yang langsung memeluk Davira mengelus pucuk kepalanya.


"Kan yang terpenting kamu gak di apa-apain kan sama dia?" tanya Ruri.


"Enggak mas" ucap Davira menggelengkan kepalanya.


"Ya udah kita langsung ke bandara aja ya sayang, gimana?, atau kamu mau makan dulu?" tanya Ruri.


"Besok aja akh mas ke bandaranya, capek aku" ucap Davira.


"Terus ini kita mau kemana sayang?" tanya Ruri.


"Ke rumah mas aja akh" ucap Davira.


"Ya udah iya" ucap Ruri.


"Pak langsung ke rumah saya aja ya" ucap Ruri pada supir pribadinya.


"Baik tuan" ucap supir pribadinya.


"Bibi emang gak ada mas?" tanya Davira.


"Gak ada sayang, aku ke Indonesia sama pak Bambang doang, itu pun disuruh sama papah, katanya calon pengantin gak boleh bawa mobil sendirian" ucap Ruri.


"Sama mas, aku juga di gituin sama papah, kenapa ya mas?, kok kita gak dibolehin bawa mobil sendiri?" tanya Davira menatap Ruri.


"Ya mungkin mereka takut kali terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, kan katanya kalau calon pengantin itu ada aja cobaannya" ucap Ruri.


"Hm, iya mas" ucap Davira.


"Kita beli makanan dulu ya sayang" ucap Ruri.


"Iya mas" ucap Davira tersenyum.


"Pak kita ke warung depan dulu ya beli makanan" ucap Ruri pada supir pribadinya menunjuk warung Padang di depan jalan.


"Baik tuan" ucap supir pribadinya.


"Pak beli nasi paketnya 3 ya" ucap Ruri.


"Pakai apa mas?" tanya penjual.


"Yang satu pakai mujair, kamu mau pakai apa sayang?" tanya Ruri menatap Davira.


"Samain aja mas mujair" ucap Davira.


"Oke, pak mau pakai apa lauknya?" tanya Ruri menatap Davira lalu menatap supir pribadinya.


"Kembung bakar mas" ucap supir pribadinya.


"Oke, pak mau mujair 2 sama kembung bakarnya satu" ucap Ruri menatap supir pribadinya lalu menatap penjual.


"Oke mas" ucap penjual.


"Apalagi mas?" tanya penjual saat nasi bungkusnya selesai.


"Pak, bungkusin nasi tiga ya sama... " ucap Ruri menghentikan perkataannya.


"Lauk buat sore kamu mau apa?" tanya Ruri menatap Davira.


"Ayam bakar mas" ucap Davira.


"Oke, pak mau apa buat nanti sorenya?" tanya Ruri menatap Davira lalu menatap supir pribadinya.


"Samain aja mas" ucap supir pribadinya.


"Oke" ucap Ruri.


"Pakai bumbu rendang mau gak?" tanya Ruri menatap Davira.


"Mau mas" ucap Davira menganggukkan kepala.


"Pak ayam bakarnya tiga kasih bumbu rendang ya" ucap Ruri.


"Sama apalagi mas?" tanya penjual.


"Sama sambalnya dipisah ya, hm sama daun singkongnya deh pak" ucap Ruri.


"Udah mas?" tanya penjual.


"Udah pak, jadi berapa ya pak?" tanya Ruri.


"Sembilan puluh tiga mas, tapi sembilan puluh ribu aja" ucap penjual.


"Makasih pak, ini uangnya" ucap Ruri memberikan selembar uang seratusan.


"Ini mas kembaliannya" ucap penjual memberikan uang sepuluh ribu.


"Makasih ya pak" ucap Ruri tersenyum sembari mengambil pesanannya.


"Sama-sama mas" ucap penjual tersenyum.


"Ayok" ucap Ruri menatap Davira dan supir pribadinya.


"Mas ini sayurnya gak basi buat nanti sore?" tanya Davira mengeluarkan sayur daun singkong yang Ruri beli.


"Nanti dipanasin aja sayang, biar gak basi" ucap Ruri tersenyum.


"Oke mas, ini nasinya kok banyak banget mas sampai tiga bungkus?" tanya Davira.


"Iya nanti ini buat maka sore kita, nanti taruh di rice cooker aja nasinya" ucap Ruri tersenyum.


"Oke mas" ucap Davira menganggukkan kepala.