
Danira mengirimkan lokasi rumah Clarissa pada Ruri.
"Eh, jemputnya disini aja ya, gw lagi di rumah Clarissa soalnya" ucap Davira menandai lokasi yang baru saja ia kirimkan pada Ruri.
"Oke" jawab Ruri.
"Clar gimana?" tanya Davira berputar-putar mengibaskan dres yang ia pakai pada Clarissa.
"Bagus, cakep" ucap Clarissa.
"Wih, mau kemana lu, rapih amat?" tanya Kay.
"Mau ngapel" ucap Ruri smirk merapihkan rambutnya.
"Wih, udah punya pacar toh" ucap Kay meledeknya.
"Belum sih, baru deket doang" ucap Ruri malu-malu.
"Oh" ucap Kay.
"Eh gebetan lu siapa dh Rur?" tanya Evan.
"Davira" ucap Ruri tersenyum merapihkan rambutnya.
"Hah? Davira? yang kemaren ditabrak sama Cakra itu?" tanya Evan.
"Bukan, tapi temennya dia" ucap Ruri menoleh ke Evan sejenak dan kembali menatap cermin.
"Oh" ucap Evan.
"Dah akh, gw jalan dulu assalamualaikum" ucap Ruri pergi meninggalkan teman-temannya.
"Wa'alaikumsalam" ucap teman-temannya kompak.
"Si Ruri gercep juga ya?" tanya Evan pada teman-temannya.
"Iya juga sih, gak kayak Cakra" ucap Kay.
"Pa hubungannya sama gw?" tanya Cakra kesal.
"Ya elah Cak, kita tau lagi, kalau lu suka sama si Clarissa" ucap Kay mengangkat alisnya.
"Sok tahu lu!" ucap Cakra kesal.
"Ketahuan kok dari sikap lu" ucap Kay.
"Nah, bener tuh" ucap Evan.
"Nye nye nye, gak denger, gw pakai earphone" ucap Cakra.
"Hm, kebiasaan" ucap Evan memalingkan wajahnya dari Cakra kesal.
"Tokkk... Tokk... assalamualaikum Davira" ucap Ruri mengetuk pintu rumah Clarissa menjemput Davira.
"Eh, itu kayaknya si Ruri deh, keluar sana" ucap Clarissa pada Davira.
"Ayok" ucap Davira menarik tangan Clarissa keluar menemaninya.
"Assalamualaikum" ucap Ruri dari depan pintu rumah Clarissa.
"Wa'alaikumsalam" ucap Davira membukakan pintu.
Ruri pun terdiam menatap kecantikan Davira, Ruri terpesona dengan penampilan Davira yang sangat cantik itu.
"Hey, kenapa?" tanya Davira memetik kedua jarinya depan wajah Ruri untuk menyadarkan Ruri.
"Cantik" ucap Ruri tersenyum dan masih menatap Davira.
Davira pun tersipu malu atas perlakuan Ruri kepadanya.
"Ehem, katanya mau jalan" ucap Clarissa menyadarkan mereka yang terpesona satu sama lain.
"Oh iya, ya udah ayok' ucap Ruri memegang tangan Davira.
Mereka pun pergi makan malam dan jalan-jalan ke mall samping restoran.
"Temenin aku dulu yuk beli baju" ucap Ruri.
"Oke" ucap Davira.
"Kok kita ke toko pakaian wanita sih?, buat adek kamu ya?" tanya Davira.
Ruri hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan Davira.
"Ini bagus, cobain deh" ucap Ruri memberikan satu baju pada Davira.
"Aku?" tanya Davira terkejut.
"Iya lah masa aku sih yang pake, kayak bancita dong" ucap Ruri ngondek.
"Ngondek di lampu merah kayak nya cocok deh kamu" ucap Davira tertawa kecil.
"Ikh eke ndak begitu ya cin, sorry ya cin bukan level eke" ucap Ruri mengibaskan rambutnya.
Davira hanya tersenyum dan meninggalkan Ruri menuju ruang ganti.
"Hey" panggil Davira.
Ruri hanya terdiam menatap Davira.
"Kok bengong?, kenapa?, jelek ya?, eh iya lupa, ini kan bukan buat aku ya" ucap Davira menepuk jidatnya.
"Bagus kok cantik, oh iya baju itu buat kamu aja, pantes kok" ucap Ruri tersenyum gugup.
"Buat aku?" tanya Davira terkejut.
"Iya, buat kamu" ucap Ruri.
"Thanks ya" ucap Davira tersenyum gugup.
"Oh iya, udah malem nih, balik yuk" ucap Ruri melihat jam di tangannya.
"Iya" ucap Davira tersenyum malu.
"Ayok kita ke kasir dulu, bayar baju ini" ucap Ruri.
"Iya" ucap Davira tersenyum.
"Mbak ini berapa ya?" tanya Ruri pada mbak kasir.
"Seratus lima puluh ribu mas" ucap kasir.
"Ini mbak" ucap Ruri memberikan kartu ATM nya.
"Makasih mbak" ucap Ruri tersenyum.
"Sama-sama mas" ucap mbak kasir tersenyum.
"Eh, aku turun di rumah Clarissa aja ya" ucap Davira pada Ruri.
"Gak langsung pulang ke rumah kamu aja?" tanya Ruri.
"Enggak deh, bete dirumah sendirian, kalau dirumah Clarissa kan enak ada temennya, lagipula juga Clarissa dirumah sendirian" ucap Davira.
"Emang orangtua kamu kemana?, orangtua Clarissa juga lagi gak ada dirumah?" tanya Ruri.
"Orangtua ku gak tau kemana, gak pernah bilang kalau keluar, kalau orangtuanya Clarissa ke luar kota" ucap Davira.
"Oh gitu, ya udah aku anterin ke rumah Clarissa ya" ucap Ruri tersenyum.
"Iya, makasih" ucap Davira tersenyum.
Setengah jam kemudian mereka pun sampai di rumah Clarissa.
"Aku pulang ya, assalamualaikum" ucap Ruri tersenyum.
"Iya wa'alaikumsalam, hati-hati dijalan ya" ucap Davira tersenyum melambaikan tangan pada Ruri.
Ruri pun membalas dengan senyuman dan lambaian tangan kemudian pergi.
"Assalamualaikum" ucap Ruri dari depan pintu kamarnya.
"Siapa lagi dh? malem-malem ketak ketok, ganggu aja dh" gerutu Kay.
"Ruri maybe, bukain sana" ucap Evan.
"Lu aja sana, lagi posisi uweenaakk nih gw" ucap Kay.
"Assalamualaikum, permisi paket" ucap Ruri mengetuk sekali lagi.
"Wa'alaikumsalam" ucap cakra membukakan pintu.
"Wih, ada yang habis kencan nih" ucap Evan meledek Ruri.
"Gimana?, gimana?, lancar gak?" tanya Kay.
"Lancar dong" ucap Ruri tersenyum mengangkat alisnya.
"Terus?, terus?, ngapain aja lu tadi?" tanya Kay.
"Keppo lu, udah akh gw mau mandi dulu bye" ucap Ruri memasuki kamar mandi.
Lima menit kemudian Ruri pun keluar kamar mandi.
"Ehh ceritain dong, keppo gw" ucap Kay pada Ruri.
"Besok aja akh, ngantuk gw, mau tidur" ucap Ruri.
"Hm" ucap Evan bete.
Ruri pun tertidur.
"Bisa-bisanya pulang kencan langsung tidur pules, dasar nih anak satu ya" ucap Kay.
"Iya ya, biasanya orang kan, kalau pulang kencan malah gak bisa tidur ya, sangking bahagianya, lah dia pulang kencan malah langsung ngorok" ucap Evan.
"Udah si biarin aja, mungkin si Ruri lagi kecapean kali, makanya dia langsung tidur" ucap Cakra.
"Uwih... !, kecapean!, habis ngapain?" tanya Evan.
"Habis slebew mungkin" ucap Kay.
"Baru kencan pertama, masa langsung di slebew anak orang, emang si Ruri separah itu apa?" tanya Evan pada Kay.
"Ya kali aja gitu, si Ruri diam-diam menghanyutkan" ucap Kay menahan tawanya melihat Ruri yang sedang tertidur pulas.
"Iya juga sih, tapi kayaknya enggak deh" ucap Evan.
"Enggak ada yang gak mungkin di dunia ini shay" ucap Kay.
"Idih... !, gelay... !" ucap Evan.
"Ngapa jadi pada ngondek lu berdua hah?" tanya Cakra.
"Eke gak ngondek shay, si Evan tuh yang ngondek, sudah lah itu tidak penting, lebih baik saya menonton film saja" ucap Kay.
"Terserah lu lah" ucap Evan kesal.
"Udah lah, gw tidur aja" ucap Cakra.
"Masih sore" ucap Kay.
"Terserah lu Kay, gw mau tidur bye" ucap Cakra.
"Hm" ucap Kay.
"Lah lu kagak tidur?" tanya Kay ada Evan.
"Belum ngantuk gw" ucap Evan.
"Nge-game yuk" ajak Kay.
"Kuy lah" ucap Evan.
Kay dan Evan mabar hingga pagi hari, ketika baru akan tertidur Cakra dan Ruri bangun mengajak mereka sholat.
"Bangun oyy, sholat" ucap Ruri membangunkan Evan.
"Baru mau tidur gw" ucap Evan.
"Lah, semalam lu kagak tidur?" tanya Ruri.
"Kagak" ucap Evan.
"Ngapain lu?, sampai gak tidur malam segala" ucap Ruri.
"Mabar sama Kay" ucap Evan.
"Sholat dulu sih, baru entar habis sholat kalian tidur lagi aja" ucap Ruri.
"Iya" ucap Evan dan Kay kompak.
Setelah sholat subuh, Kay dan Evan pun tertidur pulas hingga siang hari.