Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Ribut-but-but



"Parah banget sih, masa gw ditinggalin sendirian, kan berasa kayak orang gila gw yang ngomong sendiri jawab sendiri hm" ucap Kay kesal memasuki kamar Cakra dan Evan.


"HAHA!, akhirnya setelah sekian lamanya Kayden Khafi sadar juga" ucap Evan tersenyum menatap langit dan mengangkat tangannya seperti seorang sedang berdoa.


"Sepertinya kita harus mengadakan syukuran atas sadarnya Kayden Khafi" ucap Cakra menyeringai menepuk pundak Evan.


"Lu ngapa jadi ketularan di Evan sih Cak?" tanya Kay kesal.


"HAHA!, sorry bestie, tapi untuk kali ini, saya setuju dengan Evan Xaquille" ucap Cakra menyeringai mengangkat alisnya menatap Evan.


"Akh menyebalkan kalian semua!" ucap Kay kesal dan langsung keluar dari kamar Cakra dan Evan dengan membanting pintu kamarnya.


"Lah dia kesal!" ucap Evan tertawa kecil menatap Cakra.


"Udah biarin aja, entar juga palingan dia balik lagi, kayak kagak tahu dia aja lu" ucap Cakra.


"HAHA!, iya sih" ucap Evan menggaruk kepalanya.


"Eh bentar deh Cak, gw angkat telepon dulu" ucap Evan menepuk pundak Cakra dan langsung menjauh darinya.


"Oke" ucap Cakra.


"Fidelya?, ada apa dia telepon ya?" batin Evan bertanya-tanya dan langsung mengangkat panggilan teleponnya.


"Assalamualaikum Van" ucap Fidelya di telepon.


"Wa'alaikumsalam, ada apa Ya?" tanya Evan.


"Bisa ketemuan malam ini gak Van?, ada yang mau aku omongin sama kamu malam ini" ucap Fidelya.


"Hm, malam ini ya?" tanya Evan bingung.


"Iya Van malam ini, kamu bisa gak?" tanya Fidelya.


"Iya, bisa kok" ucap Evan antusias.


"Aku tunggu di restoran X ya nanti malam jam 7" ucap Fidelya.


"Oke" ucap Evan.


"Assalamualaikum" ucap Fidelya.


"Wa'alaikumsalam" ucap Evan.


"Siapa Van?" tanya Cakra saat Evan menghampirinya.


"Fidelya, gebetan gw, dia ngajakin ketemuan nanti malam" ucap Evan.


"Asik!, diajakin jalan sama gebetan nih!" ucap Cakra menyeringai mengangkat alisnya.


"HEHE!, iya!, gw juga kagak tahu kenapa si Fidelya ngajakin ketemuannya dadakan banget" ucap Evan.


"Lu kira tahu bulat apa dadakan?, tinggal jalan aja sih, ribet banget deh lu!" ucap Cakra mendorong Evan.


"Hm, iya sih, udah gw mau siap-siap dulu deh" ucap Evan.


"Ya udah sana" ucap Cakra.


"Oke" ucap Evan yang langsung pergi meninggalkannya.


"Eh tapi gw kagak ada baju" ucap Evan yang berbalik pada Cakra.


"Coba pinjam aja sana sama si Kay" ucap Cakra.


"Oke" ucap Evan yang langsung keluar kamar mencari Kay.


"Kay" panggil Evan.


"Kenapa?" tanya Kay menghampirinya dari arah belakang.


"Gw pinjam baju lu dong, gebetan gw ngajakin jalan, tapi gw kagak ada baju, baju gw dirumah semua yang bagus, cuma ada kaos, hoodie, sama jaket, gak enak kalau jalan sama gebetan masa pakai baju kayak gitu sih" ucap Evan.


"Emang lu punya gebetan apa?" tanya Kay.


"Lah, kan pernah gw lihatin fotonya ke lu" ucap Evan.


"Oh, yang itu rupanya" ucap Kay menganggukkan kepalanya.


"Iya, udah mana, gw pinjam baju" ucap Evan.


"Ya udah ayok ke kamar gw" ucap Kay.


"Ya udah jalan" ucap Evan.


"Iya" ucap Kay.


Kay membuka pintu kamarnya, Natasya yang mendengar pintu terbuka pun sontak terkejut. Evan pun tersenyum kecil menganggukkan kepala.


"Misi Sya" ucap Evan tersenyum kecil.


"Iya mas, silahkan" ucap Natasya tersenyum.


"Tuh pilih aja lu mau yang mana" ucap Kay membuka lemari pakaiannya.


"Kayaknya ini bagus deh" ucap Evan mengambil salah satu baju dan menempelkannya ke tubuhnya.


"Cobain dulu sana, entar gak muat gimana?" tanya Kay.


"Emang gw gede banget apa hah?" tanya Evan kesal.


"Gak gede, cuma lebar aja" ucap Kay menertawakannya.


"Shia!" ucap Evan kesal dan ingin membuka bajunya.


"Eh Bambang lu mau ngapain?" tanya Kay memegang tangan Evan.


"Buka baju emang ngapa?" tanya Evan.


"Lu lihat ke belakang lu, ada bini gw, seenaknya jidat aja lu, buka-bukaan di depan bini gw, sana di WC" ucap Kay kesal.


"Oh iya, sorry, sorry, lupa gw kalau dibelakang ada bini lu" ucap Evan tertawa kecil.


"Udah sana cobain di WC" ucap Kay mendorongnya.


"Iya, bawel lu" ucap Evan.


"Misi mbak" ucap Evan tersenyum kecil.


"Iya mas" ucap Natasya tersenyum.


"Mbak, kok mau sih nikah sama si Kay?" tanya Evan perlahan.


"Emang kenapa mas?" tanya Natasya.


"Dia kan rada somplak orangnya" ucap Evan perlahan.


"Somplak kepala lu somplak!, udah minjam baju ngatain somplak pula hm" ucap Kay kesal.


"HAHA!, kabur!" ucap Evan lari terbirit-birit hingga terbentur pintu kamar mandi yang belum ia buka.


"HAHA!, mampus!, rasakan kau!" ucap Kay.


"Shia!, saraleo!" ucap Evan kesal menunjuk Kay.


"HAHA!, itu namanya kualat, kena karmanya kan lu!" ucap Kay menertawakannya.


"Barangsiapa yang tertawa di atas penderitaan orang lain, akan mendapatkan karmanya juga" ucap Evan menyeringai mengangkat alisnya dan menatap Kay.


"HAHA!, gw senang kalau melihat kau menderita Evan Xaquille!" ucap Kay menertawakan dan menunjuk Evan.


"Sayang, gak boleh kayak gitu!" timpal Natasya.


"Tuh dengarkan apa kata istrimu!" ucap Evan tersenyum menunjuk Natasya.


"Kok kamu bela dia sih sayang?, kan aku suami kamu, masa kamu malah bela laki-laki lain di depan aku sih sayang, akh kamu mh gitu banget sama aku" ucap Kay manja.


"Aku belain dia sayang, cup... cup... cup... sini peluk... akh bayi besar aku" ucap Natasya yang langsung memeluk Kay yang duduk dilantai seperti anak kecil yang sedang ngambek.


Kay pun memeluk Natasya dengan wajah manjanya dan meledek Evan dengan menjulurkan lidahnya.


"Ehem!, ada orang kali pak, bu, disini" ucap Evan.


"Oh ada orang lagi ya selain gw sama istri gw, kirain tadi gak ada orang" ucap Kay.


"Terus gw apaan hah?, setan gitu?" tanya Evan kesal mengangkat alisnya.


"Hm, mirip sih emang kelakuannya" ucap Kay menatap Evan dari atas sampai bawah.


"Lu kagak lihat apa hah?, tuh lihat!, kaki gw napak diatas tanah, kagak melayang di udara, sembarangan aja sampeyan iki!" ucap Evan kesal.


"Lah, sampeyan duluan toh yang mulai bukan saya, piye toh mas?" tanya Kay.


"Akh gak jelas ngomong sama lu!, udah akh, gw cobain di kamar aja, setidaknya Cakra lebih waras daripada lu!, bye!" ucap Evan kesal melambaikan tangannya pada Kay.


"Jangan lupa adus mas, biar wangi, ndak bau wedus" ucap Kay tertawa kecil.


"Sampeyan wedusnya!" ucap Evan kesal dan kembali melanjutkan langkahnya.


"HAHA!, dia kesal!" ucap Kay menertawakannya.


"Sayang!, udah!" ucap Natasya.


"Lucu sayang" ucap Kay yang masih terus tertawa.


"Ya udah, malam ini kamu gak dapat jatah harian" ucap Natasya yang langsung pergi meninggalkannya.


"Yah, jangan dong sayang!" ucap Kay berlari mengejar kepergian Natasya.


Natasya memasuki kamar tamu dan langsung mengunci pintunya.


"Akh kamu mh, masa gara-gara Evan, jadi aku yang kena imbasnya sih?" tanya Kay mengetuk pintu kamar.


"Bodoamat!" ucap Natasya dari dalam kamar.