Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Ribut di Tukang Roti Bakar



"Ruri" ucap Cakra menepuk pundak Ruri dari belakang.


"Kenapa?" tanya Ruri sinis.


"Lah lu masih disini Rur, gw kirain lu udah balik ke hotel" ucap Cakra.


"Iya tadi gw balik tapi ketemu abang roti bakar ya gw beli dulu lah" ucap Ruri.


"Masih lapar lu?" tanya Cakra mengangkat alisnya.


"Itu makanan pokok, makanan penutupnya belum" ucap Ruri.


"Astagfirullahaladzim, rakus juga lu ya" ucap Cakra menggelengkan kepalanya sembari memegang dadanya sendiri.


Ruri hanya menatap sekilas Cakra dan kembali memperhatikan abang roti bakar yang sedang membolak-balikkan roti yang ia pesan.


"Duduk aja sih sini" ucap Cakra menepuk bangku kosong yang ada di sampingnya.


"Lebih enak disini, daripada disitu deket lu, emangnya gw cowok apaan hah?, nemplok ke cowok" ucap Ruri memalingkan wajahnya dari Cakra.


"Yah masih marah ternyata, maaf deh, gara-gara cewek ngeselin itu, lu gak bisa video call sama doi lu si Davira" ucap Cakra.


"Hm" jawab Ruri.


"Jutek amat jawaban lu" ucap Cakra.


Ruri hanya menatapnya sekilas namun kembali menatap roti yang sangat lezat itu.


"Itu ada tukang roti bakar" ucap Davira menunjuk tukang roti bakar tempat Ruri dan Cakra memesan.


"Eh iya tuh, ayok kita kesana" ucap Clarissa menarik tangan Davira antusias.


"Lu mau gak?" tanya Clarissa.


"Boleh" ucap Davira.


"Rasa apaan?" tanya Clarissa.


"Cokelat keju lah kayak biasanya" ucap Davira tersenyum mengangkat alisnya.


"Oke" ucap Clarissa yang kembali menarik tangan Davira.


"Abang mau cokelat keju 2 ya" ucap Clarissa antusias.


"Elo... !" teriak Cakra menunjuk Clarissa dengan mata sinisnya.


"Lu lagi, lu lagi, kenapa sih gw harus ketemu sama cowok rese kayak lu lagi?, cowok banyaknya ya di dunia ini, kenapa gw harus ketemu lagi dan lagi sama spesies cowok menyebalkan kayak lo... !, oh iya, gw tau, apa jangan-jangan lu pasang CCTV kan?, biar lu bisa memantau, gw mau pergi kemana aja, iya kan?, ngaku lu... !" ucap Clarissa menunjuk Cakra dengan mata sinisnya.


"Apakah anda public figure?, apakah anda terkenal?, orang penting?, enggak kan?, kurang kerjaan banget gw mata-matain cewek kayak lu" ucap Cakra menunjuk Clarissa dengan mata sinisnya.


"Sial banget sih gw harus ketemu sama lu lagi... !" ucap Clarissa memegangi kepalanya menggelengkan kepala.


"Lu pikir, emangnya gw mau gitu sama lu hah?, enggak ya... !, enggak pernah sudi gw buat ketemu sama cewek kayak lu lagi... !, dan satu hal lagi yang perlu lu tau, gw gak akan mau menjadi mata-mata lu, karena lu itu, bukan siapa-siapa bagi gw, lu itu gak penting buat gw, paham?" tanya Cakra sinis.


"Idih... !, sok kecakepan lu... !, jangan sok kegantengan deh... !, lu itu gak ganteng!" ucap Clarissa sinis.


"Mas, mbak udah, kok malah pada ribut disini sih" ucap penjual roti bakar.


"Dia duluan pak" ucap Cakra menunjuk Clarissa begitupun sebaliknya, Clarissa menunjuk Cakra.


"Mas, mbak, stop ya!, saya gak mau ada keributan lagi disini, mengerti?" tanya penjual roti bakar.


"Iya pak" ucap Cakra dan Clarissa kompak menundukkan kepala.


"Elu sih... !" ucap Cakra dan Clarissa kompak perlahan.


"Udah ya mbak, mas, dan untuk masnya, harusnya mas mengalah dong untuk mbaknya, bukan malah memperkeruh suasana" ucap penjual roti bakar.


"Mampus lu disalahin... !" ucap Clarissa pelan dan menyeringai, menatap Cakra sesaat.


"Ngeselin lu ya... !" ucap Cakra menunjuk Clarissa kesal dengan tatapan sinis.


"HAHA... !, rasakan... !" ucap Clarissa pelan menyeringai.


"Cak, udah" ucap Ruri berusaha menenangkan hati Cakra.


"Mas ini pesanannya" ucap penjual roti pada Ruri.


"Makasih ya pak" ucap Ruri tersenyum.


"Sama-sama mas" ucap penjual roti bakar tersenyum.


"Ayok Cak" ucap Ruri memegang pundak Cakra.


"Awas lo ya... !" ucap Cakra menunjuk Clarissa dengan tatapan mata sinis.


"Cakra, udah... !" ucap Ruri menariknya pergi dari sana.


Davira pun mengelus pundak Clarissa dan mengajaknya duduk.


"Nyebelin banget sih itu cowok... !, iiii-kkhhh... !, kenapa gw harus ketemu sama dia lagi sih?" tanya Clarissa kesal menatap Davira.


"Udah Clar... !, udah... !, jangan diperpanjang lagi ya, tenang... !, tarik nafas... !, buang... !" ucap Davira memberikan isyarat pada Clarissa untuk menarik nafas panjang dan melepaskannya.


Clarissa yang sudah mulai tenang pun memainkan ponselnya.


"Kenapa sih, gw harus ketemu sama dia lagi?" tanya Cakra kesal pada Ruri.


"Jodoh kali" ucap Ruri.


"Jodoh?, sembarangan lu ya kalau ngomong!" ucap Cakra kesal menunjuk Ruri.


"Ya kata orang kan kalau cowok sering ketemu sama cewek tanpa sengaja, tanpa adanya pertemuan terlebih dahulu kan pertanda jodoh, bukan kata gw ya tapi, kata orang, gak tahu deh, itu bener apa kagak, udah lah, gak usah diperpanjang lagi, semakin lu kesel sama si Clarissa, semakin sering lu memikirkan dia, dan kalau lu semakin sering memikirkan dia, bukannya gak mungkin, jika suatu saat rasa cinta itu akan tumbuh di dalam hati lu?, hai kawan... !, ingatlah satu hal, jika jarak antara benci dan cinta itu sangatlah tipis, jangan terlalu membencinya, jika tidak ingin nantinya lu akan mencintainya" ucap Ruri tersenyum.


"Sok bijak lu... !" ucap Cakra yang langsung pergi meninggalkannya.


"Lah kok gw ditinggalin sih?, Cakra, tungguin dong" ucap Ruri berlari mengejarnya.


Cakra hanya menatapnya sekilas lalu kembali berjalan pergi.


"Mbak, ini pesanannya ya" ucap penjual roti bakar.


"Makasih ya pak" ucap Davira memberikan uang.


"Sama-sama mbak" ucap penjual roti bakar tersenyum.


"Maafin temen saya pak, udah buat keributan di tempat bapak tadi" ucap Davira.


"Iya pak, maafin saya ya pak, habisnya cowok tadi ngeselin sih" ucap Clarissa menunjuk ke belakang, entah siapa yang ia tunjuk, karena Cakra sudah tidak ada disana lagi.


"Clarissa, udah ya" ucap Davira.


"Hm" ucap Clarissa.


"Iya mbak, gak apa-apa kok, maafin bapak juga ya mbak" ucap penjual roti tersenyum.


"Iya pak sama-sama, kita permisi ya pak, assalamualaikum" ucap Davira tersenyum.


"Iya mbak, wa'alaikumsalam" ucap penjual roti tersenyum.


Davira dan Clarissa pun kembali ke rumah Davira.


"Eh Clar, kalau gw liat-liat nih ya, si Cakra mirip banget sama Kim Taehyung deh" ucap Davira.


"Hah?, apa?, Kim Taehyung?, Kim Taehyung terlalu tampan jika disamakan dengan laki-laki menyebalkan itu... !" ucap Clarissa.


"Hm, tapi mirip lho" ucap Davira.


"NO... !" ucap Clarissa.


"Hm, menurut gw sih mirip banget ya, tapi... !, ya udah lah, percuma juga kan ngomong sama orang yang dihatinya ada rasa benci untuk seseorang" ucap Davira.


Clarissa hanya menatap sekilas Davira dan kembali memakan roti bakar yang mereka beli tadi.