Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Lukisan Hangus Terbakar



"Lu ngerasa gak sih?, kayak ada seseorang yang ngikutin kita gitu di belakang" ucap Reza menatap Ruri dengan ekspresi takutnya.


Mendengar perkataan Reza, Ruri dan Davira pun menoleh ke belakang mereka.


"Mobil yang belakang kita itu maksud lu?" tanya Ruri.


Reza menoleh ke belakang melihat mobil yang dimaksud oleh Ruri.


"Bukan, tapi kayak gw ngerasa ada sesuatu yang ngikutin kita gitu, tapi gw ngerasa itu kayak bukan manusia yang ngikutin kita" ucap Reza.


"Setan maksud lu gitu?" tanya Ruri.


"Kayaknya sih iya, lihat tuh, merinding gw" ucap Reza menunjuk tangannya.


"Kedinginan lu?, kecilin aja AC nya" ucap Ruri.


"Bukan Bambang!" ucap Reza kesal.


"Lah terus?, jangan ngada-ngada deh Ja" ucap Ruri.


"Eh gw seriusan" ucap Reza.


Ruri mengabaikan perkataan Reza. Reza akhirnya terdiam karena perkataannya tidak dipercaya oleh Ruri.


Setelah beberapa menit hanya ada keheningan di mobil mereka, mereka pun tiba di rumah Ruri.


"Tokk.. tokk... assalamualaikum" ucap Ruri mengetuk pintu rumahnya dan langsung masuk ke dalamnya.


"Rumah lu gelap banget Rur" ucap Reza.


"Iya ya aneh banget deh, biasanya kalau masih jam segini masih terang banget, tapi ya udah lah, buka aja jendelanya" ucap Ruri yang langsung membuka gorden dan jendela rumahnya.


"Apa jangan-jangan gara-gara lukisan wanita yang tadi itu?" tanya Davira.


Ruri dan Reza yang mendengarnya seketika terkejut dan saling menatap satu sama lain.


"Sebenernya itu lukisan siapa sih?" tanya Ruri.


"Mana gw tahu, kan lu tahu kalau gw kagak jago gambar, bikin sawah aja cuma segitiga disambung" ucap Reza.


"Hm iya sih, lah terus kok itu gambar tiba-tiba ada di meja lu sih?, apa ada orang yang habis bertamu ke rumah lu selai gw dan Davira?" tanya Ruri.


"Gak ada, terakhir gw balik dari tempat itu ya belum ada yang bertamu, baru lu sama Davira doang, makanya tadi gw kira itu lu yang menggambar, kan lu jago gambar gak kayak gw" ucap Reza.


"Hm iya sih, tapi gw aja gak kenal sama cewek yang ada di lukisan itu, gimana cara gw gambarnya?" tanya Ruri.


"Ya kali gitu wanita dari dalam imajinasi lu" ucap Reza.


"Lukisan itu aja ditemukan sama Davira, gimana caranya coba gw ngelukis kalau ada di tangan Davira?" tanya Ruri.


"Wah Ra, berarti itu lu yang ngelukis kan?, udah deh jangan bikin parno, gw orangnya takutan nih Ra, gak lucu banget sumpah Ra" ucap Reza.


"Gw aja gak kenal sama tuh cewek kurang kerjaan banget gw ngelukis dia" ucap Davira kesal.


Ketika mereka sedang berdebat, tiba-tiba ada banyak lembaran kertas beterbangan di udara, dan ada satu kertas yang jatuh tepat di wajah Ruri.


"Lah kok tiba-tiba ada kertas beterbangan?, perasaan gw gak naruh tumpukan kertas diluar deh, eh ini apaan lagi jatuh di muka gw" ucap Ruri yang langsung mengambil kertas yang menempel di wajahnya.


"Lah, ini kan lukisan wanita yang di rumah lu tadi Za" ucap Ruri saat melihat selembar kertas itu.


"Lah iya, kok tiba-tiba bisa terbang ke sini sih?, aneh banget deh" ucap Reza.


"Kita ke bandara sekarang" ucap Ruri menepuk pundak Reza dan Davira.


"Mau ngapain ke bandara?" tanya Reza.


"Kita ke Amsterdam sekarang aja, disini udah gak beres, takutnya kalau kita terlalu lama disini sesuatu yang buruk malah terjadi" ucap Ruri.


"Enggak Rur, menurut gw ya, kita cari tahu dulu tentang wanita yang ada di lukisan ini itu siapa, kalau kita langsung terbang ke Amsterdam, apa gak makin bahaya?, takutnya dia masih ngikutin kita, dan kalau ada di atas jauh lebih bahaya Rur, gw takutnya nanti pas kita terbang dia malah semakin menjadi, gimana?, mending kita cari tahu dulu, kita selesaikan dulu masalah ini" ucap Reza.


"Iya sih lu benar juga, lu bilang kan, lu mulai diteror pas pulang dari tempat itu, apa jangan-jangan ada hubungannya?" tanya Ruri menatap Reza.


"Emang darimana sih mas?" tanya Davira.


"Gw juga sempat ke pemakaman di desa Trunyan juga" ucap Reza.


"Wah, lu berbuat sesuatu yang tidak sepantasnya kali, kan lu kadang-kadang minus otaknya, ada yang gak suka kali, makanya ngikutin lu, atau jangan-jangan ada yang naksir sama lu, makanya ikut lu balik ke Jakarta" ucap Ruri.


"Enggak kok, gw cuma foto-foto doang, lagipula disana juga banyak yang foto, makanya gw ikutan" ucap Reza.


"Dia suka kali sama lu Za" ucap Ruri menahan tawanya.


"Cie mas Reza, punya cewek baru nih" ledek Davira.


"Ikh apaan sih kalian, terus ini gimana?" tanya Reza.


"Gw pernah nonton film gitu katanya kalau diteror bakar aja gitu, apa kita bakar lukisan ini aja ya?" tanya Ruri.


"Ide bagus tuh, ya udah bakar aja" ucap Reza.


"Nih pakai korek gw aja" ucap Reza memberikan korek gas miliknya.


Ruri membakar lukisan yang tadi hinggap di wajahnya.


"Kita ke Amsterdam sekarang aja yuk, semoga gak terjadi apa-apa, kan lukisan ini udah kita bakar juga" ucap Ruri.


"Yakin lu?" tanya Reza.


"Bismillah aja, baca doa, Allah SWT pasti akan melindungi kita, manusia lebih tinggi derajatnya dibandingkan jin, gak usah takut, semua sudah diatur oleh-Nya, udah ayok ke bandara" ucap Ruri tersenyum.


"Iya" ucap Reza.


"Sebentar dulu tapi gw sama Davira ambil baju dulu" ucap Ruri.


"Oke" ucap Reza.


Setelah lukisan itu hangus terbakar Reza merasa sangat lega tidak seperti sebelumnya. Hatinya jauh lebih tenang dari sebelumnya.


"Udah ayok jalan" ucap Ruri.


"Ayok" ucap Reza.


"Mas bentar deh, aku wa supir pribadi aku dulu, bilang kalau kita mau ke Amsterdam" ucap Davira.


"Oke" ucap Ruri.


"Mas, kata supir pribadi aku, dia gak ikut ke Amsterdam, anaknya sakit katanya, panas badannya" ucap Davira.


"Ya udah ayok kita langsung ke bandara aja" ucap Ruri.


"Iya mas" ucap Davira.


Ruri, Davira, Reza dan supir pribadi Ruri pergi ke bandara untuk pergi ke Amsterdam, tempat resepsi pernikahannya.


"Rasanya beda ya semenjak lukisan itu hangus terbakar" ucap Reza.


"Ya lumayan sih, kayak jauh lebih tenang ya?" tanya Ruri.


"Iya bener" ucap Reza.


"Kok aku gak ngerasain apa-apa ya?" tanya Davira dengan wajah polosnya.


"Davira, dengar ya, kamu itu gak diajak tahu, kamu itu bukan circle kita" ucap Reza mendorong Davira.


Ruri mendengar perkataan Reza pun sontak tertawa.


"Kok kamu malah ketawa sih mas?, hm ngeselin banget deh" ucap Davira cemberut.


"Muka kamu lucu" ucap Ruri sembari tertawa.


Davira yang mendengar hanya menoleh sejenak ke Ruri dan mengalihkan pandangannya langsung berjalan menaiki pesawat.


Davira mengambil tempat duduk yang lumayan jauh dari Ruri, Reza dan supir pribadi Ruri.