
"Sayang, ini aku udah nemu konsep undangan pernikahannya, gimana?, kamu suka gak?" tanya Ruri mengirimkan foto undangan pernikahan yang ia pilih.
"Bagus mas, aku suka kok, ya udah pesan mas" kata Davira.
"Iya sayang, ini lagi mas pesan" kata Ruri.
"Oke mas" jawab Davira.
"Kok aku deg-degan ya?" tanya Ruri mengirimkan stiker tertawa.
"Deg-degan kenapa mas?, kan acaranya masih beberapa minggu lagi, udah deg-degan aja kamu ini" kata Davira.
"HEHE iya nih, ngeselin banget ya?, masa masih lama udah deg-degan aja HAHA" kata Ruri tertawa.
"Tempatnya udah siap mas?" tanya Davira.
"Lagi dipersiapkan dek" kata Ruri.
"Oh gitu mas, mas yakin mau mengadakan pestanya di Netherland?" tanya Davira.
"Iya yakin, kenapa emangnya dek?" tanya Ruri.
"Gak apa-apa sih mas, mas yakin pada mau datang?" tanya Davira.
"Yakin dek, kan nanti pas kasih undangannya kita kasih tahu satu-satu buat ngumpul di bandara naik jet pribadi aku" kata Ruri.
"Ya udah deh mas kalau gitu" kata Davira.
Ruri mulai mempersiapkan diri dengan searching di google kata apa yang akan diucapkan saat akad nikah berlangsung serta persiapan mental menuju akad, sedangkan untuk surat-suratnya diurus oleh keluarga mereka.
Setelah beberapa hari kemudian, undangan yang mereka pesan selesai dibuat dan mereka segera membagikannya sebelum terbang langsung ke Amsterdam tempat pernikahannya berlangsung.
"Assalamualaikum Clarissa" ucap Davira mengetuk pintu rumah Clarissa.
"Wa'alaikumsalam, eh Davira, ayok masuk" ucap Clarissa membukakan pintu rumahnya.
"Bentar gw ambilkan minuman dulu ya" kata Clarissa yang langsung pergi ke dapur.
"Gak usah repot-repot Clar, gw cuma sebentar doang kok kesini" kata Davira.
"Ada apa Ra?" tanya Clarissa.
"Nih" kata Davira memberikan undangan pernikahannya pada Clarissa.
"Lu mau nikah Ra?" tanya Clarissa.
"Iya Clar, datang ya" kata Davira.
"Oke" kata Clarissa.
"Lu datang sebelum hari pernikahan aja, soalnya lu jadi Bridesmaids gw" kata Davira.
"Asik, jadi Bridesmaids" kata Clarissa tersenyum sembari menepuk tangannya.
"Iya" kata Davira tersenyum.
"Kok Clarissa dan partner sih?, lu kan tahu kalau gw jomblo" kata Clarissa.
"HEHE, ya lu ajak siapa kek gitu nanti" kata Davira.
Hm.
"Lah lu mau nikah di Belanda?, gw kesananya naik apaan Bambang?" tanya Clarissa saat membaca lokasi pernikahan Davira.
"Naik pesawat jetnya Ruri, nanti lu ke Belanda bareng gw aja sama Ruri" ucap Davira.
"Hm, okay" kata Clarissa.
"Woilah kata-kata mutiaranya" kata Clarissa saat membaca undangan pernikahan Davira.
"Ngapa? mantap ya?" tanya Davira tersenyum sembari mengangkat alisnya.
"Mantap sih, tapi kok cinta suci yang tak terpisahkan?, maksudnya gimana?" tanya Clarissa.
"Hm maksudnya itu, kisah cinta kita abadi gitu ya walaupun nantinya amit-amit nih ya, maut memisahkan kita, kita bakal nyatu lagi di surga-Nya Allah SWT, gitu maksud tulisannya, gimana sih lu gitu aja gak paham" kata Davira menjelaskannya dengan emosi.
"Eits...!, santai dong!" kata Clarissa.
Hm!.
"Lu kapan mau ke Belanda nya?" tanya Clarissa.
"Nanti gw wa lu deh, nunggu semua undangan ini tersebar dulu, baru deh kita terbang ke Amsterdam" ucap Davira.
"Hm okay, Ruri mana deh?, kok lu sendirian bagiin undangannya?, ngapa kagak sama si Ruri?" tanya Clarissa.
"Ruri bagiin undangan juga ke rumah temennya" ucap Davira.
"Oh gitu" ucap Clarissa menganggukkan kepalanya.
"Kenapa lu kagak datang sama si Cakra aja deh Clar?" tanya Davira.
"Hah?, apa lu bilang?, gw datang sama si Cakra aja?, Cakra temennya si Ruri maksud lo hah?" tanya Clarissa.
"Iya, Cakra Rayyanza, udah sih lu datang sama dia aja berdua, daripada datang sendiri-sendiri kan?, lagipula juga pasti Ruri ngundang si Cakra, biar lu ada temen ngobrol gitu di pesawat kan mending sama si Cakra aja" ucap Davira.
"Idih ogah!, mendingan gw tidur, daripada harus ngobrol berdua sama si cowok rese itu" ucap Clarissa kesal.
"Ingat lho, benci bisa jadi cinta, jangan terlalu benci sama si Cakra, kalau nanti suami lu si Cakra gimana?, masa lu benci sama suami lu sendiri sih" ucap Davira menggelengkan kepalanya.
"Kalau si Cakra adalah satu-satunya spesies buaya darat di dunia ini, mending gw gak usah nikah, daripada harus punya suami rese kayak dia, ogah banget, yang ada nih ya, nanti kehidupan gw malah tertekan, gak bahagia kalau sampai nikah sama dia" ucap Clarissa.
"Hm, sebenci itukah dirimu terhadap seorang Cakra Rayyanza?" tanya Clarissa.
"Yaps!, kan lu tahu kalau gw benci banget sama si Cakra Rayyanza itu!, harusnya namanya jangan Cakra Rayyanza, nama itu terlalu bagus untuknya" ucap Clarissa.
"Terus seharusnya nama dia siapa?" tanya Davira.
"Ya pokonya jangan Cakra Rayyanza gitu, terlalu bagus asli nama itu untuk dia" ucap Clarissa.
"Jangan gitu lu, nyokap bokapnya nyusun nama dia susah payah, lu malah seenaknya nyuruh dia ganti nama, kayak mau bikinin nasi kuning aja lu, nyuruh-nyuruh anak orang buat ganti nama" ucap Davira.
"Lah dia bikin sendiri lah nasi kuningnya, udah tua bangkotan juga masih aja minta dibikinin, hm, gak mandiri banget deh jadi cowok" ucap Clarissa sinis.
"Udah lah, ngapa jadi ngomongin orang sih lu?, nambah-nambahin dosa aja deh" ucap Davira.
"Lah lu duluan yang bahas Bambang, kenapa jadi gw deh?" tanya Clarissa kesal.
"Ya kan gw cuma menyarankan supaya lu berdua sama si Cakra, kan tujuan gw baik,. biar lu ada temen ngobrol aja di pesawat nanti, gak bengong-bengong sendirian dipojokkan kayak orang gila" ucap Clarissa.
"Sialan kau!, gw cantik begini masa disamakan dengan orang gila sih, hm ngeselin" ucap Clarissa sinis.
"HAHA!, mirip dikit sih Clar" ucap Davira sembari menertawakannya dan mendorong lengan tangan Clarissa.
"Udah sana lu mending balik deh, daripada bikin gw kesel doang lu, husstt... husstt... pergi... pergi.. sana!" ucap Clarissa menarik tangan Davira dan mendorongnya keluar dari dalam rumahnya.
"Lu kata ngusir anak kucing kali ya, iya iya gw balik, gak usah pakai acara diusir segala gitu dong, kan gw hanya memberikan saran biar lu gak kesepian terus" ucap Davira.
"Hm!, makasih banyak ya, tapi gw gak butuh saran dari lu itu, bye!" ucap Clarissa yang langsung menutup pintu rumahnya.
"Lah marah" ucap Davira yang langsung pergi dari rumah Clarissa.