Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Saksi Bisu Kay dan Natasya



Setelah selesai akad, Kay tinggal di rumah Natasya sebelum nantinya menemui keluarganya.


"Kay" panggil ayah Natasya yang saat ini sudah menjadi ayahnya.


"Iya om" ucap Kay.


"Om?, panggil papah dong, kan kamu dan anak saya sudah menikah" ucap ayah Natasya tersenyum.


"Iii-ya pah" ucap Kay terbata-bata.


Evan, Cakra dan Ruri melihat keanehan sikap Kay pun dibuat bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Kay.


"Liat deh, kok Kay kayak gimana gitu ya" ucap Evan.


"Kayak gimana, gimana maksudnya?" tanya Ruri.


"Kayak seolah-olah tuh si Kay baru ketemu sekali sama bokap istrinya, iya gak sih?" tanya Evan.


"Iya juga ya, kayak keliatan beda gitu, kalau udah berapa kali ketemu kan, kayak lebih enjoy aja gitu, tapi kok Kay malah sebaliknya ya?" tanya Ruri menatap bergiliran Evan dan Cakra.


"Apa jangan-jangan, si Kay dipaksa nikah lagi sama mereka" ucap Evan.


"Jangan ngomong kayak gitu, gak baik" ucap Cakra.


"Bukannya gitu Cak, lu liat aja si Kay mukanya kayak orang linglung, kalau emang mereka nikah karena cinta, pasti si Kay seneng dong, gak kayak gitu ekspresi mukanya, dari akad nikah sampai selesai, mukanya si Kay itu kayak ada tekanan gitu, nyadar gak kalian?" tanya Evan menatap bergiliran Ruri dan Cakra.


"Iya juga sih, ekspresi mukanya kayak orang kena tekanan batin ya" ucap Cakra.


"Nah kan, apa gw bilang?, pasti ada yang Kay sembunyikan" ucap Evan.


"Ya udah, samperin aja yuk" ucap Ruri menepuk pundak Evan dan Cakra.


"Ayok" ucap Evan.


"Kay" panggil Cakra.


"Apa?" tanya Kay.


"Lu dipaksa nikah kan sama mereka?, ngaku aja lu, karena daritadi kita liat itu muka lu malah kayak orang bingung, bukan bahagia, seharusnya kan kalau orang nikah itu mukanya sumringah gitu, lah lu malah kayak orang kebingungan nyari alamat palsu" ucap Evan.


"Hm, iya kalian bener, gw sebenernya lagi bingung banget nih" ucap Kay.


"Kenapa?" tanya Evan.


"Kay" panggil Natasya.


"Apa?" tanya Kay menunduk sedih.


"Gw minta maaf ya sama lu, gara-gara gw gak mau nikah sama aki-aki itu, gw jadi ngakuin kalau lu pacar gw, jadi bokap gw nikahin kita, kalau emang lu terpaksa atau merasa tertekan setelah pernikahan kita, lu boleh kok menceraikan gw, karena dari awal kita menikah, tidak di dasari dengan rasa cinta, lu terpaksa menikahi gw, hanya untuk menyelamatkan gw dari pernikahan gw dengan aki-aki itu, gw minta maaf sekali lagi sama lu, gw tau, gw sadar, gw salah, lu mau gak maafin gw?, kalau lu gak mau maafin gw, gak apa-apa kok, gw terima" ucap Natasya meneteskan air matanya.


Kay menghampiri Natasya dan menghapus air matanya.


"Itu sama kali bukan salah kamu, Allah tidak pernah salah dalam memilih takdir, sebelum kita terlahir ke dunia ini, itu sudah tertuliskan oleh-Nya, ya mungkin, ini takdir cinta kita, tulang punggung dan tulang rusuk tidak akan pernah tertukar" ucap Kay tersenyum menghapus air mata Natasya dan mengelus pucuk kepala istrinya.


Natasya yang mendengar perkataan Kay pun dibuat terpesona, begitupun dengan teman-temannya, yang tidak pernah menyangka, jika Kay bisa mengatakan hal itu.


"Jadi kamu mau maafin aku?" tanya Natasya berlinang air mata.


"Iya" ucap Kay tersenyum dan memeluk istrinya.


"Ehem... !, disini ada orang kali bang, gak usah mesra-mesraan depan kita deh, mentang-mentang udah halal" ucap Evan.


"Sorry... !" ucap Kay tertawa kecil meledek teman-temannya.


"Jadi, kamu beneran anggap aku istri kamu?" tanya Natasya.


"Nikah dadakan, cinta dadakan, gw kita tahu bulat doang yang dadakan, eh ternyata si Kay juga serba dadakan" ucap Evan tertawa menggelengkan kepalanya.


"Iya, hidup itu misteri, tidak ada satu pun orang yang mengetahuinya, kecuali Dia, sang Maha Pemilik segala sesuatu yang ada di muka bumi ini" ucap Ruri tersenyum.


"Jadi kita tinggal bertiga nih?" tanya Cakra.


"Setidaknya gw masih ada Ruri, jangan nikah duluan lu, entar gw sendirian lagi" ucap Evan dengan ekspresi sedih memeluk Ruri dan menyandarkan kepalanya di bahu Ruri.


"Idih... !, apaan sih lu?, ngapa peluk-peluk dh?, lu homo?" tanya Ruri mendorong Evan.


"Shia... !, sembarangan aja kalau ngomong lu, masa gw dibilang homo" ucap Evan memalingkan wajahnya dari Ruri.


"Terus kenapa lu peluk-peluk gw hah? kalau bukan homo namanya" ucap Ruri mengangkat alisnya.


"Heh... !, kok jadi pada berantem sih?, udah, udah akh... !" ucap Cakra yang berusaha menenangkan pertengkaran antara Evan dan Ruri.


"Dia duluan tuh, ngapain coba peluk-peluk gw, geli banget deh" ucap Ruri.


"Udah ayok kita balik" ucap Cakra merangkul Ruri dan Evan.


Ruri dan Evan berjalan di selingi dengan tatapan penuh emosi.


"Udah... !" pinta Cakra menatap Evan dan Ruri yang terlihat masih kesal.


"Minta maaf sekarang... !" pinta Cakra.


"Dia duluan lah... !" ucap Ruri.


"Evan, minta maaf sama Ruri kan lu duluan yang peluk dia, sampai bikin dia kesal" ucap Cakra.


"Sorry" ucap Evan yang langsung memalingkan wajahnya dari Ruri.


"Iya" ucap Ruri sinis.


"Hm, ya udah lah" ucap Cakra.


Cakra, Ruri dan Evan kembali ke hotel, sedangkan Kay saat ini tinggal di rumah Natasya istrinya.


"AKH... !, mas tolongin ini nyangkut di rambut aku" ucap Natasya.


"Sini" ucap Kay membantu istrinya melepaskan hiasan kepala yang tersangkut di rambutnya.


"Udah" ucap Kay tersenyum meletakkan itu diatas meja.


"Mas, aku mau mandi dulu ya" ucap Natasya tersenyum.


Kay menarik tangan Natasya hingga Natasya terjatuh ke dalam pelukan Kay.


"Kenapa mas?" tanya Natasya.


"Bareng aja" ucap Kay tersenyum.


"Hah?, bareng, aku malu akh mas" ucap Natasya.


"Malu?, malu kenapa?, kan nanti juga... !" ucap Kay menghentikan perkataannya menatap ke tubuh Natasya menyeringai.


"Akh mas mh, bisa aja deh" ucap Natasya memukul dada Kay tersenyum malu.


Kay pun hanya tertawa melihat tingkah istrinya itu dan Natasya juga ikut tertawa.


Kay menggendong tubuh Natasya seperti bayi kecil ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya. Kay mendorong Natasya ke tembok dan mendekatkan wajahnya ke wajah Natasya. Natasya pun refleks mendorong Kay hingga terjatuh.


"Mas maaf, aku gak sengaja" ucap Natasya membantu Kay berdiri namun Kay malah menarik tangan Natasya hingga terjatuh ke dalam pelukannya, mereka saling menatap satu sama lain dan... !, you know for yourself what the next scene will be for Natasya, HAHA... !