
"Sayang, kita pulang yuk" ajak Ruri.
"Iya mas" ucap Davira menganggukkan kepala.
"Bro, gw balik ya" ucap Ruri menepuk pundak Evan.
"Oke, gw juga mau balik kok" ucap Evan tersenyum kecil.
"Assalamualaikum" ucap Ruri tersenyum.
"Wa'alaikumsalam" jawab Evan.
Ruri menarik tangan Davira pergi dari sana.
Di dalam mobil, Davira menyandarkan kepalanya ke baju Ruri.
"Kamu kenapa hm?" tanya Ruri mengusap kepala Davira.
"Pusing banget mas" ucap Davira.
"Ya udah kamu istirahat dulu aja ya, sini" ucap Ruri menepuk pahanya sendiri.
Davira pun tiduran dengan paha Ruri sebagai bantal kepalanya.
Sesampainya di depan apartemen, Ruri menggendong Davira membawanya masuk ke dalam kamar.
Ruri meletakkan perlahan tubuh Davira di atas ranjang, namun Davira langsung duduk dan ingin melepaskan aksesoris yang menempel di rambutnya.
Ruri yang menyadari akhirnya membantu Davira untuk melepaskannya. Setelah aksesoris yang ada di rambut Davira terlepas, Ruri pergi untuk membelikan obat sakit kepala untuk Davira.
"Sayang, mas tinggal sebentar ya, mau beli obat untuk kamu" ucap Ruri.
"Gak usah mas gak apa-apa kok, paling cuma karena hair spray doang, nanti kalau keramas hilang kok, udah ya, kamu tenang aja" ucap Davira tersenyum sembari memegang tangan Ruri.
"Tapi sayang..." ucap Ruri menghentikan perkataannya.
"Gak apa-apa kok sayang" ucap Davira tersenyum.
"Ya udah kalau kayak gitu, aku beli makanan dulu ya buat kamu" ucap Ruri tersenyum.
"Hm, iya mas" ucap Davira tersenyum.
Ruri pun pergi meninggalkan Davira di dalam kamar untuk membelikannya makanan. Davira pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Ketika Davira selesai mandi, ia keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya tubuhnya yang tertutup oleh handuk, karena ia pikir Ruri sedang keluar membelikan makanan untuk mereka dan tidak ada seseorang di kamarnya, namun ternyata prediksinya itu salah, ada seseorang yang tengah berbaring di atas ranjangnya.
Seseorang itu berdiri dan langsung menarik tangan Davira, satu tangannya memegangi handuk yang ia pakai agar tidak terlepas.
Pria itu membuka masker kainnya, dan ternyata pria itu adalah Davin.
"Davin, ngapain kamu kesini, pergi sana" ucap Davira terkejut dan mendorongnya.
Namun Davin malah melemparkan tubuh Davira hingga terjatuh ke atas ranjangnya.
"Aku yang sudah lama jatuh cinta pada mu, namun kamu malah memilihnya, itu tidak adil Davira Salsabila, bagaimana biar cukup adil, aku akan merelakan kamu dengannya, tapi malam pertama kamu harus dengan ku Davira" bisik Davin dan menyeringai serta mengangkat alisnya.
Davira pun mendorong Davin hingga terpental ke bawah. Davira berlari dari Davin, namun Davin malah memegangi kakinya. Davin terlihat sangat bahagia berada dalam posisi seperti itu, karena ia bisa melihat tubuh Davira dari bawah sana. Davira berusaha melepaskan pegangan tangan Davin dari kakinya.
"Terus saja Davira, berusahalah, semakin kamu berusaha, semakin senang aku melihatnya dari bawah sini" ucap Davin menganggukkan kepala dan menyeringai sembari masih terus memandangi Davira.
Davira yang mengerti perkataan Davin pin segera menginjak tangan Davin dengan kaki yang satunya. Davin mengerang kesakitan karena tangannya di injak oleh Davira dan melepaskan cengkraman tangannya dari kaki Davira yang lain.
Davira pun segera berlari keluar kamar dan bertabrakan oleh Ruri yang membawa kantung plastik berisi makanan. Davin mengejar Davira dan terkejut saat melihat kedatangan Ruri. Davin segera berlari menghindari Ruri.
"Mas" ucap Davira menangis dan langsung memeluk Ruri.
"Hei kamu kenapa sayang?" tanya Ruri.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Davira, Ruri segera menggendong dan membawanya ke dalam kamar.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Ruri mengelus pucuk kepala Davira.
"Mas tadi aku kan lagi mandi ya terus ada orang tiduran di kasur pakai masker kain gitu kan, aku kira kan kamu, eh gak tahunya malah si Davin mas, temen kampus aku" ucap Davira.
"Astagfirullahaladzim, tapi kamu gak di apa-apain kan sayang?" tanya Ruri.
"Alhamdulilah enggak mas" ucap Davira.
"Makanya lain kali kalau kamu mau ke kamar mandi itu pintu kamar dikunci dulu sayang, biar gak ada orang yang masuk ke dalam kamar" ucap Ruri mengelus pucuk kepala Davira.
"Iya mas" ucap Davira menganggukkan kepala.
"Ya udah, kamu makan dulu aja ya, mas mau mandi dulu" ucap Ruri.
"Iya mas" ucap Davira menganggukkan kepala.
Ruri berlari ke depan, dan mengunci pintu kamarnya, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ruri keluar dari dalam kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Kok nasinya belum dimakan sih?, kenapa hm?" tanya Ruri saat melihat kedua bungkus nasi itu masih utuh.
"Gak apa-apa kok mas, aku mau nungguin mas aja" ucap Davira tersenyum.
"Ya udah ayok kita makan" ucap Ruri tersenyum.
"Iya mas" ucap Davira tersenyum.
"Awas ya lu berdua!, tunggu aja pembalasan gw nanti, gw bikin rumah tangga lu berdua hancur sehancur-hancurnya!" gerutu Davin sembari memacu mobilnya dengan kencang.
Davira dan Ruri makan malam bersama dengan nasi bungkus dan di selingi oleh gurauan yang diberikan oleh Ruri.
Setelah selesai makan mereka berdua pun tidur bersama di malam pertamanya sebagai sepasang suami istri yang baru saja melangsungkan pernikahan.
Beralih ke Evan dan Angel, kini mereka berdua tengah asik menonton film horor karena ajakan dari Angel.
"Sayang udahan akh, masa malam pertama kita horor banget sih" ucap Evan.
"Emangnya kenapa?, kan biar beda daripada yang lain, yang lain biasanya kalau malam pertama mesra-mesraan, kita nonton film horor, kalau mau mesra ya tinggal peluk, ribet banget sih kamu, udah akh aku mau lanjut nonton lagi, nanggung lagi seru banget, ikh! itu cowok goblok banget sih!, itu cewek kan bukan manusia tapi kuntilanak merah, ngapain pakai acara di gado-gado-in segala!, mau dijadiin santapan makan malamnya kali ya tuh cowok!" gerutu Angel saat menonton film kuntilanak merah di televisi.
Evan yang melihat kelakuan Angel pun menghela nafas panjang. Malam pertama yang ia harapkan malah tertunda karena Angel asik menonton film setan di televisi.
"Tadi kalau tahu kayak gitu, gw gak usah ya cepat-cepat berharap pesta pernikahannya selesai hm" batin Evan sembari menatap Angel yang tengah asik berbicara sendiri menonton film setan.
Evan pun akhirnya dengan sangat amat terpaksa menonton juga film setan yang tengah Angel tonton.
Beberapa jam kemudian film itu pun selesai.
"Udah akh mas matiin film nya udah habis tuh, aku ngantuk" ucap Angel sembari menguap.
"Iya sayang" ucap Evan.
Evan pun langsung dengan sigap memulai malam pertamanya yang sempat tertunda oleh film kuntilanak merah yang ingin Angel tonton tadi.