
"Hm, kebiasaan, kalau ditolongin bukannya bilang terima kasih dulu malah langsung pergi, dasar cewek sengklek" ucap Cakra menggelengkan kepala.
"Udah lah gw balik aja mending" ucap Cakra.
"Clar, lu gak apa-apa kan?" tanya Davira yang langsung menghampirinya.
"Gak apa-apa kok" ucap Clarissa.
"Lu kenapa Clar?, kok muka lu kayak orang lagi kesel gitu deh, ada apa?" tanya Davira.
"Lu tahu gak?" tanya Clarissa.
"Ya gak tau lah, kan lu belum ngomong" ucap Davira.
"Sabar, gw belum selesai ngomong, main potong-potong aja sih lu" ucap Clarissa.
"HEHE, sorry" ucap Davira menggaruk kepalanya menunduk malu.
"Hm, jadi gini, cowok yang tadi nabrak gw terus langsung gendong gw, bawa gw pergi, itu ternyata si cowok rese" ucap Clarissa.
"Hah?, cowok rese?, siapa deh?" tanya Davira.
"Temennya doi lu si Ruri" ucap Clarissa.
"Cakra?" tanya Davira.
"Iya, si Cakra, gw kira mh siapa ya, ada cowok tampan yang gendong gw, eh ternyata si cowok rese itu" ucap Clarissa.
"Tapi dia tampan lho, mirip banget Kim Taehyung" ucap Clarissa.
"Iya sih, gw akui memang dia tampan tapi kelakuannya kayak apaan tau" ucap Clarissa.
"Apa?, gw gak salah denger nih?, lu bilang si Cakra itu tampan, wihh... !, kayaknya benih-benih cinta sudah mulai tumbuh nih" ucap Davira menyenggol lengan Clarissa sembari tersenyum meledeknya.
"Hah?, apa?, cinta?, jangan ngawur deh lu" ucap Clarissa menunjuk Davira kesal.
"Akui saja bestie, jika kau sudah mulai mencintainya" ucap Davira memegang dagu Clarissa tersenyum meledeknya.
"Udah ayok balik akh, kaki gw sakit banget nih" ucap Clarissa.
"Kenapa kaki lu?" tanya Davira.
"Tadi dijatuhin kan sama si cowok rese itu" ucap Clarissa memegangi lutut dan pinggulnya.
"Jiah... !, dia pelukan lagi dong" ucap Davira tersenyum mengangkat alisnya.
"Pelukan tidak ikhlas, bukannya nyaman malah sakit badan gw dijatuhin sama dia" ucap Clarissa.
"Yang penting kan hangat" ucap Davira menyeringai mengangkat alisnya.
"Berendam di air panas kan juga sama-sama hangat, ngapain harus pelukan dulu, apalagi sama si cowok rese itu" ucap Clarissa.
"Bibir berkata tidak mencintai sedikit pun, sikap seolah membenci, tapi aku tahu, jika di dalam lubuk hati mu yang paling dalam itu bersemayam nama Cakra Rayyanza yang bertahta di kerajaan cinta mu itu" ucap Davira tersenyum.
" Raja?, raja apaan dia?, sok tahu lu... !" ucap Clarissa.
"Malaikat cinta mu" ucap Davira menyeringai mengangkat alisnya.
"Malaikat pencabut nyawa sepertinya mungkin, kalau malaikat cinta tidak, sebutan itu bahkan terlalu bagus untuknya" ucap Clarissa menyeringai dan memalingkan wajahnya dari Davira.
"Jangan gitu lu, kita lihat saja nantinya takdir akan memperlihatkan rasa cintamu untuknya itu" ucap Davira menyeringai mengangkat alisnya dan menyenggol lengan Clarissa.
"Bodoamat... !, bodoamat... !" ucap Clarissa memalingkan wajahnya dari Davira.
"Ketika cinta bertasbih, nadiku berdenyut merdu, kembang kempis dadaku, merangkai butir cinta, garis tangan tergambar, tak bisa aku menentang, sujud syukur pada-Mu, atas segala cinta" Davira bernyanyi dan tersenyum memegang dagu Clarissa.
"Jangan nyanyi... !, suara lu kagak enak Ra, kalau mau nyanyi di pengkolan aja sama" ucap Clarissa.
"Gitu amat lu sama gw, tau deh yang lagi jatuh cinta" ucap Davira tersenyum memegang dagu Clarissa.
"Terserah lu aja deh... !, percuma juga kan ngomong sama lu, lu aj gak bisa ngertiin gw... !" ucap Clarissa kesal dan pergi meninggalkannya.
"Lah gw ditinggalin, tadi kalau gitu gak gw ikutin dia tuh, biarin aja di slebew sama cowok yang gak tahunya Cakra itu" ucap Davira dan pergi mengejar kepergian Clarissa.
"Clarissa tunggu dong" ucap Davira berlari mengejarnya.
Clarissa hanya menoleh sejenak Davira dan terus berjalan tanpa menunggunya. Ketika jarak mereka hampir dekat, Davira meraih tangan Clarissa, Clarissa hanya menatapnya sekilas dan terus berjalan namun Davira masih terus memegangi tangan Clarissa yang terlihat sangat marah itu kepada Davira.
Clarissa hanya menatapnya sekilas.
"Clar, maafin gw, iya gw tau, gw salah, maafin gw ya" ucap Davira tersenyum di depan wajah Clarissa.
"Iya" ucap Clarissa menjauhkan wajah Davira dari wajahnya itu.
"Assalamualaikum" ucap Cakra yang langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Wa'alaikumsalam" ucap Evan dan Kay kompak.
"Ngapa lu?" tanya Evan.
"Tadi gw ketemu sama si cewek sengklek itu lagi dijalan, gw gak sengaja nyerempet tangannya sampai dia jatuh, pas gw bawa ke klinik eh dia malah marah-marah" ucap Cakra.
"Fix, gw yakin 1000%, kalau Clarissa itu jodoh lu" ucap Evan.
"Iya sih fix, gw juga yakin, kalau sebenarnya mereka itu berjodoh" ucap Kay.
"Iya, bener banget, soalnya kan udah banyak banget tanda-tandanya, kalau jodoh kan katanya sering ketemu tanpa sengaja di jalan, lah mereka ketemu terus dijalan, iya kan?, apalagi coba namanya kalau bukan pertanda jodoh dari yang maha Kuasa" ucap Evan.
"Tidak, sekali tidak, tetap tidak, apakah anda mengerti?" tanya Cakra.
"Tidak" timpal Kay.
"Akh masa sih?" tanya Evan menyenggol lengan Cakra.
"Iya" ucap Cakra menganggukkan kepala.
"Kalau dilihat-lihat padahal itu cewek, cantik banget lho, kenapa sih lu kagak mau sama dia?" tanya Kay.
"Iya sih cantik, tapi sengklek otaknya" ucap Cakra.
"Uwihh... !, sepertinya ada yang mulai jatuh cinta pada musuh bebuyutan nih" ucap Evan tersenyum menyenggol lengan Cakra.
"Iyuh... !, itu tidak akan pernah terjadi, kenapa sih lu pada tuh asik banget menjodohkan gw sama si cewek sengklek itu?" tanya Cakra.
"Karena kalian merupakan sepasang manusia yang sangat cocok untuk bersatu" ucap Evan tersenyum.
"Sepasang manusia dong... !" ucap Kay tertawa.
"Lah, si Cakra sama si Clarissa itu apa deh masuknya?, manusia kan?, lah berarti bener dong apa yang gw bilang?" tanya Evan mengangkat alisnya.
"Terserah lu aja lah Van" ucap Kay.
"Kenapa sih kalian jadi menyebalkan juga kayak si cewek sengklek itu?" tanya Cakra kesal menutup wajahnya dengan selimut.
"HAHA" Kay dan Evan kompak tertawa dan saling menatap satu sama lain.
"Gak denger... !" ucap Cakra menutupi telinganya dengan selimut dan menutup matanya.
"Gw demen banget lu gudeg beneran" ucap Evan.
"Lu lapar Van?" tanya Cakra.
"HEHE, iya, cari makanan yuk" ajak Evan.
"Ayok lah" ucap Kay.
"Cak, gw sama Evan mau beli makanan dulu, lu mau nitip kagak?" tanya Kay.
"Kagak" ucap Cakra.
"Yowes, assalamualaikum" ucap Kay.
"Wa'alaikumsalam" ucap Cakra.
"Pengen gudeg gw, di sekitar sini ada kagak ya?" tanya Evan.
"Mana gw tahu, emang gw ana penjual gudegnya apa, sampai lu nanya sama gw" ucap Kay.
"Ya gak gitu juga kali, ya kali aja gitu lu pernah liat tukang gudeg di dekat sini" ucap Evan.
"Oh gitu, enggak pernah liat sih gw" ucap Kay.