Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Persiapan Sebelum Lamaran



"Rapih banget lu, mau kemana?" tanya Evan pada Ruri.


"Mau cari cincin buat ngelamar Davira" ucap Ruri mengangkat alisnya.


"Uwih... !, gercep ya bund" ucap Evan.


"Iya lah, daripada keburu diambil orang" ucap Ruri mengangkat alisnya.


"Bilang aja lu mau cepet-cepet misekakunoi kan?" tanya Evan menyeringai mengangkat alisnya.


"Astagfirullahaladzim, kok tahu sih" ucap Ruri tertawa kecil.


"Tau dong" ucap Evan menyeringai mengangkat alisnya.


"Misekakunoi apaan deh?" tanya Cakra.


Evan dan Ruri yang mendengarnya pun saling menatap satu sama lain kebingungan.


"Aaa... misekakunoi is..." ucap Ruri menghentikan perkataannya.


"Jub-jub na" lanjut Evan.


"Hah?, apaan lagi itu?" tanya Cakra kebingungan.


"Lupakan saja bestie, itu tidak penting" ucap Ruri menepuk pundak Cakra.


"Hm, oke" ucap Cakra.


"Udah akh, gw jalan dulu, assalamualaikum" ucap Ruri melambaikan tangan pada teman-temannya.


"Wa'alaikumsalam" ucap Cakra dan Evan kompak.


"Jangan lupa entar malem kita tanding" ucap Evan.


"Jam berapa deh?" tanya Ruri.


"Jam 11 shay" ucap Evan.


"Oke" ucap Ruri.


"Lu udah kasih tau si Kay belum?" tanya Cakra.


"Oh iya lupa" ucap Evan menepuk keningnya.


"Ya udah akh gw mau cari cincin dulu, assalamualaikum" ucap Ruri.


"Oke, wa'alaikumsalam" ucap Evan.


"Wa'alaikumsalam" ucap Cakra.


"Mbak, cincin emas 24 yang mana ya?" tanya Ruri pada penjual emas.


"Yang berapa gram mas?" tanya penjual emas.


"10 gram yang mana mbak?" tanya Ruri.


"10 gram yang ini mas" ucap penjual emas menunjuk beberapa deret cincin.


"Coba liat yang ini mbak" ucap Ruri menunjuk salah satu cincin.


"Yang ini mas?" tanya penjual emas memegang salah satu cincin.


"Iya mbak" ucap Ruri.


"Ini mas" ucap penjual emas memberikan cincin itu pada Ruri.


"Mbak, boleh tolong dipakai gak?, karena sepertinya jari mbak sama seperti jari gebetan saya" ucap Ruri memberikan cincin yang ia pegang.


"Baik mas" ucap penjual memakai cincin yang Ruri pegang.


"Hm, kayaknya kurang deh, kalau buat ngelamar gebetan saya, ada cincin berlian gak mbak?" tanya Ruri.


"Ada mas" ucap penjual.


"Boleh saya liat?" tanya Ruri.


"Tunggu sebentar ya mas, biar saya carikan dulu cincin berliannya" ucap penjual tersenyum.


"Okay" ucap Ruri.


"Mas, ini cincin berliannya" ucap penjual memberikan cincin kepada Ruri.


"Hm, bagus juga, coba tolong dipakai mbak" ucap Ruri.


"Baik mas" ucap penjual memakai cincin yang Ruri pegang.


"Coba jarinya luruskan mbak, saya mau lihat cincinnya" ucap Ruri meluruskan jari tangannya.


Penjual cincin pun meluruskan cincinnya, dan Ruri mendekatkan wajahnya.


"Bagus mbak, kalau yang mbak pakai berapa harganya?" tanya Ruri.


"Kalau yang ini harganya 25 juta mas" ucap penjual tersenyum.


"Ada sepasang gak?" tanya Ruri.


"Ada mas" ucap penjual tersenyum.


"Liat mbak cincin cowoknya kayak gimana" ucap Ruri.


"Sebentar ya mas, saya ambilkan dulu cincinnya" ucap penjual tersenyum.


"Okay" ucap Ruri.


"Ini mas pasangannya" ucap penjual.


"Ya udah saya mau ini sepasang ya mbak" ucap Ruri melepaskan cincin yang ia pakai.


"Baik mas, saya ambilkan kotak cincinnya dulu" ucap penjual tersenyum.


"Jadinya 50 juta mas" ucap penjual tersenyum memberikan satu kotak besar berisikan 2 cincin berlian pilihan Ruri.


"Bisa debit kan mbak?" tanya Ruri.


"Bisa mas" ucap penjual tersenyum.


"Ini mbak" ucap Ruri memberikan ATM dia pada penjual.


"Pin rekeningnya mas" ucap penjual.


Ruri mengetik pin rekeningnya.


"Ini ATM nya mas" ucap penjual tersenyum memberikan kartu ATM Ruri.


"Makasih mbak" ucap Ruri tersenyum.


"Semoga lamarannya diterima ya mas, dan semoga hubungan mas sama mbak nya langgeng ya, sampai kakek nenek" ucap penjual tersenyum.


"Aamiin, makasih mbak atas doanya, semoga dagangan mbak laris ya, aamiin" ucap Ruri tersenyum.


"Aamiin, sama-sama mas" ucap penjual tersenyum.


"Saya permisi ya mbak" ucap Ruri tersenyum.


"Silakan mas" ucap penjual tersenyum.


Setelah selesai ia kembali dengan senyum sumringah di wajahnya. Ruri meletakkan kotak cincinnya di dalam jok motornya.


"Assalamualaikum" ucap Ruri mengetuk dan langsung masuk ke dalam kamar.


"Wa'alaikumsalam, wih, bahagia banget muka lu, ada apa?" tanya Evan.


"Gw habis beli cincin berlian sepasang buat ngelamar Davira" ucap Ruri tersenyum.


"Wih mantap!, berlian gak tuh, banyak duit lu" ucap Evan tersenyum mengangkat alisnya.


"Aamiin" ucap Ruri tersenyum.


"Coba liat dong cincinnya" ucap Cakra.


Ruri pun membuka kotak cincin itu, memperlihatkannya pada Cakra dan Evan yang kepo pun mendekat.


"Wih!, bagus banget cincinnya!, berapa sepasang?" tanya Cakra.


"50 juta" ucap Ruri tersenyum.


"Hah?, 50 juta?, mahal banget" ucap Evan dan Cakra kompak terkejut.


"Ya kan ini cincin berlian, satu cincinnya itu 25 juta, ya kalau sepasang kena 50 juta" ucap Ruri.


"Hm, mantap betul harganya, semoga lu gak ditolak ya sama Davira, kalau sampai lu ditolak sama si Davira, rugi lu, udah ngeluarin budget banyak buat beli cincin, booking tempat pula" ucap Evan.


"Aamiin ya Allah, kan kalau buat cewek yang kita cinta mh jangan nanggung-nanggung kali Van, kan cewek suka sama cowok yang royal" ucap Ruri tersenyum mengangkat alisnya.


"Hm, iya sih" ucap Evan.


"Nanti malam gw pakai baju apa ya?, baju gw dirumah semua lagi" ucap Ruri.


"Beli baju aja sana daripada ribet harus balik dulu ke rumah" ucap Cakra.


"Oke, titip cincinnya ya, assalamualaikum" ucap Ruri yang langsung pergi meninggalkan Cakra dan Evan.


"Niat banget tuh orang sampai beli baju baru segala" ucap Evan.


"Udah lah Van biarin, namanya juga orang lagi bucin, susah kalau udah bucin mh, biarin aja, yang penting seneng dia" ucap Cakra tersenyum menepuk pundak Evan.


"Iya sih" ucap Evan.


"Ya udah gw mau beli makanan ya, lapar banget nih perut gw" ucap Cakra memegangi perutnya.


"Jam berapa sih emang?" tanya Evan.


"Udah mau jam 10, belum sarapan, lapar" ucap Cakra.


"Lah kok cepet banget ya jam?, perasaan tadi kita baru mabar deh" ucap Evan menggaruk kepalanya kebingungan.


"Akh udah lah bodoamat, gw lapar mau cari makanan, assalamualaikum" ucap Cakra yang langsung pergi meninggalkan Evan.


"Wa'alaikumsalam, eh gw ikut lah, lapar juga, masa gw ditinggal sih" ucap Evan berlari mengejar kepergian Cakra.


"Cincinnya di Ruri gimana?" tanya Cakra.


"Tinggal aja udah lah, umpetin dimana kek, terus kunci pintunya, ribet banget deh lu" ucap Evan.


"Ya udah umpetin sana buruan" ucap Cakra.


"Iya, tapi gw jangan ditinggalin, awas aja kalau sampai gw ditinggalin" ucap Evan.


"Kagak, udah cepetan sana" ucap Cakra.


Evan kembali ke kamarnya, menyembunyikan kotak cincin Ruri di dalam lemari kamarnya dan menutupnya dengan beberapa baju lalu mengunci lemarinya serta pintu kamarnya.


"Udah di umpetin belum?" tanya Cakra.


"Udah, aman, ayok kita cari makanan" ucap Evan tersenyum.


"Ya udah ayok" ucap Cakra.


Cakra dan Evan pun pergi keluar hotel untuk mencari makanan.