Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Nikah Dadakan



"Temenin gw cari gudeg yuk" pinta Evan.


"Lah lu ngidam beneran Van?" tanya Kay.


"Haduh, iya nih kayaknya" ucap Evan mengelus-elus perutnya sendiri.


"Hamil sama siapa lu?" tanya Kay.


"Eh saraleo... !, gw kan cowok, lu kira gw cewek apa bisa hamil?" tanya Evan mengangkat alisnya.


"HAHAHA... !, lagian perut di elus-elus, udah kayak lagi hamil aja deh" ucap Kay.


"Lah kok lu tau Kay, kalau lagi hamil cewek suka ngelus perutnya sendiri, tau darimana lu?, apa jangan-jangan, lu pernah ngehamilin anak orang ya?, ngaku lu... !" ucap Evan menunjuk.


"Enggak, kalau ngawinin anak orang pernah" ucap Kay tertawa kecil.


"Shia... !, berapa banyak yang lu kawinin?" tanya Evan.


"Hm, ratusan... !" ucap Kay tertawa kecil.


"Shia... !, are you serious?" tanya Evan.


"Yes baby" ucap Kay.


"Shia... !" ucap Evan.


"Kagak eh, bercanda, gak sampai ratusan kok, paling ya 10 kurang sih atau lebih gw lupa, tapi yang pasti gak sampai ratusan" ucap Kay.


"Ampun suhu... !" ucap Evan bertekuk lutut di hadapan Kay.


"Akh, apaan sih lu, kayak gak pernah kawin sama anak orang aja deh" ucap Kay.


"Ya pernah sih emang gw akuin" ucap Evan menggaruk kepalanya.


" Ya udah, sama aja dong, sama gw" ucap Kay mengangkat alisnya.


"Iya sih" ucap Evan menggaruk kepalanya dan menunduk malu.


"Gimana?" tanya Kay menyeringai mengangkat alisnya.


"Gimana apanya?" tanya Evan.


"Itu yang tadi" ucap Kay menyeringai mengangkat alisnya.


"Apaan yang tadi hah?, gudeg?" tanya Evan.


"Bukan, tapi yang kawin, gimana?, kawin sama siapa aja lu?, ada lima gak?" tanya Kay menyeringai mengangkat alisnya.


"Akh, gak jelas lu, mending gw nyari gudeg" ucap Evan yang langsung pergi meninggalkan Kay.


"Yah, gw ditinggal, kebiasaan lu, kalau diajak ngobrol bukan dijawab, eh malah gw ditinggal, hm, gak elu, gak si Cakra, kagak si Ruri sama aja doyan ninggalin gw pas ngobrol hm" ucap Kay bete.


Kay pun keluar kamarnya, tidak mengejar kepergian Evan.


Kay mengitari jalan seperti orang yang sedang mencari alamat. Ketik berjalan di pinggir jalan layang yang dibawahnya terdapat sungai dengan arus yang kencang, ia bertemu dengan seorang wanita yang berniat untuk bunuh diri ke bawah sungai itu.


"Jangan" teriak Kay dan berlari kemudian menahan kaki sang wanita agar tidak terjatuh.


"Lepaskan mas... !" teriak wanita itu.


"Itu kayak mbak resepsionis yang kemarin deh?" batin Kay bertanya-tanya saat melihat wajah wanita itu.


Kay berusaha menurunkan sang wanita dari atas sana.


"Mbak mau ngapain hah?, mau bunuh diri?" tanya Kay.


"Kalau iya kenapa?, apa hubungannya dengan mas?" tanya wanita itu.


"Mbak enggak kasian emangnya sama keluarga mbak?, kalau mbak bunuh diri mereka pasti sedih mbak, masih ada cara lain mbak, untuk memecahkan suatu masalah, dan yang pasti, bukan dengan cara bunuh diri" ucap Kay tersenyum.


"Mas yang waktu itu di hotel pegang-pegang saya kan?" tanya wanita itu.


"Sorry mbak, saya gak bermaksud kurang ajar sama mbak, saya cuma mau kenalan aja kok sama mbak, oh iya, nama saya Kay" ucap Kay tersenyum mengulurkan tangannya.


"Natasya" ucap wanita itu tersenyum.


"Emangnya kamu ada masalah apa? sampai mau bunuh diri kayak gitu" ucap Kay.


"Aku di paksa menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai oleh papah ku, hanya karena bisnis semata" ucap Natasya menunduk.


"Kamu udah coba bilang sama papah kamu belum?, kalau kamu tidak mau menikah dengan laki-laki pilihan papah kamu itu, karena kamu tidak pernah mencintainya" ucap Kay.


"Udah, tapi itu semua percuma, dan hari ini aku harus menikah dengan dia, makanya aku kabur dan ingin mengakhiri hidup ku saja, agar aku tidak pernah menikah dengannya" ucap Natasya berlinang air mata.


"Pantas saja dia pakai baju pengantin, rupanya dia kabur dari acara pernikahannya" batin Kay.


"Natasya" panggil ayahnya beserta anak buah ayahnya mengejar Natasya.


Natasya yang ingin berlari pun menghentikan langkahnya, karena Kay memegang tangannya.


"Natasya, ayok pulang, hari ini kamu harus menikah dengan Dani" ucap ayahnya.


"Aku tidak mau menikah dengannya pah, aku tidak pernah mencintainya, dan aku tidak ingin menyakiti hati kekasih ku pah" ucap Natasya memegang erat tangan Kay.


"Dia kekasih mu?" tanya ayahnya menunjuk Kay.


"Siapa nama kamu?" tanya ayah Natasya.


"Kay om" ucap Kay tersenyum.


"Kerja apa kamu?, apa kamu orang berada atau tidak?, saya tidak ingin anak saya menikah dengan laki-laki di bawah levelnya" ucap ayah Natasya.


"Saat ini, saya memang belum bekerja om, karena saya masih kuliah dan saya adalah anak tunggal sekaligus penerus perusahaan papah saya, jadi setelah lulus kuliah nanti, saya tidak perlu bekerja lagi, hanya tinggal meneruskan perusahaan papah saya saja" ucap Kay tersenyum.


"Oh jadi rupanya dia orang kaya, pantas saja menginap di hotel dalam waktu yang lumayan lama" batin Natasya.


"WOW... !, ya sudah kalau begitu, kamu ikut saya, ayok Natasya" ucap ayahnya.


"Kemana pah?, mau ngapain?" tanya Natasya.


"Kamu tidak ingin menikah dengan Dani kan?" tanya ayahnya.


"Tidak pah, aku tidak ingin menikah dengannya" ucap Natasya.


"Maka dari itu, kamu harus menikah dengan Kay hari ini juga, agar papah tidak malu dengan para tamu undangan, untuk Dani, biar papah yang akan mengurusnya" ucap ayahnya.


"Hah?, nikah?, gini banget deh perjalanan cinta gw, masa gw harus nikah secepat ini sih, kan gw juga baru banget kenalan sama dia, masa udah langsung nikah aja sih?, kalau sampai Evan, Ruri, sama Cakra tahu kalau gw nikah tanpa ngundang mereka, gimana?, bisa habis nanti gw" batin Kay.


"Om, saya boleh minta izin kabarin teman-teman saya dulu gak?, karena saya disini sama teman-teman saya, menginap di hotel yang sama, kalau langsung menikah tanpa mengundang mereka, saya gak enak om" ucap Kay.


"Oke silakan" ucap ayah Natasya.


"Haduh angkat dong" ucap Kay panik.


"Halo guys, assalamualaikum" ucap Kay panik.


"Wa'alaikumsalam, kenapa lu?" tanya Ruri.


"Hari ini gw nikah" ucap Kay.


"Hah?" tanya teman-temannya kompak terkejut.


"Udah nanti gw ceritain semuanya, kalian datang ya, ke alamat yang gw kirim nnti di chat, oke?" tanya Kay.


"Iya, oke" ucap Evan.


"Dani, maaf, Natasya tidak bisa menikah dengan kamu, karena ia telah memiliki kekasih, yang pastinya jauh lebih baik dari kamu" ucap ayah Natasya.


"Jadi Natasya mau dinikahin sama dia?, pantesan aja gak mau, udah ubanan ternyata" batin Kay.


"Lho om, gak bisa kayak gini dong" ucap Dani.


"Bawa dia pergi" ucap ayah Natasya pada anak buahnya.


Anak buah Natasya membawa Dani pergi dari sana. Tata rias mulai mendandani Kay hingga terlihat sangat tampan.


"Sebentar ya, para tamu undangan, pak penghulu, pengantin pria sedang di dandani" ucap ayah Natasya.


Natasya duduk di bangku pengantin menunggu kedatangan Kay.


"Sebenernya sih gw gak ada rasa juga sama tuh cowok, tapi, daripada gw harus nikah sama aki-aki kayak Dani mending sama si Kay sih, kayaknya kita seumuran deh?, hm, ya udah lah, yang penting gak jadi nikah sama aki-aki" batin Natasya.


"Ini alamat yang dikirim sama si Kay" ucap Ruri.


"Kok Kay nikah kagak bilang-bilang ya, dadakan banget nikahnya, pa jangan-jangan ceweknya hamil diluar nikah lagi" ucap Evan.


"HUST... !, jangan ngomong kayak gitu, gak enak nanti di dengar para tamu undangan, kasian calon istrinya Kay, udah ayok masuk aja" ucap Cakra.


"Hm, iya" ucap Evan.


Kay menuruni satu persatu anak tangga, para tamu undangan menatap Kay tak berkedip begitu pun teman-temannya dan juga Natasya.


"Ternyata si Kay ganteng juga ya, akh, akhirnya punya suami ganteng, kaya pula, gak apa-apa deh walaupun gak cinta, yang penting ganteng dan gak bau tanah" ucap Clarissa pelan dan tersenyum menatap Kay.


"Si Kay, kok jadi ganteng dh" ucap Evan.


"Lah iya tuh, kok jadi cakep ya tuh orang?, aneh" ucap Ruri.


"HUST... !, jangan gitu... !, dia kan sahabat kita jangan gitu sama sahabat sendiri" ucap Cakra pelan.


Kay duduk di samping Natasya dan penghulu mulai memberitahukan apa saja yang harus dibaca oleh ayah Natasya.


"Saya nikahkan dan kawinkan, putri saya Natasya Claudia binti Arsyaf Narendra dengan mas kawin berupa uang tunai 100 juta rupiah dibayar tunai" ucap ayah Natasya.


"Banyak banget mas kawinnya" ucap Evan.


"Y kan, emang si Kay anak orang kaya, dia aja sok-sok miskin" ucap Ruri.


"Iya juga sih" ucap Evan.


"Saya terima nikahnya, Natasya Claudia binti Arsyaf Narendra dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai" ucap Kay.


"Bagaimana para saksi?, sah?" tanya penghulu.


"Sah" ucap para saksi dan tamu undangan kompak.


Selesai akad nikah, Kay berdiri mengambil cincin dan bertekuk lutut untuk memasangkan cincin pernikahannya di jari manis Natasya. Natasya tersipu malu yang membuat para tamu undangan turut hanyut terbawa perasaan. Natasya memasangkan cincin di jari manis Kay dan mencium punggung tangan suaminya itu. Setelah pemasangan cincin, Natasya dan Kay foto bersama kemudian mereka berfoto dengan Cakra, Ruri dan Evan para sahabat Kay yang selalu setia menemaninya.