
"Aku pulang aja deh, jemput papah, kan nanti malam mau ngelamar Davira" ucap Ruri.
Ruri pun menuju rumahnya dengan menggunakan mobil porsche yang ia bawa.
"Assalamualaikum pah" ucap Ruri saat tiba di rumahnya.
"Pah, papah, ini Ruri pah" ucap Ruri.
"Kok gak ada orang?, papah gak ada dirumah?, bibi juga gak ada?, akh masa gak ada sih?, eh ini pintunya gak dikunci, tumben banget deh papah kelupaan mengunci pintunya" ucap Ruri yang langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum pah, papah" ucap Ruri celingukan mencari keberadaan ayahnya.
Ketika sedang mencari keberadaan ayahnya, ia mendengar suara teriakan ayahnya bersamaan dengan suara teriakan seorang wanita. Ruri langsung pergi ke kamar ayahnya. Ruri menguping diluar kamar ayahnya dan membuka perlahan pintu kamarnya. Ruri terkejut melihat ayahnya sedang bersama seorang wanita didalamnya. Saat Ruri membuka pintu, hal itu disadari oleh ayahnya, Ruri yang melihat ayahnya langsung pergi meninggalkannya, ayahnya yang melihat pun merapihkan pakaiannya dan pergi mengejar kepergian Ruri.
Ruri tidak menyangka jika hari yang seharusnya menjadi hari yang sangat membahagiakan untuknya, karena ingin melamar Davira, namun malah menjadi hari yang sangat menyakitkan untuknya, ketika melihat ayahnya tengah bermesraan dengan seorang wanita didalam kamarnya.
"Ruri tunggu, papah bisa jelaskan semuanya, dengarkan penjelasan papah dulu nak" ucap ayahnya.
"Apalagi yang perlu dijelaskan pah?, semuanya sudah sangat jelas pah, papah mau coba bohongin Ruri hah?, Ruri udah gede pah, Ruri mengerti semuanya, papah bermesraan sama wanita ****** itu?, apa yang perlu dijelaskan lagi pah?" tanya Ruri berlinang air mata menunjuk wanita yang tadi bermesraan dengan ayahnya.
"Jaga omongan kamu ya Ruri" ucap ayahnya yang langsung menampar wajah Ruri.
"WOW!" ucap Ruri sembari menepuk tangan 3 kali menatap ayahnya dan wanita itu secara bergantian.
"Ternyata ****** itu lebih berharga ya dimata papah daripada Ruri?, GOOD!, bagus pah!, bagus!, selamat ya ******!, berhasil menjadi nyonya Sambara" ucap Ruri yang langsung bersalaman dengan wanita itu menatapnya tidak percaya.
"Ruri!, jaga omongan kamu!" bentak ayahnya.
"Tadinya Ruri pulang ke rumah, mau ajak papah untuk ngelamar Davira, wanita yang aku cintai, tapi sayangnya ****** ini merusak semuanya!, seharusnya hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan untuk aku karena akan melamar wanita yang aku cintai, tapi ternyata hari ini malah menjadi hari yang paling menyakitkan untuk aku, dan apa papah tahu?, ini semua karena ulah papah dan dia!, tapi papah malah lebih membela wanita itu dibandingkan aku?, BAGUS PAH---BAGUS!" ucap Ruri menepuk tangannya menatap wanita itu dan menatap ayahnya dengan berlinang air mata.
Ruri langsung pergi dari sana memacu mobilnya dengan kecepatan penuh dan berhenti di pinggir jalan layang. Ruri menangis sejadi-jadinya, berteriak kencang dan mengacak-acak rambutnya. Ruri yang mendengar suara adzan langsung tersadar dan pergi dari sana. Ruri pergi ke musholla terdekat untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Ruri menghapus air matanya dan mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat berjamaah.
Ruri mencurahkan segala isi hati dan pikirannya kepada Allah SWT untuk menenangkan hatinya dan kemudian membaca ayat suci Al-Quran di aplikasi yang ada di ponselnya. Setelah membaca 36 ayat terakhir surah Al-Baqarah dan beberapa surat pendek, Ruri kembali ke rumah Kay.
"Assalamualaikum" ucap Ruri ketika sampai di rumah Kay.
"Wa'alaikumsalam" ucap Kay, Tasya, Cakra, dan Evan kompak.
"Kenapa lu?, kusut banget muka lu" ucap Cakra.
"Iya, kenapa lu?" tanya Kay.
"Gak apa-apa kok, udah lah gak usah dibahas lagi" ucap Ruri.
"Hm, okay" ucap Kay.
"Evan mana?" tanya Ruri.
"Evan balik ke rumah orangtuanya" ucap Cakra.
"Ngapain?" tanya Ruri.
"Kan kemarin dia bilang, kalau nanti malam dia mau ngelamar doi nya, lah lu juga bukannya udah janjian sama di Evan mau ngelamar bareng ya?, gak jadi?" tanya Cakra.
"Enggak Cak" ucap Ruri dengan suara pelan.
"Kenapa deh?, ada satu problem?" tanya Cakra.
"Hm, iya Cak" ucap Ruri dengan suara pelan.
"Ada masalah apa?" tanya Cakra.
"Masalah keluarga Cak, bokap gw gak ada dirumah tadi, udah jauh-jauh gw kesana malah gak ada orang, sepi banget rumah gw tadi malah pintunya kagak dikunci lagi" ucap Ruri.
"Iya" ucap Ruri.
"Emang gak takut kemalingan apa?" tanya Cakra.
"Enggak kok, tenang aja, aman disana, lagipula kalau ilang tinggal beli lagi kan" ucap Ruri.
"Enteng sekali mulut anda wahai anak muda" ucap Kay.
"Gw kaya gak apa-apa tinggal beli lagi aja" ucap Ruri.
"Asik, beliin lah" ucap Cakra.
"Beliin apaan?" tanya Ruri.
"Handphone baru, handphone gw udah pada retak tuh liat, udah lemot banget, sering eror" ucap Cakra.
"Astaga Cakra!, kalau minta gak main-main ya, langsung minta handphone gak tuh hm!" ucap Kay.
"Lah kan tadi si Ruri nanya" ucap Cakra menunjuk Ruri.
"Mau hp apa?" tanya Ruri dengan suara lemah.
"Promax lah" ucap Cakra mengedipkan matanya dan mengangkat alisnya pada Ruri.
"Ya udah entar aja, gampang itu mh, gw lagi gak mood, atau mau beli sendiri?, nih dompet gw bawa sana, pin ATM ada di dompet, jangan ganggu gw mau tidur, pusing banget kepala gw" ucap Ruri memberikan dompetnya pada Cakra.
"Pasrah banget tuh orang, frustasi banget kayaknya" ucap Kay.
"Ya udah biarin aja dia tidur dulu, dompetnya simpan aja dulu, entar kalau dia udah bangun, baru deh kasih dompetnya" ucap Cakra.
"Lah lu kagak jadi beli hp baru Cak?, mumpung dikasih tuh sama si Ruri" ucap Kay.
"Kagak lah bloon, bercanda doang gw, eh ternyata si Ruri nganggep serius" ucap Cakra.
"Lagi gak bisa diajak bercanda tuh orang, mukanya juga pucat banget, kayak mayat hidup" ucap Kay.
"Beliin obat sana, entar kalau dia keluar kamar baru lu kasih, jangan ngetuk pintu kamarnya kasian, biarin aja dia yang keluar sendiri" ucap Cakra.
"Gw ngeri dia bunuh diri deh Cak" ucap Kay menepuk pundak Cakra.
"Enggak lah, ngawur lu!, si Ruri gak kayak gitu kali, udah biarin aja dia istirahat dulu, nenangin pikiran dia sendirian dikamar, jangan diganggu dulu" ucap Cakra.
"Hm, okay, tapi ini dompetnya dia taruh dimana?" tanya Kay.
"Taruh kamar gw aja sini, entar kalau dia keluar gw kasih" ucap Cakra.
"Oke" ucap Kay memberikan dompet Ruri pada Cakra.
"Wa si Evan, jangan gangguin si Ruri dulu, entar dia balik langsung gangguin si Ruri lagi" ucap Cakra.
"Oke" ucap Kay.
"Van, entar lu kalau balik jangan gangguin si Ruri dulu ya, kasian dia, balik-balik mukanya pucat,. lemes banget diajakin ngomong" notifikasi WhatsApp dari Kay.
"Kenapa tuh orang?, sakit?" tanya Evan.
"Gak tahu, udah jangan digangguin dulu nanti kalau lu balik" ucap Kay.
"Oke siap" ucap Evan.