Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Booking Resto dan Ngukur Baju



"Aku pulang dulu kali ya?, biar sekalian ngukur bajunya juga" kata Ruri pada dirinya sendiri.


"Assalamualaikum pah" kata Ruri yang langsung masuk ke dalam rumahnya yang tidak terkunci.


"Wa'alaikumsalam" kata ayahnya.


"Pah, mah, kerumah Davira yuk, habis itu ke butik, ngukur baju" kata Ruri.


"Iya nak" kata ayahnya tersenyum.


"Assalamualaikum" kata Ruri mengetuk pintu rumah Davira.


"Wa'alaikumsalam'' jawab Davira membukakan pintu rumahnya.


"Eh Ruri, ayok masuk" kata Davira tersenyum.


"Iya makasih, keluarga kamu mana?" tanya Ruri.


"Ada di dalam, mau aku panggilkan?" tanya Davira.


"Boleh" kata Ruri tersenyum.


"Tunggu sebentar ya" kata Davira tersenyum.


"Oke" kata Ruri tersenyum.


Davira pergi meninggalkan Ruri untuk memanggil keluarganya.


"Om, tante, bang" kata Ruri tersenyum bersalaman dengan keluarga Davira.


"Ada nak Ruri ternyata, ada apa?" tanya ayahnya sembari tersenyum.


"Om, tante, bang, tujuan Ruri kesini mau ajak kalian untuk ke butik, ngukur baju buat hari pernikahan nanti" kata Ruri.


"Oh oke, ya udah ayok" kata ayah Davira.


"Iya om" kata Ruri tersenyum.


Ruri beserta keluarganya dan keluarga Davira pun pergi ke butik untuk mengukur baju di hari pernikahannya.


Sesampainya di butik, Ruri langsung menanyakan adakah model baju pernikahan India di butik itu.


"Mbak, ada baju nikah gak ya disini?" tanya Ruri.


"Kalian mau nikah pakai baju India?" tanya ayah Davira.


"Iya om, Davira suka India katanya" kata Ruri tersenyum.


"Oh oke" kata ayahnya tersenyum.


"Ada banyak mas, mari ikut saya, biar saya tunjukkan model-model baju pernikahan Bollywood nya" kata karyawan butik.


"Oke" kata Ruri tersenyum.


Mereka pun mengikuti langkah kaki karyawan butik itu.


Karyawan itu menunjukkan beberapa model baju pernikahan khas Bollywood, akhirnya pilihan mereka jatuh kepada gaun terakhir, gaun pernikahan Bollywood berwarna biru tua. Setelah menemukan gaun yang cocok mereka semua melakukan pengukuran baju agar segera dibuatkan baju seperti itu.


"Mbak ini bajunya sebelum tanggal 22 Desember kira-kira udah jadi belum ya?" tanya Ruri.


"Sebentar saya tanyakan pemiliknya dulu ya mas" kata karyawan toko.


"Oke mbak" kata Ruri.


Tak lama setelah kepergiannya, ia pun kembali.


"Gimana mbak?, bisa kan?" tanya Ruri.


"Bisa kok mas, nanti saya hubungi lagi jika bajunya sudah jadi semua" kata karyawan butik.


"Mas untuk Bridesmaids nya gimana?" tanya Davira.


"Kamu mau ada Bridesmaids nya?" tanya Ruri.


"Iya mas" kata Davira.


"Siapa aja Bridesmaids nya?" tanya Ruri.


"Yang benar-benar dekat sama aku sih ya Clarissa mas" kata Davira.


"Clarissa doang nih?" tanya Ruri.


"Iya mas" kata Davira.


"Ya udah mbak bikinin satu lagi ya, gaun wanitanya buat Bridesmaids" kata Ruri.


"Oke siap mas, nomor WhatsApp nya berapa mas?, biar lebih mudah dihubungi jika gaun pesanannya sudah selesai dibuat" kata karyawan toko.


"Ini mbak kartu nama saya, itu ada nomor wa nya disitu" kata Ruri memberikan kartu namanya.


"Baik mas, nanti akan kami hubungi jika pesanannya sudah selesai dibuat" kata karyawan butik.


"Oke mbak, sebelum tanggal 22 Desember ya mbak" kata Ruri.


"Siap mas" kata karyawan butik.


"Mah, pah, om, tante, bang, aku sama Davira mau pergi ke toko emas dulu ya, buat beli cincin pernikahannya" kata Ruri.


"Ya udah kalian berdua hati-hati dijalan ya" kata ayah Davira tersenyum.


"Iya, assalamualaikum" kata Ruri menatap mereka secara bergantian.


"Wa'alaikumsalam" kata keluarganya dan keluarga Davira kompak.


"Ayok" kata Ruri menatap Davira.


"Mas, kita mau beli cincin lagi?, apa gak sebaiknya pakai cincin yang waktu itu kamu kasih ke aku aja?, kata kamu cincin itu kamu beli sepasang, pakai itu aja mas, uangnya buat booking catering aja" kata Davira.


"Kamu yakin mau pakai cincin itu aja?" tanya Ruri.


"Iya mas, kita booking catering aja yuk" kata Davira.


"Iya mas" kata Davira tersenyum.


Ruri dan Davira akhirnya tidak jadi untuk membeli cincin, mereka pergi mencari tempat catering yang enak.


"Mas, kata Clarissa dulu itu ada restoran yang bisa sekalian buat pesanan dalam jumlah banyak mas, apa kita mau kesana aja?" tanya Davira.


"Wah boleh tuh, kamu tahu tempatnya gak?" tanya Ruri.


"Tahu mas, waktu itu aku pernah makan disana sama Clarissa, makanannya enak banget mas, waktu itu ada yang pesan makanannya lima ribu porsi mas" kata Davira.


"Ya udah kita kesana aja, ini kita kemana?, lurus atau belok?" tanya Ruri.


"Lurus aja terus mas sampai mentok nanti ke kiri" kata Davira.


"Oke" kata Ruri.


"Eh tapi kita pesan berapa porsi?, kita mau ngundang berapa orang aja juga belum tahu" kata Ruri.


"Oh iya ya mas, ya udah jangan makanan dulu, nentuin siapa-siapa aja dulu yang mau diundang" kata Davira.


"Iya udah kita ke resto itu aja dulu, udah nanggung juga, kita pikirin disana aja nanti sekalian makan, lapar aku" kata Ruri.


"Iya mas" kata Davira.


Sesampainya di resto yang Davira tunjukkan mereka memesan makanan dan sembari menunggu makanan itu datang, mereka memikirkan siapa-siapa saja yang akan mereka undang ke acara pernikahannya.


Mereka telah selesai menentukan siapa saja yang akan mereka undang ke acara pernikahannya, semuanya berjumlah 500 orang yang terdiri dari teman-teman satu angkatan mereka dari mulai SD, SMP, SMA, kuliah, serta keluarga besar mereka. Setelah itu semua selesai, pesanan mereka datang, dan mereka mulai menyantap makanan yang tadi mereka pesan.


"Ada lima ratus orang sayang belum sama keluarganya, jadi kita booking berapa porsi?" tanya Ruri.


"Seribu kali ya mas?" tanya Davira.


"Kamu yakin seribu?, entar kalau kurang gimana?, bisa dibikin langsung gak sih?, biar kalau kurang gak ribet" kata Ruri.


"Ya udah booking seharian full aja mas, jangan pesan jumlah porsi makannya" kata Davira.


"Hm, ya udah gitu aja, jadi ini kita mau booking itu dulu atau bikin undangan pernikahannya dulu?" tanya Ruri.


"Emang mas udah ada konsep undangannya gimana?" tanya Davira.


"HEHE!, belum sih, ya udah kita booking ini aja dulu" kata Ruri.


"Iya mas" kata Davira.


"Permisi mas mau tanya" kata Ruri pada pelayan restoran.


"Iya mas, ada apa?" tanya pelayan restoran.


"Apa pemilik restonya ada disini?, kita mau booking buat hari pernikahan kita" kata Ruri.


"Ada mas, mari saya antarkan ke ruangannya" kata pelayan restoran.


"Oke mas makasih" kata Ruri.


Ruri dan Davira pergi mengikuti pelayan restoran itu untuk menanyakan harga sewanya.


"Tokk... tokk" suara ketukan pintu terdengar.


"Silakan masuk" kata pemilik resto.


"Permisi pak, mereka ingin bertemu dengan bapak" kata pelayan restoran itu.


"Silakan duduk" kata pemilik resto mempersilahkan Ruri dan Davira.


"Ada apa ya ingin bertemu dengan saya" kata pemilik restoran.


"Begini pak, saya ingin menanyakan harga sewa resto ini buat hari pernikahan kita" kata Ruri.


"Bikin ditempat acaranya langsung atau hanya pesan makanannya mas?" tanya pemilik resto.


"Bikin di tempat acaranya langsung aja pak" kata Ruri.


"Kalau untuk itu saya tidak tahu harga pastinya berapa karena kan bikin langsung, gini aja pak, untuk pembayarannya setelah hari pernikahannya aja" kata pemilik resto.


"DP nya berapa ya pak?" tanya Ruri.


"DP aja satu juta dulu mas untuk sisanya nanti saja, karena saya tidak bisa memastikan berapa harganya" kata pemilik resto.


"Oh oke, ini pak uangnya" kata Ruri memberikan sejumlah uang.


"Untuk tanggal berapa ya mas?" tanya pemilik resto.


"Tanggal 22 Desember pak" kata Ruri.


"Baik mas, untuk peralatan masaknya pakai punya resto kami atau pakai punya mas saja?" tanya pemilik resto.


"Pakai punya resto ini aja pak, kalau saya yang menyiapkan peralatan masaknya takut waktunya gak cukup karena kita juga harus menyiapkan yang lainnya" kata Ruri.


"Oke baik mas, boleh saya minta nomor wa mas nya, agar lebih mudah bagi kita untuk berkomunikasi nantinya" kata pemilik resto.


"Ini kartu nama saya pak" kata Ruri sembari memberikannya kepada pemilik resto.


"Oke mas Ruri Sambara, makasih ya mas, semoga langgeng sampai kakek nenek ya mas, ini calonnya mas?" tanya pemilik resto menunjuk Davira.


"Iya pak, ini calon istri saya" kata Ruri tersenyum menatap Davira.


Davira pun membalas senyuman Ruri.


"Namanya siapa mas kalau boleh saya tahu?" tanya pemilik resto.


"Davira pak" kata Ruri tersenyum.


"Cocok ya kalian berdua ini, mas Ruri tampan dan mbak Davira cantik" kata pemilik resto tersenyum.


"Makasih pak, ya udah pak, kita pamit pulang ya, assalamualaikum" kata Ruri tersenyum.


"Iya mas, wa'alaikumsalam" kata pemilik resto.


Ruri dan Davira pergi meninggalkan restoran itu. Ruri mengantarkan Davira pulang ke rumahnya.