Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Hari Pernikahan



Beberapa jam kemudian Ruri, Davira, dan Reza tiba di Amsterdam.


Ruri, Davira dan Reza langsung pergi ke apartemennya.


"Za, ini kan masih pagi ya, gw anterin lu dulu ke apartemen gw nanti gw mau langsung ke tempat acaranya aja" ucap Ruri.


"Aku ikut ya" pinta Davira.


"Kamu istirahat aja sayang, aku sendiri aja" ucap Ruri.


"Gak mau, aku mau ikut" ucap Davira.


"Ya udah iya kamu ikut" ucap Ruri.


"Yeayyy" ucap Davira tersenyum sembari menepuk tangannya.


"Udah sampai tuh, turun Za" ucap Ruri.


"Eh kunci kamarnya mana?" tanya Reza.


"Minta sama petugas di dalam apartemen gw aja, dia yang pegang semua kunci kamarnya" ucap Ruri.


"Oke" ucap Reza yang langsung turun dari mobil Ruri membawa kopernya.


Ruri dan Davira pun pergi ke tempat pernikahannya.


"Sayang tempatnya udah selesai" ucap Davira tersenyum menatap sekelilingnya.


"Iya sayang, kamu periksa tempat ini dulu ya, aku periksa tempat yang lain" ucap Ruri.


"Iya mas" ucap Davira tersenyum.


Ruri pun pergi untuk mengecek pantai yang berada di samping tempat acaranya.


Panggung dan beberapa hiasan sudah terpasang rapih, dan bahkan kejutan untuk Davira juga sudah siap.


Kini Ruri hanya tinggal menunggu para kerabat, teman-temannya dan para cosplayer datang.


Sementara Evan dan Angel menyerahkan undangan pernikahannya kepada asisten pribadinya untuk membagikannya.


Setelah memastikan pantai sudah siap untuk pesta kejutan nanti, Ruri kembali ke tempat akad nikahnya menghampiri Davira.


Para tamu undangan serta cosplayer sudah berkumpul di bandara, dan satu persatu mulai menaiki pesawat jet milik Ruri. Setelah memastikan semuanya siap, pesawat segera lepas landas dan menuju Amsterdam.


"Davira mana ya?" tanya Ruri celingukan mencari keberadaan Davira.


"Davira, kamu dimana?" tanya Ruri celingukan.


"Di belakang mas" teriak Davira.


Mendengar perkataan Davira, Ruri segera menghampirinya.


Nampak Davira yang tengah duduk di bangku resepsi pernikahannya.


"Gak sabaran banget sih kamu" ucap Ruri tersenyum menyenggol Davira.


"Gak sabaran apa mas?" tanya Davira menatap Ruri yang duduk di sampingnya.


"Itu" ucap Ruri memberikan isyarat dengan matanya menatap tempat yang mereka duduki saat ini.


"Oh" ucap Davira tersenyum malu.


"Masih lima hari lagi tahu" ucap Ruri tersenyum.


"Gak bisa dipercepat mas, UPS!" ucap Davira yang langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Gak sabaran banget neng" ucap Ruri.


"Mau ngapain emang minta dipercepat segala hm?" tanya Ruri mengalungkan tangannya di leher Davira dan tersenyum kecil sembari mengangkat alisnya.


Davira pun mulai panik karena keceplosan tadi.


"Aaa.. itu... mau apa ya?, enggak deh, enggak jadi" ucap Davira gugup.


"Hm, okay" ucap Ruri yang melepaskan tangannya dan kembali duduk di sampingnya.


"Balik yuk, kan katanya kalau mau nikah itu wanita harus dipungut dulu" ucap Ruri.


"Dipungut emangnya aku sampah apa?" tanya Davira kesal.


"Eh emang itu namanya?, salah ya?" tanya Ruri.


"Salah" ucap Davira jutek.


"Lah, yang benar apaan dong?" tanya Ruri.


"Yang benar itu dipingit mas, bukan dipungut" ucap Davira.


"Oh iya itu maksudnya, akh kenapa jadi dipungut sih, tolol banget deh gw" ucap Ruri menepuk keningnya sendiri.


Davira yang menyaksikan tingkah laku Ruri pun sontak tertawa.


"Maaf sayang, lagi eror nih otak aku, ya udah yuk pulang" ucap Ruri.


"Iya mas" ucap Davira tersenyum.


Ruri dan Davira kembali ke apartemennya meninggalkan tempat pernikahannya.


Ruri dan Davira dipisahkan. Ruri tetap di kamarnya, sedangkan Davira di kamar paviliun yang jauh dari tempat Ruri, agar ia tidak bertemu dengan Ruri dahulu. Davira pun menjalani masa pingitan. Ditemani dengan keluarga besarnya.


Walaupun itu hanya kamar paviliun, tapi tempat itu bahkan jauh lebih luas, daripada kamar-kamar lain. Terdapat tiga kamar disana yang sangat luas, di bawah paviliun juga sangat indah.


Beberapa hari berlalu, kini hari yang ditunggu-tunggu tiba. Davira mulai di dandani dan di tempat yang berbeda pun Angel juga sedang di dandani.


Ruri dan keluarga besarnya langsung menuju tempat pernikahannya bersama dengan ayah dan abang Davira, sedangkan Davira dan ibunya menyusul setelah akad nikah.


"Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka binti (Davira Salsabila) alal mahri (lima ratus dirham) hallan" ucap ayah Davira di depan penghulu, para saksi dan para tamu undangan.


"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq" ucap Ruri dengan lantang dan satu tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi?, sah?" tanya pak penghulu.


"Sah" ucap para saksi dan tamu undangan kompak.


Ketika akad nikah selesai dibacakan, pintu pun mulai terbuka. Davira berjalan diatas karpet dengan menggunakan gaun pernikahan berwarna biru khas pernikahan Bollywood ditemani oleh ibunya dan para Bridesmaids.


Para tamu undangan kompak menatap ke arah Davira yang terlihat sangat cantik dengan menggunakan gaun pengantin itu.


Davira menghampiri Ruri dan para Bridesmaids serta ibunya pun duduk di salah satu bangku yang kosong.


Ruri memakaikan cincin kawinnya di jari manis Davira, begitupula sebaliknya, Davira memakaikan cincin kawinnya di jari manis Ruri. Davira mencium punggung tangan Ruri yang saat ini sudah halal baginya dan Ruri pun mencium kening Davira dan mereka mulai membaca doa.


Beralih ke tempat pernikahan Evan.


“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda (Evan Xaquille) bin (Alvaro Elzein) dengan anak saya yang bernama (Fidelya Angelina) dengan maskawinnya berupa (empat ratus dirham), tunai.”


"Saya terima nikah dan kawinnya (Fidelya Angelina) binti (Ceilo Akhtar) dengan mas kawin tersebut, tunai" ucap Evan dengan lantang dan dengan satu tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi?, sah?" tanya pak penghulu.


"Sah" ucap para saksi dan tamu undangan kompak.


Pintu pun mulai terbuka. Angel berjalan diatas karpet dengan menggunakan gaun pernikahan ala putri kerajaan berwarna merah ditemani oleh ibunya dan para Bridesmaids.


Para tamu undangan kompak menatap ke arah Angel yang terlihat sangat cantik dengan menggunakan gaun pengantin itu.


Angel menghampiri Evan dan para Bridesmaids serta ibunya pun duduk di salah satu bangku yang kosong.


Evan memakaikan cincin kawinnya di jari manis Angel, begitupula sebaliknya, Angel memakaikan cincin kawinnya di jari manis Evan. Angel mencium punggung tangan Evan yang saat ini sudah halal baginya dan Ruri pun mencium kening Angel dan mereka mulai membaca doa.


Setelah memakaikan cincin Evan dan Angel melakukan sesi foto, begitupula dengan Ruri dan Davira yang tengah mengadakan sesi pemotretan.


Beberapa jam berlalu, kini malam hari pun tiba dan tamu undangan sudah kembali ke apartemen.


"Sayang ikut aku yuk ke sesuatu tempat" ucap Ruri.


"Mau kemana mas?" tanya Davira.


"Udah ikut aku aja ayok" ucap Ruri menarik tangan Davira.


"Iya mas" ucap Davira mengikuti langkah kaki Ruri.


Ruri membawa Davira ke pantai yang telah ia rencanakan dengan Evan.


Disana sudah ada Evan dan Angel.


"Mas kok ada teman kamu disini?, dia gak datang?" tanya Davira.


"Jadi sebelumnya itu aku ngerencanain buat nikah bareng sama si Evan tapi tempat akad sama resepsinya aku bikin terpisah, pernikahan Evan di pintu masuk sebelum pintu masuk ke dalam pantai ini, kita ngumpul disini karena kita udah menyiapkan sesuatu kejutan, kamu tutup mata dulu ya" ucap Ruri.


"Iya mas" ucap Davira.


"Hitungan ketiga kamu buka mata kamu ya, satu... duaa... tiiii... ga" ucap Ruri.


Davira membuka perlahan matanya dan sudah ada Mew Suppasit di depan matanya.


"Akh mas Miu" ucap Davira terkejut dan langsung memeluk Mew Suppasit idolanya itu.


Ruri yang melihat Davira gembira pun ikut senang.


"Kamu panggil Mew Suppasit ke acara pernikahan kita sayang?" tanya Davira.


"Iya sayang" ucap Ruri.


Melihat kehadiran Mew Suppasit pun membuat Angel juga bahagia, karena Angel juga mengidolakan seorang Mew Suppasit Jongchevevaat.


Mew Suppasit mulai menyanyikan beberapa lagu untuk Davira dan juga Angel.


Davira menyaksikan konser Mew Suppasit dengan tersenyum bersandar di bahu Ruri serta satu tangannya berada di pinggang Ruri dan tangan Ruri berada di pinggang istrinya itu begitupula dengan Angel.


Setelah Mew Suppasit bernyanyi mereka mengadakan pemotretan satu persatu dimulai dengan Davira dan Ruri disusul dengan Angel dan Evan. Mereka juga melakukan pemotretan bersama dengan Mew Suppasit di tengah-tengah mereka.


Setelah berfoto tiba-tiba BTS pun datang, yang membuat Angel dan Davira kembali berteriak antusias.


BTS mengadakan konser dan melakukan sesi pemotretan bersama mereka.


Setelah itu mereka melakukan pemotretan dengan Mew Suppasit dan BTS secara langsung.


Mew Suppasit dan BTS pergi dari tempat itu dan Davira serta Angel memeluk suaminya masing-masing sembari tersenyum bahagia.


Ruri dan Evan memberikan semua yang diinginkan oleh pasangannya masing-masing di hari pernikahan mereka.