Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Cakra Meninggal Dunia



"Aku berangkat ke masjid dulu ya mau sholat Jum'at" notifikasi WhatsApp dari Cakra.


"Iya mas" balas Clarissa.


"Assalamualaikum" ucap Cakra.


"Wa'alaikumsalam" jawab Clarissa.


Cakra pun pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat Jum'at. Hari itu Cakra menjadi imam di masjid karena diminta oleh marbot masjid.


"Nak tunggu, jangan lari-larian sayang" teriak seorang wanita yang mengejar anak perempuannya berlari menghampiri tukang balon di sebrang jalan.


Ketika sedang berlari, tiba-tiba ada mobil melintas dengan kecepatan kencang dan dengan arah yang tidak menentu seperti rem blong.


Cakra yang selesai melaksanakan shalat Jum'at keluar dari masjid dan melihat seorang gadis kecil yang berlari.


"Sayang awas" teriak ibunya di sebrang jalan.


Cakra yang mendengar suara teriakan wanita itu pun melihat sekelilingnya, nampak mobil dengan kecepatan kencang dan arah yang tidak menentu melintas. Cakra berlari dan mendorong gadis itu ke tepi jalan dan ibunya segera menenangkan putri kecilnya yang sedang menangis itu. Ibu gadis kecil itu menggendong putrinya dan memastikan keadaan Cakra. Cakra terpental dan kepalanya jatuh tepat di tempat pembatas jalan.


"Astagfirullahaladzim" ucap ibu gadis kecil itu saat melihat Cakra tergeletak dengan darah yang membanjiri sepanjang jalan.


"TOLONG!" teriak ibu gadis kecil itu.


Warga sekitar yang mendengar suara teriakannya pun segera menghampirinya. Mereka segera membawa ke rumah sakit dengan mobil salah satu jemaah masjid yang mengenal baik Cakra adalah imam masjid yang sangat ramah di masjid itu.


Cakra pun mendapatkan penanganan dokter. Beberapa menit kemudian alat yang menunjukkan detak jantung Cakra berhenti dan hanya menyisakan garis lurus.


Ibu gadis kecil yang melihat itu pun segera memanggil dokter. Dokter langsung menempelkan alat kejut jantung untuk mengembalikan detak jantungnya, namun hasilnya tetap sama. Cakra dinyatakan meninggal dunia pada hari Jumat pukul tiga belas lebih 20 menit di rumah sakit.


"Maaf pak, bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun Tuhan berkehendak lain, pasien telah meninggal dunia, yang sabar ya pak, bu, saya permisi, saya berikan waktu 10 menit sebelum jenazah kami pindahkan ke dalam kamar jenazah" ucap dokter tersenyum kecil dan langsung pergi.


"Baik dok, terima kasih" ucap ibu anak kecil yang tadi ditolong oleh Cakra.


"Pak gimana saya menghubungi keluarganya?, saya tidak mempunyai nomor keluarganya pak" ucap wanita itu terisak tangis.


"Kebetulan saya kenal dengan keluarga dan mempunyai nomor ibunya" ucap pria itu.


"Assalamualaikum bu Kiara" ucap pria itu.


"Wa'alaikumsalam pak Andre ada apa ya telepon saya?" tanya ibu Cakra.


"Saya ingin mengabarkan berita buruk bu" ucap pak Andre.


"Berita buruk apa ya pak Andre?" tanya ibu Cakra.


"Cakra anak ibu meninggal dunia di rumah sakit karena menyelamatkan nyawa gadis kecil yang nyaris tertabrak oleh mobil seusai shalat Jum'at tadi, saya baru mengabarkan ibu karena tadi saya benar-benar sedih melihat keadaan Cakra dan cemas menunggu operasinya selesai, namun 2 menit setelah operasinya selesai, detak jantungnya berhenti bu, yang sabar ya bu" ucap pak Andre.


"Aku harus kasih tahu mas Justin, biar bagaimanapun juga kan mas Justin ayah kandung Cakra" ucap Kiara terisak tangis dan dengan tangan bergetar dia mengirimkan pesan kepada Justin.


"Assalamualaikum mas, aku mau ngasih kabar buruk buat kamu, anak kita Cakra Rayyanza meninggal dunia di rumah sakit seusai shalat Jum'at tadi, karena menyelamatkan gadis yang nyaris tertabrak oleh mobil" notifikasi WhatsApp dari Kiara untuk Justin.


"Oh iya sahabat-sahabat Cakra dan Clarissa" ucap Kiara terisak tangis.


Kiara pun membuat grup WhatsApp agar lebih memudahkannya.


"Assalamualaikum saya Kiara, ibu Cakra Rayyanza, ingin memberitahukan jika saat ini Cakra Rayyanza telah meninggal dunia seusai shalat Jum'at tadi karena menolong gadis kecil yang akan tertabrak oleh mobil" notifikasi WhatsApp dari Kiara untuk Evan, Kay, Ruri, dan Clarissa.


Setelah mengirimkan pesan itu, Kiara segera bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat jasad Cakra Rayyanza putra semata wayangnya itu.


"Suster tolong jangan bawa jasad pasien dulu, tunggu ibunya datang dulu sus, kasihan ibunya sus" ucap pak Andre.


"Jadi kalian bukan keluarga pasien?" tanya suster.


"Baiklah pak, saya berikan waktu untuk ibunya sampai ia datang, saya tinggal dulu ya pak" ucap suster tersenyum kecil dan pergi meninggalkan mereka.


"Baik sus, terima kasih" ucap pak Andre tersenyum kecil.


"Bu, ibu tunggu disini dulu ya, saya akan menunggu kedatangan ibu almarhum di depan rumah sakit" ucap pak Andre.


"Iya pak" ucap wanita itu.


Ketika pak Andre pergi, ia mengobati kaki anaknya yang terluka dan membawa anaknya ke dalam ruangan Cakra.


Wanita itu tak kuasa membendung air matanya lagi. Ia melihat ke arah Cakra dan putrinya yang berada di dekapannya.


"Mas, terima kasih banyak, karena mas telah menyelamatkan nyawa putri saya, bahkan mas tidak memperdulikan keselamatan mas sendiri, mas benar-benar orang yang sangat baik, semoga Allah SWT menempatkan mas di surga terbaik ya mas, semoga keluarga mas bisa menerima dengan lapang dada, saya minta maaf sekali lagi mas, karena keterlambatan saya untuk menyelamatkan putri saya, mas jadi harus kehilangan nyawa mas, saya minta maaf mas" ucap ibu wanita itu terisak tangis di depan jenazah Cakra Rayyanza.


Beberapa saat kemudian pak Andre kembali dengan ibu Cakra.


Kiara langsung berlari memeluk jenazah putranya dan menangis histeris menyaksikan putranya terbaring tak bernyawa lagi.


"Bu saya minta maaf, karena menyelamatkan anak saya, mas nya jadi tertabrak oleh mobil itu, sekali lagi saya minta maaf bu" ucap wanita itu terisak tangis menatap ibu Cakra.


"Iya bu, gak apa-apa kok, maut sudah diatur oleh yang diatas, ini semua bukan salah ibu, tapi ini semua adalah takdir yang telah Allah Subhana Wata'ala tetapkan sebelum kita terlahir ke dunia" ucap Kiara terisak tangis.


Jasad Cakra pun dibawa ke kamar jenazah untuk dimandikan sebelum dibawa pulang.


Jasad Cakra pun dibawa pulang dengan mobil ambulans. Di depan rumahnya sudah ada Justin ayah kandungnya, Aislinn, Kay, Tasya, Ruri, Davira, Evan, Angel, dan Clarissa.


Petugas rumah sakit menurunkan jenazah Cakra Rayyanza dari dalam mobil ambulans.


Teman-temannya dan Clarissa yang melihat jenazah Cakra Rayyanza pun seketika terbelalak dan meneteskan air mata.


Sampai di dalam, Clarissa berlari memeluk tubuh Cakra yang sudah tak bernyawa itu dan menangis histeris.


Ibu Cakra memeluk Clarissa dan berusaha menenangkannya, Clarissa melepaskan pelukannya dari Cakra dan memeluk Kiara.


"Nak, maafkan papah, papah udah jahat banget sama kamu, meninggalkan kamu dari kecil dengan ibu kamu dan dengan hutang yang besar, padahal uang itu papah pakai untuk menikah lagi, tapi harus kamu dan ibu kamu yang mati-matian untuk melunasinya, maafkan papah Cakra" ucap Justin sesenggukan dan memeluk jasad Cakra Rayyanza.


"Cakra, maafkan tante juga ya, karena tante, kamu dan ayah kamu harus berpisah" ucap Aislinn sesenggukan memeluk jasad Cakra.


"Cak, ini bukan yang gw maksud kita semua akan berkumpul di rumah lu, gw pengen kita kayak dulu lagi, ngumpul bareng, tapi ternyata Allah Subhana Wata'ala jauh lebih merindukan lu daripada kita, selamat jalan ya Cak, maafin gw kalau gw ada salah sama lu ya Cak, semoga lu tenang di alam sana aamiin" ucap Ruri meneteskan air mata dan menepuk pundak Cakra yang sudah tak bernyawa.


"Aamiin, maafin gw ya Cak yang selalu ngajakin lu ribut, bikin lu kadang emosi sama sifat gw" ucap Kay meneteskan air matanya di depan jenazah dan memeluknya.


"Semoga lu tenang ya Cak, maafin gw kalau gw ada salah sama lu, kadang menjengkelkan, tapi ya lu tahu sendiri kalau ngomong sama Kay itu terkadang menyebalkan" ucap Evan tersenyum kecil dengan berlinang air mata.


Ruri pun merangkul bahu Evan dan Kay.


Pelayat mulai berdatangan untuk membacakan surat Yasin dan doa untuk Cakra. Cakra dimandikan dan di shalatkan di masjid terakhir ia melaksanakan shalat.


Cakra pun dimakamkan ba'da ashar sesuai dengan janjinya yang akan berkumpul dengan teman-temannya di rumah, namun bukan rumahnya di dunia, tetapi rumah masa depannya yaitu pemakaman. Setelah di makamkan pak ustadz sedikit memberikan pujian untuk almarhum Cakra Rayyanza sebelum dibacakan doa.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucap pak ustadz.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" ucap pelayat kompak.


"Bapak-bapak, ibu-ibu semua, seperti yang kita ketahui, almarhum ini semasa hidupnya sering menjadi imam di masjid kita, semoga Allah SWT memaafkan segala kesalahannya baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, semoga almarhum Cakra Rayyanza ditempatkan di surga terbaik di sisi Allah SWT aamiin" ucap pak ustadz.


"Aamiin" ucap pelayat kompak.


Pak ustadz mulai memimpin untuk membacakan doa, setelah membacakan doa, pak ustadz dan para pelayat meninggalkan makam almarhum Cakra Rayyanza.


Clarissa memeluk batu nissan Cakra dan Kiara, Aislinn serta Justin pun memeluknya untuk menguatkannya. Clarissa pulang ke rumah Cakra Rayyanza untuk membantu ibunya mengurus pengajian nanti malam.