Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Menyatakan Cinta Pada Guling



Kay berdiri menyalakan shower dan ia memandikan Natasya begitupun dengan Natasya yang memandikan Kay. Setelah mandi, mereka melanjutkannya kembali di atas ranjang.


"Ra, besok malam kamu ada acara gak?" tanya Ruri via WhatsApp pada Davira.


"Enggak ada sih, emangnya kenapa?" tanya Davira.


"Kamu mau gak dinner sama aku besok?, nanti aku jemput kamu" ucap Ruri.


"Iya, aku mau, jam berapa tapi?" tanya Davira.


"Ba'da isya, gimana?, bisa kan?" tanya Ruri.


"Bisa kok" ucap Davira.


"Ya udah, besok malam aku jemput kamu ya, tapi aku jemput dimana nih?, dirumah kamu, atau dirumah Clarissa lagi?" tanya Ruri.


"Di rumah aku aja, gantian soalnya, si Clarissa nginep dirumah aku" ucap Davira.


"Oh oke, see you" ucap Ruri.


"See you" ucap Davira.


"Ngapa lu senyum-senyum sendiri" ucap Evan menepuk kencang bahu Ruri.


"Besok gw mau dinner sama Davira" ucap Ruri tersenyum.


"Gw kira ada apaan, bucin lu" ucap Evan.


"Kayak lu gak bucin aja" ucap Ruri.


"Enggak tuh!" ucap Evan.


"Iya gak bucin, sangking enggaknya sampai jatuh cinta sama satu orang wanita, dari kecil sampai gede hm" ucap Ruri.


"HEHE... !, mencintainya itu diluar kendali ku" ucap Evan tersenyum, menunduk malu dan menggaruk kepalanya.


"Hm, alasan, lebih bucin juga kau dibandingkan dengan aku" ucap Ruri.


"Udah, udah, sesama bucin tidak boleh saling menghina satu sama lain, harus saling mendukung kebucinan satu sama lain" ucap Cakra.


"Demi Alek, lu jadi kayak si Kay deh Cak" ucap Ruri.


"Alek?, Alek siapa?, kagak kenal gw" ucap Cakra.


"Iya lah lu gak kenal, kan Alek tetangga gw" ucap Ruri.


"Eh Bambang, tetangga elu, ngapain lu bawa-bawa hah?" tanya Evan menempeleng kepala Ruri.


"Gak apa-apa sekali-kali, si Alex pengen ikutan main katanya" ucap Ruri.


"Virus Kay sudah menyebar ke lu sama Cakra nih ternyata" ucap Evan.


"HAHA!" tertawaan Ruri sembari menempeleng kepala Evan.


"Shia!" ucap Evan kesal menepis tangan Ruri.


"Udah malam tidur mendingan, daripada ribut terus lu berdua, entar gw kawinin juga lu berdua biar akur" ucap Cakra.


"Kawin sama dia?, idih!, ogah!, emangnya gw cowok apaan shay?, masa kawin sama cowok sih, apalagi modelan kayak si Evan gitu, ikh!, bukan level eke ya cin... !" ucap Ruri seolah mengibaskan rambut panjang.


"Wah... !, ada banci pengkolan ternyata" ucap Evan.


"Eke bukan banci ya cin, sudah lah, anda tidak penting untuk saya... !" ucap Ruri mengibaskan rambut gaibnya dan langsung rebahan, tarik selimut.


Evan dan Cakra saling menatap kebingungan sembari menatap Ruri.


"Hati-hati lu Cak, entar pas lu tidur, dipegang-pegang lagi sama si Ruri" ucap Evan.


"Astagfirullahaladzim, gw masih normal ya" ucap Cakra yang langsung pergi ke tempat tidur Evan.


Evan dan Cakra menatap kebingungan, seperti terkena mental.


Cakra dan Evan pun akhirnya tertidur dengan pembatas guling, sedangkan Kay masih asik bermesraan bersama istri barunya itu.


Ruri diri dari tempat tidurnya dengan mata yang masih terpejam kemudian bertekuk lutut dihadapan guling yang berdiri tegak dan berkata "Davira, kamu mau gak jadi pacar aku?" tanya Ruri pada guling yang ada di hadapannya tersenyum.


"Cak, bangun deh, liat tuh si Ruri, ngapain dia nembak guling" ucap Evan menepuk pundak Cakra.


"Mau?, seriusan sayang?" tanya Ruri tersenyum dengan mata yang masih terpejam.


"Akh... !, Davira sayang, I love you baby" ucap Ruri tersenyum mencium gulingnya dengan mata yang masih terpejam.


"I love you too honey" jawab Evan dengan meniru suara perempuan.


Cakra merekam semua kejadian di ponselnya sembari menahan tawanya.


Ruri yang mendengarnya pun tersenyum dan menunduk malu, namun matanya masih terpejam, ia terbawa mimpi indahnya sendiri.


Evan pergi ke kamar mandi, membawa seember air dan mengguyur Ruri yang masih terpejam.


"Akh... !" teriak Ruri gelagapan saat Evan menyiramnya dengan seember air.


"Woy bangun lu... !, ngelindur aja, masa guling lu tembak, lu mau pacaran sama kapas hah?" tanya Evan mengangkat alisnya.


"Idih!, aneh lu!, siapa juga yang nembak guling, gw juga bisa membedakan kali, antara wanita dan guling, kurang kerjaan banget gw nembak guling, di peluk juga langsung gepeng, empuk doang gepeng, kalau meluk cewek kan enak, empuk, anget, lah guling kagak ada rasanya" ucap Ruri.


"Cak, coba lu kasih liat tuh videonya sama si Ruri, biar dia percaya kalau barusan dia habis nembak guling tercintanya" ucap Cakra.


Cakra memutar video rekamannya dan memperlihatkannya pada Ruri. Ruri yang menonton hasil rekaman di ponsel Cakra pun menunduk malu sembari menggaruk kepalanya.


"Udah liat kan?, jadi gimana Ruri Sambara?, mana cincin dan bunganya?, masa nembak guling gak pakai apa-apa sih, gak modal banget deh lu jadi cowok" ucap Evan.


Ruri hanya terdiam malu.


"Bilangin Davira akh, kalau tadi lu habis nembak guling" ucap Evan tersenyum dan mengangkat alisnya.


"Eh jangan dong... !, nanti gw dikira gila lagi sama si Davira" ucap Evan.


"Bilangin akh... !" ucap Evan yang melihat layar ponselnya dengan serius, walaupun ia tidak memiliki nomor WhatsApp Davira.


"Jangan dong plis... !" pinta Ruri memohon pada Evan.


"Lah Van, emangnya lu punya nomor wa si Davira?" tanya Cakra.


"Aaaa... enggak sih... !" ucap Evan menggaruk kepalanya.


"HUFT... !, syukur deh... !, berarti gw masih aman, thanks God" ucap Ruri tersenyum menatap langit-langit kamarnya.


"Nanti gw bilangin Davira, kalau ketemu orangnya tapi" ucap Evan.


"Bilangin aja sana, kayak tau rumahnya dimana aja lu, lu kan kagak tau dimana rumahnya si Davira wleee... !" ucap Ruri menjulurkan lidahnya.


"Gampang itu mh, nanti gw cari rumahnya, palingan juga deket-deket sini kan?, ngaku lu" ucap Evan.


"Hm, iya sih deket-deket sini, tapi kan deket sini banyak rumah, ya kali lu mau ketuk pintunya satu-satu hanya untuk mencari dimana rumah Davira, tapi boleh juga sih, kalau lu punya nyali mh" ucap Ruri.


"Wah, nantangin gw nih anak... !" ucap Evan menyeringai menggelengkan kepalanya.


"Cak, kirimin video tadi, nanti gw cari alamat rumahnya di Davira" ucap Evan.


"Woghey" ucap Cakra tersenyum mengangkat alisnya.


"Oke, videonya udah sama gw, tinggal nyari alamat rumahnya doang, yang jauh aja ketemu, apalagi ini yang deket, halah, easy... !" ucap Evan memetik kedua jarinya sembari menyeringai.


"Monggo, silakan, dicari alamat rumahnya sampai ketemu, gw mau tidur lagi, bye" ucap Ruri yang langsung menarik selimut hingga menutupi wajahnya.


"Woghey" ucap Evan.