Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Wanita Itu Ternyata Ibu Sambung Ku



Ruri terlihat sangat bahagia akhirnya memeluk ayahnya. Seketika Ruri tersadar ketika melihat Dina yang berada di samping ayahnya, Ruri melepaskan pelukannya dan ekspresi kegembiraannya langsung sirna seketika.


"Papah kenapa datang sama dia?, papah ngikutin aku kan tadi?" tanya Ruri dengan ekspresi tidak suka menatap kehadiran Dina.


"Memangnya kenapa kalau papah datang sama dia?, dia itu ibu sambung kamu Ruri" ucap ayahnya.


"Hah?, ibu sambung?" tanya Ruri terkejut menatap Dina.


"Iya, dia ibu sambung kamu, ini buktinya" ucap ayahnya memberikan buku pernikahan mereka.


"Papah nikah tanpa mengundang Ruri?" tanya Ruri.


"Iya papah tahu papah salah nak, maafkan papah, dan papah harap, kamu bisa menerima Dina sebagai ibu kamu" ucap ayahnya.


"Hm, oke deh kalau kayak gitu, mau tidak mau, suka tidak suka, kalian sudah menikah, maafin aku ya tante, maafin Ruri ya pah" ucap Ruri menatap bergiliran Dina dan ayahnya.


"Iya sayang" ucap ayahnya yang langsung memeluknya.


"Iya nak, tante sudah memaafkan mu" ucap Dina.


"Oh iya, nama tante siapa?" tanya Ruri.


"Nama tante itu "Madina Aileensha Nafeesa" panggil aja Dina" ucap Dina.


"Hm oke, tante Dina, eh engg-enggak deh bukan tante, tapi mamah" ucap Ruri tersenyum.


Dina seketika tersenyum dan menunduk malu.


"Ya udah sekarang mending kita pulang aja, udah larut malam" ucap ayahnya.


"Hm pah, aku pulang ke rumah Kay aja ya" ucap Ruri.


"Iya nak" ucap ayahnya tersenyum.


"Assalamualaikum pah, mah" ucap Ruri tersenyum dan bersalaman dengan kedua orangtuanya.


"Wa'alaikumsalam" ucap orangtuanya kompak.


Ruri kembali ke rumah Kay dengan mobil miliknya, sedangkan orangtuanya kembali ke rumahnya.


Beralih ke kediaman, Kay, kini Kay, Tasya dan keluarganya akan menemui keluarga Kay yang saat ini berada di Amsterdam, sekaligus momen untuk Kay dan Tasya bulan madu setelah hari pernikahannya.


"Kay, kamu bilang dulu sama teman-teman kamu sana, takutnya nanti kita pergi mereka nyariin kan" ucap ayahnya.


"Iya pah, siap" ucap Kay tersenyum dan langsung pergi dari sana.


"Assalamualaikum" ucap Kay yang langsung masuk ke kamar teman-temannya yang tidak terkunci.


"Wa'alaikumsalam, ngapa lu?" tanya Evan.


"Sumringah banget kayaknya" Cakra menyela pembicaraan.


"Gw mau bulan madu di Amsterdam" jawab Kay.


"Cie, ekhem!, proses pencetakan Kay junior nih!" celetuk Evan.


"Iya dong pastinya!" ucap Kay menyeringai sembari mengangkat alisnya.


"Ya udah sana, udah ditungguin lu pasti di depan" ucap Evan mendorongnya.


"Ruri mana deh?, belum balik tuh anak?" tanya Kay.


"Belum" jawab Evan.


"Lah lu udah balik, masa si Ruri belum sih?" tanya Kay.


"Lah emang kenapa?, apa hubungannya gw balik sama Ruri balik deh?" tanya Evan.


"Ya kan katanya kalian mau ngelamar bareng, harusnya kalau lu udah balik, si ruri juga seharusnya udah balik dong?, kok dia belum balik sih?" tanya Kay.


"Eh Bambang!, kita cuma janjian mau ngelamar bareng doang, bukan mau ngelamar wanita yang sama ya!, kan kita ngelamar wanita yang berbeda, ya selesainya bisa berbeda lah jam-nya, gimana sih lu?" tanya Evan mendorong kening Kay.


"Oh iya ya, kirain kalian ngelamar wanita yang sama gitu, tapi seharusnya kalau ngelamar cewek yang beda juga harusnya selesainya barengan lah, gimana sih lu?" tanya Kay.


"Astagfirullahaladzim, ingin ku berkata kasar" ujar Evan mengelus dadanya sendiri dan menghela nafas panjang.


"Tahan Van, tahan!" kata Cakra yang berusaha untuk menenangkan Evan.


"Hm, astagfirullahaladzim" ujar Evan mengelus dadanya sendiri dan menghela nafas panjang.


"Mending lu pergi aja sana!, udah ditungguin pasti sama keluarga lu di depan, udah sana ya pergi!" ujar Evan tersenyum sembari mendorong Kay.


"Kenapa gw jadi diusir dari rumah gw sih?" tanya Kay sembari menggaruk kepalanya kebingungan.


"Hm, okay" kata Kay yang langsung pergi dari sana menghampiri keluarganya yang tengah menunggu di dalam mobil.


Setelah Kay masuk ke dalam mobil, mereka sekeluarga langsung berangkat ke bandara dan terbang ke Amsterdam dengan pesawat jet pribadi milik Kay.


"Assalamualaikum" ucap Ruri sembari membuka pintu rumah Kay.


"Wa'alaikumsalam" jawab Evan yang tengah melewati ruang tamu dengan membawa beberapa cemilan dan minuman.


"Lapar lu?" tanya Ruri sembari menutup pintu.


"Iya, mau makan nasi ya tadi gw udah makan sama Angel, tapi kok gw lapar lagi" kata Evan.


"Sepi banget rumah, pada kemana?, udah pada tidur emangnya?" tanya Ruri melihat sekelilingnya.


"Cakra belum juga tuh, kelaparan juga dia, bantuin dong!, malah dilihatin doang" kata Evan sedikit kesal.


Ruri membantu Evan membawakan beberapa makanan yang dibawahnya ke dalam kamar.


"Si Kay udah tidur dia?" tanya Ruri melihat sekelilingnya.


"Si Kay tadi pamit mau bulan madu katanya ke Amsterdam" ujar Evan.


"Astaga sebentar lagi kita jadi sesepuh" ucap Ruri menepuk keningnya sendiri.


"Sesepuh?, tua banget dong, lu aja sana!, gw masih muda kok, belum tua-tua banget lah ya, setidaknya belum masuk ke kategori sesepuh" kata Evan tersenyum kecil.


"Hm, terserah lu lah" ucap Ruri.


"Cakra bukain dong pintunya, ribet nih gak bisa buka" teriak Evan dari luar kamarnya.


Cakra yang mendengar bergegas untuk membuka pintu.


"Tadi lu dicariin sama si Kay, kenapa gak pulang-pulang gitu, si Evan udah balik daritadi, kok lu gak pulang-pulang, harusnya barengan pulangnya, gitu kata si Kay" ujar Cakra.


"Oh, lah ngapa harus balik barengan deh?, kan kita ke tempat yang berbeda" kata Ruri.


"Entahlah, kayak gak tahu si Kay aja lu" jawab Cakra.


"Gak jelas banget emang tuh si Kay!, udah lah, gw mau mandi dulu" kata Ruri yang langsung pergi ke kamar mandi dengan handuk di lehernya.


"Oke" ucap Cakra.


Setelah beberapa menit, Ruri keluar dari dalam kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk yang tadi dia bawa.


"Gimana tadi lamaran lu?, diterima kagak?" tanya Evan.


"Diterima dong" kata Ruri tersenyum sembari mengangkat alisnya.


"Jadi ngelamar sendiri lu tadi?" tanya Cakra.


"Eh iya soal itu belum gw ceritain ya ke kalian, jadi tadi kan gw disuruh masuk kan ke dalam sama Davira tuh, pas di dalam itu orangtua dia nanya "orangtua kamu kemana?, kok sendirian" gitu kan, nah gw jawab aja "nanti nyusul kok om, tante, mungkin masih terkena macet di jalan" asal ngomong tuh gw, padahal emang gw kesana sendiri kan, eh tiba-tiba bokap gw dateng nih sama cewek yang waktu itu kepergok lagi slebew kan sama gw, bokap gw sama tuh cewek ternyata bawa mahar 500 dirham ya kalau di jadikan rupiah itu sekitaran 2 milyar kan, kaget tuh gw awalnya, lah kok bisa ada bokap gw bareng sama wanita itu pula, tapi gw diem aja kan, seolah tidak terjadi apapun diantara kita, diterima lah tuh lamarannya, kita keluar kan bareng, terus di depan bokap gw cerita, kalau dia udah nikah sama tuh cewek, nunjukin buku nikahnya juga pula, tapi kok gw gak dikasih tahu sama sekali kan, rada kesel sih sebenarnya gw disitu, tapi karena lamaran gw diterima Davira, ya jadi gak terlalu ngefek lah ya" kata Ruri menjelaskan semua kejadian yang terjadi.


"Oh gitu" kata Cakra.


"Iya" jawab Ruri.


"Cie yang sebentar lagi nikah!" ledek Cakra.


"Iya nih" kata Ruri tersenyum mengangkat alisnya.


"Eh lu berdua jadi ngadain acara pernikahan barengan?" tanya Cakra.


"Jadi lah, biar beda dari yang lain" kata Evan.


"Nah, iya tuh bener!" timpal Ruri.


"Di satu tempat gitu?, terus nanti dikasih sekat atau enggak gitu?, pakai kursi panjang gitu, terus kalian sekeluarga duduk barengan gitu?" tanya Cakra.


"Iya gitu, pakai kursi panjang lah, ngapain pakai sekat-sekat segala, udah kayak orang lagi musuhan aja" ucap Ruri.


"Hm, anti mainstream ya kalian!" ucap Cakra menganggukkan kepalanya.


"Iya dong" ucap Evan dan Ruri kompak.


"Ya udah moga lancar ya sampai hari pernikahan kalian, pernikahannya langgeng sampai maut memisahkan kalian dengan pasangan kalian masing-masing, cepat dikarunia keturunan aamiin" kata Cakra tersenyum.


"Aamiin" ucap Ruri dan Evan kompak.


Mereka bertiga pun berpelukan seperti teletubbies sembari tersenyum manis.