
"Tokkk... tokk... assalamualaikum" ucap Ruri mengetuk pintu rumah Kay.
"Wa'alaikumsalam, ayok masuk" ucap Kay membukakan pintu.
"Eh lu jadi nikah sama Evan di satu tempat?, atau gimana?" tanya Cakra.
"Jadi dong, tapi ga satu tempat, satu tempatnya cuma buat artisnya doang gitu" jawab Ruri.
"Oh gitu" ucap Cakra menganggukkan kepalanya.
"Yaps, oh iya ini" kata Ruri memberikan undangan pernikahannya.
"Asik, udah jadi aja undangan lu, masih lama kan" kata Cakra.
"Dua minggu lagi, lama apanya" ucap Ruri.
"Hm, iya sih" ucap Cakra.
"Wih akad nikahnya di Belanda, ngeri, ngeri ini mh" ucap Kay.
"Eh berarti yang kemarin lu pergi sama Evan lama banget itu ke Belanda?" tanya Cakra.
"Yaps" kata Ruri.
"Jauh banget" kata Cakra.
"Nah iya, kenapa harus Belanda?, emang di Indonesia gak ada apa?" tanya Kay.
"Di Indonesia ada sih, tapi kalau gw maunya Belanda gimana?" tanya Ruri.
"Hm, gak apa-apa juga sih sebenarnya, yang penting ada budgetnya" kata Ruri.
"Booking tempat di Belanda habis berapa?, total semuanya berapa? ada M an gak?" tanya Kay.
"Ada lah pasti kalau M mh, ya gak mungkin kalau gak ada, booking tempat di Belanda emang murah apa?" tanya Cakra.
"Enggak sih, dulu gw pernah booking tempat di Amsterdam ya harganya lumayan" kata Kay.
"Berapa?" tanya Cakra.
"Ya mahal lah pokonya" kata Kay.
"Total lu habis berapa?" tanya Kay.
"Habis berapa ya gw lupa, gak tahu deh lupa" kata Ruri.
"Orang kaya mh enak ya, ngeluarin duit gak pakai mikir sampai lupa banyaknya pengeluaran pula" kata Cakra.
"Makanya lu jadi orang kaya Cak" ucap Kay menepuk pundak Cakra.
Cakra yang mendengar perkataan Kay sontak diam mematung.
"Sorry Cak, gw gak bermaksud kayak gitu kok" ucap Kay menepuk pundak Cakra.
"It's okay, no problem" ucap Cakra.
"Kok gw jadi kangen ya sama bokap gw, gw gak tahu tuh orang masih hidup apa kagak, padahal dia laki-laki paling tidak bertanggungjawab, laki-laki yang tega meninggalkan anak dan istrinya hanya demi wanita yang baru ia kenal, tapi bodohnya gw malah kangen sama dia, berharap dia balik lagi, padahal gw tahu itu tidak akan pernah mungkin terjadi" ucap Cakra dengan tatapan mata kosong.
"Sabar ya Cak, suatu saat pasti lu bakal ketemu lagi sama bokap lu itu, ya gw yakin kok, kalau bokap lu itu sebenarnya masih hidup, dan sebahagia apapun dia dengan keluarga barunya, pasti rasa penyesalan itu akan tumbuh di hatinya, saat kalian bertemu nanti, sekeras-kerasnya batu dia akan lunak jika terus terkena air, sama seperti manusia, sekeras apapun sifatnya, ia pasti akan luluh oleh cinta dan kasih sayang, bokap lu hanya perlu waktu untuk menyadari akan hal itu, sesuatu yang pergi tidak ada yang tidak mungkin untuk kembali lagi, semua sudah diatur oleh yang di Atas, kita semua hanya pemain yang hanya mengikuti skenarionya, dan gw yakin skenario kehidupan lu akan indah nantinya, ya seperti bertemu dengan bokap lu itu" ucap Kay.
"Akh lu mh gitu, gw kalau lagi benar ya benar, kalau lagi salah ya udah lah, lu tahu sendiri gw kayak gimana" ucap Kay.
Ruri yang mendengar hanya menganggukkan kepala.
"Di satu sisi gw kangen sama dia, tapi disisi lain gw benci sama dia" ucap Cakra.
"Jika lu benar-benar membencinya, lu tidak akan pernah merindukannya, apalagi untuk mengakuinya sebagai bokap lu, lu tidak benar-benar benci oleh dia, hanya saja, luka dan trauma lu itu masih ada dan belum benar-benar pulih, namun lu selalu mengabaikannya, makanya lu gak pernah sadar kalau sebenarnya trauma itu belum hilang" ucap Ruri.
Cakra yang mendengar pun menatap Ruri dengan tatapan mata sendu.
"Cak, gw tahu, lu gak mau konsultasi ke psikolog, untuk menyembuhkan trauma lu itu, kita akan selalu ada disamping lu, jangan pernah berfikir kalau lu itu sendirian, lu tidak sendiri Cak, gw tahu kok, lu trauma tentang cinta karena perlakuan bokap lu itu" ucap Ruri meneteskan air matanya.
"Lu tahu darimana?, gw gak pernah bilang ke siapapun" ucap Cakra.
"Mulut lu emang gak pernah berkata apapun, tapi sikap lu sangat jelas menunjukkan, jika lu trauma tentang cinta, mungkin lu gak sadar, tapi kita tahu kok, lu setiap dengar kata cinta, raut wajah dan tingkah lu selalu berubah, dan jari tangan lu itu selalu tremor seperti orang ketakutan, itu yang menunjukkan kalau sebenarnya lu trauma tentang cinta" ucap Ruri.
"Iya Cak, Ruri benar, mulut lu emng selalu bungkam, tapi tubuh lu itu tidak pernah bisa berbohong, mereka selalu berkata jujur, mereka selalu menunjukkan luka batinnya" ucap Kay.
Cakra yang mendengar pun seketika menunduk dan meneteskan air matanya. Ruri dan Kay pun memeluknya.
"Sorry ya, kalau gw merusak suasana bahagia lu" ucap Cakra tertawa kecil menatap Ruri dengan berlinang air mata.
"Enggak kok, gak merusak, santai aja" ucap Ruri tersenyum.
"Davira mana?, dia gak ikut?" tanya Cakra.
"Tadi Davira sih bilang, katanya dia mau ke rumah Clarissa dulu, sekalian ngasih undangan" ucap Ruri.
"Oh" ucap Cakra menganggukkan kepala.
"Yaps, rumah lu sepi banget Kay, pada kemana?" tanya Ruri.
"Nyokap bokap Tasya lagi di Thailand sama nyokap bokap gw, katanya sih liburan keluarga, biar mereka lebih dekat lagi gitu" ucap Kay.
"Oh jadi nyokap bokap lu udah ketemu sama nyokap bokapnya si Tasya?" tanya Ruri.
"Iya" ucap Kay menganggukkan kepala.
"Dari kapan?, udah lama?, kita disini lama kan, kok gak tahu ya?" tanya Ruri.
"Akh!, lu apa sih yang tahu Rur!" ucap Kay.
HEHE!.
"Eh, udah ya gw balik guys" ucap Ruri.
"Okay" ucap Kay.
"Assalamualaikum" ucap Ruri.
"Wa'alaikumsalam" ucap Kay dan Cakra kompak.
Ruri pergi dari rumah Kay ditemani dengan supir pribadinya.
Beralih ke Davira, ia tampak sangat ragu untuk menemui Davin memberikan undangan pernikahannya.
"Aduh, Davin lagi, malas banget deh sama orang itu, telepon Ruri aja kali ya?, biar ke rumah di Davin sama Ruri aja" ucap Davira.
Davira berusaha menghubungi Ruri, namun Ruri tidak mengangkat panggilan teleponnya, ternyata Ruri ketiduran di jalan dan tidak mendengar jika ponselnya berdering. Supir pribadinya yang mendengar ponsel Ruri berdering hanya menatapnya, karena tidak ingin membangunkan Ruri yang terlihat sangat pulas.
"Aduh, kok gak diangkat sih sama si Ruri, apa dia lagi di jalan ya?, hm, ya udah deh, aku kesana sendiri aja, walaupun malas sebenarnya sama si Davin" ucap Davira.
Davira pergi ke rumah Davin ditemani oleh supir pribadinya.