
"Ini aku kerumah kamu dulu atau langsung ke kafe aja?" tanya Evan via WhatsApp pada Fidelya.
"Langsung ke kafe aja, ini aku udah di kafe, cepat ya aku tunggu" ucap Fidelya.
"Oke siap" ucap Evan.
Evan pun segera menuju ke kafe yang Fidelya kirimkan padanya.
"Orangnya kemana lagi?, ya kali kafe segini luasnya gw cari-cari satu-satu persudut" ucap Evan pada dirinya sendiri.
"Evan" panggil salah satu wanita mengangkat tangan sembari tersenyum.
"Nah itu dia yang cari, akhirnya ketemu juga" ucap Evan.
"Ada apa Ya?, kok tumben banget kamu ngajakin aku ketemuan" ucap Evan.
"Emangnya gak boleh ya?" tanya Evan.
"Boleh kok boleh, tapi... !, akh ya sudah lah lupakan saja, kamu udah pesan makanan?" tanya Evan.
"Belum, nungguin kamu dulu" ucap Fidelya tersenyum kecil.
"Ya udah aku pesan ya makanannya" ucap Evan tersenyum.
"Iya" ucap Evan tersenyum.
Ketika ada waiters tak jauh darinya, Evan mengangkat tangannya, hingga waiters itu datang menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu mas, mbak?" tanya waiters.
"Mbak, kita mau pesan makanan" ucap Evan tersenyum.
"Ini daftar menunya mas" ucap waiters tersenyum memberikan daftar menu kepada Evan.
Evan mengambilnya sembari tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada waiters.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Evan.
"Apa aja deh terserah kamu" ucap Fidelya tersenyum.
"Mbak mau inkigayo sandwich dua sama milk shake dua" ucap Evan.
"Baik, ada lagi yang mau dipesan mas?" tanya waiters tersenyum.
"Kamu suka gak sama makanan dan minuman yang aku pesan?, kalau gak suka gak apa-apa ganti aja pesanannya" ucap Evan menatap Fidelya.
"Suka kok" ucap Fidelya tersenyum.
"Oke" ucap Evan.
"Udah mbak itu aja" ucap Evan tersenyum pada waiters.
"Baik mas, mohon ditunggu, saya permisi dulu ya mas, mbak" ucap waiters tersenyum.
"Iya mbak silahkan" ucap Evan tersenyum.
"Evan" panggil Fidelya.
"Iya, ada apa?" tanya Evan.
"Aku boleh ngomong sesuatu gak sama kamu?" tanya Fidelya.
"Mau ngomong apa?, ngomong aja" ucap Fidelya.
"Tapi kamu janji ya, jangan marah sama aku, jangan ngeledek juga" ucap Fidelya.
"Iya janji, emangnya mau ngomong apa sih?" tanya Evan.
"Hm, haduh gimana ngomongnya ya?, aku gak enak sama kamu, tapi kalau gak aku omongin sekarang, gak enak banget rasanya memendam" ucap Fidelya.
"Ngomong aja, daripada nambah beban pikiran kamu kan?, gak apa-apa kok, ngomong aja" ucap Evan.
"Hm, gini" ucap Fidelya menggigit bibir bawahnya dan langsung memalingkan wajahnya dari Evan.
"Ngomong aja gak apa-apa kok" ucap Evan sembari memegang tangan Fidelya tersenyum.
"Gw suka sama lu" ucap Fidelya dengan suara pelan dan tanpa jeda.
"Hah?, apa?, lu suka sama gw" tanya Evan terkejut.
"Iya, kenapa?" tanya Fidelya.
"Gak apa-apa kok, gw juga suka sama lu" ucap Evan tersenyum.
"Beneran?" tanya Fidelya terkejut.
"Iya, maaf ya gw gak berani ngomong sama lu, gw terlalu takut akan penolakan, habisnya lu cantik banget sih" ucap Evan menunduk malu.
"Hm, iya gak apa-apa, jadi gimana?" tanya Fidelya gugup.
"Yang tadi itu" ucap Fidelya mengangkat alisnya.
Evan menarik pundak Fidelya agar mendekatinya dan langsung menciumnya lalu berbisik di telinganya "besok kita nikah" bisik Evan.
Fidelya yang mendengarnya pun sontak terkejut dan menatap tajam Evan, Evan tersenyum mengangkat alisnya sembari berkata "kenapa hm?" tanya Evan.
"Niii-nikah?" tanya Fidelya gugup.
"Iya nikah, kenapa?" tanya Evan mendekatkan wajahnya kepada Fidelya.
"Gak apa-apa kok" jawab Fidelya tersenyum malu dan menundukkan wajahnya.
"Kamu gak mau nikah sama aku hm?" tanya Evan mengangkat alisnya.
"Mau kok" jawab Fidelya antusias.
"Ya udah, tunggu aku besok malam ya dirumah, habis isya aku ngelamar kamu ke rumah kamu" ucap Evan tersenyum mengangkat alisnya.
"Iii-iyya" ucap Fidelya tersipu malu.
"Permisi mas, mbak" ucap waiters datang mengantarkan pesanan mereka.
Waiters pun menurunkan pesanan Evan dari nampannya ke atas meja makan.
"Makasih ya mbak" ucap Evan DNA Fidelya kompak tersenyum.
"Sama-sama mas, mbak, saya permisi" ucap waiters menganggukkan kepala sembari tersenyum.
"Iya mbak" ucap Evan menganggukkan kepala dan tersenyum.
Waiters pun tersenyum dan pergi meninggalkan mereka.
"Ayok makan" ucap Evan tersenyum menatap Fidelya yang tengah menunduk malu.
"Iya" ucap Fidelya tersenyum dan menatap sekilas Evan serta memegangi bibirnya.
"Kenapa?, mau lagi hm?" tanya Evan menyeringai mengangkat alisnya.
Fidelya pun sontak terkejut dan keceplosan mengatakan "iya".
"Ya udah nanti aja, sekarang makan dulu aja biar kamu kenyang" ucap Evan menyeringai mengangkat alisnya.
"Iii-iyya" ucap Fidelya terbata-bata.
"Haduh!, bloon banget sih gw!, kenapa pakai keceplosan segala?, akh udah lah percuma" batin Fidelya.
Evan pun menatap Fidelya yang tengah tersenyum.
"Gak nyangka banget sih gw, kok bisa ya dia suka sama gw? pakai acara nembak duluan segala lagi, nyalinya gede juga ya ternyata dia, jarang-jarang ada cewek yang berani mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu ke cowok, biasanya kan betina maunya ditembak duluan, spesies betina langka sih, apa jenis spesies buaya betina ya?, akh udah lah, intinya gw udah tahu, kalau dia suka sama gw" batin Evan sambil terus memandangi Fidelya.
"Manis juga ya ternyata" ucap Fidelya dan Evan kompak memegangi bibir masing-masing.
"Apanya yang manis?" tanya Evan.
"Lah kamu juga bilang manis, apanya yang manis?" tanya Fidelya.
"Aku nanya malah balik nanya, bukannya dijawab dulu hm" ucap Evan.
"Kamu kan cowoknya, ya kamu duluan lah yang jawab" ucap Fidelya.
"Hm, okay, ini makanannya manis gitu, jarang-jarang kan beginian manis?, aku pernah beli dilain tempat kagak ada manis-manisnya, kok ini ada manisnya" ucap Evan.
"Iya sama, aku beli di tempat lain gak manis, kok ini kerasa ya manisnya?, biasanya kayak kurang enak gitu" ucap Fidelya.
"HAHA!, iya, ternyata kita sepemikiran juga ya" ucap Evan tersenyum.
"Iii-iyya" ucap Fidelya terbata-bata dan menunduk malu.
"HUFT!, untung aja dia gak sadar kalau sebenarnya yang manis bukan makanannya tapi dia" batin Fidelya.
"Ternyata dia suka juga ya, pakai acara berbohong segala lagi, bilang aja kali kalau mau nambah lagi" batin Evan menatap Fidelya sembari menyeringai.
Fidelya dan Evan pun menghabiskan makanannya dan langsung pulang dari sana.
Evan mengajak Fidelya untuk berteduh sejenak di depan hotel karena hanya itu tempat untuk berteduh di sekelilingnya tidak ada pohon sama sekali. Fidelya memeluk erat tubuhnya sendiri kedinginan. Evan pun melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Fidelya dan menggesekkan kedua tangannya agar terasa hangat dan menempelkannya diatas kedua tangan Fidelya. Fidelya pun menatap Evan tak berkedip.
Petir yang menyambar memecahkan suasana, Fidelya yang ketakutan pun akhirnya memeluk Evan.
"Kamu takut petir?" tanya Evan.
"Iya" ucap Fidelya menganggukkan kepalanya.
"Kita tunggu di dalam aja ya, biar kamu gak takut petir lagi" ucap Evan menarik tangan Fidelya untuk masuk ke dalam hotel.
Fidelya hanya mengikuti langkah kaki Evan karena Evan memegang tangannya. Evan memesan satu kamar dan membawa Fidelya untuk masuk ke dalam kamar sembari menunggu hujan berhenti.