Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Lamaran Ruri Diterima Davira



"Assalamualaikum" ucap Evan memasuki kamarnya.


"Wa'alaikumsalam, wih!, bagus juga tuh bajunya!" ucap Cakra menyeringai mengangkat alisnya.


"Bagus ya Cak?" tanya Evan.


"Iya, baju lu tuh Van?" tanya Cakra.


"Bukan baju gw tapi bajunya si Kay, gw pinjam tadi ke kamarnya" ucap Evan.


"Udah dicoba belum?" tanya Cakra.


"Belum, tadi pengen gw cobain di kamarnya si Kay, tapi gak jadi akh, si Kay rese" ucap Evan.


"Kenapa lagi dia?" tanya Cakra.


"Biasa, uring-uringan" ucap Evan.


"Bocilnya kumat ya HAHA!" ucap Cakra tertawa dan mengangkat alisnya.


"Nah, itu dia, makanya malas gw, mending cobain disini aja, setidaknya lu jauh lebih waras dari dia" ucap Evan.


"HAHA!, sembarangan kau kalau ngomong!" ucap Cakra.


"Kan emang benar, Kay yang paling gila kan dari kita?" tanya Evan.


"HAHA iya sih!" ucap Cakra tertawa dan menggaruk kepalanya menunduk malu.


"Mengakui juga kan lu!" ucap Evan.


"Iya, HAHA!, ya udah cobain dulu sana" ucap Cakra.


"Iya" ucap Evan yang langsung pergi ke kamar mandi.


"Woy Cak!, gimana?" tanya Evan keluar kamar mandi menyeringai dan mengangkat alisnya.



"Oke juga" ucap Cakra memandangi Evan dari atas sampai bawah.


"Mantap emang bajunya si Kay, udah gw jalan langsung aja ya, assalamualaikum" ucap Evan melambaikan tangan kepada Cakra.


"Iya wa'alaikumsalam, eh bro, parfum jangan lupa!" ucap Cakra menghentikan langkah kaki Evan.


"Oh iya lupa, astagfirullah" ucap Evan menepuk keningnya sendiri.


"Yakali mau ngedate kagak pakai parfum" ucap Cakra.


"HEHE!, iya Cak, untung lu ngingetin gw, kalau kagak, gak banget sih sumpah" ucap Evan.


"HAHA!, iya" ucap Cakra menertawakannya.


"Udah wangi belum?" tanya Evan.


"Udah sih, udah ke cium baunya dari jauh" ucap Cakra.


"Akh belum deh kayaknya" ucap Evan yang kembali menyemprotkan parfum ke bajunya dan lehernya.


"Udah eh, mabok entar cewek lu nyium parfum lu kebanyakan" ucap Cakra.


"HAHA!, yang penting wangi Cak" ucap Evan tertawa kecil.


"Wangi sih emang, tapi kasian doi lu nanti,. mual nyium parfumnya, yang ada bukannya seneng malah muntah-muntah lagi" ucap Cakra.


"HAHA!, kagak lah Cak!, udah akh gw jalan, assalamualaikum" ucap Evan.


"Wa'alaikumsalam, dibilangin ngeyel toh sampeyan" ucap Cakra.


"HAHA!, kaabuurr!" ucap Evan lari terbirit-birit.


Ketika melewati kamar tamu, Evan melihat Kay yang telah duduk bersandar didepan pintu.



"Ngapa lu?, frustasi banget kayaknya" ucap Evan menghampirinya.


"Itu kayak suaranya si Evan deh, dia belum jalan emangnya?, coba akh keluar" ucap Cakra yang langsung keluar kamar.


"Lah itu si Evan, si Kay ngapa tuh?, frustasi banget kayaknya, tekanan batin tuh orang?" tanya Cakra pada dirinya sendiri.


"Ngapa lu ngapa!, gara-gara lu tuh bini gw ngambek, gw dikunciin pintu, malah gak dapet jatah lagi" ucap Kay.


"Jatah apaan?" tanya Evan.


"Jatah makan malam lah, jatah apaan lagi" timpal Cakra.


"HAHA!, kasian deh lu!, gak bisa minum boba nanti malam" ucap Evan menertawakan dan mendorong Kay.


Kay pun menangis seolah-olah anak kecil sedang menangis.


"Idih!, kayak bocil lu!" ucap Evan mendorongnya.


"Tau lu!, ingat umur apa!" ucap Cakra sinis.


"Mas maaf" ucap Natasya yang langsung memegang kepala Kay dan membantunya duduk.


"Akh kamu mh, kalau mau buka pintu bilang-bilang dong, sakit tahu!" ucap Kay ngambek seperti bayi kecil.


"Maaf sayang, lagian kamu ngapain bersandar dibalik pintu, ya aku mana tahu, kalau kamu ada dibalik pintu itu" ucap Natasya.


"Ya lagian kamu ngambek, aku dikunciin pintunya, ya udah aku tungguin dibalik pintu, eh datang 2 setan itu" ucap Kay menunjuk ke arah Evan dan Cakra.


"Cak, hantam yuk!" ucap Cakra menepuk bahu Cakra mengangkat alisnya.


"Akh sayang, tuh lihat, mereka mau menghantam aku" ucap Kay yang langsung berlindung dibalik punggung Natasya.


"Orang dimana-mana suami ngelindungin istrinya ya, lah kok ini malah sih Kay yang ngumpet dibalik istrinya, berarti kalau ada apa-apa istrinya duluan dong yang kena bukan dia?, hm, suami macam apa kau Kay?" tanya Evan menyeringai mengangkat alisnya.


"Akh sayang!, lihat tuh!, mereka ngeselin" ucap Kay menunjuk Evan dan Cakra dengan bibir cemberutnya.


Natasya pun memeluknya dan menenggelamkan kepala Kay ke dalam pelukannya.


"Aih!, dia malah peluk-pelukan, udah yuk Cak pergi, daripada jadi nyamuk doang kita disini!" ucap Cakra menepuk pundak Cakra.


"Iya, ayok lah, udah sana lu mending jalan, jangan ngurusin si bucin Kayden Khafi, gw juga mau ke kamar aja, kunci pintu, tarik selimut, bobo manis aja, asikk!" ucap Cakra.


"Asikk!, tarik mang!" ucap Evan tertawa.


"Yihhaa!" ucap Cakra meniru suara kuda.


"Lu kata kuda Cak?, eh tapi emangnya kuda ada yang dangdutan ya?, baru tahu deh gw, biasanya yang dangdutan kan manusia Cak" ucap Evan kebingungan.


"Astagfirullahaladzim akhi, kenapa kamu jadi tertular virus lemotnya si Kay sih?" tanya Cakra menepuk pundak Evan.


Evan hanya terdiam, menatap kebingungan.


"Hm, udahlah gak penting!, udah sana jalan aja!" ucap Cakra mendorong Evan yang masih kebingungan.


Di sepanjang jalan keluar rumah Kay, Evan masih memikirkan tentang ada atau tidaknya kuda yang dangdutan.


"Gw masih kepikiran deh, masa iya ada kuda yang dangdutan?, eh ya Allah, astagfirullahaladzim, kenapa gw jadi dodol begini sih" ucap Evan menepuk keningnya sendiri.


"Mending gw jalan aja deh" ucap Evan menaiki motornya dan langsung pergi.


Beralih kepada Ruri, kini Ruri telah tiba didepan rumah Davira.


"Assalamualaikum Davira" ucap Ruri mengetuk pintu rumah Davira.


"Wa'alaikumsalam'' ucap Clarissa membukakan pintu.


"Lu perasaan ada mulu deh dirumahnya Davira, lu pembokatnya ya?" tanya Ruri.


"Sembarangan lu, gak gw restuin entar lu sama Davira" ucap Clarissa.


"Davira mana?" tanya Ruri.


Sesaat kemudian Davira muncul dari balik pintu dengan gaun indahnya.



"Ayok jalan" ucap Davira.


"Iii-iyya" ucap Ruri terbata-bata sambil terus menatap Davira yang terlihat sangat cantik.


"Silakan" ucap Ruri membungkukkan badan sembari membukakan pintu mobilnya.


"Wih!, mobilnya oke juga, ternyata dia orkay" ucap Clarissa.


"Makasih" ucap Davira tersenyum.


"Sama-sama" ucap Ruri tersenyum.


Ruri berlari ke tempat duduknya dan segera pergi dari sana. Davira pun tersenyum sembari melambaikan tangannya pada Clarissa dan Clarissa pun membalasnya dengan tersenyum dan melambaikan tangannya juga.


"Kamu cantik banget malam ini!" ucap Ruri memecah keheningan.


"Akh makasih!" ucap Davira tersipu malu.


Beberapa saat kemudian mereka tiba ditempat yang telah Ruri persiapkan untuk melamar Davira. Ruri berlari untuk membukakan pintu Davira.


Davira pun menganggukkan kepala dan tersenyum begitupun dengan Ruri.


Ruri memegangi tangan Davira menuntunnya masuk ke dalam. Ruri memundurkan kursi untuk Davira duduk dan ia pun duduk di depan Davira.


"Davira" panggil Ruri.


"Iii-iyya" ucap Davira terbata-bata.


Ruri berdiri dan menghampirinya lalu menunduk dihadapan Davira dengan mengatakan "Will You Marry Me?" tanya Ruri membuka kotak cincin yang ia bawa dihadapan Davira.


Davira pun tersenyum malu, hati kecilnya sangat gembira diperlakukan layaknya tuan putri seperti itu.


Davira pun menganggukkan kepala pertanda ia menerima lamaran Ruri dengan air mata kebahagiaan yang tampak dimata indahnya itu. Ruri pun tersenyum dan memakaikan satu cincin di jari manis Davira, setelah memakaikan cincin di jari manis Davira, Ruri berdiri dan Davira memegang tangannya untuk memakaikan Ruri cincin lainnya. Setelah cincin terpasang di jari manis Ruri, Ruri pun tersenyum bahagia dan memeluknya kemudian melanjutkan acara makan malam romantis mereka.