Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Pindah Rumah



"Haduh, gw beli baju yang mana ya?" tanya Ruri pada dirinya sendiri.


"Pakai jas atau kemeja aja?" tanya Ruri pada dirinya sendiri.


"Kemeja bagus sih, tapi kalau kemeja jadi kayak sugar daddy gitu gak sih? HAHAHA... !, ya udah lah pakai jas aja, tapi masa gw beli sih?, yang dirumah nanti gak kepakai dong?, tapi masa gw balik sih ngambil jas?, sempat gak ya?, ngeri gak cukup waktunya, akh cukup kali akh demi Davira" ucap Ruri pada dirinya sendiri.


Ruri pun tancap gas untuk pulang kerumahnya mengambil jas. Ruri pun tiba dirumahnya pada siang hari.


"Assalamualaikum pah" ucap Ruri mengetuk pintu rumahnya.


"Wa'alaikumsalam" ucap asisten rumah tangganya membukakan pintu.


"Silakan masuk tuan" ucap asisten rumah tangganya.


"Papah kemana bi?" tanya Ruri.


"Siapa bi?" tanya ayahnya keluar kamar.


"Papah" ucap Ruri memeluknya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya ayahnya.


"Papah, aku mau ngelamar seorang wanita malam ini" ucap Ruri.


"Kamu punya pacar nak?" tanya ayahnya.


"Enggak sih pah, aku maunya langsung nikah aja sama dia, boleh kan pah?" tanya Ruri.


"Iya sayang, boleh kok, kok gak dikenalin ke papah dulu sih?" tanya ayahnya tersenyum.


"HEHE... !, nanti aja pah kalau diterima sama dia, nanti aku kenalin ke papah" ucap Ruri tersenyum.


"Ya udah terserah kamu aja" ucap ayahnya tersenyum.


"Ya udah pah, aku ke kamar dulu mau ngambil baju terus langsung balik lagi kesana" ucap Ruri.


"Ngapain lagi nak?" tanya ayahnya.


"Kan mau ngelamar Davira pah" ucap Ruri.


"Oh jadi nama wanita itu Davira" ucap ayahnya tersenyum.


"Iii-iya pah" ucap Ruri terbata-bata.


"Semoga diterima ya nak sama dia" ucap ayahnya.


"Aamiin, makasih pah" ucap Ruri.


"Iya nak" ucap ayahnya menepuk pundak Ruri.


"Pah, bantuin aku dong pilih baju, aku bingung mau pakai baju yang mana" ucap Ruri.


"Iya nak, ayok kita ke kamar kamu" ucap ayahnya merangkul bahu Ruri.


"Iya pah" ucap Ruri tersenyum.


"Pakai yang mana ya pah" ucap Ruri mengeluarkan semua bajunya dari dalam lemari.


"Ini aja gimana?" tanya ayahnya memberikan baju pad Ruri.


"Emang ini bagus pah?" tanya Ruri.


"Bagus nak, dicoba aja dulu" ucap ayahnya.


"Iya pah" ucap Ruri tersenyum dan langsung pergi ke kamar mandi.



"Pah gimana?" tanya Ruri keluar dari kamar mandi.


"Bagus nak, cakep" ucap ayahnya mengacungkan jempol tangannya.


"Oke pah" ucap Ruri tersenyum dan langsung pergi ke kamar mandi melepas pakaiannya.


"Kok dilepas lagi nak bajunya?" tanya ayahnya.


"Pakai disana aja nanti pah" ucap Ruri.


"Oke nak" ucap ayahnya tersenyum.


"Pah, Ruri pinjam mobilnya ya, buat jemput Davira nanti malam" ucap Ruri.


"Pakai aja nak, itu kan mobil satunya buat kamu" ucap ayahnya tersenyum.


"Iya pah" ucap Ruri.


"Pah, pak Rizky kemana ya?" tanya Ruri melihat sekelilingnya.


"Pak Rizky, sini sebentar, anak saya mau ketemu sama bapak" ucap ayahnya.


"Ada apa tuan?" tanya pak Rizky menghampiri mereka.


"Pak, boleh tolong bawakan motor saya?, soalnya nanti saya juga ada perlu sama motor itu, biar nanti mobil saya yang bawa, bapak bawa motor saya" ucap Ruri tersenyum.


"Siap tuan" ucap pak Rizky tersenyum.


"Pah, Ruri langsung jalan aja ya, takut telat buat acara nanti malam sama Davira" ucap Ruri.


"Iya nak" ucap ayahnya tersenyum menepuk pundak Ruri.


"Assalamualaikum pah" ucap Ruri tersenyum mencium punggung tangan ayahnya.


"Wa'alaikumsalam nak" ucap ayahnya tersenyum.


"Ayok pak" ucap Ruri menoleh pak Rizky disampingnya.


Ruri dan pak Rizky pun pergi ke penginapan Ruri. Ketika sampai di pekarangan rumahnya, ponsel Ruri berdering.


"Sebentar ya pak" ucap Ruri menoleh pak Rizky.


"Siap tuan" ucap pak Rizky.


"Evan" ucap Ruri melihat nama panggilan masuk di ponselnya itu.


"Assalamualaikum Rur, ini gw sama Cakra sekarang ada di rumahnya Kay sama Tasya istrinya, Kay sama Tasya minta kita tinggal di rumah mereka aja" ucap Evan.


"Wa'alaikumsalam, terus cincin gw gimana?" tanya Ruri panik.


"Tenang, cincin lu masih sama gw kok, ya udah lu kesini aja, nanti gw kirim ke lu lokasi rumahnya si Kay" ucap Evan.


"Oke, ya udah nanti gw kesana" ucap Ruri.


"Oke, assalamualaikum" ucap Evan.


"Wa'alaikumsalam'' ucap Ruri mematikan panggilan teleponnya.


Setelah mematikan panggilan telepon, notifikasi WhatsApp lokasi dari Evan masuk ke ponsel Ruri dan Ruri serta pak Rizky pun menuju ke lokasi itu.


"Ini bukan ya rumahnya?" tanya Ruri pada dirinya sendiri.


"Sepertinya ini tuan, coba aja dulu tuan" timpal pak Rizky.


"Iya pak" ucap Ruri.


Ruri pun memencet bel rumah yang dikirimkan lokasinya oleh Evan.


"Cari siapa ya mas?" tanya security menghampirinya.


"Gini pak, tadi saya dikirimkan alamat rumah ini sama teman saya" ucap Ruri.


"Siapa nama temannya?" tanya security.


"Evan pak, kata Evan tadi saya disuruh kesini aja, tinggal sama Kay dan istrinya Tasya" ucap Ruri.


"Sebentar saya konfirmasi dulu sama tuan Kay" ucap security.


"Baik pak" ucap Ruri.


"Tuan, ini diluar ada yang ngaku teman tuan" ucap security.


"Siapa namanya?, Ruri bukan?" tanya Kay.


"Mas, siapa namanya?" tanya security pada Ruri sembari menjauhkan ponselnya.


"Ruri pak" ucap Ruri.


"Namanya Ruri tuan" ucap security.


"Suruh langsung masuk aja pak" ucap Kay.


"Siap tuan" ucap security.


"Mas silahkan masuk" ucap security membukakan pintu pagar.


"Terima kasih pak" ucap Ruri.


Ruri masuk ke dalam membawa mobilnya sedangkan pak Rizky mengantarkan motor Ruri ke dalam.


"Saya permisi ya tuan" ucap pak Rizky.


"Iya pak, makasih ya pak" ucap Ruri tersenyum.


"Sama-sama tuan" ucap pak Rizky tersenyum dan langsung pergi meninggalkannya.


"Assalamualaikum" ucap Ruri mengetuk pintu rumah Kay.


"Wa'alaikumsalam, ayok masuk bro" ucap Kay tersenyum membukakan pintu.


Ruri hanya mengangguk dan tersenyum.


Kay mengantarkan Ruri ke kamar yang terdapat Evan dan Cakra.


"Nyampe juga lu, kirain nyasar" ucap Evan.


"Emangnya lu apa nyasar?" tanya Ruri kesal.


"Emang gw pernah kesasar apa?" tanya Evan.


"Lu kagak ingat emang pas lu bilang ke gw dulu, kalau lu kesasar ke kuburan" ucap Ruri tertawa kecil.


"Ke kuburan ngapain lu?" tanya Kay.


"Katanya dia ngeliat google maps tapi malah kesasar ke tengah-tengah kuburan" ucap Ruri.


"Kagak bisa baca maps lu?" tanya Kay mendorong Evan.


Evan hanya tersenyum dan menunduk malu sembari menggaruk-garuk kepalanya.


"Gw baru tau lho, kalau Evan pernah kesasar ke rumah masa depan" ucap Kay.


"Dia nyariin cewek cantik maybe" timpal Ruri.


"Cewek cantik mana ada di kuburan, yang ada cuma mayat" ucap Kay.


"Mayat cantik, kan judulnya cantik" timpal Ruri.


Kay hanya diam seribu bahasa, menunduk malu dan teman-temannya masih menertawakannya.