
"Mas, apa kabar kamu disana saat ini?, aku rindu kamu mas, walaupun aku tahu, pasti kamu diluar sana tidak pernah merasakan kerinduan pada ku, walaupun sudah sangat lama kamu meninggalkan ku dan Cakra begitu saja, tidak memberi ku nafkah, bahkan juga tidak menceraikan aku, tapi bagi aku, kamu tetap suamiku, walaupun menurut agama, kita ini sudah bukan sepasang suami istri lagi, karena kamu sudah 10 tahun meninggalkan kita begitu saja, tidak pernah lagi memberikan nafkah seperak pun, aku masih mencintai mu mas, walaupun di hati kamu sudah bukan lagi namaku yang menjadi ratunya, tapi nama Aislinn Rafita, pasti Aislinn sangat menarik dimata kamu, hingga kamu tega untuk meninggalkan istri dan anak kamu sendiri untuk bersanding dengan bunga lain yang lebih menarik dari aku, aku tau kok mas, aku sudah tidak menarik lagi dimata kamu, karena kamu selalu bertemu dengan ku di dalam satu atap yang sama, yah membuat kamu ingin mencari wanita lain yang jauh lebih cantik, dan pastinya lebih menarik dari aku, aku terima mas, aku terima semua perlakuan kamu ke aku, tetapi mengapa, anak kandung kamu, darah daging kamu sendiri juga harus merasakan pahitnya mas?" tanya Kiara Octavia ibu Cakra meneteskan air mata menatap foto keluarga mereka ketika Justin Aquilla suaminya masih ada bersama mereka.
"Aku masih mencintai mu mas, kembalilah mas, jika bukan untuk aku, maka kembalilah untuk Cakra Rayyanza, darah daging kamu sendiri, dia butuh kamu mas, dia butuh peran seorang ayah mas, kamu menyakiti hatinya ketika anak-anak lain sedang asyik-asyiknya bermain, di umur 12 tahun, dia harus menyaksikan ayahnya pergi meninggalkannya dan lebih memilih bersama wanita lain" ucap Kiara menangis sesenggukan menatap foto keluarga mereka.
Kiara mengambil album foto di dalam lemarinya. Kiara membuka satu persatu lembar foto.
Pada lembar pertama terdapat foto Justin suaminya sedang membacakan ijab qobul di depan penghulu dan para saksi.
Kiara masih mengingat dengan jelas, masa dimana Justin mengucapkan ijab qobul dengan lantang dan dengan sekali tarikan nafas
"Saya terima nikahnya Kiara Octavia dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" ucap Justin dengan lantang di depan penghulu dan para saksi.
"Bagaimana para saksi?, sah?" tanya penghulu menatap para saksi dan tamu undangan pernikahan.
"Sah... !" ucap para saksi dan tamu undangan kompak.
Semuanya terasa begitu manis dan melekat di ingatan Kiara. Ia juga masih mengingat semua janji yang Justin ucapkan semasa pacaran. Semua janji yang Justin ucapkan masih terkunci dan tertata rapi di memori ingatannya. Kiara yang mengingat semua masa lalunya yang membahagiakan pun tersenyum tetapi air matanya masih terus mengalir deras seperti laut yang tidak ada ujungnya.
Di lembar berikutnya terdapat foto-foto mereka sesudah akad nikah. Terdapat foto ketika Justin bertekuk lutut di hadapannya hanya demi memasangkan cincin pernikahan mereka. Justin mencium punggung tangan Kiara dan Kiara meneteskan air mata bahagianya. Foto-foto setelah akad nikah mereka sangat manis dan membahagiakan. Pernikahan yang ia dambakan dan rumah tangga yang harmonis akhirnya retak hanya karena kehadiran Aislinn sebagai orang ketiga di dalam rumah tangganya.
Di beberapa lembar terakhir, terdapat foto mereka ketika masih bersahabat. Kiara dan Justin memang tidak pernah berpacaran sebelumnya, mereka hanya bersahabat selama beberapa bulan dan kemudian Justin melamar Kiara.
"Aku pikir jika dengan jalur ta'aruf, aku bisa mendapatkan laki-laki yang benar-benar mencintaiku dengan tulus, bisa menerima segala kekurangan ku dan tidak pernah mencari kebahagiaan dengan wanita lain diluar sana, namun ternyata aku salah memilih laki-laki, aku salah mengira jika dengan melewati jalur pacaran, aku akan mendapatkan pasangan sehidup semati, namun ternyata, ia tergoda oleh kecantikan wanita lain, ia melupakan janji yang telah ia ucapkan di depan penghulu dan para saksi, bahkan ia melupakan janjinya pada darah dagingnya sendiri, mas, aku tidak pernah membencimu karena aku pernah mencintaimu hingga aku memutuskan untuk menikah dengan mu, tapi mengapa kamu sakiti hati darah daging mu sendiri?, kembali mas, aku mohon, kembali untuk anak kamu Cakra Rayyanza" ucap Kiara menangis sesenggukan menatap foto Justin dan memeluk bingkai foto itu untuk mengobati rasa rindunya pada laki-laki yang masih sangat ia cintai itu.
Di lain tempat, Justin yang sedang melaju adegan bersama Demelza pun tiba-tiba merasakan sakit pada hatinya. Iya memegang dadanya yang terasa sangat sakit itu.
"Kenapa hati aku tiba-tiba sakit ya?, kok jadi tiba-tiba nyesek begini ya?, ada apa sebenarnya?" batin Justin bertanya-tanya.
"Mas" panggil Nia yang menyadarinya.
Justin tidak menjawab panggilan Nia dan masih memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ia tiba-tiba terasa sesak nafas.
"Mas, kamu kenapa sih?, kok diem aja sih?" tanya Nia menepuk pundak Justin yang tengah bengong.
"Apa sayang?" tanya Justin terkejut.
"Mas kenapa sih?, daritadi aku ajakin ngomong kok diem aja, mas kenapa? mas sakit ya?" tanya Nia.
"Akh itu... !, kirain apa sayang, mas gak apa-apa kok, ya udah ayok lanjut lagi" ucap Justin.
Kiara membanting bingkai foto yang tadi ia peluk, berteriak histeris dan mengacak-acak kamarnya, hingga memecahkan kaca di dalam kamarnya.
"AKH!" teriak Justin yang merasa sangat sesak nafas.
"Gak tau sayang, tadi tiba-tiba kayak langsung gak bisa nafas gitu" ucap Justin.
"Hm, bilang aja keenakan kan kamu?" ucap Nia menyeringai mengangkat alisnya.
"Enggak sayang, aku serius, kayak seketika nyesek banget gitu" ucap Justin.
"Kita ke rumah sakit aja ya mas, aku jadi takut kamu kenapa-kenapa deh" ucap Nia.
"Gak usah sayang, paling besok pagi udah ilang rasa sakitnya" ucap Justin tersenyum.
"Ya udah, kalau begitu kamu tidur aja ya sayang, istirahat, mau aku ambilkan minum gak sayang?" tanya Nia.
"Boleh sayang" ucap Justin mengangguk.
Nia pun pergi ke dapur mengambilkan segelas air untuk Justin.
"Ini ku kenapa ya?, gak biasanya deh kayak gini, udah lama gak kayak gini, terakhir itu waktu setelah hari pernikahan ku sama Aislinn, kenapa kayak gini lagi?, Kiara?, apa ada hubungannya sama Kiara?, AKH... !, kenapa aku jadi mikirin dia deh?, gak penting banget deh" ucap Justin pelan.
"Tapi anak ku dengan Kiara bagaimana?, pasti saat ini anak ku Cakra sudah sebesar Clarissa anak Aislinn deh" ucap Justin tersenyum dan berlinang air mata.
Justin menikah dengan Aislinn ketika Aislinn sudah memiliki anak yaitu Clarissa Edlyn dan semenjak mereka menikah, mereka tak kunjung diberikan keturunan, setiap Aislinn mengandung selalu keguguran.
"Cakra, papah kangen sama kamu nak, seandainya saja kita bisa bertemu sejenak untuk sekedar melepaskan kerinduan yang ada" ucap Justin meneteskan air matanya.
"Mas, ini minumannya" ucap Nia memberikan segelas air.
"Mas kenapa nangis?" tanya Nia.
"Gak nangis kok sayang, kemasukan debu aja perih, makanya berair deh mata aku" ucap Justin tersenyum.
"Oh gitu" ucap Nia.
"Iya sayang, makasih ya sayang udah di ambilkan minuman" ucap Justin tersenyum mengelus pucuk kepala Nia.
"Iya mas, sama-sama" ucap Nia tersenyum.
"Ya udah mas mau tidur aja ya sayang, kamu tidur juga udah malam" ucap Justin tersenyum mengelus pucuk kepala Nia.
"Iya mas" ucap Nia tersenyum dan langsung memejamkan matanya.
Justin tidak bisa tidur, ia seketika memikirkan masa-masa indah ketika ia masih bersama dengan Kiara dan buah hatinya yaitu Cakra Rayyanza. Air matanya terus mengalir, ia terus memaksa matanya untuk terpejam, namun air matanya terus menetes, hingga akhirnya matanya terpejam namun dengan air mata yang masih terus mengalir.