Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Benci Jadi Cinta



"Assalamualaikum bu, Cakra pulang" ucap Cakra yang langsung memasuki rumahnya yang terbuka dan tidak terkunci.


"Wa'alaikumsalam nak" ucap ibunya.


"Lama banget nak, kamu kemana aja?" tanya ibunya.


"Tadi Cakra sama bapak-bapak yang kita pinjam uang itu ke bank dulu bu, soalnya kan uang Cakra di ATM semua, oh iya, ini bukti pembayarannya bu, ibu yang simpan aja, takutnya kalau Cakra yang simpan nanti malah hilang" ucap Cakra tersenyum.


"Iya nak" ucap ibunya tersenyum.


"Bu, Cakra ke kamar dulu ya mau ngelanjutin skripsi Cakra" ucap Cakra.


"Iya nak" ucap ibunya tersenyum.


Cakra pun masuk ke dalam kamarnya untuk melanjutkan skripsinya yang belum selesai.


Waktu terus berjalan tiba kini waktunya shalat Dzuhur.


"Cakra, shalat dulu nak" ucap ibunya mengetuk pintu kamar Cakra.


"Iya bu, Cakra berangkat ke masjid dulu ya bu, ibu mau ikut atau mau di rumah aja?" tanya Cakra.


"Nanti ibu shalat di rumah aja nak, kamu kalau mau ke masjid pergi aja nak" ucap ibunya tersenyum.


"Ya udah bu, Cakra pamit ya bu, assalamualaikum" ucap Cakra tersenyum dan langsung mencium punggung tangan ibunya.


"Iya nak, wa'alaikumsalam" ucap ibunya.


Cakra pergi ke masjid, sesampainya disana ia langsung mengambil air wudhu.


"Pak kok belum adzan sih?, ini kan udah waktunya adzan" ucap Cakra melihat ke jam tangan yang ia pakai.


"Iya mas, mas adzan ya sama jadi imam masjid ini" ucap pengurus masjid.


"Emang pak ustadz kemana pak?" tanya Cakra.


"Pak ustadz sakit mas" ucap pengurus masjid.


"Ya udah kalau gitu" ucap Cakra yang langsung masuk ke dalam masjid.


Cakra pun mulai mengumandangkan adzan dan semua jamaah sudah memenuhi masjid termaksud salah satunya Clarissa Edlyn yang berada di shaf belakang wanita.


"Masya Allah, suaranya merdu banget, siapa ya yang mengumandangkan adzan itu?, masih muda atau udah berumur ya?, tapi suaranya kayaknya masih muda sih" batin Clarissa dan tersenyum mendengarkan suara seseorang yang sedang mengumandangkan adzan yang tanpa ia ketahui itu adalah Cakra Rayyanza cowok yang sangat ia benci.


Setelah melaksanakan shalat Dzuhur, Clarissa bergegas keluar untuk mencari seseorang yang mengumandangkan adzan tadi.


"Masya Allah mas Cakra, bagus banget tadi suaranya saat mengumandangkan adzan dan pada saat membacakan bacaan shalat" ucap salah satu pria tersenyum sembari menepuk pundak Cakra.


"Akh bapak bisa aja deh" ucap Cakra tersenyum malu.


"Alhamdulilah, terima kasih pak" ucap Cakra tersenyum.


"Hah?, apa?, si cowok rese itu yang jadi imam masjid tadi?, gak, gak, pokoknya enggak, ini gak mungkin banget terjadi" ucap Clarissa menguping pembicaraan mereka.


"Gak mungkin mbak?, mas Cakra memang sudah biasa menjadi imam di masjid ini, karena suaranya sangat merdu saat mengumandangkan adzan" ucap salah satu pria yang mendengar perkataan Clarissa.


Mendengar suara pria itu membuat Cakra menoleh ke belakang. Clarissa mulai panik saat melihat Cakra menoleh ke arahnya dan perlahan mendekatinya.


"Ada masalah apa hm?" tanya Cakra tersenyum.


"Engg-enggak kok" ucap Clarissa terbata-bata.


"Akh masa sih?, are you sure Clarissa Edlyn?" tanya Cakra tersenyum mengangkat alisnya.


"Mas sama mbak udah saling mengenal ya?, apa jangan-jangan kalian berdua ini sepasang kekasih ya?" tanya salah satu pria meledek mereka.


"Dia bukan pacar saya pak, apa-apaan pacaran sama cowok rese kayak dia" ucap Clarissa kesal dan langsung memalingkan wajahnya dari Cakra.


"Iya pak, dia bukan pacar saya kok, saya gak kenal sama dia, ya saya tahu dia karena sahabat saya Ruri nikah sama sahabatnya dia Davira, ya makanya mau gak mau, saya kenal sama dia, kenal nama doang tapi, gak lebih" ucap Cakra tersenyum kecil dan langsung memalingkan wajahnya dari Clarissa.


"Mas sama mbak cocok ya, sepertinya kalian berjodoh" ucap salah satu pria.


"Berjodoh sama dia?, ogah, saya permisi assalamualaikum" ucap Clarissa yang langsung pergi.


"Wa'alaikumsalam, siapa juga yang mau jadi jodoh cewek sengklek kayak lu!" teriak Cakra sembari menunjuk Clarissa.


Clarissa menatap Cakra dengan wajah kesal dan kembali berjalan.


"Kok bisa sih cowok rese kayak dia jadi imam masjid?, lah emang bisa si rese itu?, akh ilah, udah baper gw padahal sama suara yang mengumandangkan adzan tadi, eh gak tahunya malah si kutu kupret itu!, kenapa sih gw harus ketemu sama dia lagi, dia terus, dia mulu?, kayak gak ada cowok lain aja deh, padahal kan cowok di muka bumi ini banyak ya?, kenapa harus dia?, tapi kalau di lihat-lihat sih emang tuh cowok ganteng, ya suaranya juga merdu banget, tapi kelakuannya menyebalkan, eh kenapa mulut gw jadi muji si cowok rese itu sih?, akh udah lah!, gak penting banget pakai acara memuji dia segala!" ucap Clarissa di tengah perjalanan.


"Kalau dilihat-lihat sih emang si cewek sengklek itu cantik juga sih, dia juga mau ke masjid, yang kebanyakan cewek jaman sekarang malas pergi ke masjid, tapi dia mau pergi ke masjid, ada satu kelebihan sih dia, walaupun sengklek tapi setidaknya ada titik terang walaupun sedikit gak banyak, eh kenapa gw jadi muji si cewek sengklek itu sih?, akh gak penting banget deh muji dia" ucap Cakra menepuk keningnya sendiri.


Cakra kembali ke rumahnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya, begitupun dengan Clarissa Edlyn.


Cakra mengingat seluruh kejadian yang telah ia lalui dengan Clarissa Edlyn, tanpa ia sadari bibirnya tersenyum karena hal itu, begitupula dengan Clarissa Edlyn yang tengah memikirkan Cakra.


"Eh, kok gw jadi mikirin si cewek sengklek itu sih?, akh ilang ini gw kenapa sih?, kan cewek banyak kenapa harus si cewek sengklek itu segala sih?, akh ayok dong Cakra, lu gak boleh mikirin dia, nanti kalau si sengklek itu tahu dia bisa kebaperan lagi, ikh!, ayok dong!, come on, jangan mikirin dia terus Cak, tapi akh kenapa susah sih?, ini otak gw lagi kenapa sih?, help me please my brain you tidak boleh memikirkan si cewek sengklek itu lagi" ucap Cakra pada dirinya sendiri sembari menutup wajahnya sendiri dengan bantal.


Di lain tempat Clarissa juga tidak bisa melepaskan Cakra Rayyanza dari pikirannya. Suara Cakra masih berdengung dengan sangat indah di telinganya.


Nampaknya benih-benih cinta sudah mulai tumbuh di hati mereka. Kebencian mereka nampaknya sudah mulai terkikis, dan mulai mencuat rasa kagum antara satu sama lain.


Benar kata orang "jangan terlalu membenci lawan jenis, karena benci bisa perlahan bisa berubah menjadi benih cinta, dan cinta juga perlahan bisa berubah menjadi rasa benci karena sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh satu pihak".


Cakra dan Clarissa tengah berusaha sekeras mungkin menepis pikiran mereka namun nampaknya benih-benih cinta itu sudah mulai bermekaran di hati mereka, yang membuat mereka sulit melepaskan satu sama lain dari dalam ingatan.