
"Dina, maafkan Ruri ya sayang, Ruri tidak tahu jika kita sudah menikah" ucap Rafardhan Sambara ayah Ruri.
"Iya mas gak apa-apa kok, aku ngerti, lagipula kita juga menikah sirih tanpa sepengetahuan Ruri" ucap Madina Aileensha Nafeesa ibu sambung Ruri.
"Iya sayang, terus kita harus apa?, apa kita kasih tahu ke Ruri sekarang aja?" tanya Rafa.
"Jangan mas, tadi kata Ruri kan dia pulang mau ajak kamu untuk ngelamar wanita yang dia cinta kan mas?" tanya Dina.
"Iya" ucap Rafa menganggukkan kepala.
"Ya udah kalau gitu kita ke tempat Ruri aja mas, tapi jangan sampai Ruri tahu, bawa maharnya sekalian, kita ikutin Ruri diam-diam kerumah pacarnya itu" ucap Dina.
"Benar juga kamu, ya udah ayok kita kerumah temannya si Kay, terakhir dia kirim alamat rumah istrinya Kay, Ruri tinggal disana katanya, sama teman-temannya yang lain juga" ucap Rafa.
"Iya mas" ucap Dina.
"Itu uang apa mas?" tanya Dina.
"Ini dirham sayang, uang Emirates Arab.
"Oh gitu, kamu bawa berapa mas untuk mahar wanita pilihan Ruri itu?" tanya Dina.
"Cuma 500 dirham kok sayang gak banyak, tapi sepertinya cukup untuk uang mahar" ucap Rafa.
"500 dirham kalau dijadikan rupiah berapa mas?" tanya Dina.
"Cuma 2 milyaran kok sayang gak banyak" ucap Rafa tersenyum.
"Ya sudah mas, itu sesuai dengan uang mahar yang diberikan Rasullullah kepada Khadijah" ucap Dina.
"Iya sayang, makanya itu aku sengaja membawa uang dirham biar gak terlalu numpuk kalau taruh di koper" ucap Rafa tersenyum.
"Iya mas, kamu kok punya uang Arab mas?" tanya Dina.
"Iya sayang kemarin sisa penukaran uang pas ke tanah suci Mekkah, gak aku tuker lagi, aku bawa pulang aja langsung, tadinya mau aku tukerin tapi gak sempat terus, jadi ya udah deh" ucap Rafa tersenyum.
"Oh gitu" ucap Dina.
"Iya sayang, ya udah yuk kita jalan" ucap Rafa.
"Iya mas" ucap Dina tersenyum.
Rafa dan Dina pergi ke rumah Kay dan Tasya untuk mengikuti diam-diam.
"Assalamualaikum Ruri, kamu jadi kesini kan malam ini?" tanya Davira.
Mendapatkan WhatsApp dari Davira membuatnya bingung, jika ia membatalkan rencana malam itu, pasti bukan hanya Davira yang marah kepadanya melainkan juga keluarga Davira. Ruri keluar kamar menuju ke dapur untuk mengambil segelas air.
"Kenapa lu Rur?" tanya Kay.
"Davira nanya ke gw, gw jadi kerumahnya atau enggak malam ini, gw bingung" ucap Ruri.
"Bingung kenapa?" tanya Evan.
"Gw bingung, gw kecewa sama bokap gw" ucap Ruri.
"Kenapa bokap lu?" tanya Cakra.
"Bokap gw main sama wanita didalam kamarnya tadi pas gw pulang" ucap Ruri.
"Slebew?" tanya Evan.
"Iya Van" ucap Ruri.
"Astagfirullahaladzim, pantesan aja muka lu pucat banget tadi, keliatan lemes banget, gak tahunya habis mergokin bokapnya slebew sama cewek dikamar" ucap Cakra.
"Hm, gw harus gimana?, kalau gw gak jadi kerumah Davira nanti dia sama keluarganya marah lagi sama gw, kayak mempermainkan gitu jatuhnya, gimana dong?, gw bingung" ucap Ruri.
"Menurut gw nih ya, lu kerumah Davira aja, daripada dia marah kan" ucap Cakra.
"Sendirian gitu?" tanya Ruri.
"Iya gak ada pilihan lain lagi, daripada lu di cap buruk sama keluarganya Davira" ucap Cakra.
"Hm, iya sih" ucap Ruri.
"Ya udah itu bales chat si Davira, bilang iya jadi gitu" ucap Cakra.
"Hm, tapi..." ucap Ruri menghentikan perkataannya.
"Tapi apaan sih?, udah sini hp lu" ucap Cakra yang langsung menarik hp Ruri.
"Wa'alaikumsalam, iya, jadi kok" ucap Cakra.
"Udah gw balas tuh wa nya si Davira" ucap Cakra mengembalikan ponsel Ruri.
"Lu yakin Cak?" tanya Ruri.
"Iya yakin, udah sana lu siap-siap" ucap Cakra.
"Hm, okay" ucap Ruri.
Setelah rapih ia pergi ke rumah Davira dengan mobil sport miliknya. Ayah dan ibu sambungnya yang melihat langsung mengikutinya dari kejauhan agar Ruri tidak curiga.
"Iya mas" ucap Dina.
"Assalamualaikum Davira" ucap Ruri mengetuk pintu rumah Davira.
"Wa'alaikumsalam, kamu sendiri mas?" tanya Davira.
"Hm iya, nanti ortu aku nyusul kok" ucap Ruri.
"Ya udah ayok masuk mas" ucap Davira.
"Iii-iyya" ucap Ruri gemeteran.
Ketika Ruri masuk, Rafa dan Dina turun dari mobilnya dan langsung masuk ke rumah Davira.
"Assalamualaikum om, tante" ucap Ruri tersenyum bersalaman dengan orangtua Davira.
"Wa'alaikumsalam, jadi kamu Ruri?" tanya ayah Davira.
"Iii-iyya om" ucap Ruri gemeteran.
"Santai aja nak, orangtua kamu mana?, kamu kesini sendirian?" tanya ayah Davira tersenyum.
Hm...
"Assalamualaikum pak, bu, kami orangtua Ruri" ucap ayah Ruri yang langsung datang tersenyum.
Ruri yang melihat kehadiran ayahnya dan wanita yang tadi bermesraan dengan ayahnya di ranjang menjadi heran kebingungan, mengapa ayahnya seolah bersikap jika wanita itu adalah ibunya.
"Silakan duduk pak, bu" ucap ayah Davira tersenyum.
"Tujuan kami datang kesini untuk melamar anak bapak dan ibu yaitu Davira" ucap ayah Ruri tersenyum.
"Oh iya, tadi Davira udah bilang ke kita" ucap ayah Davira tersenyum.
"Oh iya ini uang maharnya" ucap ayah Ruri meletakkan koper berisi uang 500 dirham.
"WOW!, dirham?" tanya ayah Davira terkejut saat melihat isi koper yang diberikan oleh ayah Ruri.
Ruri yang mendengarnya sontak terkejut dan menatap bingung ayahnya.
"Iya pak" ucap ayah Ruri tersenyum.
"Berapa dirham total uang ini kalau boleh saya tahu?" tanya ayah Davira.
"500 dirham, seperti uang mahar yang diberikan oleh Rasulullah kepada Khadijah" ucap ayah Ruri tersenyum.
Ruri yang mendengarnya dibuat semakin tidak percaya, kini luntur sudah kekecewaannya.
"WOW!, okay, kalau untuk kami tergantung pada Davira, apakah ia bersedia untuk menikah dengan Ruri atau tidak, bagaimana Davira?, apakah kamu bersedia menikah dengan Ruri?" tanya ayahnya.
"Iya pah, aku bersedia untuk menikah dengan Ruri" ucap Davira menunduk dan tersenyum malu.
"AKH!" ucap mereka kompak tersenyum.
"Makasih ya, kamu udah mau nerima lamaran aku" ucap Ruri tersenyum pada Davira.
"Iya" ucap Davira tersenyum dan langsung menunduk malu.
"Untuk tanggal pernikahannya bagaimana pak, bu?" tanya ayah Ruri.
"Kalau bisa secepatnya kita urus tempat dan semuanya, agar mereka bisa menikah di akhir tahun ini" ucap ayah Davira.
"Bagaimana jika tanggal 22?" tanya ayah Ruri.
"22-12-22?, hm, tanggal yang bagus, ya sudah kita selesaikan semuanya sebelum tanggal itu datang" ucap ayah Davira.
"Oke, untuk tempatnya outdoor atau indoor?" tanya ayah Davira.
"Outdoor aja pah" timpal Ruri.
"Davira bagaimana?" tanya ayah Davira.
"Iya pah, outdoor aja" ucap Davira.
"Okay, kedua calon mempelai menginginkan acara pernikahan outdoor, berarti kita akan laksanakan diluar" ucap ayah Ruri.
"Untuk tempat, biar aku sama Davira aja pah yang pilih" ucap Ruri.
"Oke" ucap ayah Ruri.
"Ya sudah, ayok kita pulang dulu, kami permisi pak, bu, biar nanti mereka bicarakan dulu tempat terbaiknya" ucap ayah Ruri tersenyum.
"Oke silakan" ucap ayah Ruri.
"Assalamualaikum" ucap ayah Ruri.
"Wa'alaikumsalam" ucap Davira sekeluarga kompak.
Ruri beserta keluarga pun pergi dari rumah Davira dengan gembira karena lamaran mereka diterima oleh Davira.