Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Ruri Ngambek



"Assalamualaikum Davira" notifikasi WhatsApp dari Ruri.


"Wa'alaikumsalam, ada apa?" tanya Davira.


"Besok malam aku ke rumah kamu ya, kamu gak ada acara kan?" tanya Ruri.


"Gak ada kok, mau ngapain?" tanya Davira.


"Mau ngelamar kamu langsung ke orangtua kamu" ucap Ruri.


"Kamu serius?" tanya Davira.


"Iya aku serius, besok aku ke rumah kamu sama keluarga ku, okay?" tanya Ruri.


"Oke" ucap Davira.


"Ya udah kamu tidur, udah malam tahu" ucap Ruri.


"Iya" ucap Davira.


"Assalamualaikum" ucap Ruri.


"Wa'alaikumsalam" jawab Davira.


HUFT!


"Ngapa lu Rur?" tanya Evan.


"Gak apa-apa kok" ucap Ruri.


"Gak jelas lu Rur!" ucap Evan.


"Lu yang gak jelas, udah akh gw mau tidur buat acara besok" ucap Ruri.


"Emang besok ada acara apaan?" tanya Evan.


"Ada sesuatu acara yang paling bersejarah" ucap Ruri tersenyum.


"Wih bersejarah!, apaan sih?" tanya Evan.


"Besok gw mau ngelamar Evan" ucap Ruri tersenyum.


"Idih!, gay lu hah?, geli banget gw sumpah!, ngapain lu mau ngelamar gw besok?, idih geli!" ucap Evan.


"Cie Evan mau nikah sama Ruri, ternyata selama ini kalian sepasang kekasih?, wah!, kok gw gak tahu ya?" tanya Cakra.


"Idih pada ngapa sih lu?" tanya Ruri mendorong Evan dan Cakra.


"Lah tadi lu yang bilang sat!" ucap Evan.


"Apa sat?!, gw manggil lu sat!, bukan mau ngelamar lu!, bikin kesel aja lu pada!" ucap Ruri yang langsung pergi ke luar kamar.


"Ya sorry" ucap Cakra dan Evan.


"Hm" ucap Ruri menoleh sejenak teman-temannya dan kembali pergi.


"Mau kemana lu?" tanya Cakra.


"Tidur diluar akh, lu pada gesrek, malas banget gw tidur satu ruangan sama kalian!" ucap Ruri.


"Ya udah terserah" ucap Evan.


Ruri menoleh sekilas dan kembali pergi.


"Haus banget lagi, tapi kebelet, hm, nabung di WC dapur aja deh, biar sekalian bisa ngambil air minum" ucap Kay.


Kay menurunkan perlahan selimutnya sembari menatap Tasya untuk memastikan ia tidak terbangun. Kay menutup pintu kamarnya dan segera pergi ke dapur, saat melewati ruang tamu ia dikagetkan dengan bayangan hitam seseorang.


"Itu apaan di kursi?" tanya Kay saat melihat bayangan hitam di tengah kegelapan.


Kay segera menyalakan lampu ruang tamunya.


"Astagfirullahaladzim si Ruri ternyata, lah ini anak ngapain tidur disini lagi?" tanya Kay saat melihat Ruri tidur di kursi.


"Bangunin kali ya?, bangunin aja deh, kali aja dia ngelindur" ucap Kay.


"Rur, lu ngapain tidur di kursi?" tanya Kay menepuk kaki Ruri.


"Malas akh gw tidur dikamar" ucap Ruri dengan suara pelan.


"Lah kenapa deh?" tanya Kay.


"Si Evan sama si Cakra masa bilang gw gay" ucap Ruri terbangun.


"Evan gesrek udah biasa, kenapa si Cakra jadi ketularan juga deh?" tanya Kay.


"Mana gw tahu" ucap Ruri.


"Kenapa tidur disini sih?, masih ada kamar kosong kok, entar gw anterin, gw mau minum dulu sama nabung tapi" ucap Kay.


"Udah selesai?" tanya Ruri saat melihat Kay keluar dari dalam kamar mandi.


"Udah, ayok gw anterin" ucap Kay.


"Ayok" ucap Rur berjalan mengikuti Kay.


"Nah ini kamar kosong, biasanya dipakai kalau ada keluarga main sih, tapi pakai aja, daripada lu tidur di kursi" ucap Kay.


"Okay thanks" ucap Ruri menepuk pundak Kay.


"Yoi, udah sana masuk, gw mau tidur lagi, ngantuk" ucap Kay sembari menguap dan langsung kembali ke dalam kamarnya.


"Iya" ucap Ruri yang langsung masuk mengunci pintu kamarnya.


Keesokan harinya, Ruri pergi untuk mencari makanan dan berpapasan dengan Evan dan Cakra. Ruri yang masih kesal dengan Evan dan Cakra karena hal semalam pun menatap sekilas dan langsung pergi meninggalkannya namun Evan dan Cakra menghentikannya.


"Yah masih marah, sorry sih" ucap Evan.


Ruri mengabaikan perkataan Evan dan langsung pergi, Kay yang melihat mereka dari kejauhan dibuat bingung dengan awal pertikaian mereka.


"Kalian kenapa sih?" tanya Kay yang datang menghampiri teman-temannya.


"Si Ruri masih ngambek tuh gara-gara semalam" ucap Evan.


"Emang awal permasalahannya gara-gara apaan sih?" tanya Kay.


"Jadi awalnya Ruri bilang ke Evan kalau dia mau ngelamar kan cuma dibelakangnya dikasih nama Evan jadi si Evan mikir kalau si Ruri mau ngelamar dia, ya gw juga jadi mikirnya gitu kan, gara-gara si Evan" ucap Cakra.


"Evan emang awal mulanya terjadi bencana" ucap Kay.


"Itu lu kali Kay bukan gw!" ucap Evan.


"Lah kenapa jadi gw deh?, kan gara-gara lu si Ruri ngambek tuh!" ucap Kay menunjuk Ruri.


Ruri yang melihat Kay menambah buruk suasana hatinya akhirnya meninggalkan mereka yang masih berdebat siapa yang salah sebenarnya.


"Udah udah guys, tuh kan lihat ---, si Ruri jadi pergi kan gara-gara kalian malah pada berantem" ucap Cakra.


"Lah malah pergi tuh orang, udah dibelain juga hm" ucap Kay yang ingin mengejar kepergian Ruri namun dicegah oleh Cakra.


"Udah biarin aja dulu, biarin dia cari udara segar dulu, biar otaknya fresh lagi" ucap Cakra memegang tangan Kay.


"Hm, okay" ucap Kay.


"Hm, baunya enak banget, bini lu lagi masak ya Kay?, masak apaan Kay?" tanya Evan menepuk pundak Kay.


"Entahlah dia masak apaan" ucap Kay.


"Jadi lapar deh gw" ucap Evan memegangi perutnya dan langsung berjalan menuju dapur.


"Gercep deh kalau urusan makanan" ucap Cakra.


Evan menciumi aroma makanan hingga ke dapur, Tasya yang melihat Evan tiba-tiba datang pun terkejut.


"Eh mas Evan, kenapa mas?, ngagetin aja deh" ucap Tasya.


"Gak apa-apa kok, baunya enak banget jadi lapar aku" ucap Evan.


"WOI!, bini gw itu!" ucap Kay kesal yang langsung mendorong Evan menjauh dari istrinya.


"Woilah!, santai dong!" ucap Evan yang langsung bangun membersihkan bajunya.


"Jangan gitu mas, kasian teman kamu tuh jatuh, untung gak kena meja, kalau kena nanti kamu juga kan yang repot mas" ucap Tasya.


"Hm, iya juga sih, bakal nyusahin pasti ya" ucap Kay.


"SHiA!" ucap Evan menunjuk Kay.


HAHA!


"Kamu masak apa sayang?" tanya Kay melihat makanan yang Tasya masak diatas meja makan.


"Wih enak tuh" ucap Kay yang langsung duduk.


Tasya mengambilkan Kay nasi beserta lauk dan minumannya.


"Gw mana?, kok gak di sendokin sekalian?" tanya Evan saat melihat Tasya hanya mengambilkan nasi untuk Kay.


"Sayang, ambilin sendok semen ya, si Evan mau di sendokin sekalian katanya" ucap Kay.


"Pakai pacul aja sekalian, nanggung kalau pakai sendok semen" ucap Kay.


"Ide bagus, sayang ambilin pacul aja ya buat Evan" ucap Kay.


"Gak jadi, gw bisa ambil sendiri" ucap Evan.


"Okay" ucap Kay.