
Ketika sampai di dalam kamar mereka, Evan membuka lemari dan mencari sesuatu di dalam lemari hotel untuk sedikit menghangatkan tubuh Fidelya.
"Ini ada selimut" ucap Evan memberikan Fidelya selimut.
Fidelya mengambil selimut itu dan mengalungkannya ke tubuhnya.
"Masih dingin gak?" tanya Evan.
"Lumayan sih, tapi gak terlalu sih" ucap Fidelya.
"Oh ya udah" ucap Evan.
Evan pergi meninggalkan Fidelya dan menatap ke luar melalui jendela. Nampak hujan yang sudah mulai reda.
"Hujannya udah reda tuh, balik sekarang apa nanti aja tunggu berhenti?" tanya Evan.
"Balik sekarang aja lah, nanggung udah kuyup juga" ucap Fidelya.
"Nanti kedinginan, sakit aja" ucap Evan.
"Enggak, udah ayok balik aja" ucap Fidelya.
"Oke" ucap Evan.
"Mbak, ini kuncinya" ucap Evan memberikan kunci kamarnya pada resepsionis hotel.
"Cepat banget mas?" tanya resepsionis hotel.
"Iya mbak, gak apa-apa, numpang neduh doang tadi, kalau neduh di depan kasian dia mbak, takut petir soalnya, makanya neduh didalam" ucap Evan.
"Oh gitu" ucap resepsionis hotel.
"Iya mbak, kita permisi ya mbak" ucap Evan tersenyum.
"Iya mas silakan" ucap resepsionis tersenyum.
"Ayok" ucap Evan menoleh ke arah Fidelya.
"Haan" ucap Fidelya tersenyum.
"Lu percaya gak kalau mereka cuma numpang neduh doang?" tanya salah satu resepsionis pada rekan kerjanya.
"Percaya-percaya aja sih, kan gak semua orang sesad kayak lu!" ucap rekan kerjanya.
"Yeh dasar lu!" ucap rekan kerjanya.
"HAHA!, emang iya kan?" tanya rekan kerjanya.
"Kayak lu kagak sesad aja!" ucap rekan kerjanya.
"Lah yang mulai duluan kan lu Bambang!" ucap rekan kerjanya.
"Bambang nama bapak gw!, ngapa lu bawa-bawa deh?" tanya rekan kerjanya.
"Oh nama bokap lu Bambang, baru tahu gw!" ucap rekan kerjanya.
"Udah lah, gw lapar!" ucap rekan kerjanya.
"Makan mulu lu!" ucap rekan kerjanya.
"Daripada gw mati kelaparan!, gantiin dulu tugas gw" ucap rekan kerjanya.
"Ya udah sana" ucap rekan kerjanya.
Di tengah perjalanan pulang, Evan mulai membuka pembicaraan "kamu masih dingin gak?" tanya Evan memecah keheningan diantara mereka.
"Lumayan sih" ucap Fidelya.
"Sebentar deh, kayaknya aku bawa jaket lagi deh di bagasi" ucap Evan memberhentikan mobilnya.
Evan turun dari mobilnya dan Fidelya hanya menatap kepergian Evan.
"Ini kamu pakai jaket aku aja" ucap Evan memberikan jaketnya yang tadi ada di dalam bagasi.
"Makasih" ucap Fidelya sembari mengambil jaket Evan.
"Sama-sama" ucap Evan tersenyum.
Fidelya nampak kesulitan saat memakai jaket itu, karena satu tangan jaketnya terhimpit di seat belt. Evan membantunya dengan menarik jaket yang terhimpit itu.
"Makasih" ucap Fidelya tersenyum.
"Sama-sama" ucap Evan tersenyum.
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah Fidelya.
"Iya sama-sama" ucap Evan tersenyum.
Fidelya pun membalas dengan senyuman.
"Aku pulang ya, assalamualaikum" ucap Evan tersenyum.
"Iya, wa'alaikumsalam, hati-hati ya" ucap Fidelya tersenyum.
"Iya, ya udah kamu masuk gih, istirahat udah malam" ucap Evan tersenyum.
"Iya" ucap Fidelya tersenyum dan pergi meninggalkannya.
Evan pun masuk ke dalam mobilnya, Fidelya berbalik menatap Evan dan melambaikan tangannya pada Evan, Evan membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya pada Fidelya sembari tersenyum dan langsung pergi meninggalkannya, setelah mobil Evan pergi, Fidelya pun masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum" ucap Fidelya saat memasuki rumahnya.
Fidelya masuk ke dalam dengan berlari kegirangan layaknya anak kecil sedang gembira.
"Angel kamu kenapa nak?" tanya ibunya saat melihat Fidelya melintas dengan tersenyum dan berlarian seperti anak kecil.
"Akh, gak apa-apa kok mah" ucap Fidelya tersipu malu.
"Ada-ada saja kamu ini nak" ucap Fidelya tersenyum menggelengkan kepalanya.
"HEHE!, Angel masuk ke kamar dulu ya mah" ucap Fidelya tersenyum kecil.
"Iya sayang" ucap ibunya tersenyum dan pergi dari sana.
Fidelya menatap kepergian ibunya dan pergi ke dalam kamarnya.
"Kenapa mah?" tanya suaminya saat melihat istrinya terseyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Anak kamu tuh pah, masa lari-larian, kayak anak kecil aja" ucap istrinya.
"Angel kenapa mah?" tanya suaminya.
"Lagi jatuh cinta kali pah, kayak gak pernah muda aja nih si papah" ucap istrinya terseyum menyenggol lengan suaminya.
Suaminya pun tersenyum melihat tingkah istrinya itu.
"Tidur yuk mah, udah malam tuh, udah jam 10" ucap suaminya.
"Ayok pah" ucap istrinya memegang tangan suaminya dan bersandar di bahunya sembari tersenyum menatapnya.
"Yah, mamah jadi malah ketularan si Angel, kayak anak kecil, malu akh mah, kita kan udah tua, jangan kayak anak kecil gini akh" ucap suaminya.
"Biarin aja, toh di dalam rumah ini kan, bukan diluar rumah" ucap istrinya.
"Nanti kalau Angel atau bi Ijah lihat gimana mah?, malu akh" ucap suaminya.
"Gak apa-apa pah, kan kita juga udah lama nikah, udah punya anak juga, bukan orang pacaran lagi kumpul kebo kan?, biarin aja mereka lihat" ucap istrinya menyeringai.
"Nakal ya kamu, malam ini kamu harus dapat hukuman" ucap suaminya yang langsung menggendong istrinya itu.
"Dihukum berapa lama pah?" tanya istrinya menyeringai mengangkat alisnya.
"Dihukum sampai pagi" ucap suaminya menyeringai mengangkat alisnya.
"Wah!, asik tuh pasti!, ayok pah, mamah siap dapat hukumannya" ucap istrinya terseyum.
Ketika sampai di dalam kamar, suaminya langsung membanting tubuh istrinya ke atas ranjang.
Tidak perlu dijelaskan lagi, pasti kalian sudah tahu sendiri apa hukuman yang akan diberikan oleh suaminya sampai pagi hari itu diatas ranjang HAHA!.
Tinggalkan suami yang sedang menghukum istrinya itu, kita beralih ke Fidelya yang nampak sangat bahagia diatas ranjang empuknya itu.
"Akh mas Evan, sempurna banget sih kamu mas!, udah ganteng , baik lagi, AKH!, benar-benar calon suami idaman sekali kamu mas" ucap Fidelya tersenyum menatap foto Evan dari layar ponselnya.
"Aku udah sampai rumah nih" notifikasi WhatsApp dari Evan.
"Tuh kan, idaman banget, gak ditanya udah langsung peka" ucap Fidelya tersenyum saat membaca pesan Evan.
"Iya mas, kamu istirahat aja" balas Fidelya.
"Iya dek" jawab Evan dengan emoticon senyum.
"AKH!, dek gak tuh!, mas-adek, akh baper!, pengen cepat-cepat nikah sama dia rasanya!" ucap Fidelya tersenyum membaca pesan Evan.
Fidelya membuka galeri di ponselnya menatap foto Evan dan ketika mereka bersama. Fidelya memperbesar foto Evan yang ada di ponselnya, menatap fotonya sembari tersenyum dan mengecup foto Evan yang ada di layar ponselnya itu, tepat di kening Evan.
"AKH!, gila gw!, ngapain handphone gw cium-cium segala sih!, udah lah mending gw mandi aja, terus tidur" ucap Fidelya yang beranjak pergi meninggalkan ponselnya diatas ranjang.
Tak lama kemudian Fidelya selesai mandi dan kembali membuka ponselnya. Fidelya membuka foto Evan yang tengah tertidur pulas dan meletakkan ponselnya tepat di sebelahnya dengan foto Evan yang tengah tertidur pulas. Fidelya pun akhirnya tertidur.