Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Apa Ini Yang Dinamakan Cinta?



"Eh Ra, gw keluar dulu ya, assalamualaikum" ucap Clarissa.


"Mau kemana lu?" tanya Davira.


"Cari angin, bosen gw dirumah lu terus" ucap Clarissa.


"Hm, cari angin apa cari jodoh lu?" tanya Davira mengangkat alisnya.


"Cari sugar daddy biar kaya raya, tajir melintir, beh... !, it's my dream mas" ucap Clarissa tersenyum bersandar di pintu kamar.


"Astagfirullahaladzim ukhti, ngelon itu haram hukumnya" ucap Davira memegang kedua lengan Clarissa.


"Aku tahu ukhti, tapi aku butuh uang dan aku tidak ingin untuk menjual ginjal ku ukhti" ucap Clarissa.


"Pasti ada cara lain ukhti untuk menjadi kaya raya tanpa harus menjual diri mu sendiri, ikutlah dengan ku, mari kita cari tuyul saja ukhti" ucap Davira menarik tangan Clarissa.


"Ya sudah ayok ukhti, kita cari sepasang tuyul saja, agar dia bis berkembang biak dan kita bisa menjadi kaya raya bahkan bisa menjadi sultan hanya dalam satu malam saja" ucap Clarissa.


"Kau ingin mengawinkan para tuyul itu ukhti?" tanya Davira.


"Pastinya ukhti, agar semua pria tunduk padaku ukhti karena aku kaya raya dan punya segalanya, ayolah ukhti" ucap Clarissa.


"Baiklah ukhti, aku akan mengikuti jejak mu, agar bisa kaya raya tanpa bekerja" ucap Davira.


"Ayok ukhti, kita langsung cari saja sepasang tuyul" ucap Clarissa.


"Tapi apa yang membedakan tuyul pria dan wanita ukhti?" tanya Davira.


"Entahlah ukhti, aku pun tidak mengetahuinya, bagaimana jika kita berguru dulu pada orang pintar ukhti?" tanya Clarissa.


"Akh, itu ide yang sangat bagus ukhti" ucap Davira tersenyum.


"Ayok ukhti, kita pergi mencari orang pintar itu karena kita bodoh" ucap Clarissa.


"Ayok ukhti" ucap Davira.


Di perjalanan menuju tempat orang pintar untuk mendapatkan sepasang tuyul, Clarissa terkena spion motor Cakra yang tengah mengebut hingga Clarissa pun terjatuh dan Cakra segera turun dari motornya menghampiri Clarissa.


"Eh punya mata tuh dipakai ya... !, jangan buat pajangan doang, ini jalanan luas, kenapa lu pakai mepet-mepet ke gw kan gw jadi jatuh, buka gak tuh helm lu" ucap Clarissa mendorong helm yang masih Cakra gunakan.


"Ya ilah, nyesel gw pakai motor, jadi ketemu si cewek rese ini lagi kan dijalan" batin Cakra.


"Woy... !, lu tuli hah?, gw bilang buka helm lu" ucap Clarissa kencang mendorong helm Cakra.


Cakra tidak melepaskan helm yang ia pakai namun malah menggendong tubuh Clarissa menuju ke motornya.


"Eh, apa-apaan lu... !, lepasin gw... !, turunin gw...!,. ikh, kurang ajar ya lu... !, Davira tolongin gw" teriak Clarissa sambil berusaha memukul-mukul punggung Cakra agar ia melepaskannya.


Cakra memacu motornya dengan kencang hingga tangan Clarissa akhirnya berlabuh di pinggangnya, Clarissa yang ketakutan akhirnya memeluk erat pinggang Cakra dan menyandarkan kepalanya di punggung Cakra.


"Gw gak peduli deh, mau diculik kek, mau diapain kek, yang penting hangat, so sweet banget sih pakai acara sok misterius gitu" batin Clarissa dan menatap pria yang membawa motor sembari tersenyum.


Pria itu pun menoleh sejenak ke arah Clarissa, nampak Clarissa sangat bahagia karena ia tidak tahu jika laki-laki yang sedang ia peluk itu adalah musuh bebuyutannya yaitu Cakra Rayyanza.


Cakra membawa Clarissa ke klinik terdekat untuk segera diperiksa kondisinya. Ketika sampai di depan klinik Cakra turun dari motor perlahan memegangi lengan Clarissa agar tidak terjatuh dan Cakra pun menggendong Clarissa membawanya masuk ke dalam klinik. Terlihat senyum manis terpancar di wajah Clarissa sembari menatap dengan tatapan penuh cinta.


"Idih... !, ngapa lagi nih si cewek rese?, pakai acara senyam-senyum segala lagi, IKH, GELAY... !" batin Cakra.


Setibanya di dalam klinik, Cakra menurunkan tubuh Clarissa perlahan diatas kursi.


"Kalau dilihat-lihat, ini cewek cantik juga ya?,. tapi sayang menyeramkan, horor banget, mukanya sih cantik kalau dilihat-lihat, tapi sayang, sifatnya itu lho, menyebalkan" batin Clarissa menatap Clarissa dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Hay... !, kamu kenapa?" tanya Clarissa memetikkan kedua jarinya di depan wajah Cakra.


Cakra hanya menggelengkan kepala dan ingin membuka helm yang ia pakai.


"Wah, asik, gw bisa liat mukanya dia nih" batin Clarissa tersenyum saat melihat Cakra ingin melepaskan helm yang ia pakai.


Ketika helm itu terlepas, Cakra mengibaskan rambutnya, merapihkan rambutnya dan menatap Clarissa.


"Elu... !" ucap Clarissa terkejut saat melihat bahwa pria yang tadi ia dambakan itu adalah Cakra musuh bebuyutannya.


"Kenapa hm?" tanya Cakra menyeringai dan mengangkat alisnya.


"Gw mau pulang" ucap Clarissa berdiri.


"Mau kemana lu hah?" tanya Cakra yang langsung memegang tangan Clarissa agar ia tidak bisa pergi dari sana.


"Lepaskan tangan gw" ucap Clarissa sinis memberikan kode tatapan mata ke arah tangannya yang dipegang oleh Cakra.


"Gw minta maaf, karena tadi gw gak sengaja nyerempet lu, makanya gw bawa lu ke klinik ini, siapa ada tau ada luka kan, jadi bisa langsung diobati sama dokter" ucap Cakra.


"Gw tidak menerima permintaan maaf lu, permisi...!" ucap Clarissa berjalan meninggalkannya.


"AKH... !" rintih Clarissa menahan sakit di kakinya hingga nyaris terjatuh namun Cakra menangkap tubuhnya.


Cakra dan Clarissa saling menatap satu sama lain, tapi kali ini mereka merasakan sesuatu yang berbeda saat mereka bersentuhan seperti itu.


"Kok gw deg-degan ya?" batin Clarissa bertanya-tanya dan masih terus menatap mata Cakra.


"Ini gw kenapa sih?, kenapa jadi deg-degan deket sama cewek sengklek ini, apakah ini yang dinamakan cinta?, akh tapi masa iya sih, ini berarti cinta" batin Cakra.


"Aku tidak pernah seperti ini lagi semenjak Rizky pergi meninggalkan ku dulu untuk wanita lain, apakah ini pertanda, jika aku mulai menyukai cowok rese ini?" batin Clarissa bertanya-tanya.


"Ini tidak mungkin" batin Cakra.


"Enggak, ini gak mungkin" batin Clarissa.


"Tidak boleh ada rasa cinta untuknya, mau ditaruh dimana nanti muka ku, kalau sampai teman-teman ku tahu, jika aku mulai mencintai cewek sengklek ini" batin Cakra.


"Apa kata Davira nanti, kalau dia tau, aku mencintai cowok rese ini, ogah, jangan sampai ini terjadi" batin Clarissa.


"CIE... !, CIE... !" ledek salah satu anak kecil.


Cakra yang kaget pun melepaskan pelukannya hingga Clarissa terjatuh.


"AKH...!" rintih Clarissa kesakitan memegangi pinggulnya.


"Dasar cowok rese... !, kalau gak niat nolongin, ya jangan nolongin... !" ucap Clarissa kesal.


"Sorry, sini gw bantuin berdiri" ucap Cakra memegangi lengan bawah Clarissa.


"Gak perlu, gw bisa bangun sendiri" ucap Clarissa mendorongnya.


"Sekali lagi maaf, gw gak sengaja" ucap Cakra.


Clarissa hanya menoleh sejenak dan pergi meninggalkan Cakra yang masih merasa bersalah.