Bad Boy In The Good Boy

Bad Boy In The Good Boy
Lukisan Misterius



"Tokkk.. tokk.. Davira" panggil Ruri sembari mengetuk pintu kamar Davira.


"Iya mas, ada apa?" tanya Davira membuka pintu kamarnya.


"Ayok kita jalan, udah mau jam tiga nih" ucap Ruri.


"Iya mas sebentar, aku mau ambil tas dulu" ucap Davira tersenyum.


"Iya sayang" ucap Ruri tersenyum.


"Ayok mas" ucap Davira yang kembali menghampiri Ruri dengan membawa tasnya.


"Ayok" ucap Ruri.


Davira menutup pintu kamarnya dan pergi bersama Ruri untuk menemui Reza.


Setelah beberapa menit mereka pun tiba di tempat yang telah Reza kirimkan tadi.


"Hai bro" panggil Ruri.


"Hai, bagus deh lu udah datang, ini beberapa kandidat yang lu minta gimana?, sesuai atau enggak?" tanya Reza.


"Ini bule asli ya?" tanya Ruri berbisik pada Reza memberikan kode mata ke arah wanita dan pria di depannya.


"Iya yang dua itu bule asli" ucap Reza.


"Bule mana?, bisa bahasa Indonesia kagak?" tanya Ruri.


"Bisa kok, coba aja ajak ngobrol" ucap Reza.


"Oke" ucap Ruri.


"Hai mbak, namanya siapa?" tanya Ruri mengulurkan tangannya di depan wanita bule pilihan Reza.


"Madhurya Maheera pak" ucap wanita itu.


"Nama panggilannya siapa ya?, soalnya kalau saya panggil itu kepanjangan" ucap Ruri.


"Hira aja pak" katanya sembari tersenyum.


"Hm okay Hira, kamu udah tahu kan tugas kamu untuk apa?" tanya Ruri.


"Tahu pak" katanya.


"Okay, saya anggap kalian semua sudah tahu ya tugas kalian masing-masing itu apa saja, saya tunggu kalian besok jam 10 di bandara, kalau kalian udah sampai bandara kalian langsung naik aja ya ke pesawat, oh iya ini undangannya, nanti pas sampai bandara, tunjukkan ini aja, nanti akan ada yang mengarahkan kalian ke pesawat" ucap Ruri sembari memberikan undangan pernikahannya.


"Baik pak" ucap mereka kompak.


"Eh kita balik duluan ya Za" ucap Ruri menepuk pundak Reza.


"Lah gak mau makan dulu?" tanya Reza.


"Bosan gw sama makanan disini, tadi gw udah beli makanan lokal" ucap Ruri tersenyum.


"Apaan?" tanya Reza.


"Nasi Padang" ucap Ruri tersenyum.


"Wih, mau dong, masih ada kagak?" tanya Reza.


"Masih sih, tapi gak tahu ya cukup atau enggak sama lu, soalnya tadi gw cuma beli tiga bungkus doang" ucap Ruri.


"Yah lu mh, eh gw nginep di rumah kek" ucap Reza.


"Emang ngapa rumah lu?" tanya Ruri.


"Gak tahu kenapa ya, semenjak gw balik dari tempat yang waktu gw ceritain ke lu itu, rumah gw kayak rasanya beda banget gitu, kayak rada creepy gitu" ucap Reza.


"Takut lu?" tanya Ruri.


"Enggak kok, cuma rada ngeri aja" ucap Reza.


"Sama aja itu mh, ya udah ayok ke rumah gw" ucap Ruri.


"Eh tapi ke rumah gw dulu, gw mau ambil baju dulu" ucap Reza.


"Ya udah entar lu nyusul aja deh ke rumah gw" ucap Ruri.


"Gak mau akh, temenin kenapa, kan sebentar doang ini, ngambil baju doang terus balik" ucap Reza.


"Gimana?, kamu mau gak?" tanya Ruri menatap Davira.


"Aku sih terserah mas aja, aku ngikut aja" jawab Davira tersenyum.


"Eh gw kan bawa mobil" ucap Ruri.


"Lu sama supir lu kan?" tanya Reza.


"Iya, emang kenapa?" tanya Ruri.


"Mobil lu sama supir lu aja ngiringin mobil gw, lu sama Davira ikut sama mobil gw aja" ucap Reza.


"Akh ribet lu" ucap Ruri.


"Ayok lah please" ucap Reza memohon.


"Udah mas, ikutin aja kemauannya, kasian tuh lihat" ucap Davira menunjuk Reza.


"Hm, ya udah ayok" ucap Ruri mendorong Reza.


Ruri dan Davira menemani Reza ke rumahnya dengan mobil pribadi milik Reza.


Sesampainya di depan pintu rumahnya, Reza membuka pintu rumahnya.


"Eh ketuk dulu pintunya, gak sopan" ucap Ruri menarik tangan Reza yang ingin membuka pintu rumahnya.


"Lah ini kan rumah gw sendiri, gak sopan gimana deh?" tanya Reza.


"Kita hidup berdampingan dengan penghuni tak kasat mata, walaupun secara fisik ini adalah rumah lu, secara gaib ini juga rumah mereka yang tak terlihat, hargai mereka kalau lu gak mau di gangguin sama mereka, mereka tidak akan jahil jika lu punya tata krama" ucap Ruri.


Davira yang mendengar perkataan Ruri pun terdiam mematung sembari tersenyum.


"Emang gak salah ya mas kalau aku pilih kamu, kamu benar-benar baik" batin Davira yang tanpa ia sadari bibirnya tersenyum dan menatap Ruri.


"Cewek lu kenapa deh Rur?" tanya Reza menepuk pundak Ruri.


"Davira, hei, Davira, kamu kenapa?" tanya Ruri memetikkan jarinya di depan wajah Davira untuk menyadarkan Davira dari lamunannya.


"Akh, iya mas, kenapa?" tanya Davira terkejut.


"Kamu kenapa hm?" tanya Ruri menatapnya sembari tersenyum.


"Akh, gak apa-apa kok mas, ya udah ayok masuk" ucap Davira tersipu malu.


"Hm, ya udah kalau gitu" ucap Ruri.


"Tokk... tokk... assalamualaikum" ucap Ruri mengetuk tiga kali pintu rumah Reza dan langsung masuk ke dalam rumahnya.


"Wa'alaikumsalam" jawab Davira sembari berjalan di belakang Ruri.


"Rumah lu kok gelap banget sih?, ini kan masih sore" ucap Ruri menatap sekelilingnya.


"Nah kan makanya, padahal dulu terang lho, kenapa jadi gelap?" tanya Reza.


"Lah mana gw tahu deh" ucap Ruri.


Reza membuka seluruh gorden dan jendelanya agar cahaya bisa masuk ke dalam rumahnya.


"Lumayan lah ya, jauh lebih terang sedikit, udah sana ambil baju lu cepetan, gw sama Davira tunggu disini" ucap Ruri.


"Oke" ucap Reza yang langsung berlari menuju kamarnya.


Ruri dan Davira berkeliling rumah Reza, melihat satu persatu pajangan foto di rumah Reza.


"Mas, sini deh" panggil Davira.


"Mas kok ada foto itu ya?" tanya Davira memberikan kode dengan matanya pada Ruri.


"Lukisan?, lukisan apaan ini?, sejak kapan deh Reza bisa ngelukis?" tanya Ruri menatap lukisan yang ia pegang.


"Ayok" ucap Reza yang tiba-tiba datang mengagetkan Ruri dan Davira.


"Eh apaan itu?" tanya Reza yang langsung mengambil lukisan dari tangan Ruri.


"Ini lu yang ngelukis Rur?" tanya Reza menatap lukisan itu.


"Bukan, lukisan itu tadi ada di meja itu, sejak kapan lu bisa ngelukis?, cewek pula tuh" ucap Ruri.


"Bukan gw yang ngelukis, udah lah biarin aja, ayok" ucap Reza menaruh lukisan itu kembali diatas meja.


"Ya udah ayok" ucap Ruri kebingungan dan sekali menatap ke belakang.


Davira yang melihat Ruri pun ikut melihat ke belakang. Davira menepuk pundak Ruri untuk menyadarkannya. Ruri memberikan kode dengan menganggukkan kepalanya.


Reza mengunci pintu rumahnya serta pintu pagarnya dan mereka pun kembali ke rumah Ruri.